Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
Bertemu dengannya...


__ADS_3

Selesai sarapan, Kevin melihat Lisa dengan tajam. Lisa merasa suasana tidak terlalu menguntungkan baginya.


"jangan melihat ku seperti itu."


"Hari ini adalah jadwal interogasi dengan kepolisian. Apakah kamu mau ikut...." tanya Kevin ragu.


Nafas Lisa memburu, rasa marahnya kembali muncul.


"sebaiknya kamu dirumah saja." Kevin tidak tenang melihat reaksi Lisa. Kevin berdiri, Lisa ikut berdiri.


"aku ikut." ujar Lisa penuh keyakinan. Bagaimana pun ia perlu jawaban untuk semua pertanyaan didalam hatinya.


"kamu tidak perlu memaksakan diri nak. Biar papa dan Kevin yang mengurus semuanya." bujuk Caroline.


"tidak mi.... Lisa butuh mencari jawaban untuk semuanya."


"percaya pada Lisa." ujar Lisa meyakinkan Caroline.


Yang dibutuhkan Lisa sekarang adalah keyakinan dan dukungan bahwa ia bisa melewati semuanya. Setiap orang yang mengalami hal ini akan jatuh dititik terendah dalam hidupnya. Tapi, jika ia bisa menghadapi semua hal baik dan buruk dihidupnya dengan keberanian maka semua amarah, sedih dan kecewa akan tetap didalam hati dan mengendap menjadi jiwa yang kosong dan hampa.


Kesabaran perlu dipelajari bukan datang dengan sendirinya. Tidak perlu memaksakan diri harus ikhlas, karena semua itu datang dengan sendirinya. Jalani saja dan berusahalah tetap berpikiran positif.


Jangan terlalu banyak berpikir, karena sebanyak apapun kita berpikir belum tentu semuanya akan terjadi. Sebanyak apapun kita bertanya bagaimana kita kedepannya, bagaimana perasaan seseorang kepada ku, dan berjuta pertanyaan lainnya semua itu tidak akan ada gunanya. Hanya membuat lelah otak dan hati dalam berfikir. Sedangkan solusinya, belum tentu ada karena hal yang kita tanyakan hanya sebuah pemikiran yang tidak pasti.


Itu yang dikatakan Cindy kepadanya. Semua yang dikatakan oleh Cindy sangat masuk akal. Dan mudah diterima hati dan pikiran Lisa. inilah titik 0 yang dikatakan Cindy padanya.


Sampai diruangan interogasi untuk pertama kalinya Lisa dipertemukan dengan tersangka pembunuh mamanya.


Wajah yang tidak asing, tapi juga bukan wajah yang familiar. Pria tinggi besar mirip dengan sosok almarhum papanya. Walau Lisa sudah lupa bagaimana wajah papanya tapi dari foto yang dipajang dirumahnya wajahnya memiliki kesamaan. Tangan nya penuh bulu yang berwarna perak sama seperti warna rambutnya


Tatapan matanya tajam dan terlihat seperti orang yang tidak berperasaan. Hanya itu letak perbedaannya dengan almarhum papanya.


Tangan pria itu di borgol, dibelakangnya ada 2 opsir polisi. Lisa duduk ditengah antara Kevin dan Santoso. Pengacara Lisa dan seorang polisi yang melakukan investigasi duduk di sisi kanan dan kiri meja persegi panjang itu

__ADS_1


Pria itu tersenyum melihat Lisa. Senyumannya membuat Lisa takut, senyum mengejek dan merendahkan.


"apa kabar keponakan ku " sapa tersangka itu.


"jangan terlalu merasa akrab kamu Roy. " Santoso geram


Lisa masih diam, masih berusaha mengingat siapa pria ini. Keponakan... 15 tahun yang lalu. Apakah dia orangnya...


"kamu lupa dengan om kamu sendiri...."tanya nya dengan senyum mengejek.


"ikamu...." ujar Lisa pura-pura mengingat orang ini.


"ternyata kamu sangat cantik sama seperti mama kamu."


"terima kasih atas pujiannya. Tapi aku rasa pujian itu tidak perlu keluar dari mulut kotor anda"


"Luar biasa Merry mendidik rumput liar seperti kamu."


"jaga bahasa kamu" ujar polisi yang duduk disisi kanan Lisa.


"kamu mirip sekali dengan Randy...Selalu langsung ketitik masalah, benar-benar membosankan."


"sama...kamu juga dari dulu selalu memuakkan" kata Santoso.


"kamu orang luar tidak perlu ikut campur." Roy mulai memprovokasi.


"semuanya harap tenang." kata  polisi tersebut.


Polisi itu mengeluarkan handphone dalam plastik dan memberikan kepada Lisa.


"kamu kenal ini milik siapa??" tanya polisi yang mulai menginvestigasi.


Lisa belum menghidupkan handphone itu,tapi dari casing ada stiker bunga Lili, Lisa mengenalinya ini adalah handphone mamanya.

__ADS_1


Lisa meminta plastik itu dari polisi tadi dan menghidupkanya. Wallpaper ia dan mamanya ketika di festival bunga sakura, adalah foto favorit mamanya. Air mata Lisa mulai menetes. Kevin menggosok pundak Lisa secara perlahan Rasa hangat dari telapak tangan Kevin bisa Lisa rasakan saat itu.


Ia melihat puluhan Panggilan masuk darinya ketika hari kejadian. Lisa membuka pesan masuk, dari sekian banyak pesan promosi hanya 2 hal yang menarik perhatiannya.


Pesan dari rumah sakit agar Merry melakukan kemoterapi dan operasi. Rangkaian pesan itu dilihatnya sudah dari 3 tahun yang lalu sampai hari terakhir Merry dirawat di rumah sakit.


Pesan kedua dari pemilik rumah sewa yang meminta mereka mengosongkan rumah karena jatuh tempo yang tinggal beberapa hari lagi dan uang sewa rumah yang dinaikkan. Lisa membaca mamanya meminta dispensasi waktu untuk membayar uang sewa karena uangnya digunakan mamanya untuk berobat.


Sebenarnya uang sewa sudah diberikan Lisa, mungkin mamanya menggunakannya untuk membeli obat kanker yang mahal. Seandainya Lisa tahu, ia akan berkerja lebih keras lagi dan mengumpulkan uang untuk mamanya.


Air mata Lisa mengalir di pipinya. Kevin dan Santoso ikut membaca rangkaian pesan itu. Lisa menghapus air matanya.


"jawab pertanyaan ku tadi"


Roy menaikkan sudut bibir kanannya. "karena mama mu tidak mau memberikan keuntungan saham abang ku "


"bukankah rumah dan tanah papaku kalian ambil semua? Kalian mau apa lagi .." Lisa berusaha tenang.


"kami harus mengambil apa yang menjadi hak kami." Roy menjawab pertanyaan dengan santai.


"Hak apa yang kamu bahas.... Harusnya yang kamu katakan, kewajiban apa yang tidak kamu lakukan." Santoso ingin sekali memukul pria dihadapannya. Manusia yang tidak tahu cara berterimakasih.


"kamu usir kami dari rumah kami sendiri. Kamu ambil semuanya, kamu usir kami seperti binatang. Bahkan kamu tega buang foto Abang kandung kamu sendiri. Baca pakai mata kamu. Orang yang kamu culik adalah orang sakit yang memang mau meninggal. Dasar orang gila.'


Lisa meluapkan semua kekesalannya. Kevin memegang tangan Lisa. Telapak tangannya basah dan Kevin bisa merasakan tubuh Lisa bergetar.


"Merry sakit...." Roy tertunduk


"kalian aku usir karena salah mamamu sendiri kenapa dia tidak mau menikah dengan ku." lanjut Roy


"Pak Atha, tolong jadikan poin penting untuk tuntutan kita kepada orang tidak berguna ini. Siapkan materi laporan untuk menuntunnya dengan hukuman yang berat. " perintah Santoso kepada pengacaranya.


"baik pak, kami akan berdiskusi dengan jaksa penuntut umum."

__ADS_1


"mama ku sudah pasti tidak akan mau menikahi orang seperti mu. Apakah kau tahu, hari dimana kamu usir kamu dari rumah hujan deras. Semua baju kami basah. Kami menumpang berteduh di rumah tetangga. Setelah hujan redah kami berjalan lagi,sampai kaki ku mati rasa. Tapi aku tidak berani mengeluh karena aku lihat kaki mama sudah berdarah karena terlalu lama berjalan. Kami tidak punya uang untuk membeli makanan. Mama meminta pekerjaan dirumah makan upahnya kami boleh makan makanan sisa dan tinggal direstoran itu sementara, aku tidur diatas meja dan mama hanya duduk sambil tidur."


Lisa memang tinggal berpindah-pindah tempat karena mamanya tidak memiliki keahlian dalam bekerja.


__ADS_2