
Kata 'kembar' di kepala Lisa seperti petir yang menyambar disiang hari dengan matahari panas membakar kulit. Lisa menatap Roy dari atas kebawah, wajahnya benar-benar tidak mirip dengan Roy yang sedang ada dipenjara. Nama yang sama...kemudian kembar...?' Lisa tidak ingin mendengar hal seperti ini terjadi dalam kehidupannya. Bukan hanya Lisa yang tidak percaya, Leo berjalan mendekat dan melihat wajah dokter Roy dengan seksama.
Bukan hanya Lisa yang tidak percaya Leo pun demikian dari sejak kecil papanya tidak pernah menyinggung kalau ia memiliki anak kembar. Ia selalu mengatakan memiliki 2 orang putra yaitu Randy papa Lisa dan Roy yang sekarang ada didalam penjara. Kenapa bisa ada anak kembar, bukan kah itu suatu pertanyaan besar. Lisa merasakan Leo sudah berdiri dibelakangnya. Ia melihat kearah Leo dengan penuh harap, semoga orang jahat yang ada didepannya bukanlah keluarganya. Leo paham tatapan mata Lisa. Ia menggeleng dengan cepat dengan wajah bingung. Pria dengan wajah oriental ini tidak bisa menahan perasaaan bingung di kepalanya.
Lisa dan Leo jika dilihat sekilas memang mirip karena bentuk mata sipit ras mongoloid dan warna kulit putih gandum. Tapi kalau Roy....bermata besar dan berwarna kulit sawo matang. Lebih mirip dengan keturunan dari daerah Asia Tenggara. Kalau disebut saudara kembar Roy jelas tidak mungkin. Karena Roy yang dipenjara juga memiliki mata mirip dengan Lisa dan Leo hanya warna kulit yang berwarna sawo matang.
Dokter Roy memperhatikan tatapan orang disekitarnya. Pandangan paling mencolok adalah dari Lisa dan Leo yang penasaran dengan perkataan Roy.
"lanjutkan..." kata Lisa.
"ya...setelah aku memberikan suntikan itu, dalam waktu 3 bulan saja racun itu menyebar dan menyebabkan mamamu sakit parah " Jelas Roy
"kamu jahat sekali Roy, orang tua ku mengangkat mu menjadi anak agar kau menjadi seseorang yang berguna. Aku tidak menyangka kamu bisa melakukan hal jahat seperti ini." Santoso bicara sambil mengerutkan keningnya.
__ADS_1
Roy adalah anak angkat di keluarga Santoso, Santoso adalah anak tunggal dan melihat Roy yang pintar dalam kegiatan amal di perusahaan orang tua Santoso dahulu, mereka berniat menjadikan Roy sebagai anak angkat mereka. Dalam waktu singkat, Roy sudah menjadi adik Santoso, tidak ada perbedaan orang tua Roy dalam mendidik Santoso dan Roy. Roy yang memilih menjadi seorang dokter mendapatkan dukungan penuh dari orang tua Santoso. Roy juga sangat menyayangi kedua orang tua Santoso dan menghormati Santoso sebagai saudaranya.
Kejadian didalam hutan waktu itu juga diluar dari skenarionya. Kevin dan Patrick secara tidak sengaja berada di lokasi tempat dokter Roy sedang melakukan penelitian ilegalnya. Roy takut wajahnya dikenali oleh Kevin, maka dari itu ia mengenakan penutup wajah dari rajutan. Kevin yang memang waktu itu jarang berhubungan Roy dan tidak menaruh curiga sama sekali. Ketika Kevin menghalangi Patrick terkena pedang waktu itu, hati Roy juga dipenuhi perasaan takut. Kevin adalah anak saudara angkat yang sangat disayanginya. Tidak mungkin baginya tega melukai Kevin semudah itu.
Lisa meletakkan tangan kanannya di dagu dan satu tangan lagi diperutnya sambil mendengarkan Santoso bicara kepada Roy, kepala Lisa miring dan masih melihat Roy dari atas kebawah, secara tidak sadar Leo dengan posisi berdiri juga bergaya sama dengan Lisa.
Roy merasa tidak nyaman dengan tatapan Lisa dan Leo yang tidak mempercayai ucapannya. "kalian silahkan test DNA dengan ku. Aku dan Roy adalah kembar tidak identik." jelas dokter Roy.
Jari telunjuk Lisa bergerak ke kiri dan kenan didepan wajah Roy "sayang disayangkan kalau DNA dari tubuhku disandingkan dengan DNA milikmu... Tidak, sampai mati pun aku tidak mau." Lisa melihat kearah Leo
Lisa berdiri dan memeluk Leo...."aku mau hanya kamu saja saudaraku. Tidak mau yang lain.." Mata Lisa berkaca-kaca.
"kau seharusnya bangga memiliki saudara pintar seperti aku.. tidak mudah melakukan penelitian sehebat ini" kata Roy dengan bangga.
__ADS_1
Leo menatap Roy dengan tajam, Lisa masih ada dipeluknya. Satu tangan Leo memeluk Lisa dan tangan yang lain menggenggam kuat sandaran kursi yang terbuat dari kayu. Mendadak "TRAAKKK" suara kayu terbelah dan kursi yang dipegang Leo sudah terbelah menjadi dua.
"kalau Lisa ingin melubangi kepalamu dengan tangannya, maka aku juga bisa membuat tubuhnya terbelah menjadi dua. Jadi berhati-hatilah ketika bicara" ancam Leo.
"Roy,,, renungkan perbuatan yang kamu lakukan, kita sudah bersama sekian lama. Mendengar kau melakukan hal sejahat itu membuat aku menjadi ragu. Apakah betul kamu Roy yang aku kenal....." kata Santoso sedih.
Roy hanya bisa menunduk. Seandainya ia tidak bertemu dengan saudara kembarnya, maka ia tidak perlu memberikan racun itu kepada Merry. Ketika melihat Kevin dirumah sakit bersama Merry, hati dokter Roy sebenarnya sudah dipenuhi rasa bersalah. Kenapa ia bisa mengulangi kesalahan yang sama. Dan seandainya kembarannya Roy tidak menculiknya, mungkin Merry bisa disembuhkan karena sebenarnya dokter Roy punya penawarnya dan sedang melakukan pengobatan kepada Merry. Hanya saja nasi sudah menjadi bubur. Waktu pemberian obat harus tepat waktu, terlambat satu menit saja bisa membuatnya kehilangan nyawa.
Sementara itu, Leo dan Lisa masih menjadi pusat perhatian setelah Santoso selesai bicara karena masih berpelukan ditengah ruangan. Kedua saudara ini benar-benar luar biasa, sekilas seperti seorang yang lemah. Tetapi memiliki tenaga dalam yang luar biasa.
Leo melepaskan pelukan Lisa dan memegang kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya. "bagiku, kau adalah satu-satunya keluarga ku yang tersisa. Jangan berpikiran macam-macam. Aku dan nenekmu akan menjagamu dengan sekuat tenaga kami. Oke..." kata Leo kemudian memeluk kembali Lisa
"terima kasih..." kata Lisa dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"pak polisi, sebaiknya bapak urus pria ini. Kami sudah lelah melihat wajahnya." kata Kevin sambil berdiri mendekati Lisa dan Leo. Lisa melingkarkan satu tangannya ke pinggang Kevin, dan mereka berpelukan bertiga. Lisa merasa kedua pria ini adalah orang yang bisa diandalkan seumur hidupnya. Jika ada kedua orang ini didekatnya Lisa merasa aman dan terlindungi. Sangat beruntung bisa memiliki mereka, batin Lisa sambil tersenyum
Caroline dan Santoso berdiri dibelakang mereka sambil mengusap pundak Lisa dan Kevin. Lisa tersenyum melihat mereka, ya...dia tidak sendiri ada keluarga baru yang akan selalu menemaninya seumur hidup. Mereka saling melepaskan pelukan dan tersenyum bersama. 'Semoga semua yang terjadi menjadikan mereka semua menjadi orang yang kuat ' pinta Lisa dalam hati.