Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
pergi dan tak kembali...


__ADS_3

Hari mulai gelap, Lisa duduk dikamar mamanya sambil memandang kursi rodanya. Kevin belum ada menghubungi sampai sekarang. Mungkin karena terlalu memikirkan mamanya, Lisa melihat kursi roda mamanya bergerak sendiri. Firasat Lisa sudah tidak enak. Lisa berlari keluar kamar, diruang tamu kosong tidak ada orang. Hanya ada 2 orang pengawal yang duduk di kursi menjaga rumah. Lisa membuka pintu depan rumah dan didepan rumah ada 2 orang lagi yang menjaga.


Telepon Lisa berdering dari nomor yang tidak dikenalnya.


"Lisa??" Suaranya tegas.


"Siapa kamu?"


"kamu tidak perlu tahu siapa aku."


"kalau kamu mau mama kau selamat. Serahkan uang kepada kami 1 Miliar, jika kurang satu rupiah saja kami akan membunuh mama kamu."


Ketika menelpon Lisa memberi kode kepada 2 orang pengawal tersebut dan Lisa berhasil merekam pembicarannya.


"kamu jangan sakiti mama aku. Kemana aku akan serahkan uangnya?"


"benar-benar anak berbakti.... Tiba-tiba terdengar suara gaduh dan panggilan terputus.


Lisa memberikan rekaman itu kepada pengawalnya. Mereka tampak berdiskusi dengan pengawal yang didepan kemudia menelpon orang lain. Lisa benar-benar panik. Kevin... ya iya harus menghubungi Kevin.


Pengawal tadi menyerahkan kembali handphone Lisa dan Lisa menghubungi Kevin. Tapi panggilan tidak diangkat.


Lisa mondar-mandir sambil menelpon. Perasaannya kali ini benar-benar dipuncak kekhawatirannya.


Lisa menggenggam erat handphonenya. Tidak lama kemudian handphone Lisa berbunyi.


"kamu kerumah sakit sekarang. Para pengawal akan mengantar kamu."


Mobil sudah disiapkan Lisa tidak perduli pakaian yang dikenakanya hanya celana pendek dan baju kaos lengan pendek. Bahkan ia hanya mengenakan sendal rumah. Lisa tidak memikirkan lagi apa yang dikenakannya.


30 menit perjalanan bagai 30jam rasanya. Lisa berkali-kali marah kepada supir yang membawa mobil agar lebih cepat.


Sampai didepan rumah sakit Lisa menghubungi Kevin


"aku sudah didepan, kamu dimana??"


Kevin melambaikan tangan di ruangan UGD.


"mama didalam, kita tunggu dulu. Dokter sedang melakukan penyelamatan kepada mama." jelas Kevin


"kenapa mama...." tanya Kevin


"ceritanya panjang... nanti akan aku ceritakan setelah dokter keluar dari dalam."

__ADS_1


Dokter keluar dari ruangan sambil membuka maskernya sambil menunduk. "maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat tenaga. Waktu kematian pasien 19:03"


"Tidak mungkin. Aku mau lihat mama." Lisa merebos masuk kedalam ruangan.


Hanya ada tubuh yang ditutupi kain putih, dengan tangan bergetar membuka kain putih itu. Lisa melihat wajah mamanya penuh luka lebam di sudut bibir dan matanya. Tapi mamanya terlihat tersenyum. Hati Lisa hancur berkeping-keping. Ia tidak mampu menangis lagi, tubuhnya kehilangan tenaga. Kevin memeluknya dari belakang.


"Kuatkan dirimu"


"kenapa wajahnya bisa seperti ini?? Siapa orang yang berani memukul mamaku?? Aku tidak akan membiarkan dia hidup. Kamu bawa aku keorang itu sekarang!!"


"kamu akan bertemu dengan orang itu, Tapi tidak sekarang, kita harus menyiapkan pemakaman mama. "mama tidak meninggal, mama hanya tidur. Mama, ini Lisa,,, bangun ma..." Lisa menggoyang-goyangkan tubuh kaku Merry.


"sadarlah Lisa, jangan seperti ini." Kevin meraih tubuh Lisa kearahnya.


"mereka yang seharusnya jangan seperti ini!" teriak Lisa


Kevin memeluk Lisa. Lisa menangis dan kali ini air matanya tidak bisa dibendungnya lagi.


Dalam pelukan Kevin sambil memandangi wajah Merry Lisa berkata.


"Aku mau mama di visum."


"baiklah. Apapun yang kau inginkan akan aku lakukan."


"apapun itu akan aku lakukan, selama kau berhenti bersedih dan puas dengan semuanya."


Lisa tersenyum getir


"bahkan jika nyawa dibalas nyawa, mama tidak akan kembali. Kamu lihat dia tersenyum? Sepertinya dia sudah bertemu dengan kekasih hatinya disana. Sebegitu senangnya dia meninggalkan aku disini hanya demi bertemu dengan kekasihnya."


"Kevin mengelus kepala Lisa, mama berpesan agar aku membuatmu bahagia. Dan aku berjanji akan selalu menemanimu sampai kita tua nanti."


Kevin menghubungi Frans untuk mengurus visum dan pemakaman mama Lisa. Lisa masih berada dipelukan Kevin. Lisa rasanya enggan melepaskan pelukan ini. Kevin membuka long jacket nya dan memakaikannya pada Lisa. Tubuh wanita ini terasa begitu dingin bahkan wajahnya juga.


"kita ganti pakaian dulu ya... Lisa menggelengkan kepalanya,


"aku mau menemani mama."


"kamu akan menemaninya, hanya saja pakaian yang kamu pakai sangat tipis. Tidak pantas dipakai di pemakaman."


Lisa mengangguk pelan.


Nita datang sambil membawa pakaian berkabung berwarna hitam. Nisa hanya memandanginya dan tidak bergerak dari pelukan Kevin.

__ADS_1


"kamu bisa sendiri?" tanya Kevin


Lisa menggelengkan kepalanya pelan. Lidahnya mendadak keluh. Ia tidak ingin mempunyai tenaga untuk berbicara.


"Kevin menggendong Lisa kedalam mobil. 4 orang pengawal dan Kevin menunggu diluar berdiri mengelilingi mobil sedangkan Nita berada didalam. Tidak lama Nita didalam mobil, ia keluar kembali.


"nona tidak mau ganti baju pak." Nita sudah berusaha membujuk Lisa. Tapi tatapan mata kosong dan menatap dengan menantang membuat Nita merinding takut melihat Lisa.


"Biar aku saja." Kevin masuk kedalam mobil.


Lisa masih diam menatap kearah depan. Tapi pandangan matanya kosong, seperti bukan Lisa yang biasa selalu energik, suka marah, tersenyum dan selalu ramah.


"kita ganti baju???"tanya Kevin.


Lisa menunjukkan reaksi yang sama. Melihat lurus kearah Kevin dengan tatapan mata kosong.


"tidak akan ada apa-apa, aku akan ada disampingmu. Jika kamu butuh waktu menenangkan diri tidak masalah." Kevin menyandarkan kepala Lisa dipundaknya.  "istirahat lah sejenak, aku tahu kamu lelah."


Lisa mengikuti perintah Kevin. Sangat hening didalam mobil, Kevin merasakan bahunya basah karena airmata Lisa.


Kevin tidak bicara sama sekali, ia mengambil tangan Lisa dan meletakkan di pangkuannya. Kevin menggengam tangan Lisa, tangannya dingin sedingin hatinya saat ini.


"apa yang harus aku lakukan??" tanya Lisa


"aku tidak bisa mengatakan kau harus kuat, yang bisa aku katakan sekarang adalah jalani semuanya. Hidup adalah proses, bagaimana pun kita harus melewati rasa sakit, senang, sedih, perpisahan, pertemuan, semuanya adalah bagian dari hidup yang akan membuat kita menjadi kuat. Sama seperti kamu yang sekarang."


"apa aku bisa?" ucap Lisa Lirih


"sejauh ini hal paling berat sudah kamu dan mama alami, dan kalian sudah bertahan sampai sejauh ini. Pasti kamu bisa."


"tapi tidak ada mama lagi," Lisa menyeka air matanya.


"ada aku, mami dan papa bersama kamu. Kamu akan tetap merasakan kehangatan keluarga."


Lisa menyeka air matanya, kemudian memakai pakaian duka berwarna putih.


"aku sudah siap."


"hmm mmh" Kevin mengangguk


"sebentar lagi mereka akan membawa mama keluar, visum baru selesai dilakukan." Sambung Kevin


Lisa menagguk lemah dan kembali menyandarkan kepalanya dibahu Kevin.

__ADS_1


__ADS_2