Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
pergi dinas


__ADS_3

Lisa terbangun pagi hari dan tidak menemukan Kevin disebelahnya. Lisa melihat baju gantinya sudah diletakkan di sebelahnya ada ada notes diatasnya.


'aku pergi dinas keluar negeri pagi ini. Maaf tidak memberitahu sebelumnya karena urusan mendadak. Love you'


Lisa tidak berekspresi membaca tulisannya. Hanya suka pada bagian akhirnya saja. Pada bagian awal ya Lisa tidak suka. Kali ini ia harus sendirian lagi. Dan Lisa paling tidak suka sendiri.


Lisa mencoba menghubungi ponsel Kevin, tapi sepertinya ponselnya mati. Lisa meninggalkan pesan kepada Kevin


'berapa lama dinas keluar negeri??'


Lisa bangkit dari tempat tidur, dan berdiri di depan jendela. Jalanan sudah penuh dengan kendaraan. Lisa baru ingat hari ini ada rapat dengan Khay, Leo dan pengembang game yang sedang ditangani Lisa. Lisa melihat jam tangannya, masih jam 7 pagi.


Lisa bergegas kekamar mandi untuk membersihkan diri dan mengganti baju. Kalau Kevin yang mempersiapkan pakaian , selalu kemeja panjang longgar dan celana jeans panjang. Lisa pernah menanyakan hal ini kepada Kevin. Jawaban Kevin "agar tidak menggoda para pria yang melihatmu."


Padahal menurut Lisa tidak yang salah dengan pakaian yang biasa dikenakannya. Lisa merasa tidak pernah memakai pakaian terbuka yang membuat tubuhnya terekspos untuk mata orang.


Lisa selesai berpakaian, tapi ia masih berdiri didalam kamar. Ia mulai berpikir membeli sarapan dimana. Belum selesai Lisa berpikir, bel pintu kamarnya berbunyi. Lisa mengintip dari pintu, sebelum membuka kamarnya. Terlihat Nita berdiri didepan pintu. Lisa membuka pintu.


"bibi Nita...kenapa pagi-pagi sudah datang? Dari mana tahu aku disini???" tanya Lisa bingung. Lisa melihat kanan dan kiri, tidak ada orang. Hanya Nita yang ada didepannya.


"tuan Kevin tadi malam menghubungi saya, dan menyuruh saya mengantarkan sarapan untuk nona dan memastikan nona mau menginap dimana nanti malam??"


Lisa menyuruh Nita masuk dan duduk di ruang tamu menemani Lisa sarapan. Nita enggan mengikuti permintaan Lisa.


"saya berdiri saja nona"


Lisa belajar banyak dari Kevin. Tidak berbicara, hanya memandang kearah bibi Nita dengan pandangan dingin. Nita menelan ludah melihat Lisa, dengan ragu ia perlahan-lahan duduk disebelah Lisa.


Lisa mengeluarkan semua makanan yang dibawa Nita dan membuka semua dari wadahnya.


"temani aku makan" kata Lisa


"saya sudah makan nona." jawab Nita


Lisa memegang garpu tegak sambil melihat kearah Nita. Mirip seperti seorang pembunuh yang akan mengambil nyawa korbannya. Nita lagi-lagi menelan ludah. Lama-lama Lisa lebih menyeramkan dibandingkan dengan Kevin.


Lisa menyerahkan sendok dan garpu kepada Nita. Nita pun tidak ada pilihan selain ikut sarapan dengan Lisa.


"aku belum memutuskan nanti malam pulang kemana, tapi sepertinya akan pulang saja ke rumah. Disana lebih banyak orang." jawab Lisa jujur.

__ADS_1


"baik nona, nanti saya akan siapkan pakaian nona disini."


"terimakasih bibi. " Akhirnya Lisa bisa tersenyum setelah sarapan. Hanya makanan yang bisa merubah perasaan Lisa menjadi lebih baik.


"apa A dan B ikut bersama bibi??" tanya Lisa


" tidak tadi saya kemari bersama pak Andi."


"oo...baguslah." Lisa tersenyum manis kepada Nita membuat perasaan Nita menjadi lebih baik.


"pagi ini aku ingin jalan kaki saja kekantor. Kebetulan jaraknya tidak jauh dengan hotel ini."


Nita menjadi gugup, Kevin minta kepada Nita agar menjaga Lisa dengan baik dan memastikan ia naik mobil untuk pergi keluar hotel.


"nona, maaf... tuan Kevin meminta agar mengantar nona ke kantor dengan selamat."


Lagi-lagi Lisa memegang tegak garpu. Dan menatap dingin kearah Nita. Nita merinding melihat Lisa yang seperti ini.


Lisa menarik nafas panjang "aku tidak akan apa-apa. Bibi tenang saja."


Bibi Nita memegang tangan Lisa. "tolong lah nona. Anak saya masih kuliah diluar negeri dibiayai oleh tuan Kevin. Kalau saya tidak mengikuti perintahnya bisa-bisa ketiga anak saya putus sekolah. "


"dia tidak mungkin melakukan hal itu " jelas Lisa


"tuan bisa melakukan nya nona. Percayalah kepada saya." jawab Nita penuh kesedihan diwajah nya.


"kapan ia pernah melakukannya??"


"ketika didesa bunga. kejadian waktu mama nona Lisa diculik. Itu adalah karena kelalaian saya tidak menjaga almarhum dengan baik."


Lisa terdiam, waktu itu ia ingat memang ia dan mamanya keluar tanpa perawat, bibi Nita dan pengawalnya. Lisa tidak tahu kalau ternyata Kevin adalah seorang yang pendendam.


"apa yang dilakukannya???" tanya Lisa penasaran.


Nita tertunduk lesu "tuan Kevin tidak mau membayar uang sekolah ketiga anak saya selama 1 bulan. Biayanya sangat besar. Saya takut hal ini terjadi lagi."


Lisa membesarkan matanya. "dia benar-benar melakukannya???"


Nita tertunduk lesu. "ia nona."

__ADS_1


Lisa menggelengkan kepalanya, "wah Mr K.Luar biasa tega."


"ini memang salah saya. Saya harus menanggungnya. Tapi syukurnya nyonya Caroline membantu diam-diam. Ketiga anak saya dipekerjakan di perusahaan Sun Group."


Lisa mengangguk "memang hanya mami yang bijaksana." puji Lisa kepada mama mertua nya.


"tapi tuan Kevin sangat baik. Ia diam-diam sudah membayar uang kuliah anak saya akhir bulan ini. Benar-benar diluar dugaan. Jadi saya mohon jangan buat tuan marah lagi dengan saya."


Lisa menarik nafas panjang. Hidup tidak boleh mempersulit orang lain. Hidup harus berguna bagi orang lain. Dan hidup harus saling menolong satu sama lain. Lisa menatap Nita, bagaimanapun ia ingin masa depan anaknya lebih baik.


"kuliah dimana??" tanya Lisa


"apa nona tahu dokter yang tinggal dilantai 8?? Saya lupa nama bapak itu. Dia adalah dosen anak saya di Jerman. Anak saya kuliah di fakultas kedokteran di Jerman. Masing-masing sedang mengambil jurusan spesialisasinya."


Lisa menaikkan alisnya dan membuka mulutnya lebar-lebar. "LUAR BIASA...." Lisa berkata sangat kuat, ia sangat bersemangat mendengar anak-anak bibi Nita bisa kuliah sampai setinggi itu.


Nita tersenyum malu. "makanya saya sangat bersyukur bisa bekerja bersama tuan Kevin. Saya sadar, tidak bisa membalas kebaikan tuan Kevin. Jadi cara saya membalasnya adalah dengan mengabdi kepada tuan Kevin sampai akhir hayat saya."


Lisa mengangguk, ia paham sekarang ungkapan hutang Budi dibawa mati.


"baiklah, nanti antar saya kekantor. Kalau nanti mau pulang akan saya telepon bibi. Masukkan nomor ponsel bibi. " Lisa menyerahkan ponselnya kepada Nita seolah tidak ada rahasia didalamnya.


Nita memasukkan nomor telepon nya di ponsel Lisa. Kemudian menyerahkan lagi ponselnya kepada Lisa.


"mohon hubungi saya kalau nona minta dijemput."


"aku rasa bibi tidak perlu ikut menjemput ku. Cukup pak Andi saja." pinta Lisa.


"tapi nona...."


"kalau bibi ikut jemput aku, siapa yang siapkan air hangat dibak mandi, hari ini aku juga ingin minum es teh susu yang dibeli dilantai 1 apartemen dengan sedikit es. " Lisa berusaha mencari alasan, bagaimanapun Nita bukan lagi anak muda. Tubuhnya sudah renta, kalau dilihat-lihat, umur Nita mungkin lebih tua dari almarhum mamanya.


Nita masih diam, ia bingung mau menjawab apa.


"kalau bukan bibi siapa yang membelinya bagaimana kalau minumanku diberi racun??" Lisa membesarkan matanya, agar terkesan menakut-nakuti Nita.


Nita mengangguk cepat "baik nona, akan saya siapkan."


Perkataan Lisa ada benarnya, ia harus menjaga keselamatan istri tuannya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2