
Pria itu melemparkan batu kearah Patrick dengan tidak berperasaan. Patrick jatuh ketanah dan darah segar mengalir dari lehernya. Seketika Patrick kehilangan kesadaran.
Ingatan terakhir Patrick adalah ia melihat tangan Kevin berdiri memegang tali ditangannya. Patrick tertelungkup ditanah melihat kearah tali itu dan melihat seorang wanita berambut panjang berdiri diatas sebatang kayu dengan leher terikat tali. Ia tidak paham apa yang terjadi, Kevin sadar kalau Patrick sudah siuman, kemudian memberikan kode mata agar ia tetap diposisinya dan jangan bergerak.
Sekali melanggar perkataan Kevin dan mengalami kesialan kali ini ia harus mendengarkan perkataan Kevin dan tidak boleh membantahnya. Patrick tidak bergerak dalam posisi tertelungkup ditanah.
Suara pria itu menyeret pedang ditangannya membuat hati bergetar ketakutan. "sudah semalaman kamu berdiri disitu apa tidak lelah??" kata pria itu kepada Kevin
Patrick tidak mendengar Kevin menjawab pria itu bicara. Patrick baru menyadari ternyata Kevin sudah berdiri semalaman, karena apabila Kevin duduk, maka wanita yang didepannya akan mati tergantung.
"bukan salah kamu kalau terjadi sesuatu denganku, kamu tidak perlu memaksakan diri. " kata wanita itu lirih
Patrick melihat kaki Kevin sudah bergetar, ia sudah tidak sanggup berdiri lagi, Seharian dikurung dan berusaha melepaskan ikatan tali, kemudian malam harinya masih harus berlari menghindari dari penjahat. Patrick merasa bersalah karenanya, jika ia mendengarkan perkataan Kevin tentu ia bisa menyelamatkannya sekarang.
Terbaring seperti orang bodoh, tidak berani membuka mata dan tidak berani melawan pria jahat itu. Seorang yang merasa dirinya seorang pemberani ternyata adalah seorang pengecut.
Patrick mendengar suara pria itu sedang makan, sepertinya sedang menggigit apel. Ia mulai mengejek Kevin
"kamu lapar??"
Kevin masih diam dan hanya melihat pria itu dengan tatapan dingin. Tidak membalas sama sekali. Ia kemudian mengambil batu.
"Kamu mau dia atau dia yang mati??" tanya penjahat itu
Patrick membuka sedikit matanya, Kevin ada didepan matanya berdiri dengan limbung dan berusaha menjaga keseimbangan tubuhnya. Hati Patrick iba melihat Kevin yang tersiksa seperti itu
__ADS_1
"kau saja yang mati." Patrick masih ingat tatapan mata tajam Kevin melihat penjahat itu.
Penjahat itu bertepuk tangan "akhirnya kamu bersuara juga...kamu seorang tuan muda yang kaya. Katanya orang tua kamu sangat kaya. kalau aku minta rumah mewah, apakah dia akan memberikan untuk ku??"
"kalau kau mau kaya sebaiknya bekerja. Lebih mulia seorang pengemis dari pada dirimu." umpat Kevin.
"wah..wah wah..." pria itu tepuk tangan "dari tadi malam kamu diam saja..sekarang sepertinya tenaga kamu sudah cukup banyak untuk bicara."
"pujian yang keluar dari mulutmu tidak membuat orang merasa gembira. Telingaku terasa sangat sakit karenanya."
Kevin terus memancing kemarahan pria didepannya yang sedang duduk di sebatang kayu tumbang dan didepannya sebuah pedang panjang tertancap ketanah.
"kamu masih sekolah tapi mulut kamu benar-benar berbisa seperti seorang penjahat kelas atas." puji Pria itu
"HAHAAAA..." suara tertawa pria itu bergema di udara. Patrick merinding mendengar dia tertawa, serasa malaikat maut sedang bermain-main didepan matanya.
"kamu lihat batu di tanganku ini? sebaiknya aku lempar ke anak kecil itu atau wanita itu?" Pria itu menunjuk kearah Patrick dan wanita yang sedang tergantung lehernya.
"aku tidak meladeni pembicaraan yang tidak ada memiliki arti."
"kamu sudah membuatku marah, anak kecil. Kendali ada di tanganku, sebaiknya kamu hati-hati" ancam pria itu
"terserah.." jawab Kevin singkat.
Patrick tidak ingat bagaimana mulanya, tapi ia melihat Kevin tiba-tiba bergerak kearahnya dan terdengar suara lemparan yang mengenai tubuh Kevin. Disaat yang bersamaan Patrick mendengar suara leher tercekik begitu kuat.
__ADS_1
Wanita itu kesakitan karena Kevin bergerak kearah Patrick secara tiba-tiba.
Wajah Kevin memerah, darah segar keluar dari keningnya dan mengalir diwajahnya. Kevin menatap pria itu semakin tajam. Kemudian melihat kearah Patrick dan wanita itu yang sedang memegang tali dilehernya. Kevin hendak mendekati wanita itu dan ketika ia berjalan mendekatinya wanita itu tampak kembali tercekik
"jangan lukai orang yang sedang tidak sadarkan diri dan seorang wanita yang tidak bersalah, Kamu tidak ada beda dengan pengecut."
Patrick menutup matanya, hatinya tambah hancur melihat Kevin berjuang sendiri. Ia tidak tega melihat Kevin seperti itu. Berjuang sendiri demi melindungi dirinya dan wanita yang ada dihadapan Kevin. Pria itu berdiri sambil memegang sarung pedang kemudian memukulkan berkali-kali ke kali dan tubuh Kevin. Ia tetap berusaha berdiri karena jika ia duduk wanita didepannya bisa kehilangan nyawanya.
"kamu benar-benar sangat baik... untuk apa kamu mati-matian menolong mereka yang tidak pantas hidup? Lebih baik kamu aku lepaskan sekarang dan biarkan aku bersenang-senang dengan mereka berdua."
Dengan terbata-bata Kevin menjawab "itulah bedanya manusia dan binatang. Syukur aku adalah seorang manusia dan malangnya kamu...." Kevin tidak melanjutkan kalimatnya. Ia ingin pria itu memikirkan sendiri apa yang ingin dikatakan Kevin.
"aku lelah bermain denganmu hari ini, aku mau tidur siang dulu. Selamat bersenang-senang." kata Pria itu sambil berjalan menjauh meninggalkan mereka bertiga.
Matahari mulai bersinar, untungnya cuaca tidak panas dan tidak terlalu dingin. "Tetaplah disana dan jangan bergerak, pria ini memasang alat pengintai disekitar sini." kata Kevin dengan suara pelan
Mereka bertiga sama, kelaparan dan kehausan. Semoga pihak sekolah segera menemukan mereka. Itu adalah harapan terakhir yang terucap dibatin Patrick. Dia yang tidak percaya dengan Tuhan kali ini berdoa menyebut nama Tuhannya agar diberikan kekuatan untuk bertahan dan segera terbebas dari semua ini. Patrick yang selalu bersikap gagah setiap hari nya untuk kali ini menangis berkali-kali menyesali ternyata tidak ada gunanya bersikap seperti ini. Merasa diri lebih hebat dari orang lain seperti bumerang dalam kehidupan. Membuat kita sombong dan ketika kita jatuh barulah menyadari bahwa semua itu tidak ada gunanya.
"maaf...kan...saya,,nona...." kata Kevin kepada wanita itu.
"tidak, kamu tidak salah. Pria itu yang salah. Jika terjadi sesuatu diantara kita, korbankan saja aku. Masa depan mu masih sangat panjang. Lupakan kejadian saat ini, jika terjadi sesuatu padaku. Hanya aku minta tolong kepadamu, hiduplah bahagia. Jika kau memiliki seorang wanita yang kau cintai bahagiakan dia, jangan buat dia menderita."
Patrick memang tidak melihat wanita itu bicara, tapi suaranya bergetar sepertinya ia sedang menangis. Suasana dihutan menjadi sangat hening, suara jangkrik terdengar sangat nyaring ditelinga. Kevin sudah tidak tahan berdiri, pandangannya mulai kabur, meminta Patrick untuk menolong sama dengan mengantarkan Patrick ke pintu kematiannya. Pria yang dihadapinya mereka ini sangat pintar, ia bisa memikirkan strategi jahat seperti ini. Satu kesalahan makan nyawa akan melayang.
Langit mulai gelap, dan pria itu kembali datang.....
__ADS_1