
Matahari belum terbit Kevin dan beberapa anggota keluarga yang lain pergi ke Blickling Hall bersama pihak penyelidik. Hari ini semua pergi dengan menggunakan bus pariwisata. Perjalanan ke Great Wood Blickling dari London dibutuhkan waktu 2 jam lebih. Kevin tidak bisa menyembunyikan rasa tegang diwajahnya. Lisa menggenggam tangan Kevin yang terasa dingin, entah karena suhu yang terlalu dingin atau karena Kevin tidak bisa menutupi rasa khawatirnya.
Kevin dari semalam sikapnya sangat berbeda, menjadi sangat pendiam. Kevin memang tidak banyak bicara, tapi kali ini memang berbeda, pandangan matanya selalu melihat kearah luar jendela. Menjawab semua pertanyaan Lisa sekedarnya saja. Lisa memegang tangan Kevin sambil memutar-mutar cincin pernikahan berwarna perak dijari manisnya. Pria ini juga tidak merespon, matanya tetap menatap jauh keluar jendela.
Lisa menyandarkan kepalanya dipundak Kevin, ia baru sadar dari lamunannya.. "kamu mengantuk??" tanya Kevin
"ya..." jawab Lisa sambil mengangguk
"tidurlah..."
Lisa menggeleng "tidak,, nanti kamu kabur." kata Lisa sambil memutar-mutar cincin Kevin
Kevin menyentil pelan kening Lisa "memang aku mau pergi kemana??"
"bukan kah kamu mau berjumpa dengan wanita yang berlari dengan mu pada malam hari 20 tahun yang lalu??" kata Lisa sembarangan.
"kamu ini..."
"Mr K, kamu sangat aneh sejak tadi malam selalu melamun, sebegitu besarnya rasa rindu itu... Benar-benar menyebalkan. Kamu bilang hanya aku di hatimu..." protes Lisa
"kamu cemburu sama hantu??" Kevin mengusap rambut Lisa yang tergerai dan membuatnya menjadi berantakan
"iiisss...jangan sentuh." Lisa menjauhkan tangan Kevin dari kepalanya.
"bagaimana kamu tahu kalau dia hantu??" tanya Lisa sambil memegang tangan Kevin yang masih ingin merusak rambutnya.
Kevin duduk kembali ke posisi awalnya sambil memegang tangan Lisa, sekarang Kevin yang bermain-main dengan cincin pernikahan Lisa yang melingkar dijari manisnya.
__ADS_1
"tidak ada seorang yang bermain-main di hutan pada malam hari sayang."
"siapa tahu dia juga mengalami hal yang sama denganmu. Hanya saja nasibnya cukup beruntung, bisa kabur dari dokter Roy."
Kevin diam sejenak, ingatannya memang masih belum pulih seutuhnya. Tapi seingatnya memang bukan manusia. Kevin tidak berani berkomentar, ketika dimintai keterangan semalam oleh pihak penyelidik menurut mereka hanya 4 orang di lokasi kejadian pada saat itu yaitu : dokter Roy, Patrick Kevin dan seorang wanita. Dengan korban tewas adalah wanita berusia 20 tahun. Kevin tidak ingat nama wanita yang sebutkan polisi semalam kepadanya.
"Aku tidak suka kamu yang seperti ini. Tubuh kamu disini, badan kamu melayang entah kemana. Kembalikan...." kata Lisa sambil menyodorkan tangannya meminta sesuatu kepada Kevin
"apa??" tanya Kevin bingung.
"kembalikan suamiku yang biasanya. Kamu pasti sedang menculiknya. Suamiku itu memang pendiam tapi dengan ku ia termasuk banyak bicara, biasanya ia suka marah dengan hal-hal yang tidak penting, ia juga suka mematahkan argumenku ketika bicara." jelas Lisa tanpa beban.
"Apa aku seburuk itu??" tanya Kevin
"ya...bahkan kadang lebih pa.....rah." Lisa memejamkan matanya, mulutnya kali ini benar-benar tidak ingat kalau orang yang dibicarakan ada disebelahnya.
"sudah puas..."
"sudah lumayan la...."jawab Lisa sambil tersenyum berusaha membela diri dengan senyumannya.
Dua jam lebih perjalanan akhirnya mereka sampai di Great Wood Blickling. Aroma tumbuhan yang menyegarkan langsung masuk kedalam hidung mereka. Benar-benar segar, hari ini mereka mengunjungi tempat ini pagi-pagi karena informasi dari bagian cuaca sore akan turun salju. Semua harus dilakukan dengan cepat pagi ini.
Lisa berjalan disebelah Kevin dan Frans.
"kakak ipar, tahukah kamu?" kata Frans yang berjalan disebelah kiri Lisa.
"ada cerita legenda hantu ditempat ini." kata Frans penuh percaya diri.
__ADS_1
Lisa menoleh kearah Frans "kamu, bukanya harus melakukan terapi psikologis dengan Cindy karena masalah ini.. Menceritakannya apa tidak bermasalah nantinya??"
Frans tertawa melihat kearah Lisa "terkadang aku masih takut juga. Jujur saja, sejak kejadian dirumah sakit itu memang aku mengalami masa-masa yang sulit. Sekarang sudah lebih baik, intinya adalah aku harus mengendalikan rasa takutku."
"kamu masih bisa melihat?" tanya Lisa penasaran
"terkadang...seperti sekarang ini ..."
"sebaiknya kamu kembali kedalam bus saja, jangan ikut bersama kami." kata Lisa yang sudah mulai merinding berdekatan dengan Frans.
"kalian bicara apa?" tanya Kevin yang dari tadi memperhatikan Lisa dan Frans berbicara seperti orang yang sedang berbisik.
"katakan.."kata Kevin kesal karena mereka berdua menyembunyikan sesuatu darinya
"tidak ada, hanya mengatakan suasana di hutan ini sangat tenang dan udaranya sangat segar" jawab Lisa berusaha mengalihkan pembicaraan.
'bisa bahaya apabila Kevin mendengar perkataan Frans, emosi pria ini sangat tidak stabil sekarang' pikir Lisa.
Beberapa adegan rekonstruksi dilakukan Kevin dan Patrick. Cuaca yang sangat dingin tapi Lisa melihat dikening Kevin penuh keringat begitu juga dengan Patrick. Pasti tidak mudah bagi mereka mengingat semua kejadian pahit dimasa lalu. Adegan terakhir dilakukan, Lisa memperhatikan Kevin yang semakin seperti orang kebingungan. Ia harus mengingat kejadian waktu itu yang begitu cepat terjadi. Tidak ada pilihan bagi keluarga yang melihat selain hanya bisa melihat diluar dari garis polisi yang sudah dibuat agar tidak menganggu proses rekonstruksi ulang.
Lisa melihat ada sepasang orang tua yang baru tiba dan berdiri tidak jauh darinya. Wanita itu menangis dan suaminya berusaha menenangkan dirinya dalam pelukannya. Pikiran Lisa langsung menebak ini adalah orang tua dari wanita yang meninggal itu. Hati Lisa sedih melihat wanita itu, Lisa berjalan mendekati kedua orang tua itu. Ia berdiri disebelah pria tua yang sedang memeluk istrinya sambil terus melihat kearah Kevin.
Kevin, Patrick dan Polisi nampak berdiskusi beberapa kali dan kemudian menanyai dokter Roy yang menjadi tersangka. Beberapa hari tidak terlihat, ia terlihat lebih kurus, janggutnya mulai tumbuh tipis dan rambutnya seperti tidak terurus. Benar-benar bukan seperti dokter Roy yang biasa ditemuinya. Dokter Roy selalu berpakaian rapi dan ketika berjalan sangat terlihat berwibawa. Aroma tubuhnya terkadang tercium desinfektan rumah sakit.
Sungguh sangat disayangkan, seseorang yang memiliki segalanya bisa salah arah hanya karena satu kesalahan saja, ia bisa jatuh kedalam jurang dimana tidak ada seseorang yang menolongnya. Orang yang meminta bantuan melakukan kejahatan juga tidak ada melakukan apa-apa untuknya. Sama-sama menelan pil pahit yang harus dijalani.
Santoso terlihat menjadi pendamping dokter Roy bersama seorang pengacara. Caroline nampak menjauh dari mereka dan berdiri disamping orang tua Patrick. Ia tidak bisa menerima perbuatan Roy kepada anaknya, tapi ia juga tidak bisa menolak Santoso membantu Roy yang merupakan keluarganya. Walau hanya keluarga angkat. Kebesaran hati Santoso juga jadi pelajaran bagi Lisa, ia bisa memisahkan perasaannya. Satu sisi anak dan keponakannya adalah korban dari kejahatan saudara angkatnya sendiri. Siapapun pasti tidak akan menerima keluarganya disakiti.
__ADS_1