
Frans turun dari tangga dan menyapa Caroline dan Santoso yang duduk diruang tamu. Wajah Frans berseri-seri. Senyuman tidak hilang diwajahnya
"kamu sangat senang hari ini nak..." tegur Caroline
Frans tersenyum sambil mengangguk
"Kevin membuat kamu pulang cepat hari ini??" tanya Santoso sambil mengganti saluran televisi dengan remote.
"ia pak..." Frans menjawab dengan semangat dan senyum lebar
"cepat pulang sana, nanti Kevin kembali lagi dan menyuruhmu lembur lagi." Caroline berusaha menakut-nakuti Frans
Frans dengan cepat membungkukkan tubuhnya dan kemudian berkata "saya permisi dulu tuan dan nyonya."
Santoso dan Caroline tertawa melihat Frans yang lucu, ia kabur dengan cepat. Seminggu ini Kevin sudah membuat dia pulang paling cepat jam 10 malam. Hari ini bisa pulang jam 3 merupakan suatu anugerah diakhir pekan.
Sore hari Lisa, Kevin, Santoso dan Caroline duduk diruang tamu sambil menonton televisi. Pintu rumah diketuk, Lisa berdiri dan berjalan membuka pintu. Didepan pintu sudah ada dokter Leo dan seorang perawat. Lisa mempersilahkan mereka masuk. Hari ini adalah jadwal Kevin melepas perban.
Lisa duduk disebelah Kevin. Ia melihat suster duduk disebelah Kevin dan mulai memegang tangannya.
"JANGAN MENYENTUHNYA..." Suara Lisa memecah kesunyian rumah, Kuatnya suara acara telivisi masih kalah dibandingkan dengan suara Lisa.
Perawatan itu langsung mengangkat tangannya. Ia tampak terkejut Lisa melihatnya dengan pandangan tajam. Santoso, Caroline dan dokter Roy yang sedang bicara sudah langsung berhenti seketika sambil melihat kearah Lisa.
"nona tenang saja, saya akan pelan-pelan membuka perbannya.'' Perawat tadi kembali memegang tangan Kevin.
"aku tidak mau. Jangan sentuh S U A M I K U" cara Lisa menyebutkan kata 'suamiku' penuh dengan penekanan. Mata Lisa membesar dan meraih tangan Kevin.
"dokter Roy saja yang membuka perbannya. Bukan kah begitu dokter...." Lagi-lagi Lisa menekankan kalimat 'bukan kah begitu dokter..' membuat Roy tadi gugup. Ternyata ketika Lisa sedang marah bisa menjadi lebih seram dibandingkan suaminya.
Kevin menahan senyum diwajahnya. Hatinya berbunga-bunga saat ini. Akhirnya Lisa cemburu juga. "tidak apa-apa sayang, hanya membuka perban." Lisa menatap tajam Kevin.
"Roy....cepat buka perbannya. Kamu tunggu apa ..." kata Kevin. Bola mata Kevin berputar melihat kerah Roy.
Roy mengedipkan matanya "aku pergi urus dulu" kemudian ia berbisik kepada Caroline dan Santoso "anak dan menantu kalian benar-benar keras kepala. Aku heran kenapa kalian bisa bertahan dengan mereka berdua" Roy kemudian berjalan kearah Kevin sambil menggelengkan kepalanya.
Caroline dan Santoso tersenyum melihat mereka.
Dokter Roy mulai membuka perban ditangan Kevin. Lisa memalingkan wajahnya. Setiap melihat luka Kevin,Lisa merasa kulit tubuhnya sakit. Lisa membuka matanya perlahan. Kulit tangan Kevin kemerahan, ada beberapa keloid yang muncul ditangannya. Mata Lisa berkaca-kaca.
"apakah bisa sembuh...." tanya Lisa
"setelah sembuh, kita bisa operasi keloid."
Mendengar kata 'operasi' Lisa murung. Mengingat Kevin yang baru selesai operasi. Lisa masih tidak setuju kalau Kevin akan dioperasi lagi.
__ADS_1
"bukan Operasi seperti itu, kamu tenang saja
Terapi radiasi bisa dilakukan seminggu setelah operasi atau bisa juga suntikan kortikosteroid bisa dilakukan setelah kita laser keloid nya."
"benarkah...." mata Lisa berkilat-kilat mendengar perkataan dokter Roy.
Roy mengangguk penuh keyakinan.
"aku kira kita perlu ke Korea untuk operasi keloid." Lisa tersenyum malu. Ia menertawakan kebodohan dirinya sendiri
"ayo kita kesana" kata Kevin penuh keyakinan.
"benarkah..." Lisa sangat semangat mendengar perkataan Kevin.
"tapi aku masih trauma dengan pesawat. Nanti saja. Tunggu aku bisa mengatasi rasa takutku." kata Lisa murung.
"kalau dibiarkan saja kan tidak apa-apa" kata Santoso
Caroline memandangi suaminya. "hal aneh apa lagi yang papa bicarakan...."
"sebaiknya biarkan bekas luka itu. Agar wanita tidak ada yang mau menggodanya. Wanita suka fisik pria yang sempurna. Melihat Kevin yang seperti ini. Tidak ada wanita mau bersama dia kecuali Lisa." jawab Santoso
"papa pintar. Aku setuju." Lisa tertawa mendengar perkataan Santoso. Papa mertuanya sangat paham pemikiran Lisa.
"tidak masalah" Kevin bicara dengan acuh tak acuh.
"apapun terserah kamu. " Kevin mencium kening Lisa.
****
Lisa berdiri di balkon kamar menikmati udara dan pandangan kota pada malam hari. Kevin datang dan memeluknya dari belakang.
"sebaiknya kamu masuk. Udara sudah semakin dingin. Tubuh mu sudah dingin sekarang."
"kamu tahu...ketika kamu tidak sadarkan diri selama 3 hari aku rasa waktu berputar sangat lambat."
Kevin mencium leher Lisa dan meletakkan kepalanya di bahu Lisa
"kenapa kita bertubi-tubi mengalami banyak masalah. Kita baru menikah beberapa bulan saja, tapi yang kita alami melebihi drama yang aku tonton sebelumnya."
"mungkin itu adalah cara Tuhan menyatukan hati kita." Kata Kevin sambil mencium telinga Lisa.
"kamu masih hutang penjelasan kepada ku tentang semua teror yang aku alami." Lisa menghadap kearah Kevin.
Kevin menutup matanya dan sambil memijat keningnya dengan tangan kirinya.
__ADS_1
"jangan pura-pura lupa." sindir Lisa.
''tidak lupa, hanya team kita sedang mencari bukti yang cukup kuat untuk membuktikan kejahatan orang itu.''
Lisa ingin mengalungkan lengannya dipundak Kevin. Tapi luka Kevin belum sembuh. Lisa mengurungkan niatnya. Lisa membalikkan badan lagi sambil melihat pemandangan malam
"sayang...." bisik Kevin.
Lisa menarik nafas panjang, ia berusaha tidak terprovokasi dengan Kevin.
"hmm mhh." jawab Lisa seadanya.
"kamu tidak rindu padaku .."
"tidak.." jawab Lisa singkat.
"bukan kah kamu katakan kalau selama aku tidak sadar waktu terasa berhenti berputar...." Kevin berusaha membalikkan perkataan Lisa. Ia makin kuat memeluk Lisa.
"aku hanya membaca puisi. Kamu jangan terlalu perasan Mr K." Lisa berusaha menghindari tatapan mata Kevin yang berusaha melihatnya.
"aku bisa melakukannya sekarang."
Lisa terdiam. Luka Kevin masih belum kering. Selama ini Lisa selalu menghindari Kevin dengan tidur dikamar lain. Ia tidak peduli walau Kevin sering protes dengan perbuatan Lisa.
"aku sudah sembuh, Lihat lah ... sudah tidak ada perban lagi."
"Hey kamu Mr K. Jangan berpikiran mesum. Istirahat dan jangan lupa minum obat. Aku balik kekamar dulu." Lisa melepaskan tangan Kevin dengan kuat.
"ah....' Kevin menahan sakit ditangannya karena hempasan tangan Lisa yang kuat.
Lisa panik..."mana yang sakit...." tanya Lisa sambil memegang tangan Kevin. Tangan Lisa bergetar memegang kulit Kevin yang terluka.
"apakah sakit....' tanya Lisa lagi.
Kevin duduk ditempat tidur sambil memegang tangan kanannya.
Lisa duduk disebelah Kevin dan kemudian Kevin membaringkan Lisa. Terlambat sudah bagi Lisa untuk kabur, ia sudah terjebak dalam kedua lengan Kevin. Lisa tidak berani mendorong Kevin karena tangan nya masih belum sembuh benar.
"jangan lakukan hal konyol Mr K" kata Lisa kesal
"ini bukan hal konyol, tapi melepas rasa rindu."
"kamu sedang terluka. Sebaiknya jangan mesum."
Kevin berbisik ditelinga Lisa. "bukan mesum tapi melakukan hubungan suami-istri sayang."
__ADS_1
Hembusan nafas Kevin dan pancingan ciuman yang diberikannya membuat Lisa yang awalnya menolak jadi terbawa suasana.