
Lisa menghabiskan sore sampai malamnya dikamar mamanya, bercerita banyak hal tentang. Kevin menemani dikamar mamanya, mendengar Lisa berceloteh kepada mamanya seperti anak kecil yang menceritakan pengalamannya disekolah seharian. Kevin sibuk dengan tab dan laptopnya. Lisa sama sekali tidak memperdulikan Kevin, mereka seolah sudah paham dengan kebiasaan Kevin.
Lisa ikut tertidur sambil memeluk mamanya.
Tengah malam lagi-lagi Lisa terbangun. Lisa melihat sofa didepan mamanya sudah tidak ada sosok Kevin.
Lisa keluar kamar, ia mendengar Kevin sedang marah dengan sesorang ditelepon.
"Aku sudah mengatakan batalkan semua jadwal besok, aku ada urusan pribadi."
Seseorang diujung telepon sana mungkin mengatakan tidak bisa membatalkan.
"Lakukan video conference itu bukan hal yang sulit untuk dilakakukan. Aku tidak perduli mereka investor dari luar negeri, Lakukan seperti yang aku katakan." Kevin mematikan sambungan teleponnya.
Auranya ketika marah memang sangat mengerikan pikir Lisa.
Lisa mendekati Kevin yang sedang duduk di sofa ruang tamu. "kamu tidak perlu mengantar kami ke desa bunga besok. Aku bisa melakukannya sendiri."
Kevin menatap Lisa dengan kejam membuat Lisa merinding melihatnya. "tidak perlu dibahas."
"kamu sibuk saja dulu, jika waktu sudah senggang kamu kunjungi aku." jelas Lisa
"keputusan sudah dibuat." Kevin melihat handphone ditanganya.
Lisa mendekat kearah Kevin dan menyandarkan kepalanya dilengannya.
"aku pasti akan merindukanmu. Tapi besok kamu kerja saja dahulu. Aku janji akan menjaga diriku baik-baik"
Lisa belajar banyak beberapa hari menikah dengan Kevin. Ia memang pria keras kepala. Tapi hatinya selembut salju. Sedikit sentuhan emosional hatinya akan langsung meleleh.
Sikap manja Lisa meluluhkan hati Kevin yang keras.
"Aku mungkin sibuk selama 2 hari tidak bisa temani kamu dan mama." jelas Kevin.
"tidak masalah, ada pengawal yang menjagaku. Walau aku sendiri takut dengan mereka. Tapi aku akan bertahan sampai kamu datang." Kevin menyandarkan kepalanya ke Lisa.
__ADS_1
"kamu telepon orang tadi, katakan kamu akan ikut rapat besok. Kasihan dia pasti sedang bingung merangkai kata untuk membatalkan janji besok."
Kevin melihat handphone nya kemudian melihat Lisa. Lisa bisa melihat wallpaper yang digunakannya sama dengan yang dipakai Lisa.
Dengan berat hati Kevin menghubungi Frans.
"lanjutkan rapat besok, tapi pastikan kosongkan semua jadwalku untuk 2 hari kedepan." tegas Kevin
Lisa bisa mendengar suara Frans sangat senang dengan keputusan bosnya itu.
Lisa berdiri, aku belum berkemas. Baju mama sudah selesai masuk tas, tapi baju ku belum sama sekali. Mau bantu...." tawar Lisa
Kevin tersenyum dan mengikuti Lisa berjalan dibelakangnya.
Diruangan ganti Kevin mengeluarkan travel bag berwarna pink, warna kesukaan Lisa.
"Waah cantik sekali, Terima kasih" Lisa sambil puas kearah Kevin.
Kevin merasa senang ketika Lisa tersenyum dan bersikap manis kepadanya. Dengan lincah tangan Kelvin memilih baju yang akan dibawa Lisa besok.
"Kenapa semua celana panjang yang kau pilih???" tanya Lisa kesal
"Karena 2 hari kedepan aku tidak bersama denganmu dan mama" jelas Kevin
"apa hubungan kamu dengan pakaianku?"
"aku tidak suka pria lain melihat tubuhmu."
"Mr K. kalau kau tidak suka melihat aku dilihat pria lain, kamu kurung saja aku. Kamu tidak lihat? dirumah aku selalu pakai celana pendek, kamu lihat apa aku ada keluar kerumah?" Lisa mengerutkan alisnya.
Kevin melihat kaki Lisa yang mengenakan celana pendek, kemudian melihat wajahnya.
"kamu ini keras kepala sekali. Kalau kamu tidak mau aku terpaksa membawa 10 orang menjadi pengawal kamu."
Lisa terdiam sejenak. Kenapa pria ini tidak mau kalah? Mendengar 2 orang yang selalu mengikuti selama 1 hari saja sudah membuat Lisa tidak nyaman. Apalagi 10 orang. Itu sama saja membuatnya seperti seorang tersangka yang digiring kepenjara. Lisa menggigit bibirnya. Tidak ada pilihan lain.
__ADS_1
"terserah kamu lah." Ujar Lisa sambi memasukkan baju nya kedalam travel bag.
Kevin tersenyum puas atas kemenangannya.
Tapi sehebat apapun Kevin, Lisa jauh lebih pandai dalam strategi mengatasi pria keras kepala ini, dengan sigap Lisa memasukkan 3 celana pendeknya kedalam travel bagnya, sambil tersenyum Licik tanpa diketahui Kevin.
"kamu terlalu banyak memilih baju, sedikit saja. Nantikan bisa aku cuci. Kamu tidak pikir aku akan membawa barang sebanyak ini bagaimana aku membawanya??" Ujar Lisa menunjukkan baju yang dipilih Kevin hampir seluruh lemari dipilihnya.
"disana kamu tidak perlu mencuci, ada yang akan mengurus kebutuhan sehari-hari kamu dan mama." jelas Kevin
"kamu kembalikan lagi kedalam lemari" Lisa memberikan tumpukan baju itu kepada Kevin." Dan ternyata pria ini luar biasa. Dia kembali menyusun sesuai dengan urutan warna semula.
Sudah bisa ditebak kalau selama ini arahan untuk susunan pakaian di lemari adalah dari pria ini.
***
Kevin memang tidak ikut ke desa bunga, tapi 2 iringan mobil yang menyertai mereka menurut Lisa sangat berlebihan. Wajah Merry hari ini sangat ceria, senyum tidak berhenti merekah dari bibi pucatnya.
Jarak tempuh lebih singkat dengan mempergunakan jalan tol, hanya 1.5 jam saja dari waktu normal 3 jam.
Mereka akhirnya sampai di lokasi tujuan, rumah 2 lantai bernuansa putih tanpa pagar rumah, benar-benar rumah khas pedesaan. Tapi Lisa rasa ini terlalu berlebihan untuk mereka berdua. Lisa melihat kebelakang, ada 2 orang pengawal, 2 orang suster penjaga, 1 orang asisten rumah tangga. Hanya untuk mereka berdua dibutuhkan 5orang? Bukankah sangat berlebihan?? Pikir Lisa.
Lisa mengalihkan pandangannya ke mamanya.
"mama senang?? tanya Lisa
"sangat senang..."Merry tersenyum senang.
"Baik, mari kita masuk kerumah dulu, cuacanya agak dingin hari ini." ujar Lisa sambil mendorong kursi roda mamanya.
Udara pegunungan memang sangat menyejukkan. Dari dalam hati Lisa sangat menyukai tempat ini, tapi jika mengingat masa lalunya. Tempat ini adalah satu-satunya tempat yang tidak ingin didatanginya. Lisa dan Merry biasanya berkunjung kemari setiap setahun sekali. Terkadang 1 tahun dua kali untuk melihat kuburan papanya.
Lisa masuk ke dalam kamar dan membantu mamanya beristirahat ditempat tidur, Lisa memakaikan cardigan untuk Merry dan menyelimuti tubuhnya agar lebih hangat. Karena wajah Merry sangat pucat, suster memasang infus. Lisa memperhatikan mereka memasangkan infus ditangan Merry, entah sejak kapan Merry terlihat begitu kurus dari biasanya. Dalam hati Lisa sangat khawatir dengan kesehatan mamanya. Tapi tidak ada yang bisa dibuatnya saat ini selain menutupi kesedihannya mamanya.
Tidak sadar air mata Lisa menetes ketanganya yang dilipatnya diperutnya. Lisa sadar kemudian mengalihkan kesibukannya membuka travel bag Merry dan menyusun bajunya didalam lemari. 'tidak boleh sedih didepan mama, kamu harus kuat. Harus KUAT' ujar Lisa menguatkan dirinya dirinya,
__ADS_1
Ia memerlukan semangat yang lebih tidak hanya untuk mamanya tapi juga untuk dirinya.