Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
maafkan....


__ADS_3

Satu jam lebih proses rekonstruksi dilakukan. Menjelang akhir proses rekonstruksi, wanita tua itu menangis semakin keras membuat semua orang melihat kearahnya. Itu adalah detik-detik anak perempuannya meninggal dunia. Lisa tidak bisa menahan kesedihannya melihat wanita itu. Selesai melakukan rekonstruksi Kevin mendatangi kedua orang tua tersebut.


"kalian kedua orang tua wanita itu???"


Pria tua itu mengangguk. Kevin langsung berlutut didepan keduanya. "maafkan atas kesalahan yang aku perbuat sehingga membuat putri kalian meninggal dunia."


Pria dan wanita itu menangis semakin menjadi-jadi tidak ada yang menginginkan peristiwa itu terjadi apalagi menimpa putri mereka yang memang dari kecil sudah sering keluar masuk rumah sakit karena memiliki fisik yang tidak sehat seperti anak normal lainnya. Tapi mereka juga tidak bisa membenarkan, kondisi anaknya yang penyakitan dijadikan kelinci percobaan oleh dokter Roy. Benar-benar tidak berperasaan.


Pria itu mengangkat Kevin berdiri, Kevin menolak air matanya mulai mengalir... "aku tahu tidak ada yang bisa aku lakukan untuk menebus semuanya. Aku tahu rasanya bagaimana kehilangan seorang anak, karena aku juga pernah mengalaminya..aku benar-benar minta maaf."


"sudah lah,,,semua sudah terjadi dan tidak ada yang bisa membawanya kembali ke dunia ini" kata pria tua itu sambil mengusap air matanya.


"hukum lah aku...aku akan mencari kayu pukul saja aku sampai kalian puas.." Lisa mendekati Kevin dan memintanya berdiri, tapi Kevin masih berlutut didepan kedua orang itu


"Lisa aku adalah seorang pembunuh, aku memisahkan seorang anak dari orang tuanya...itu kejahatan yang tidak bisa dilupakan..." kata Kevin dengan emosional, air mata di pipinya membuat Lisa tidak bisa membendung kesedihan yang sama.


Wanita tua itu memeluk suaminya lebih erat dan menyembunyikan wajahnya yang sedang menangis di dada suaminya. Pria tua itu mengusap pundak istrinya, berusaha menguatkannya walau hatinya sendiri juga hancur karenanya. Mereka berdua terdiam tenggelam dalam kesedihan hatinya, peristiwa itu memang sudah berlalu puluhan tahun yang lalu. Rasa sakitnya masih sangat membekas didalam hatinya.


Kevin menjadi pusat perhatian semua orang, semua orang yang melihatnya ikut bersedih.


"anak kita juga meninggal, aku tahu rasa sakitnya, tapi membalas orang yang melakukan hal itu bahkan membunuhnya sampai ratusan kali apakah akan mengembalikan anak kita???"

__ADS_1


"kamu yang 20 tahun itu hanya anak kecil, buka Kevin yang sekarang. Aku yakin jika kamu yang sekarang ada pada saat kejadian itu tidak akan ada satu nyawa pun yang melayang. Sadar lah Kevin...." Lisa mengguncang tubuh Kevin dengan kuat. Ia sangat kesal dengan Kevin yang masih belum bisa keluar dari rasa bersalahnya.


Suara Lisa yang emosi bergema di hutan,


"bukan hanya kamu yang terpukul...semua orang terpukul dengan kepergian anak perempuan kami." kata Pria tua itu


"benar kata wanita ini, tidak ada yang bisa kamu lakukan saat itu dan saat ini. Semua terjadi, kita bukan Tuhan yang bisa mengatur semua dalam kehidupan manusia. Kami yakin saat itu kamu sudah melakukan yang terbaik. Kami tidak menyalahkan kamu, selama ini kami menyalahkan diri kami sendiri. Waktu itu karena kesulitan keuangan kami berdua berdebat masalah uang pengobatan anak kami. Dia mendengar semuanya, setelah itu dia mengurung diri dalam kamar selama berhari-hari, dihari ketiga kami tidak menemukan putri kami didalam kamarnya. Hanya ada sepucuk surat permintaan maaf karena sudah menyusahkan kami." Pria itu berhenti bicara dan menangis tersedu-sedu.


Lisa memeluk Kevin dan ikut menangis. Pria tua itu menyodorkan satu tangannya kepada Kevin "berdirilah..."


Kevin melihat pria itu dan menerima tangannya kemudian berdiri.


"tidak mudah juga bagi kami memaafkan diri kami sendiri dari kejadian ini. Hati kami juga sangat sakit, jika saat itu kami tidak berdebat masalah biaya pengobatan putri kami, ia pasti masih berada didalam rumah bersama kami waktu kejadian itu. Walau tahu umurnya tidak panjang, setidaknya dia bersama kami ketika ia pergi meninggalkan dunia ini. Kami juga merasa gagal menjadi kedua orang tua yang baik untuk dirinya." kata wanita tua itu.


"Sama juga dengan dirimu sekarang harus melepaskan semuanya. Semua kecewa dan emosi tidak akan mengembalikan dirinya ataupun menghapus semuanya" kata Lisa melihat kearah Kevin dan menempelkan keningnya ke kening Kevin.


Entah sejak kapan Frans ada ditengah-tengah mereka.


"maaf, aku hanya ingin mengatakan sesuatu."


Suara Frans yang tiba-tiba membuat perhatian Lisa, Kevin dan kedua orang tua itu melihat kearah Frans.

__ADS_1


" 'orang' yang kalian bicarakan saat ini ada di sebelahku" kata Frans sambil melihat kearah samping kanan.


Lisa, Kevin dan kedua orang tua itu melihat kearah  kanan Frans, tidak ada apapun.


"jangan bermain-main dengan ku sekarang." Kata Kevin kesal


"aku bersumpah bos, dia ada di sebelahku. Apakah anda merasa pipi kanan anda dingin nyonya??" tanya Kevin kepada wanita tua itu.


Wanita tua itu tersentak dan melihat kearah kanan dan belakang, tidak ada siapa-siapa. "apa itu??" kata wanita tua itu.


"dia ada disebelah anda sekarang, dia ingin menyampaikan sesuatu kalian semua." kata Frans


"kamu berhentilah berbicara yang tidak-tidak." kata Kevin yang mulai kesal dengan Frans. Lisa memegang kuat lengan Kevin. Ia memang tidak percaya dengan hal mistis, tidak ada salahnya mendengarkan penjelasan Frans dahulu sebelum membuat keputusan benar atau tidaknya.


"lanjutkan" kata Lisa


Frans diam sejenak seperti sedang mendengarkan seseorang sedang berbicara. Tidak lama kemudian Frans berkata sambil melihat kedua orang tua itu "aku sudah sehat sekarang, kalian jangan khawatir padaku lagi."


wanita itu tidak bisa menahan tangisnya mendengar perkataan Frans, terlepas itu bohong atau tidak tapi hati wanita itu merasa lega, senang dan sedih bercampur jadi satu.


"berhentilah merajut baju hangat untuk ku, kirim saja semua baju yang ibu rajut ke panti asuhan, Jumlahnya sangat banyak aku rasa cukup untuk mereka semua."

__ADS_1


Wanita itu tercengang, mereka tidak pernah bertemu sebelumnya, bagaimana mungkin ia bisa mengetahui kalau sejak putrinya meninggal ia tidak selalu merajut baju hangat untuknya. Ia selalu berpikir, anak perempuannya pada saat pergi tidak memakai baju yang tebal karena jaket tebalnya masih tergantung didalam lemari, hanya satu sweater berwana merah muda yang tidak ada di lemarinya. Dan itu adalah pakaian yang kenakan ketika mayatnya ditemukan. Itu adalah sweater yang dirajutnya dan diberikan sebagai hadiah pada hari ulang tahun ke 18  tahun dan ia sangat menyukainya. Suhu diluar pada saat itu sangat dingin, hanya satu sweater pasti tidak cukup menghangatkan tubuhnya. Sejak saat itu ia mulai merajut sweater untuk putrinya setiap hari.


"untuk papa...jangan menunggu aku lagi didepan pintu. Aku tidak akan pulang lagi kerumah." Pria itu semakin menangis tersedu-sedu. Ia memang selama ini selalu melihat kearah pintu ketika sedang didalam rumah. Terkadang duduk didepan pintu, walau dengan membaca koran ia selalu melihat kearah jalan. Berharap putrinya kembali pulang kerumah. Kadang setiap malam tiba pria tua itu keluar rumah dan melihat kearah jalan raya hanya untuk memastikan ada tidak putrinya diluar sana. Terkadang juga ia duduk dikursi malasnya sambil melihat kearah pintu. Berharap anak perempuannya yang hilang kembali dan mengetuk pintu rumahnya. Kembali dengan selamat.


__ADS_2