
Lisa melihat kearah Kevin, tatapan matanya masih sama. Jika Lisa tidak mengajaknya berbicara, pandangan kosong akan terlihat disorot mata tajamnya. Benar-benar tidak seperti Kevin yang dikenalnya. Sepertinya berjalan-jalan dengannya bukan solusi yang tepat agar Kevin melupakan masalahnya.
Kevin memiliki pekerjaan yang sangat berat, tapi tidak pernah sekalipun Kevin menunjukkan sikap seperti ini. Lisa mengetahui insomnia Kevin sudah sangat parah, terutama 6 bulan belakangan ini. Lisa ingin menebus semuanya. Bagaimana pun juga itu adalah kesalahannya. Lisa masih belum mendapatkan jawaban dari perkataan Cindy tadi, kesukaan Kevin menurutnya adalah dirinya sendiri. Tapi ketika bersama di lokasi yang sangat romantis sepertinya Kevin tetap berada di dunia bawah sadarnya. 'apa yang harus aku lakukan???'batin Lisa juga sibuk berdebat dengan dirinya sendiri.
Lisa diam-diam mencuri pandang kearah Kevin, 'apakah kalau aku mengajukan pertanyaan dia akan marah?' pikir Lisa.
"Kevin,,,,," panggil Lisa
Tidak ada respon dari Kevin. Lisa menaikkan volume suaranya "Kevin...."
Responnya masih sama, tidak ada reaksi sama sekali. Lisa menarik nafas panjang, kalau marah dengannya saat sekarang ini akan merusak perasaannya. Lisa memutar otak, mencari cara untuk menarik perhatian Kevin.
'tadi pura-pura jatuh, Kevin langsung berlari menangkapnya. Kalau saat ini pura-pura jatuh ke sungai, bagaimana ya....'pikir Lisa,
'tidak-tidak, udara sangat dingin. Aku bisa mati betulan jika melakukan hal gila seperti itu.' pikir Lisa sambil menggelengkan kepalanya.
Satu tangan Lisa memegang dagunya otaknya masih mencari solusi untuk menarik perhatian Kevin.
"Kevin..." panggil Lisa lagi. Pria ini masih sangat santai tidak merespon panggilan dari dirinya. Lisa mulai kesal. Ia menyandarkan kepalanya dipundak Kevin.
Kevin melihat Lisa "apa kamu kedinginan sayang??" tanyanya
"dingin suhu belum seberapa dibandingkan dengan dinginnya suasana hatiku saat ini." ujar Lisa pelan.
"kenapa??" tanya Kevin ulang, ia tidak mendengar dengan jelas apa yang dikatakan Lisa
"kamu tidak apa-apa? Dari tadi aku melihatmu sedang melamun. Aku sudah memanggil namamu 3 kali tapi tidak ada respon sama sekali. Rasanya aku benar-benar kesal karena kamu mengacuhkan ku." jawab Lisa murung
"maafkan aku, aku tidak mendengar kamu memanggil namaku." Kevin menggenggam erat tangan Lisa didalam saku jaketnya.
"kamu memikirkan sesuatu??" tanya Lisa ragu.
"tidak...tidak ada yang aku pikirkan." jawab Kevin.
Lisa memandang Kevin dengan tatapan tidak percaya, pria dihadapannya ini memiliki tingkat egois yang sangat tinggi, Ia terbiasa menyelesaikan semua masalahnya sendiri, dan memendam semua perasaan dalam hatinya agar tidak diketahui orang lain.
__ADS_1
"aku tidak suka kamu yang seperti ini, aku ingin menjadi orang pertama yang menjadi tempat bagimu menceritakan ketakutan dalam hatimu." Lisa masih menyandarkan kepalanya dipundak Kevin sambil menatap lampu di ujung sungai didepannya.
Lisa merasakan Kevin menarik nafas panjang, tapi tidak terdengar suara di telinga Lisa. Kevin memainkan tangan Lisa, memijatnya dengan lembut dengan jari-jarinya didalam saku jaket.
"sayang,,, aku seorang laki-laki. Seseorang yang harusnya melindungi wanitanya menjaganya dan mendengarkan semua keluhannya. Aku adalah perisai di hidupmu. Aku tidak ingin menjadi pria lemah yang suka mengeluh dengan keadaan dan pikiran ku. Aku ingin menjadi orang yang bisa kau andalkan, bukan menjadi orang yang mengandalkan mu." kata Kevin sambil menatap wajah Lisa
"bercerita apa yang ada dipikiran mu bukan merupakan suatu kelemahan. Tapi membuatku merasa dihargai sebagai pasangan. Bukan kah kau mengatakan kita harus membagi perasaan kita bersama. Menghadapi semua masalah bersama-sama." jelas Lisa
Satu tangan Kevin mengusap rambut Lisa dipundaknya sambil memperbaiki topi rajut berwarna putih yang dikenakan Lisa agar menutupi telinganya. "sampai sekarang aku masih berusaha menjadi sosok suami yang sesuai dengan keinginanmu sayang, tapi tolong pahami aku perlu belajar melakukannya perlahan-lahan." kata Kevin
Mendengar perkataan Kevin, mata Lisa berbinar, 'pria ini mau belajar? Tentu saja ia harus mulai mengungkapkan perasaannya' batin Lisa.
"Lisa.... berhenti menatapku seperti itu. Aku tahu kamu pasti mengharapkan sesuatu yang lebih." Kevin membuang pandangannya kearah depan. Sangat berbahaya melakukan kontak mata langsung dengan wanita yang memiliki keinginan keras seperti Lisa.
"lihat aku" perintah Lisa
"tidak mau." kata Kevin cemberut
Lisa memegang dagu Kevin dengan satu tangannya dan memutarnya kearah pandangannya. Lisa mengedipkan mata kanannya kearah Kevin, bagaimana pun ia harus mendapatkan jawaban kegalauan hati Kevin.
"aduh,,,, Lisa berhenti bersikap menggoda seperti itu. Aku tidak bisa menjamin semuanya sekarang kalau kamu masih bersikap seperti itu." ancam Kevin
Kevin paling tidak suka melihat Lisa yang menggigit bibirnya, tidak ada pilihan lain baginya selain memuaskan istrinya. Menjawab semua pertanyaan yang diajukannya.
"baiklah...kamu menang. Apa yang ingin kamu tanyakan.??" kata Kevin pasrah
Lisa tersenyum kemenangan sambil mengalihkan pandangan melihat kembali sungai Thames
"apa kamu baik-baik saja??"
"tidak" jawab Kevin dengan cepat.
Lisa tersenyum puas dengan jawaban Kevin.
"sedang merasa takut..."
__ADS_1
"ya...." kali ini jawaban Kevin lebih perlahan.
"apa yang kamu takutkan???"
"Inggris, kota ini."
Lisa mengangguk perlahan, sudah pasti semuanya berhubungan dengan peristiwa 20 tahun yang lalu.
"Bukanlah seorang Mr K yang aku kenal adalah seorang berhati dingin dan tidak suka memikirkan sesuatu..."
"kalau sekarang iya, tapi berhubungan masa lalu tidak."
"termasuk mantan pacar??" goda Lisa untuk menghindari kekakuan Kevin
Kevin mencubit gemas pipi Lisa "aku sudah pernah mengatakan tidak pernah berpacaran. Apa kamu Lupa?" tanya Kevin
Lisa meringis pura-pura kesakitan, sebenarnya cubitan Kevin tidak berasa sama sekali. "berani sekali kamu menindas ku, awas ya Mr K, Aku akan melaporkan kepada mami dan Leo. Bagaimana pun kamu harus menerima hukumannya." ancam Lisa
Kevin mengangguk paham, dibelakang wanita ini ada 3 orang yang selalu melindunginya. Kedua orang tuanya dan Leo. Jika Lisa mengadukan sesuatu tentang Kevin, pasti ketiganya akan langsung menghubunginya dan menginterogasinya habis-habisan.
"kamu sering mimpi buruk??" tanya Lisa lagi
"ya..."
"kapan?"
"saat kamu tidak tidur bersama ku."
Lisa melihat tajam kearah Kevin "aku serius" kata Lisa
"aku serius dengan jawabku. Setiap aku tidur sendiri entah kenapa aku selalu memimpikan hal yang sama. Jadi aku malas untuk tidur. Ketika bersama dengan mu, seolah mimpi itu tidak pernah ada. Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi kamulah jawabannya." jelas Kevin
Lisa merasa tersanjung dengan perkataan Kevin, tapi merasa ada yang mengganjal dalam hatinya. Lisa berdiam diri sejenak selama 3 detik memastikan apa yang hatinya ingin tanyakan.
"kenapa jika kamu merasa aku jawabannya, kamu tidak menceritakan masalahmu kepadaku agar semua permasalahan dalam hatimu terobati."
__ADS_1
"kamu adalah obat dari penyakit ku, tapi apa yang terjadi pada saat itu aku memang benar-benar tidak ingat sama sekali. Itu yang membuatku risau."
Lisa tersenyum puas, ia menoleh kearah lain. Ia tidak ingin Kevin melihatnya tersenyum, bagaimana pun juga harga diri pria ini sangat tinggi. Susah untuk dikalahkan dan ditaklukkan.