
Caroline bertanya kepada Lisa "bagaimana keadaanmu sayang??"
Lisa tersenyum "baik ma.... Aku tidak...." Lisa diam sejenak dan melihat kearah Cindy dan menunduk melihat kue yang ada ditangannya.
Lisa ingat perkataan Cindy tadi, manusia tidak terlihat lemah dengan mengakui ketakutannya. Ia juga tidak akan terlihat seperti seorang yang suka menangis karena menumpahkan kesedihannya. Seseorang tidak perlu terlalu mendengarkan perkataan orang lain. Semua orang berhak untuk sedih, senang, takut, marah dalam hidupnya karena itu adalah haknya sebagai manusia selama dilakukan dengan cara yang bertanggung jawab.
Lisa sangat kesal mendapat perlakuan buruk dari seseorang yang tidak bertanggung jawab. Tapi selama ini seperti kata Cindy ia sudah melampiaskan semua emosinya dengan cara yang bertanggung jawab. Tidak melakukan pembalasan secara pribadi. Tapi membiarkan lembaga yang berwenang melindungi dirinya.
Lisa menarik nafas perlahan sambil menutup matanya.
"aku takut, sangat takut..." Lisa berkata sambil menunduk dan air matanya mulai menetes ditangannya. Caroline mendekati Lisa memeluknya, meletakkan kepala Lisa di dadanya.
"Tidak apa-apa,,sayang ada mami yang akan menjaga kamu. Kita pasti akan menangkap orang jahat itu."
"kenapa ada orang yang tega melakukan itu??" tanya Lisa lirih
"karena mereka orang bodoh sayang... Hanya orang bodoh dan tidak memiliki hati yang bisa melakukan hal itu."
"mami tidak akan biarkan ada orang yang menyakiti kamu sayang...." Caroline menepuk perlahan pundak Lisa untuk menenangkan dirinya.
Emosi Lisa mulai redah. Lisa kembali duduk dengan posisi tegak dan mulai menambah kecepatannya dalam menyantap kue dihadapannya.
"awas kalau aku menemukan orang itu. Aku akan pukul dia pakai sapu." kata Lisa dengan emosi sambil menyuapkan kue kedalam mulutnya sampai penuh.
Caroline tersenyum dan mulai menirukan gaya Lisa makan dengan satu suapan penuh kedalam mulutnya sambil berkata "Mami juga akan mami cubit dia karena sudah jahat kepada kamu.
__ADS_1
Cindy pun tidak mau kalah, ia melakukan hal yang sama "aku akan tarik telinganya sampai merah dan dia berteriak ampun baru aku lepaskan."
Mereka bertiga berbicara dengan semangat akan melakukan pembalasan dengan penjahat itu sambil tertawa terbahak-bahak. Kemudian mereka bercerita dengan suami mereka masing-masing dan kebiasannya. Mereka bertiga lupa ada seorang suami yang masih duduk santai diruangan tamu kamar sambil mendengarkan mereka berbicara santai.
******
Sementara diruangan lain, Kevin sudah menemukan titik terang dalam masalah ini. Tapi hasil laboratorium untuk pemeriksaan DNA pelaku baru keluar sekitar 1 jam lagi. Waktu sudah menunjukkan pukul 4 pagi. Sebentar lagi matahari terbit, Santoso sudah sangat bingung karena jika membuat istri marah bisa-bisa hidupnya dalam bahaya. Mengingat Caroline tidak mau berbicara kepadanya selama 3 hari saja sudah membuatnya merasa hidup sebatang kara di dunia ini.
Apalagi masalah seperti ini yang menurutnya sangat membuatnya marah, bisa-bisa istrinya mogok bicara padanya selama 1 minggu bahkan 1 bulan. Membiarkannya hidup sendirian dan mengurus hidupnya sendiri.
"bagaimana?? " tanya Santoso tidak sabar
"Tunggu 1 jam lagi...pa " jawab Kevin
"status pernikahan mami dan papa dipertaruhkan ditangan kamu dan team. Tolong jangan kecewakan papa." pinta Santoso. Kevin melihat papanya baru kali ini memohon seperti ini, biasanya dia selalu mengambil sikap tegas dan tidak suka memohon kepada siapa pun. Benar-benar diluar kebiasaan. pikir Kevin
"Jannie, Roy dan Patrick." jawab Kevin santai.
"baik-baik.... panggil ketiga orang itu kemari sekarang." perintah Santoso kepada pengawal Kevin.
"pa..aku masih menunggu hasil laboratorium. Beri aku sedikit waktu " kata Kevin
"sudah...kamu tenang saja, paling tidak hanya kurang dari 1 jam untuk memanggil mereka dan membiarkan mereka olah raga jantung sejenak." jawab kevin santai.
Santoso menghubungi istrinya agar datang keruangan pengawal Lisa dan membawa Cindy bersama dengannya.
__ADS_1
Lisa, Cindy, Caroline dan Leo sambil lebih dahulu dari pada Jannie, Roy dan Patrick. Mereka duduk di sofa berjajar dengan wajah tegang. Sangat jauh berbeda ketika tadi dikamar Lisa. Berbicara tentang banyak hal sambil tertawa terbahak-bahak. Kali ini mereka bertiga menjadi sangat tegang. Leo memperhatikan raut wajah mereka dengan serius sambil satu tangan memegang dagunya. Wanita itu memiliki 1000 ekspresi yang bisa ditunjukkan secara berbeda hanya dalam waktu kurang dari 1 detik, pikir Leo.
Setelah menunggu selama 10 menit Jannie, Roy dan Patrick masuk kedalam ruangan kamar pengawal Lisa. Mereka bertiga juga ikut tegang, bagaimana tidak. Barisan pria berjaket hitam tebal berdiri dihadapan mereka. Otot yang besar dan wajah yang ketat membuat suasana ruangan semakin dingin dan mencekam.
Mereka bertiga duduk dikursi makan dan saling berhadapan dengan Kevin dan Santoso langsung. Dibelakang dan dihadapan mereka ada pengawal yang berdiri dengan sikap badan istirahat ditempat.
" apa kalian tahu kenapa kami memanggil kalian kemari??" tanya Santoso
Mereka bertiga saling memandang dan menggelengkan kepala tanda tidak tahu.
"Hari ini kalian dipanggil kemari karena dari sekian banyak saudara kita hanya kalian bertiga yang mungkin melakukan hal jahat tersebut kepada Lisa dan Kevin." Jelas Santoso.
"kami bertiga? kamu tidak salah??" protes Roy.
"tentu saja tidak. Kami sudah memberikan semua datanya kepada pihak yang berwajib. Sebentar lagi mereka akan kemari dan menangkap tersangka utamanya. Maka dari itu kami mengumpulkan kalian semua disini. Dan sedikit memberikan kata pembuka untuk kalian semua." kata Santoso sambil menatap tajam ketiga orang itu.
"Patrick baru keluar dari rumah sakit, bagaimana mungkin kamu menuduh ia seperti itu." protes Roy sambil melipat kedua tangannya menatap Kevin dan Santoso bergantian.
"Kevin akan menjelaskan semuanya." Santoso menoleh kearah Kevin yang duduk disebelahnya. Sementara Kevin terkejut dengan papanya yang seperti melemparkan besi panas langsung kearahnya. Dengan wajah dan perkataan yang penuh keyakinan seolah-olah mengetahui semuanya tentang penyelidikan yang dilakukan Kevin dengan team keamanannya.
Kevin menatap Santoso sambil mengangkat kedua pundaknya dan mengerutkan alisnya, raut wajahnya seolah berkata 'apa yang sedang kamu lakukan pa...'
Santoso menaikkan alis mata sambil mengedipkan mata kanannya seolah berkata 'lakukan saja, benar tidaknya urusan belakangan.'
Kevin memijat dahinya. Orang tua ini benar-benar membuatnya berbicara tanpa alat bukti yang kuat. Sangat berbahaya untuk menjatuhkan dirinya.
__ADS_1
Kevin memperhatikan sekitarnya, mereka memandang Kevin dengan sangat serius dan menantikan pria ini akan berbicara apa. Jantung Kevin berdetak lebih cepat, bagaimana pun yang akan dikatakannya berhubungan dengan nama baik pribadi masing-masing orang. Jika salah bicara dan salah mengambil kesimpulan ujung dari masalah ini adalah tuntutan hukum kepada dirinya.
" Apa yang akan aku sampaikan sekarang mengenai Jannie, Roy dan Patrick adalah berdasarkan dengan bukti yang kami terima dan rekaman dari kamera pengawas. Aku akan menjelaskan kepada kalian, kalau salah satu dari kalian bertiga adalah tersangka yang melakukan teror kepada aku dan Lisa" jelas Kevin dengan tegas