Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
kenapa....


__ADS_3

"kamu dimana??" tanya Caroline


"di apartemen" mata Kevin melihat kearah pintu kamar


"Lisa bersama kamu??"


"ya"


"dia tidak mengatakan apapun??"


"tidak..."


"pantas, ia pasti sangat sedih sekarang. Punya suami yang tidak memperdulikannya. Berita kehamilannya pun tidak ingin disampaikannya kepadamu.. kamu memang pantas mendapatkannya."


Kevin terdiam, perkataan maminya masuk kedalam hati. Ini semua pasti karena kesalahan dirinya. Lisa terlihat keluar dari dalam kamar sambil membawa tas laptop dan tas pakaian.


"Kevin, kamu masih disitu..." tanya Caroline karena Kevin tidak bersuara sama sekali.


"ya..."


"kamu jangan buat dia lelah. Dokter mengatakan ia harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran dan tidak boleh membawa barang berat. Kalau terjadi sesuatu kepada Lisa... mami akan pukul kepala kamu. Paham."


Caroline masih mengomel dan Kevin hanya diam mendengar omelan maminya yang sepertinya masih lama akan diakhiri. Kevin berdiri menatap Lisa yang berjalan kearahnya, matanya tidak berhenti menatap perut Lisa dengan tidak percaya. Hatinya sangat senang dengan berita kehamilan istrinya. Tapi kenapa Lisa tidak memberitahukan kepadanya. Kevin teringat ketika Lisa berkata kepadanya ditempat tidur. Ia mengatakan kalau ia kesal karena Kevin tidak menghubunginya, apa karena hal ini Lisa tidak ingin memberitahukan kepadanya?


"hari ini, setelah menemani kamu kembali ke apartemen aku akan kembali ke hotel." kata Lisa sambil sibuk memeriksa tas ransel yang biasa digunakannya untuk kuliah.


"kenapa??" tanya Kevin


"tidak apa-apa." jawab Lisa singkat


"ada yang ingin kamu katakan kepadaku??" Tanya Kevin penuh harap Lisa akan memberitahukan berita kehamilannya kepadanya.


Lisa berpikir sejenak, "ada.."


Kevin tersenyum puas dengan jawaban Lisa ia berdiri dan berjalan kearah Lisa. Tapi Lisa lebih dahulu berdiri dan masuk kembali kedalam kamar mengambil charger laptopnya yang tertinggal.

__ADS_1


"apa itu??" kata Kevin kecewa melihat Lisa mengacuhkannya


"aku mau ke toko buku, aku perlu buku tulis baru, terlalu banyak yang aku salin."


"baiklah, aku akan menemanimu." Kevin tidak bisa menutupi kesedihannya menjadi pria yang tidak diinginkan istrinya lagi.


"tidak perlu. kamu sibuk saja. Aku bisa sendiri."


"kenapa??" tanya Kevin tidak puas.


Lisa mengerutkan keningnya 'apanya yang kenapa? bukan kah ia masih lelah karena penerbangan hampir 20jam. Sudah pasti ia sangat lelah, bukan kah lebih baik beristirahat. Pekerjaan di Paris bukan kah masih perlu follow up darinya. Lantas kenapa dia sepertinya kesal... Benar-benar aneh.' batin Lisa.


Lisa tidak menjawab pertanyaan Kevin dan sibuk dengan dirinya sendiri. "aku sudah siap. Ayo kita pergi." kata Lisa sambil membawa tas laptop dan tas pakaian.


Kevin dengan cepat mengambil tas yang dipegang oleh Lisa. Kemudian ia berjalan sambil membuka kan pintu untuk Lisa. Didepan pintu kedua pengawal sudah berdiri tegak menunggu mereka. Kevin menyerahkan tas pakaian dan tas laptop kepada mereka. Kemudian menggendong Lisa.


"aku bisa sendiri, turunkan aku."


Kevin tidak berbicara apapun dan tetap menggendong Lisa di pelukannya.  Kevin yakin, Lisa akan mengatakan kepadanya, jika suasana hatinya menjadi lebih baik. Maka tugasnya kali ini adalah membuat Lisa bahagia agar ia bisa yakin menceritakan kehamilannya. Kali ini ia akan menjaga Lisa dengan sebaik-baiknya, memastikan Lisa tidak berada didekat orang-orang yang mungkin akan menyakitinya dan anak dalam rahim Lisa


"ya..."


"kenapa kamu harus menggendongku??"


"karena aku rindu ingin memanjakan kamu."


Lisa tersenyum mengejek melihat Kevin "mungkin kamu ada salah makan didalam pesawat." sindir Lisa.


Kevin menurunkan Lisa di lobby hotel, dengan santai Lisa berjalan kearah jalan raya.


"kamu mau kemana??"


''toko buku." jawab Lisa santai sambil melihat kearah lampu lalu lintas berwarna hijau untuk penyeberang jalan.


"kenapa tidak naik mobil??"

__ADS_1


"untuk apa naik mobil, toko buku ada disimpang sana. lebih cepat berjalan kaki." protes Lisa.


Kevin menghela nafas, seminggu tidak bertemu ternyata wanita nya sudah lebih keras kepala dari pada biasanya.


Kevin menggandeng tangan Lisa dan berdiri dipinggir jalan menunggu lampu berwarna hijau untuk penyeberang jalan.


"dari mana kamu tahu disini ada toko buku?" tanya Kevin penasaran


"satu hari aku merasa bosan berada didalam hotel ketika kamu masih diluar negeri. Jadi aku berjalan-jalan disekitar sini dan menemukan banyak tempat menarik disekitar sini. Ada tempat makan hot pot diseberang sana, kalau mau makan es krim lezat ada di 2 tempat sebelahnya. Mau minum kopi ada dibarisan toko buku, hanya 5 toko jaraknya." Lisa bicara sambil menunjuk tempat yang dikatakannya.


Kevin berbalik badan melihat dengan tajam kearah A dan B. Bagaimana mungkin mereka bisa membiarkan istrinya berjalan menyeberangi jalan raya yang berbahaya seperti ini. Bagaimana jika ada pengemudi yang lalai kemudian terjadi sesuatu kepada istrinya....Membayangkan saja Kevin tidak sanggup..


A dan B menyadari kalau bos pria tidak menyukai tindakan istrinya dan kesalahan bagi mereka adalah membiarkan istrinya melakukan hal berbahaya. Padahal ketika hal itu terjadi mereka ada didekat Lisa dan membantunya menyebrang jalan. Semua sudah dipastikan aman dan sesuai dengan prosedur pekerjaan meraka.


Lampu sudah berwarna hijau dan Lisa berjalan dengan santai, sementara Kevin masih sibuk dengan memberikan pelajaran dengan tatapan mata kepada pengawalnya. A mengambil inisiatif mengejar Lisa walau mengetahui bosnya masih memberikan teguran non lisan kepada mereka. Kevin melihat A berlalu dari hadapannya membuat darahnya mendidih.


Kevin berbalik arah dan ternyata A berjalan disamping  kanan Lisa memantau kendaraan disebelahnya sudah berhenti dan tidak menganggu Lisa berjalan. Kevin lagi-lagi merasa gagal, mendahulukan hal yang tidak penting  dan mengorbankan hal yang penting. Kevin dengan cepat berlari kearah Lisa dan memarahinya


"kenapa tidak menungguku,,,," tanya Kevin kesal


"menunggu bagaimana..bukan kah kamu ada di sebelahku." bantah Lisa. Lisa tidak memperhatikan Kevin yang tadi sibuk dengan kedua pengawalnya. Mata Lisa hanya fokus dengan lampu lalu lintas dihadapannya. Sehingga begitu berubah warna Lisa langsung berjalan menyeberang jalan tanpa banyak berpikir.


"kamu ini apa sangat sulit mendengarkan ku."


"Mr K....aku rasa penerbangan dari Paris terlalu banyak turbulensi, membuat otak mu terlalu banyak terguncang. Hanya masalah menyeberang jalan saja sudah membuat mu marah seperti ini." kata Lisa kesal.


Kevin ingin menyanggah perkataan Lisa, tapi diurungkannya. Lisa masih kesal kepadanya, membuatnya tambah marah hanya akan memperuncing hubungan mereka berdua. Kevin menarik nafas panjang dan membuangnya dari mulutnya. Emosi wanita hamil sangat tidak stabil, Kevin hanya perlu bersabar mengikuti semua keinginan istrinya dengan catatan hal itu tidak berbahaya bagi dirinya dan bayi mereka.


Sampai di toko buku, Lisa mulai sibuk dengan kegiatannya mencari buku tulis. Kevin dengan sabar mengikutinya. Kevin memperhatikan buku tulis yang dipilih Lisa ada yang bergambar boneka dan animasi naruto. Kevin berpikir, sepertinya selama mereka menikah Lisa tidak menyukai naruto, sepertinya memang benar Lisa sedang mengandung.  Kevin memperhatikan perut Lisa, masih rata  tidak terlihat seperti sedang hamil.


Lisa melihat Kevin yang kedapatan sedang memperhatikan tubuhnya, Lisa memperhatikan pakaian dan sepatu kets yang dipakainya menutut Lisa tidak ada masalah. "Apa ada yang salah..."


Kevin berdiri sambil memegang dagunya dan satu tangan lain di dadanya. "apakah benar kamu sedang hamil??" tanya Kevin dengan ragu.


Lisa bertolak pinggang sambil menatap Kevin dengan kesal, emosi dan penyesalan.

__ADS_1


__ADS_2