
Seminggu tanpa Kevin sepertinya tidak berdampak banyak bagi Lisa. Lisa tetap bisa melihat Kevin dimana-mana, dalam kamar tidur, ruang tamu, ruang makan, kantor bahkan didalam mobil. Lisa tidak habis pikir pria ini melakukan semua hal ini kepadanya. Bukan senang yang dirasakan Lisa, tapi ia malah merasa tertekan dengan semuanya.
Hari senin ini Lisa memutuskan tidak masuk kantor, karena Kevin bersikeras ingin dijemput di bandara oleh Lisa. Dengan berat hati, Lisa pun mengikuti perkataan Kevin. Lisa menjadi pusat perhatian orang, tidak hanya karena ia adalah wanita cantik dan menarik. Tapi pria yang berjalan dibelakangnya dengan jaket kulit berwarna hitam berbadan kekar dengan kacamata hitam membuat Lisa sangat mencolok dimata orang yang ada disekitarnya.
Lisa menunggu di lounge access sambil membaca majalah fashion. Lisa melihat jam tangannya, seharusnya Kevin sudah sampai, tapi belum ada informasi penerbangannya sudah mendarat. Lisa melihat ke layar jadwal penerbangan dan jadwal tiba pesawat. Tapi tidak ada nomor penerbangan dilayar. Apa ada penundaan penerbangan?? pikir Lisa. Lisa membuka aplikasi untuk mengecek penerbangan. Setelah memasukkan kode penerbangan, Lisa melihat pesawat seharusnya sudah dekat dengan bandara. Lisa berpikir, mungkin jadwal untuk mendarat penuh, jadi harus menunggu antrian.
Perasan Lisa mulai tidak enak, ketika beberapa pengawalnya terlihat saling berbisik kemudian mengangguk. Berbisik sambil menutup mulutnya agar Lisa tidak bisa membaca gerak bibir mereka. 6 pengawal Lisa pergi meninggalkan ruangan. Hanya tersisa 4 orang yang berada disekitar Lisa. Lisa penasaran dengan apa yang terjadi.
"A, apa terjadi sesuatu???" tanya Lisa mulai gelisah.
"tidak ada apa-apa nona." A berusaha menenangkan Lisa.
Tiba-tiba Lisa merasa jantungnya berdetak dengan lebih cepat, sama ketika peristiwa meninggalnya mamanya. Perasaan gelisah yang sama.
"Pasti terjadi sesuatu." Lisa memaksa A mengatakan sesuatu.
A terlihat mengaktifkan bluetooth di telinganya, kemudian mengangguk dan memberi kode kepada 3 rekannya yang lain. Lisa makin khawatir dengan keadaan ini.
"nona sebaiknya ikut kami." kata A
Lisa merasakan tubuhnya merinding "terjadi sesuatu dengan Kevin??" tanya Lisa langsung ke inti masalah.
"kami belum bisa memastikannya." A menunjukkan jalan agar Lisa berjalan mengikuti B. A berusaha mengurangi rasa khawatir dihati Lisa. Tapi Lisa memang sudah sangat khawatir dengan Kevin.
__ADS_1
Ponsel Lisa menerima notifikasi, sambil berjalan Lisa membuka notifikasi dari berita terkini. 'sebuah pesawat gagal mendarat dan terbakar didekat bandara.' Perasaan Lisa campur aduk. Tangannya bergetar, keringat dingin mulai mengalir dari keningnya.
"cepat...." bentak Lisa
Mereka bergerak dengan cepat. Apakah terjadi sesuatu dengan pesawat Kevin. Apa ini pesawatnya??? Pertanyaan itu masih berputar dikepala Lisa. Ia tidak berani membuka notifikasi dari ponselnya. Lisa melihat asap hitam membumbung ke langit.
"turunkan aku" perintah Lisa
"maaf nona, kami harus menyelamatkan nona. Team yang lain akan mengevakuasi tuan Kevin."
Darah Lisa rasanya turun ke kaki, Lisa kehilangan kesadaran. Begitu Lisa terbangun ia sudah diruangan yang serba putih, tangan menggantung jarum infus. Lisa berusaha mengingat apa yang terjadi, asap hitam terakhir yang diingatnya. Lisa langsung duduk dan membuka selimutnya dengan paksa.
Rita segera menenangkan majikannya "nona tenanglah.."
"tuan sedang dioperasi."
"bawa aku kesana sekarang." teriak Lisa
Rita yang tidak pernah melihat Lisa marah membuatnya takut. Rita mengangguk dengan gugup.
"baik, mari ikut dengan saya."
Rita melihat kearah keempat pengawal yang berdiri didepan pintu masuk. Perasaan seperti ini sepertinya pernah ia rasakan sebelumnya. Lisa merasa de javu dengan keadaan ini. Mereka berhenti diruangan operasi, dari papan digital terlihat nama orang dioperasi ada tertulis nama Kevin Santoso, jantung Lisa berdetak tidak teratur. Lisa melihat ada orang yang sudah keluar dari ruangan operasi, kemudian ada lagi yang menyusul masuk. ia tidak sendiri, Ada orang yang sama seperti dirinya. Kaki Lisa tidak mampu menahan berat badannya. Lisa duduk dilantai rumah sakit. Apakah orang yang ada di hidupnya harus meninggalkannya? Tidak bisakah Tuhan berbaik hati memberikannya hidup bersama orang yang dicintainya? Hati Lisa dipenuhi pertanyaan yang tidak bisa dijawabnya.
__ADS_1
Rita memapah Lisa duduk dikursi tunggu didepan ruangan operasi. Lisa menahan kepalanya dengan kedua tangannya. Lisa menjambak pelan rambutnya, kepalanya sangat pusing sekarang. Hatinya tidak ada mempersiapkan semua keadaan ini. Apalagi jika terjadi hal yang buruk, lebih baik dia tidak melanjutkan hidupnya lagi.
Nita berlari kearah Lisa dengan wajah sedih.
"maaf nona, saya terlalu lama kembali. Saya terkejut menerima kabar ini." Nita menangis terisak-isak.
Lisa dari tadi tidak bisa menangis, melihat Nita menangis hatinya tambah sakit. Lisa memeluk Nita dan mereka menangis sambil berpelukan. Rita yang melihat mereka berdua ikut memeluk dari belakang.
"saya yakin tuan tidak akan apa-apa, dia adalah orang baik. Tuhan akan menjaga orang baik tetap ada di dunia ini." Rita berkata untuk menguatkan hati semua orang.
Tapi hati Lisa malah semakin takut. Mama dan papanya adalah orang yang sangat baik, Tapi Tuhan mengambil mereka lebih cepat dari yang diinginkannya. Bagaimana jika Kevin juga seperti itu.... Lisa menyangkal dari dalam hatinya 'Tuhan, dia bukan orang baik. Dia sering jahat kepadaku, suka menggangguku, dia juga suka membuat hari-hariku tidak tenang. Dia betul-betul jahat kepadaku. Biarkan dia tetap hidup agar dia bisa memperbaiki hidupnya.' Pinta Lisa dalam hati.
Lisa, Rita dan Nita masih menunggu didepan ruang operasi. Sudah 5 jam mereka menunggu dan operasi belum juga selesai. Sedangkan ruangan lain terlihat sudah berkali-kali mengganti orang masuk untuk operasi. Hati Lisa makin tidak tenang. Apakah kondisi Kevin memang sangat parah?? Bagaimana ini,,,,
A memberikan ponselnya "maaf nona, nyonya Caroline ingin bicara pada anda."
Lisa memandang ponsel A dengan tatapan kosong. Ia pun menjawab panggilan Caroline tanpa energi yang tersisa.
"ya..." jawab Lisa datar
"sayang, kamu tidak apa-apa??" Suara Caroline terdengar bergetar. Ia pasti juga sangat sedih dengan berita ini.
Lisa kembali menangis tersedu-sedu. Mereka berdua menangis bersama dan tidak ada pembicaraan yang bisa dilakukan saat ini. Air mata yang mengalir mewakili perasaan hancur dihati mereka. Ponsel A rasanya terlalu berat ditangan Lisa. Ponselnya jatuh dan layarnya pecah. Lisa hanya melihat dengan tatapan kosong.
__ADS_1
'cepatlah keluar dari dalam Mr K. Kenapa kamu tega membuatku menangis?? kamu bilang tidak akan membiarkanku menangis. Sekarang mana letak tanggung jawab mu. Mana kata-kata yang kau katakan kepadaku, kalau kau akan selalu ada di sampingku dan tidak akan membuatku kesepian apalagi merasakan khawatir seperti ini. Cepatlah keluar dari ruangan itu, kenapa kamu sangat betah tinggal disitu?? Kalau memang kondisimu sangat parah aku mohon bertahanlah demi ku. Jangan kamu biarkan aku sendiri' Lisa menutup matanya dengan kedua tangannya, air matanya sudah tidak bisa dibendungnya lagi mengalir tanpa bisa dikendalikan