
Lisa dan Kevin kembali kekantor. Lisa tidak bisa menutupi rasa senangnya, bagi seorang wanita berbelanja adalah kesenangan yang sulit diukur kadar pastinya. Sampai di kantor Angel menyapa Lisa ketika akan masuk kedalam ruangannya
"Pak Utomo sudah datang bu."
Kevin berkata "siapa dia??"
"Pak Utomo adalah seorang arsitek pak. 2 minggu yang lalu ibu minta dicarikan seorang arsitek tebaik untuk membangun panti asuhan miliknya." jelas Angel
Kevin mengalihkan pandangannya dari Angel ke Lisa.
"ayo sayang, kamu bantu aku dulu." Lisa menarik Kevin masuk kedalam ruangannya. Ia tahu Kevin pasti merasa kesal karena tidak melibatkan dirinya untuk persoalan dirinya.
"keruangan aku saja", kata Kevin sambil membuka pintu penghubung ruangan mereka.
Pak Utomo pria paruh baya membuka kertas rancangannya dihadapan Lisa dan Kevin kemudian menjelaskan bagian-bagian ruangan yang nanti akan dibangun sesuai dengan penjelasan Lisa melalui telepon kepadanya beberapa waktu yang lalu.
Secara pribadi Lisa sangat puas dengan rancangan Utomo, benar-benar sesuai dengan keinginannya.
"bagaimana menurut kamu sayang..." kata Lisa
Lisa paham sekarang Kevin kesal melihat Lisa yang tidak melibatkan dirinya dari awal, apa lagi ada seseorang yang mendekati Lisa disaat dia sedang hamil. Kata 'sayang' membuat amarah Kevin sedikit sirna dari dalam hatinya. Kevin pun setuju dengan usulan sang arsitek.
Lisa tersenyum puas dan sabtu ini Lisa berniat datang ke desa bunga untuk melihat proses persiapan pembangunan panti asuhan Lisa. Setelah Utomo meninggalkan ruangan kerja Kevin.
Kevin duduk menyilang kan kedua kakinya sambil menatap Lisa
"jelaskan.." kata Kevin kesal.
Lisa yang baru selesai menutup pintu Kevin memutar matanya baru membalikan badannya sambil tersenyum.
__ADS_1
"aku lupa menyampaikan kepadamu. Aku berniat menggunakan tanah 3 hektar yang kamu berikan kepadaku untuk menjadi panti asuhan. Nantinya, aku ingin panti asuhan memiliki usaha yang mandiri, Jadi tidak tergantung dari donatur." kata Lisa sambil duduk dipangkuan Kevin. Seolah tidak ada kursi lain diruangan ini. Lisa melingkarkan tangannya dileher Kevin sambil menatap wajahnya.
"kenapa tidak memberitahukan kepadaku..."
"rencananya sangat mendadak ketika kamu sedang diluar negeri, bukan kah kamu tidak menghubungiku? bagaimana aku bisa memberitahukan kepadamu??" Lisa harus membela diri didepan Kevin. Jika tidak ia akan menjadi bulan-bulanan Kevin
"ooh... maaf." Kevin menundukkan pandangannya. Memang kesalahannya mengabaikan Lisa, jadi wajar kalau ia mengambil keputusan sendiri.
"bagaimana jika kamu temani aku sabtu ini kesana??" tanya Lisa mencairkan suasana
"bukan kah sabtu kamu kuliah??"
Lisa mengangguk "pulang kuliah langsung pergi. Jika perlu kita menginap. Aku ingin mengunjungi makam orang tuaku dan anak kita."
Kevin mengusap kepala Lisa "baiklah....akan aku siapkan. Tapi setahuku rumah kita disana masih ditempati oleh keluarga Khay."
"tidak masalah, aku akan menghubungi Khay.." jawab Lisa santai sambil mengeluarkan ponsel lipatnya dari saku celana.
Kevin mengambil ponsel dari meja disamping kursinya kemudian mencari kontak Khay. Lisa mengamati Kevin sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"apa bedanya kamu yang menghubungi dengan aku yang menghubungi.. Bukan kah aku menghubunginya di depanmu..." protes Lisa
Kevin hanya mengedipkan sebelah matanya kearah Lisa untuk menggodanya.
"halo Khay, Sabtu mungkin kami akan menginap didesa bunga. Apakah tidak apa-apa??" tanya Kevin
"tentu tidak maslaah pak, Itu adalah rumah anda, maaf saya belum bisa membeli rumah untuk keluarga saya." Khay terdengar sedih dengan caranya berbicara diujung telepon sana.
"tidak masalah, istriku ingin membangun panti asuhan di tanah itu. Mungkin saja keluarga mu bisa membantu kami mengawasi pembangunannya. Kami akan menginap satu malam disana"
__ADS_1
"baik pak, saya akan memberitahukan kepada keluarga saya." jawab Khay
Lisa tidak menyangka Kevin bisa bermurah hati seperti ini. Khay yang dulu paling dia benci sekarang menjadi orang kepercayaannya. Walau dia masih belum mempercayai hubungan Lisa dan Khay. Setidaknya Kevin mulai membangun kepercayaan dengan keluarga Khay, bagi Lisa itu adalah satu langkah yang bagus buat hubungan Khay dan Kevin.
Dan Kevin menutup panggilannya sambil memandang Lisa "ada lagi yang ingin kamu katakan??"
"ada, masalah biaya pembangunannya aku akan menggunakan uang warisan dari papa ku. Jadi aku tidak akan meminta uang darimu."
Kevin menyipitkan matanya memandang Lisa. Wanita ini terlihat sudah terlalu mandiri, ini sangat berbahaya. Bisa-bisa ketika ia sudah benar-benar bisa menjadi wanita mandiri, Kevin tidak akan ada lagi gunanya dalam hidup Lisa.
"aku tidak setuju." jawab Kevin dengan tegas
"kamu harus setuju." paksa Lisa
"yakinkah aku.."
"pertama, aku ingin mendirikan sebuah bangunan untuk mengenang kedua orang tuaku. Kedua, kita pernah merasakan kehilangan seorang anak. Ketiga karena tanah yang digunakan untuk membangun panti asuhan adalah darimu. Dan yang keempat, aku ingin mengenalkan kepada anak kita yang masih ada dalam rahimku untuk berbagi kebahagiaan dengan sesama. Keempat hal ini saling berkaitan. Kalian aku harapkan adalah orang yang terlibat dalam cinta pertama ku dan aku harap menjadi cinta terakhir dalam hidupku. Panti asuhan ini melambangkan cinta kita kepada semua orang yang membutuhkan." Mata Lisa berkaca-kaca berbicara kepada Kevin.
"kamu masih memiliki aku yang bisa kamu andalkan."
Lisa tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya "awal kita menikah aku sangat ingin menjadi sepertimu. Dari kecil aku selalu sendiri, Leo satu-satunya saingan tidak kasat mata bagiku. Kau benar-benar hebat, bisa melakukan semuanya dengan baik. Aku sangat iri padamu. Kalau kau saja bisa, kenapa aku tidak. Maka dari itu dari awal aku sudah katakan ingin membangun panti asuhan. Kau salah satu inspirasi terbesarku."
Kevin tidak tersenyum mendengar pujian dari Lisa, ia justru merasa menyalahkan dirinya sendiri, wanita ini pada dasarnya adalah wanita kuat dan mandiri. Ketika ia berpikir akan mencontoh Kevin dalam kehidupannya maka sisi positif yang akan menjadi lebih hebat dari hari sebelumnya. Sisi negatifnya adalah Kevin takut, ia tidak memerlukan sosok suami lagi untuk kehidupannya karena ia sudah bisa melakukan sendiri. Kevin menatap Lisa dengan tatapan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Lisa bingung melihat Kevin, kenapa tidak berbahagia mendapatkan istri yang mandiri seperti dirinya.
"apa ada yang salah dengan perkataan ku....?" tanya Lisa
"tidak, aku hanya takut ketika kau terlalu mandiri... maka...kau akan meninggalkan..ku." Kevin sangat berhati-hati ketika berbicara dengan Lisa.
__ADS_1
Lisa tertawa terbahak-bahak, wajah Kevin terlalu lugu mengatakan hal seperti itu. "kamu kira aku seperti itu. Aku mungkin sangat ingin menjadi mandiri, tapi bagaimana pun aku masih memerlukan dirimu tetap sampingku" Lisa menyandarkan kepalanya dipundak Kevin.