
Kevin dan Lisa duduk bersandar ditempat tidur. Kevin melingkarkan tangannya dipundak Lisa.
"sama seperti yang kamu katakan kepada ku. Kalau kita saling belajar untuk lebih memahami satu sama lain. Belajarlah untuk jujur dengan perasaan mu." Kevin menggeser kepala Lisa dengan lembut secara perlahan ke pundaknya.
Lisa bingung untuk mengungkapkan ketakutannya. Selama ini ia hidup bersama Merry, mereka saling menguatkan. Tidak pernah menceritakan kelemahan dan ketakutan satu sama lain, karena mereka hanya berdua saling bergantung. Semua ketakutan dan kelemahannya ditutup rapat-rapat dalam hati mereka.
Air mata Lisa menetes dipundak Kevin. Kevin merasakan air mata Lisa menembus dari bajunya. Kevin mengusap lembut rambut Lisa dan menciumnya.
"aku ....aku....." Lisa ingin mengungkapkan perasaannya. Tapi lidahnya rasa keluh. Pikirannya melayang ke Cindy, psikolog yang pernah membantunya setelah mamanya meninggal dunia.
'menangis bukan berarti cengeng, menceritakan kesusahan hati bukan berarti kelemahan, berkeluh kesah bukan berarti tidak menerima takdir. Semua kebahagian, kesedihan dalam hati tidak ada salahnya diungkapkan. Hati dan pikiran akan lebih tenang, setelah kamu mengungkapkan semuanya.'
Lisa menutup matanya dengan tangan kirinya. Bayangan menyeramkan peristiwa tadi masih dipelupuk matanya.
"apa kamu akan berpikir aku sangat lemah??"
Kevin menggeleng "kamu adalah wanita yang kuat, bahkan terlalu kuat. Kamu adalah wanita mandiri, bahkan terlalu mandiri. Itulah yang paling aku takutkan. Kamu terlalu kuat dan mandiri."
"Kenapa" tanya Lisa.
"karena ketika kamu sudah terlalu kuat dan mandiri, kamu akan membuang aku jauh dari hidupmu. Makanya, tetaplah bergantung kepadaku agar aku bisa tetap bersamamu." Kevin mencium pipi Lisa sambil berbicara.
"tapi aku suka menjadi wanita yang kamu sebutkan. Aku ingin menjadi wanita mandiri dan kuat. Aku tidak suka bergantung pada siapapun."
"kamu tidak sendirian sayang, ada aku. Aku pria mu yang akan sangat bangga ketika kamu membutuhkan ku "
Lisa masih menutupi matanya dengan tangan kirinya. Lisa sedang berusaha mengatasi rasa takut dalam hatinya. Air matanya menetes perlahan.
"katakan lah ..."
Perlahan Lisa membuka tangannya. Lisa menangis terisak-isak. "aku takut...." Lisa memeluk Kevin lebih erat.
Kevin tersenyum puas, akhirnya wanitanya membutuhkannya dan mengakui kelemahannya. Tembok tinggi yang dibangun Lisa dari dulu sampai sekarang akhirnya perlahan runtuh.
"aku tidak akan membiarkan wanitaku menangis ketakutan seperti ini. Aku akan membuat perhitungan dengan orang yang mengirim paket itu."
"apa mungkin karena aku ada berbuat salah kepada seseorang??" tanya Lisa
"kamu gadis yang baik. Orang yang mengirimkannya yang tidak baik. Kenapa kamu tidak menghubungi Leo. Bagaimana jika memang dia pelakunya??"
"tidak, seperti yang aku katakan bahwa bukan dia. Tapi kenapa dia menyebutkan nama Leo.,..."
Dalam hati Lisa ada rasa penasaran. Ia mengambil ponselnya dari dalam tas. Dan menghubungi Leo.
"ya.. halo," jawab Leo
__ADS_1
"kamu dimana???"tanya Lisa
"berhentilah membuat aku takut. Seminggu kamu menghilang, begitu muncul seperti nenek yang sedang mengintrogasi cucunya."
"dasar kamu... Aku serius, apa kamu ada mengirimkan paket kepadaku???"
"paket apa?? bukan kah harusnya kamu yang kirim paket ke aku, kamu kan baru pulang bulan madu."
"berikan ponselnya kepadaku. " kata Kevin kepada Lisa.
"Kevin mau bicara dengan kamu "
"halo Leo.." sapa Kevin
"selamat malam pak" suara Leo menjadi lebih formal.
"apa kamu tahu kami tinggal dimana??" tanya Kevin
"istri anda tidak pernah memberikan alamat rumah kalian pak."
"nanti kamu habiskan semua makanan dirumah kami, sama seperti dulu." jawab Lisa
Suara ponsel di speaker. Jadi mereka bisa mendengar suara Leo bersamaan.
"kamu harusnya bersyukur, kalau tidak ada aku makanan dirumah tidak akan habis " jawab Leo dengan santai.
"kamu ini, berani mengatakan hal itu didepan bosku "
Kevin tersenyum melihat kedua sahabat yang sedang berdebat. Lisa merebahkan kepalanya dipangkuan Kevin. Kevin mengusap rambut Lisa.
"kenapa? kamu takut??? katanya tidak ada yang kamu takutkan." tantang Lisa.
"kamu ini, memang tidak cocok menjadi kucing. Kamu lebih cocok menjadi rubah." umpat Leo
"wahh.... mulut kamu manis sekali." puji Lisa
"kamu tidak cocok memujiku. Aku malah merinding mendengar suara pujian dari kamu"
Leo dan Lisa tertawa terbahak-bahak.
"rubah"
"raja kegelapan."
Mereka tertawa kembali.
__ADS_1
"sebaiknya kamu masuk kerja besok. Tiap hari suami kamu menghubungi aku, menanyakan proyek dengan One Future Ltd. Padahal kamu kepala penanggung jawab. Dia sudah cukup menyiksa ku." Leo mengeluh kepada Lisa
"bukan kah itu bagus. Kamu selalu menyiksa ku dengan setumpuk pekerjaan. Kali ini ada yang mendukung ku." Lisa tersenyum bangga.
"itulah kenapa aku mengatakan kamu itu rubah. Tampak sangat cantik tapi menyerang ku. "
Lisa tertawa senang. "kamu ada untuk disiksa. sangat disayangkan melewatkan hal bagus seperti ini"
Kevin tersenyum melihat istrinya sudah jauh lebih baik. Leo memang hanya sebatas sahabat bagi Lisa. Walau banyak yang meragukan hubungan mereka,termasuk Kevin. Tapi semua hal dibantah oleh mereka berdua. Tidak dengan kata-kata, tapi dengan perbuatan. Ketika Lisa dalam suasana hati yang buruk, Leo bisa membuat Lisa menjadi tenang, tanpa menanyakan masalahnya.
Leo dan Lisa menelepon selama 30 menit. Kevin memandang wajah Lisa yang penuh dengan keceriaan. Lisa menyerahkan ponselnya kepada Kevin. Senyum puas terpancar di wajah Lisa.
"sudah puas???" tanya Kevin.
"sudah" jawab Lisa
"baiklah, mari kita istirahat."
"oke".
******
Lisa tidur dengan pulas tadi malam. Lisa dan Kevin pergi bersama kekantor. Ruangan Lisa disebelah ruangan Kevin. Ketika diruangan sendiri, bayangan wajah boneka itu masih terlintas di mata Lisa. Lisa membuka pintu penghubung ruangan Kevin dan Lisa.
"Apakah aku bisa membuka pintu ini seharian??? tanya Lisa
"tentu saja." Kevin membuka pintu dan jendela kaca penghubung ternyata bisa di dorong.
Lisa membuka mulutnya lebar-lebar. " Mr. K kamu luar biasa dalam memikirkan desain ruangan." puji
Kevin tersenyum puas dengan pujian Lisa. "semua hal tentangmu sudah ada didalam sini." Kevin menunjuk kepala dan dadanya. Kevin mendekati Lisa dan mencium bibir nya. Bertepatan dengan Frans masuk kedalam ruangan.
"maaf...." Frans merasa terjebak masuk kedalam ruangan yang penuh aroma cinta dimana-mana. Frans hendak keluar dari ruangan "tidak perlu keluar, kami sudah selesai" jawab Lisa sambil tersenyum malu.
Lisa berjalan kearah ruangannya. Lisa melihat ada kulkas 2 pintu diruangan kerjanya. Lisa berjalan kearah kulkas dan membukanya. Lagi-lagi Lisa terkejut melihat isi kulkasnya. Semua jenis minuman ada didalamnya. Eskrim dan cake berbagai rasa ada didalamnya.
Lisa berlari kearah Kevin sambil tersenyum manis. "terimakasih suami" Lisa mencium pipi Kevin.
"aku sangat menyukai mu."
Perkataan Lisa membuat mata Kevin membesar. Kata-kata yang sangat ingin didengar nya dari wanita ini.
"sebaiknya kamu bersiap-siap nanti malam." bisik Kevin ditelinga Lisa
"maksudnya???" tanya Lisa
__ADS_1
Kevin mencium pipi Lisa. "aku mencintaimu"
Frans berdiri tegak melihat bosnya sedang bermesraan didepannya. Benar-benar sebuah kejahatan bagi seorang yang tidak memiliki pasangan sepertinya.