
Kevin menyelipkan tangannya dibawah leher Lisa, dan secara naluri Lisa bergeser kearah Kevin dan memeluknya sambil tertidur. Lisa dan Kevin tidur dengan lelap selama lebih dari 5 jam. Matahari sudah akan terbenam, Lisa dan Kevin baru terbangun dari tidurnya.
"aku lapar" itu adalah kalimat pertama yang diucapkan Lisa ketika kedua mata mereka saling beradu.
Kevin tersenyum tipis "mari kita pergi makan..."
Lisa dengan cepat bangun dan mengenakan jaket pajang tebal berwana kuning miliknya. Dalam waktu singkat Lisa sudah berdiri didepan pintu kamar menunggu Kevin dengan kesal.
"tidak bisa kah kamu cepat sedikit??"
Kevin menunjukkan dompetnya "selera makan istriku diatas rata-rata, harus membawa uang ekstra."
Lisa memakai sepatu boot nya sambil melihat Kevin berjalan kearahnya.
"ada isinya kan...." selidik Lisa
"cukup untuk membeli makanan sampai 3 kali tambah." kata Kevin sambil tersenyum sambil memakai sepatu.
Lisa tertawa puas "baguslah jika begitu.," Lisa melingkarkan lengannya di lengan Kevin.
"kita makan dimana??" tanya Kevin
"didekat sungai Thames..." jawab Lisa sambil tersenyum lebar.
"baiklah..."
Tidak lama berjalan mereka menemukan tempat makan yang menarik menurut Lisa. Dengan cepat ia memilih menu yang ada di dalam daftar. Lebih dari 4 makanan dipesannya. Kevin tidak bertanya apakah Lisa sanggup menghabiskan semua makanan yang dipesannya. Dengan kondisi Lisa saat ini pasti akan habis semua nya.
Tidak perlu menunggu lama, pesanan makanan sudah tersaji di meja makan. Mata Lisa berbinar-binar melihat makanan dihadapannya. Tanpa basa-basi Lisa langsung menyantap semuanya. Tangan Lisa berhenti didepan mulutnya karena melihat seseorang berdiri diujung meja makan mereka.
Kevin dan Lisa sama-sama mengalihkan pandangannya ke sebelah dan mengikuti postur tubuh pria itu Ternyata Patrick yang berdiri disebelah mereka.
Lisa tersenyum canggung melihat Patrick. 'kenapa pria ini datang disaat yang penting' batin Lisa protes karena waktu makannya terganggu. Sementara Kevin melihatnya tanpa menyapa sama sekali. Lisa tidak enak hati melihat Patrick yang diabaikan oleh Kevin.
"silahkan duduk. Mari makan bersama kami. " kata Lisa memecahkan kekakuan suasana diantara mereka.
__ADS_1
"tidak perlu, aku mau bicara dengan kamu.' kata Patrick sambil melihat kearah Kevin.
'syukurlah makanan yang ku pesan tidak terganggu, batin Lisa bersorak gembira mendengar perkataan Patrick.
Lisa menyenggol kaki Kevin yang masih duduk dan menatap Patrick tanpa berkata apapun. Kevin melihat Lisa bingung kenapa menyenggol kakinya. Lisa membesar matanya dan melirik kearah Patrick yang sedang menunggu jawaban Kevin. Lisa menggoyangkan kepalanya kearah Patrick, memberi isyarat kalau sebaiknya Kevin berbicara dengan Patrick.
Kevin sebenarnya enggan mengungkit masa lalu sekarang. Hatinya juga belum pulih benar dari trauma pasca kejadian 20 tahun yang lalu. Kedatangan Patrick kali ini pasti berhubungan dengan hal itu. Pasti dia akan membahas masalah yang sama.
Kevin meletakkan garpu dan pisau makan yang dipegangnya. Kemudian melihat Patrick dan berkata "ada apa...."
"aku ingin kita bicara berdua" kata Patrick
"aku sedang makan" jawab Kevin singkat.
"aku janji tidak akan lama." kata Patrick dengan wajah memohon.
"aku...." perkataan Kevin terpotong karena Lisa menendang kakinya dengan kuat membuat Kevin membesarkan matanya melihat Lisa
"baiklah" kata Kevin mengkoreksi jawabannya. Jika ia mengatakan tidak mau saat ini. Bisa-bisa kakinya akan dipatahkan dengan tendangan kaki Lisa, batin Kevin
"aku pergi sebentar"
"kita kesana." kata Kevin sambil berjalan kearah dua meja didepan Lisa. Patrick mengikutinya dari belakang
Mereka berdua duduk berhadapan. Patrick melihat kearah Lisa yang ada di dua kursi belakangnya. Lisa melambaikan tangan kearah mereka berdua. Dan kemudian melanjutkan makan.
Ketika akan menyuapkan makanan lagi ke mulutnya. Lagi-lagi Lisa harus menghentikan gerakannya, karena ternyata dua meja disebelah kiri Lisa ada kedua orang tua Patrick. Dengan senyuman canggung ia melambaikan tangan dan meletakkan sendok ditangannya. Karena kedua orangtuanya Patrick juga melambaikan tangan kearah Lisa
batinnya berkata 'kenapa hanya untuk makan saja sangat sulit aku rasa.' protes Lisa dalam hati.
****
Suasana canggung antara kedua sepupu itu 3 bisa dihindarkan. Kevin enggan memulai pembicaraan. Sedangkan Patrick bingung mau memulai dari mana.
Satu menit membeku tanpa kata, Kevin membuka suara "katakan..."
__ADS_1
Patrick melihat mata Kevin "kamu masih sama selalu tidak suka basa-basi"
Kevin melihat jam tangannya, seolah-olah memberitahu kalau ia tidak memiliki banyak waktu meladeni orang yang ada didepannya.
".aku minta maaf." kata Patrick memecah kekakuan diantara mereka.
Hati Kevin yang tadi kaku, kini mendadak mencair. Ada satu belenggu yang terlepas dari hatinya. Kevin tidak bisa mengutarakan perasaan apa itu. Tapi rasanya sangat lega dihatinya.
Kevin menunduk menghindari tatapan mata Patrick.
"semua adalah salahku. Salahku yang memaksamu, salahku juga tidak mendengarkan saran mu pada saat itu, salahku karena tidak berani menolong mu."
Kevin melihat salju yang turun diluar jendela. Menarik nafas panjang dan berkata "bukankah semuanya sudah berlalu, untuk apa mengungkitnya kembali."
"untuk melepaskan semuanya. Agar hatiku dan hatimu bisa tenang kedepannya." kata Patrick.
"tidak ada yang perlu dimaafkan, karena bagaimanapun kita adalah sepupu yang dibesarkan bersama-sama. Sudah pasti kita harus menjaga satu sama lain." jelas Kevin
Patrick mengangguk. "dari perkataan mu terdengar sepertinya kamu sudah memaafkan ku. Tapi dari perilaku mu terlihat sekali kau ingin menghindari ku." Patrick memutar gelas yang berisi air putih dihadapannya. Ia memutar perlahan-lahan ke kiri dan ke kanan.
Kevin memijat keningnya dan berkata sambil menatap Patrick "aku memang sudah memaafkan mu. Hanya saja mungkin kamu tahu, ingatanku tentang semuanya baru muncul beberapa hari ini. itu sangat membuatku terpukul. Sama dengan dirimu yang baru tersadar dari tidur panjang mu. Alam bawah sadar kita mengunci semua ingatan itu, membuat kita melupakannya dan tidak bisa sadar karenanya. Pasti ada alasan kenapa semua ini terjadi. Jadi berhentilah menyakiti diri sendiri."
Patrick mengangkat kepalanya melihat Kevin penuh harapan, kata-kata 'berhentilah menyakiti diri sendiri' memang sangat cocok untuk mereka berdua. Patrick tersenyum melihat Kevin.
Kevin yang masih memijat dahi nya melihat Patrick dengan tatapan bingung, 'tidak ada yang lucu dari perkataan nya tadi, kenapa dia bisa tersenyum...'batin Kevin bertanya tapi enggan mengeluarkan dari mulutnya.
Patrick mengulurkan tangan kanannya kepada Kevin untuk berjabatan tangan. Kevin semakin bingung apa yang ada dipikiran sepupunya ini.
"kenapa...." tanya Kevin
Patrick menyodorkan tangannya sambil tersenyum lebar dan melihat telapak tangannya. "mari kita mulai dari awal" kata Patrick.
Kevin sangat familiar dengan kata-kata ini. Dulu sewaktu mereka masih kecil dan berkelahi, kedua orang tua mereka pasti menyuruh mereka untuk berbaikan dan berjabatan tangan kemudian berkata 'mari mulai dari awal lagi'.
Kevin tersenyum menyambut tangan Patrick "mari kita mulai dari awal lagi." mereka berdua saling tertawa. Dan kekakuan diantara mereka perlahan mulai mencair. Patrick dan Kevin mulai berbicara tentang masa lalu mereka dan larut dalam nostalgia masa sekolah.
__ADS_1
Mereka sama-sama korban pada saat itu, karena masih kecil luka psikologi yang dialami masing-masing mereka harus disembuhkan dengan waktu yang lama. Dan terobati ketika mereka saling bertemu.
Kevin adalah penawar Patrick sehingga ia tersadar, begitu pula dengan Kevin yang mendapatkan seluruh ingatan nya setelah bertemu dengan Patrick.