
Kevin menahan Lisa, "tidurlah dikamar kita, temani aku malam ini."
Darah Lisa berdesir tidak karuan. Lisa melepaskan tangan Kevin... "aku belum siap." Lisa sangat gugup sekarang.
"kita hanya tidur, perlu persiapan apa??"
Lisa terdiam, apa dia yang terlalu berpikiran mesum? "aku hanya....hanya,,,,belum terbiasa denganmu. Aku,,,,kamu tahu..."
"Lisa....." lagi-lagi pria ini memanggilnya dengan intonasi yang unik, membuat Lisa merasa harus mendengarkannya.
"aku tidak pernah tidur dengan pria sebelumnya, bagaimana dengan mudahnya kau mengajakku tidur denganmu," Lisa menghindar dengan cepat.
Kevin mendekati Lisa. "apa kau ingin lebih dari sekedar 'tidur'?" Penekanan kata tidur membuat Lisa malu ternyata hanya tidur, bukan 'tidur'
"ooh" ujar Lisa menertawakan dirinya sendiri.
"Lupakan, aku mau tidur dengan mama." Lisa berusaha menghindar dari Kevin. Kuping Lisa memerah karena malu.
"aku,,,,pergi dulu." Lisa berjalan keluar dari ruangan kerja Kevin.
Kevin memeluk Lisa dari belakang. "aku sangat lelah hari ini. Biarkan aku tidur. Aku mohon..."
Kevin menyandarkan kepalanya dipundak Lisa.
Lisa diam, nalurinya sebagai seorang wanita terpanggil. Pria ini berani sekali membuat jantung orang berdetak tidak teratur,
"cepat matikan komputer dan matikan lampu ruangan ini"
Lisa dengan gerakan cepat melepaskan pelukan Kevin dan berjalan ke kamar tidur. Ia sangat malu sekarang
Ketika Lisa naik ketempat tidur, ternyata Kevin sudah mengikutinya ditempat tidur.
"apa insomnia kamu begitu parah??" tanya Lisa
Kevin mendekatkan posisi bantalnya kearah Lisa. "Kurasa begitu, tapi sejak bersama mu, rasa kantuk lebih cepat datang." jawab Kevin
Kevin yang mendekati Lisa. Membuat Lisa salah tingkah. Lisa sangat gugup sekarang, jantungnya rasanya mau melompat keluar. Lisa kembali memutar otak untuk mengalihkan pembicaraan.
"Sejak kapan kamu beli apartemen ini??"
"sejak mengetahui kalian tinggal dikota ini." jawab Kevin sambil menggenggam tangan Lisa.
Lisa melepaskan tangan Kevin.
"jangan lepaskan.." perintah Kevin
__ADS_1
"kau pikir aku akan kabur???"
"tidak, hanya membuatku merasa nyaman."
"kamu ini..." Lisa kesal dan menghadap kearah Kevin. Dilihat dari dekat ternyata kulitnya benar-benar mulus, Dilihat saja terlihat bagus, pori-pori wajahnya tidak terlihat. Lisa mulai berpikir jangan-jangan kulitnya lebih bagus dari pada kulitku?? Sepertinya aku perlu lakukan perawatan wajah. Lebih cepat, lebih baik. batin Lisa.
Dalam waktu singkat Kevin sudah tertidur dengan lelap dan Lisa pun mulai tertidur setelah puas memandangi wajah Kevin.
Baru saja Lisa tertidur, Ia dikejutkan dengan suara petir yang sangat kuat. Lisa baru ingat kalau hari ini ada badai petir pada dini hari menjelang pagi. Lisa mulai panik, petir selalu membuat nya takut. Keringat dingin Lisa menahan rasa takutnya, bagaimanapun ia harus ketempat mamanya. Tapi, ruangannya terlalu jauh. Petir semakin kuat dan bersahutan. Lisa menutup kepalanya dengan bantal.
Tangan Kevin membuka bantal Lisa, mendekatinya dan memeluknya dengan lembut. "ada aku, jangan takut." ujar Kevin sambil mencium kening Lisa.
Kevin mengelus pundaknya dan menyapu keringat di dahi Lisa sambil berkata. "tidurlah."
Lisa hanya diam, dia memaksa memejamkan matanya. Walau sulit, tapi entah kenapa rasa takutnya mulai hilang perlahan. Suara jantung Kevin yang didengar Lisa sangat tenang membuat tubuhnya mengikuti secara otomatis. Kehangatan tubuh Kevin membantu Lisa menghangatkan hatinya yang takut.
Kenapa pria ini begitu banyak membuatnya merasakan banyak hal. Tiba-tiba jantung nya berdetak lebih kencang, darahnya berdesir tidak karuan, bisa membuatnya merasa aman dan tenang, pria ini juga seorang pembaca pikiran yang baik. Selama ini Lisa selalu menjauhi banyak pria. Hanya Leo dan seorang kakak senior yang pernah dekat dengannya. Tapi dengan Kevin, ia bisa melakukan kontak fisik walau tanpa ada rasa cinta.
Suara gemuruh petir perlahan menghilang dari pendengaran Lisa bersamaan dengan semakin lelapnya ia tidur di pelukan Kevin.
***
Matahari belum terbit, tapi Lisa sudah terjaga. Kepalanya masih bersandar di dada Kevin dan tangan nya masih memeluk tubuhnya. Lisa sangat malu, bagaimana mungkin ia bisa melakukan hal ini dengan pria yang baru dikenalnya. Bahkan tempat lahir, tanggal lahirnya pun Lisa tidak tahu. Lisa melepaskan tangannya dari tubuh Kevin perlahan-lahan, turun dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar seperti seorang pencuri yang mengendap-endap.
"selamat pagi Bu, apakah saya membuat anda terjaga..." pelayan itu sungkan melihat Lisa bangun lebih awal
"tidak, kebetulan aku bangun lebih awal untuk membuat sarapan. Boleh aku tahu nama bibi?"
"nama saya Juli."
Lisa tersenyum sambil membungkukkan badannya. "kedepannya mohon bantuannya."
Juli jadi sungkan. "ibu jangan begitu, apa ada kesalahan yang saya lakukan?"
"tidak ada, aku hanya ingin berterima kasih, bibi sudah bekerja sangat baik. Kedepannya jika aku membutuhkan sesuatu aku harap bibi bisa memberikan pertolongan. jelas Lisa
"bisa bu, tentu saja bisa."
"baiklah aku pergi membuat sarapan dulu." Lisa berjalan kearah dapur. Dan mulai membuka kulkas. Hanya ada berbagai jenis minuman. Tidak ada sayur, ikan apalagi daging. Bahkan telur pun tidak ada.
"maaf Bu, apa masakan kami tidak sesuai keinginan ibu." tanya Juli takut.
"tidak. Aku terbiasa membuat sarapan pagi. Tapi sepertinya tidak ada bahan yang bisa aku masak pagi ini." Lisa murung karena tidak menemukan yang diinginkannya.
"bahan masakan ada di kulkas ruangan sebelah, jika ibu mau boleh kesana."
__ADS_1
wajah Lisa berubah senang. "apakah boleh??"
"tentu saja. Tapi apa nanti pak Kelvin...."
"tenang saja, aku pastikan tidak akan marah."
Juli mengajak Lisa keruangan sebelah. Lisa kaget, ruangan untuk pelayan rumah Kevin semewah ini. Ada ruang tamu yang menyatu dengan ruang makan. Televisi yang sangat besar.
' Luar biasa' pikir Lisa. Bahkan ia dan mamanya pernah bekerja sebagai pembantu rumah tangga saja tidak seperti ini fasilitasnya.
"kami disini ada 3 orang. Saya yang bagian membersihkan rumah, Nita bagian mencuci dan Rita yang mengurus bagian dapur."
'Tuan muda ini benar-benar loyal dengan karyawannya.' pikir Lisa.
Rita keluar dari kamarnya bersiap membuat sarapan. Juli memperkenalkan Lisa kepadanya dan menjelaskan kepentingan Lisa.
"Bu, saya sangat butuh pekerjaan ini. Kalau saya ada salah dalam memasak mohon arahannya."
"tidak ada masalah, aku hanya ingin masak. Boleh aku minta bahan masakan sedikit."
"silahkan ini semua kan memang punya ibu dan bapak."
Lisa tersenyum puas melihat isi kulkasnya. Benar-benar lengkap seperti berbelanja di supermarket.
Setelah mengambil bahan masakan yang diperlukan, Lisa pamit. Tapi sampai di dapur ternyata tidak ada alat memasak.
'rumah semewah ini tidak punya alat memasak.'
Lisa pun kembali keruangan sebelah
"maaf Bi, boleh pinjam alat masak."
"maaf Bu, semua peralatan masak memang ada disini semua sesuai permintaan pak Kevin. Silahkan ibu butuh yang mana.."
Lisa mengambil 2 pan dan satu penggorengan. Setelah mengucapkan terima kasih, Lisa kembali ke dapur.
Lisa mulai sibuk memasak. Rencananya ia hanya masak makanan yang mudah. Spaghetti bolognese, roti panggang sosis, telur gulung, dan salad sayur.
Satu jam dihabiskan Lisa untuk mempersiapkan masakannya. 'sepertinya aku masak terlalu banyak' pikir Lisa.
Karena terlalu sibuk dengan masakannya, Lisa tidak sadar tiga orang tua sudah duduk dimeja makan.
"sejak kapan kalian duduk disitu?" Lisa terkejut sambil mengelus dadanya.
Caroline tertawa sambil berkata "maaf sudah mengejutkan mu sayang. Kami sudah 5 menit yang lalu disini. Wangi masakan kamu benar-benar membuat kami semua ingin sarapan."
__ADS_1