Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
biarkan


__ADS_3

Kevin sampai diruangan nya, sebelum masuk ia berpesan kepada Frans agar tidak masuk keruangan dan tidak menerima tamu selama 1 jam kedepan. Demikian juga untuk ruangan Lisa. Frans mengangguk paham. Tapi tidak mengeri kenapa bosnya meminta hal itu. Seingatnya Lisa menyampaikan materi rapat dengan baik dan menjawab semua pertanyaan. Kenapa Kevin terlihat kesal. Bukanya seharusnya dia bangga dengan istri seperti Lisa??


Lisa masuk kedalam ruangannya. Kevin berdiri disamping pintu langsung menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Suara pintu tertutup sangat kuat, membuat Frans dan 2 orang sekertaris Frans terkejut. Mereka bertiga yang mendengar suara pintu ditutup dengan cukup kuat saja terkejut apalagi Lisa yang berada didalam ruangan.


Kevin menahan Lisa dipintu dengan kedua tangannya. Kevin mencium bibir Lisa dengan lembut perlahan-lahan semakin kuat dan dalam. Lisa kesulitan bernafas. Lisa mendorong tubuh Kevin. Kemudian bernafas tersengal-sengal.


"kamu....tahu.... ini....kantor..." Lisa berbicara terbata-bata. Nafasnya tidak teratur.


"Apa kita perlu selesaikan, ditempat lain???" tanya Kevin ditelinga Lisa


Nafas Kevin yang berbicara ditelinga Lisa dengan lembut membuat darah Lisa berdesir hebat. Tubuh Lisa tiba-tiba menginginkan hal lain. Pikiran masih memikirkan bahwa ini adalah kantor, tidak layak melakukan hal seperti itu. Tapi tubuhnya merespon yang berbeda.


Tangan Lisa membuka jas Kevin, kemudian dia membuka kancing bajunya. Saat tangan Lisa memegang perut Kevin yang berotot. Tangan Lisa berhenti menjelajah.


"maaf ...... aku ..." Lisa menutup wajahnya dengan telapak tangannya. Ia selalu mengatakan Kevin adalah pria mesum, ternyata dia sendiri melakukan hal yang sama.


Berbeda dengan Lisa, Kevin tersenyum puas, ternyata istrinya menginginkan hal yang sama. Kevin mengeluarkan ponsel dari saku jasnya dan menghubungi Frans.


"infokan ke hotel kita, aku akan menginap sekarang. Tolong siapkan ruangan ku sekarang."


"baik pak," Frans memiringkan kepalanya. Tadi marah, tiba-tiba memesan kamar hotel. Hari ini bosnya susah dipahami apa keinginannya.


Kevin menutup panggilan telepon Frans dan kemudian memperbaiki kancing kemejanya yang dibuka Lisa.


"kita lanjutkan ditempat lebih private" bisik Kevin.


Lisa masih menutupi wajahnya dengan telapak tangannya. "kita sedang bekerja, tidak baik jika bolos kerja."


"ini adalah perusahaan ku dan kau adalah istriku. Tidak akan ada masalah."


"tapi apa kata orang nanti.... aku malu...."

__ADS_1


"hubungan kita adalah suami istri dan legal dari segi hukum."


Lisa menarik ujung jas Kevin. "aku tidak mau mereka berpikir...." Lisa masih tidak berani melihat wajah Kevin.


Kevin berbisik ditelinga Lisa, "aku tidak bisa menahan lagi .....3 Minggu kamu sibuk dengan kerjaan dan tidak memperdulikan aku. Aku membutuhkanmu." kemudian Kevin mencium telinga Lisa dengan lembut turun ke lehernya.


Dua kata 'aku membutuhkanmu' dan sentuhan dari bibir Kevin dikulitinya membuat pikiran Lisa melayang.


Lisa mendorong Kevin perlahan. "aku harus mengerjakan laporan sekarang." Lisa berjalan kearah meja kerjanya dan mulai menghidupkan laptopnya.


Kevin tersenyum senang melihat istrinya yang malu-malu. Lisa terlihat sangat tegang sekarang. Kevin mendatangi Lisa dan berdiri dibelakang kursinya. Kevin mulai melakukan hal persuasif. Menciumi telinga Lisa, menjilati nya perlahan. Lisa berusaha menghindar, tapi Kevin memeluknya dari belakang. Tangan Kevin mulai bergerak nakal, meraba dada Lisa.


Tidak sadar Lisa mulai mengerang. Lisa menutup mulutnya dengan tangannya. Tidak bisa begini terus. Lisa berdiri, dan menarik dasi Kevin keluar dari ruangan.


Frans terkejut melihat Lisa keluar dengan menarik dasi Kevin. Dalam hatinya berkata 'luar biasa kakak ipar, benar-benar berani memperlakukan hal tersebut kepada bos besar Sun Group.


Lisa menoleh kearah Frans, "tolong hubungi Leo dan Khay. Rapat ditunda besok pagi."


Lisa sadar masih memegang dasi Kevin, bagaimanapun ia adalah bos besar. Jika dilihat karyawannya makan akan menjatuhkan harga diri nya. Lisa melepaskan genggaman dari dasi Kevin kemudian memperbaiki nya. "ayo cepat" perintah Lisa kepada Kevin.


Kevin dengan raut wajah datar mengikuti Lisa dari belakang. Tidak berkata apapun hanya mendengar perkataan istrinya. Kevin membawa sendiri mobilnya, posisi hotel tidak jauh dari kantor hanya berkendara 10 menit sudah sampai ke tujuan.


Lisa melihat hotel tersebut kemudian melihat kearah Kevin. "Apa ini punya Sun Group???" Tanya Lisa


Kevin tersenyum bangga, "ya.... ini adalah salah satu milik Sun Group."


"ini adalah salah satu hotel termahal. Setahu aku, tidak sembarang orang bisa menginap disini karena biaya permalamnya sangat mahal" keluh Lisa


Kevin tertawa melihat wajah Lisa yang cemberut. "kedepannya kalau kamu mau menginap cukup hubungi manager nya saja. Nanti akan aku perkenalkan dengannya."


"tidak ah....nanti uangku akan habis."

__ADS_1


"tidak akan habis. Kamu tidak perlu membayar untuk menginap disini."


Mata Lisa membesar. "benarkah? apakah termasuk biaya makan?" tanya Lisa


"lakukan apapun yang kamu inginkan tidak perlu membayar."


Lisa tersenyum senang. Begitu sampai di hotel, didepan pintu masuk para staf hotel berbaris lurus menyambut Kevin dan Lisa. Lisa tidak terbiasa dengan kondisi seperti ini.


"apakah harus seperti ini???"bisik Lisa


"mulai sekarang kamu harus terbiasa."


Kevin memberi salam kepada beberapa staf hotel, kemudian membawa Lisa keruangan. Ruangannya besar seperti biasa. Ketika liburan ke Jepang, Kevin memesan kamar yang sangat besar seperti ini. Padahal hanya mereka berdua yang tinggal.


"bangunan ini dibagi 3. Ada khusus hotel, perkantoran dan mall. Semua akses ketempat tersebut berbeda lift. Dan akan dijaga oleh security. Semua yang mempunyai kepentingan baik itu ke hotel dan perkantoran akan diberikan id card. " jelas Kevin.


Ketika masuk kedalam lift, Lisa tidak menemukan tombol lantai pada lift. Lisa menunjuk tempat biasanya tombol angka lantai kepada Kevin.


"itu gunanya kartu yang ada di tanganmu sayang. Arahkan ke mesin barcode nya."


Lisa mengikuti perkataan Kevin. Secara otomatis di penunjuk lantai ada tertulis angka 50. Lisa benar-benar kagum dengan kecanggihan liftnya. Ketika akan keluar, lift tidak terbuka. Lisa melihat kearah Kevin lagi.


"sekarang gunakan finger scan." kata Kevin. Kevin meletakan jari telunjuk nya pada mesin scan jari.


Lisa mengikuti Kevin meletakkan jari telunjuknya. secara otomatis pintu lift terbuka. "Luar biasa" Lisa kagum dengan kecanggihan hotel ini.


"data kamu sudah tersimpan disini, hanya cukup membawa kartu prioritas ini saja " Kevin berbicara sambil menunjuk kartu ditangannya, kemudian menyerahkan kepada Lisa.


Lisa memegang kartu tersebut dengan senang. Matanya bercahaya melihat kartu berwarna emas itu.


Lisa dan Kevin keluar dari dalam lift dan masuk kedalam ruangan 5000. Begitu pintu dibuka, hamparan gedung-gedung didepannya sangat cantik. Lisa berlari kearah jendela. "luar biasa, ini lebih tinggi daripada dirumah..."

__ADS_1


Lisa masih mengagumi keindahan pemandangan dari dalam kamar hotel, tapi pria dibelakangnya siap menerkamnya.


__ADS_2