
Lisa sampai dirumah dan begitu membuka pintu ada televisi besar dan lagi-lagi ada wajah Kevin. Lisa terkejut melihat wajah Kevin. Sejak kapan ada televisi sebesar ini disini??? Pikir Lisa. Kevin terlihat sedang berbicara dengan orang lain dengan berbahasa asing. Lisa berdiri melihat Kevin yang terlihat sibuk dengan dirinya sendiri.
Kevin melihat kearah Lisa. “kamu sudah pulang??”
Lisa mengangguk, “aku mau keatas dulu.” Lisa melambaikan tangannya kearah Kevin dan naik kelantai 2 untuk mandi.Dikamar Lisa lagi-lagi dikejutkan ada televisi besar dan wajah Kevin ada dilayar televisi. Lisa tidak memperdulikannya dan masuk kekamar mandi.
Lisa tersenyum, walau terkesan sangat narsis tapi pria ini bisa membuat Lisa merasa tidak sendirian dirumah
ini. Lisa selesai mandi dan berpakaian. Ia turun kelantai 1 untuk makan malam. Televisi sudah berputar kearah ruang makan.
Suara Kevin menggema diruangan.
“makan yang banyak ya sayang.” Kata Kevin.
Lisa hampir tersedak mendengar
perkataan Kevin. Bisa-bisanya pria ini merayu Lisa dalam keadaan sedang rapat. Apa tidak merasa malu?? Lisa hanya melirik kearah Kevin dan tidak merespon
perkataanya.
Selesai makan Lisa naik keatas kamar lagi. Lagi-lagi ada wajah Kevin dikamar. Selesai sikat gigi Lisa berbaring ditempat tidur, Kevin masih sibuk bekerja dengan beberapa orang asing dan Frans disebelahnya.
Lisa tersenyum nakal. "suami..aku baru 1 hari tidak melihatmu secara langsung rasanya aku sangat merindukanmu. Aku ingin mendengar kamu mengatakan kalau kamu merindukanku sekarang" goda Lisa.
Kevin melirik kearah Lisa dan melanjutkan berbicara dengan rekan bisnisnya. Lisa berguling-guling ditempat tidur "cepat katakan kalau kamu mencintaiku,,," Lisa terlihat seperti anak kecil yang sedang marah kepada orang tuanya yang tidak memenuhi keinginannya. Lisa cemberut melihat kearah Kevin.
Kevin meletakkan jari telunjuknya kearah bibirnya, memberikan instruksi agar Lisa diam sejenak. Lisa cemberut dan kembali berguling-guling ditempat tidur.
"kamu tidak tahu hari ini aku mengalami hal buruk, dan kamu tidak berniat membuat istri kamu senang. Apa dipikiran kamu hanya bekerja. Tidak ada aku dipikiran mu?"
Lisa mengeluarkan jurus kombinasi wajah sedih dan cemberut sekaligus. Kevin menahan senyum melihat wajah Lisa yang lucu. Lisa menutup seluruh tubuhnya dengan selimut. Sangat panas didalam selimut, tapi ia harus membuat Kevin memenuhi keinginannya. Harus sabar ucap Lisa dalam hati. Lisa hampir kehabisan udara didalam selimut. Akhirnya Kevin mengatakannya juga.
"i miss you so much" Lisa tersenyum dibalik selimut mendengar perkataan Kevin. Akhirnya ia memenangkan pertarungan perasaan dengan Kevin. Lisa segera membuka selimut yang menutupi wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam.
"aku tidur dulu" . Lisa mematikan lampu besar dan menghidupkan lampu tidur.
__ADS_1
"kamu tidak merindukanku?? tanya Kevin
"selamat malam." Lisa melambaikan tangannya kearah Kevin dan memejamkan matanya sambil tersenyum merayakan kemenangannya.
Lisa tertidur dengan lelap, hari ini begitu banyak hal yang terjadi dalam hidupnya. Seandainya Kevin ada disampingnya ia akan sangat bahagia karena ada sesorang yang akan menghiburnya.
******
Pagi hari tiba, lagi-lagi wajah Kevin dilihatnya sedang duduk ditempat tidur sambil memegang tabnya seperti biasa.
Lisa menggaruk kepalanya heran melihat Kevin 24 jam bersama dengan dirinya. Apa pria ini tidak bosan??? Pikir Lisa.
"kamu tidak tidur??" tanya Lisa
"Aku mengalami jet lag"
Lisa mengangguk, kemudian melihat Caroline duduk disebelah Kevin. Mata Lisa membesar. "kamu ada di paris? kenapa tidak mengajakku??" Lisa cemberut
"Kamu tinggal pesan tiket saja nak, nanti biar mami yang bayar kalau Kevin tidak mau membelikan tiket pesawat untukmu. Mami sangat merindukanmu.." Caroline menjulurkan kedua tangan seolah ingin memeluk Lisa
"mami, dia pergi dinas tanpa mengatakan kepadaku." Lisa terlihat bersedih.
Kevin hanya tertunduk sambil mengangguk pelan. Keputusan untuk pergi dinas bukan direncakan, tapi Kevin harus pergi tiba-tiba karena pihak investor Paris mendadak ingin membatalkan kontrak dengan alasan mendapatkan penawaran yang lebih baik dari pesaing Grop Sun. Tentu saja Kevin tidak akan tinggal diam membiarkan semua ini. Nilai investasi yang ditanamkan untuk usaha ini lebih besar dari yang lainnya. Tentu saja Kevin harus melakukan hal lebih lagi.
"tapi tidak masalah mi, ketika aku dikantor ada wajah Kevin, aku masuk rumah ada wajah Kevin dan ketika mau tidur ada wajah dia lagi. Pokoknya dia ada dimana-mana." Lisa berkata jujur kepada Caroline.
"mami paham penderitaan mu nak." Caroline ikut prihatin dengan Lisa. Anaknya ternyata sangat posesif kepada istrinya.
Kevin melihat Caroline dengan tatapan tidak percaya, maminya berani mengatakan hal tersebut kepada Lisa. Selama ini Kevin ada prioritas hidup orang tuanya, sekarang mereka lebih membela Lisa dari pada anak kandungnya sendiri. Kevin hanya menunduk menyesali semuanya, semua adalah salahnya. Kedua orang tua dan istrinya tidak pernah salah. Kevin lah yang bersalah atas semua hal yang terjadi.
Caroline dan Lisa tertawa merayakan kemenangan mereka dalam menyudutkan Kevin. Lisa melihat sudah jam 7 pagi, Lisa harus segera pergi kekantor. Lisa berpamitan dengan Caroline dan Lisa segera bersiap-siap untuk pergi kekantor.
*****
Lisa melihat Andi sudah berdiri disebelah mobil sedan baru berwarna kuning cerah.
__ADS_1
"kemana mobil putih yang biasa pak???" tanya Lisa
"Pak Kevin semalam mengganti mobil dengan yang ini nona." Jelas Andi kepada Lisa.
"Kenapa harus diganti?? bukan kah itu mobil baru??" tanya Lisa sambil masuk kedalam mobil. Didalam mobil lagi-lagi ada wajah Kevin. Tab terpasang dibelakang kursi pak Andi.
"Mr K, apa kamu tidak bosan mengikuti ku seharian???" tanya Lisa
"mana mungkin aku bisa bosan dengan istriku sendiri." jelas Kevin
Lisa menghela nafas. "kenapa kamu mengganti mobil??"
"Mobil itu memiliki ketahanan sama seperti mobil para presiden. Mobil anti peluru. Kacanya ketika dipukul atau merima benturan secara otomatis akan naik lapisan baja yang melindungi orang yang ada didalamnya."
Lisa merinding mendengar penjelasan Kevin. "apa menurutmu ada orang yang mau membunuhku??" tanya Lisa serius.
"Lebih baik berjaga-jaga, belakangan ini banyak hal yang tidak terduga terjadi. Aku hanya ingin kamu aman."
"apakah kamu sudah mengetahui siapa yang melakukan teror kepadaku?" tanya Lisa.
Kevin mengangguk pelan, "setelah aku pulang kita akan bertemu dengan orang tersebut. Bagaimana pun kamu harus mengetahui siapa pelakunya. Tapi sebelum hal itu terjadi aku harap kamu sudah mempersiapkan mental untuk semua hal baik dan buruk yang akan terjadi pada kita."
Lisa memajukan bibirnya, tiba-tiba perasaannya tidak enak. Lisa sudah melewati banyak hal yang diluar nalar. Untuk saat ini apakah ia sanggup mengahadapi semuanya lagi?
"aku perlu bertemu dengan Cindy..." Lisa berkata pelan.
Kevin membuka matanya, "kamu baik-baik saja sayang???" tanya Kevin.
"bagaimanapun aku rasa perlu mempersiapkan semuanya sebelum aku mengetahui segalanya." Lisa berkata dengan penuh keyakinan.
Ada rasa khawatir dihati Kevin, bagaimana jika Lisa kembali membencinya seperti dulu. Kevin hanya diam.
"kamu tidak perlu khawatir. Aku berjumpa dengan Cindy untuk mempersiapkan diriku secara mental. Tidak ada hubungan dengan kamu. Sejauh ini kamu sudah berkata jujur dan mau menjelaskan semuanya kepadaku adalah hal baik. Aku hanya tidak yakin kepada diriku."
"baiklah, aku akan membuat janji dengan Cindy besok siang. Bagaimana??" tanya Kevin
__ADS_1
"oke. besok siang tolong bantu aku."
Lisa sampai di kantor dan langsung masuk kedalam ruangan kerjanya. Begitu meletakkan tas dan melihat layar komputernya lagi-lagi ada wajah Kevin. Lisa berteriak kesal "Mr K. kenapa kamu ada dimana-mana..." sambil membanting mejanya.