
"Frans, kamu ikut aku berkeliling ke setiap departemen bersama kalian berdua." kata Lisa dengan tegas dan langsung berdiri.
"baik kakak ipar." jawab Frans sambil melihat kearah Kevin. Ia berharap Kevin menyelamatkannya. Tapi nampaknya tidak mungkin. Kevin termasuk orang yang akan dikonseling oleh Lisa. Lebih baik bergantung pada diri sendiri saat ini.
"kalian berdua silahkan konseling CEO kalian sekarang. Surat konseling semua karyawan yang tidak memakai id card aku mau sudah ada dimeja ku sebelum makan siang."
"baik bu." Manager Hrd keluar dari ruangan Lisa dengan beban berat dipundaknya. Dikantornya ada sekitar 200 orang. Melakukan konseling dengan karyawan sebanyak ini jelas tidak mudah apalagi dalam hitungan beberapa jam saja. Dalam waktu singkat, Lisa mengumpulkan 40 orang lebih yang dikumpulkan dalam aula kantor salah satunya termasuk Kevin.
Manajer HRD takut ketika harus melakukan konseling kepada Kevin. Kevin duduk didepannya sambil melipat tangannya di dada. Manager HRD itu mengusap keringat yang menetes di dahinya. Lisa melihat hal itu segera menghampiri mereka. "sudah selesai?" tanya Lisa kepada manajer HRD.
"maaf bu, saya...."
"salah adalah salah. Yang salah harus menerima hukuman, bukankan begitu pak Kevin??" tanya Lisa
"ya...sesuai perkataan istriku. Lakukan saja sesuai peraturan yang ada." jawab Kevin dengan tenang
"baiklah pak.." jawab manager HRD sambil menulis surat konseling kepada Kevin. Kevin melihat kertas yang ditulis dengan tatapan dingin membuat tangannya sulit bergerak. Tiba-tiba ia merasa tidak bisa menulis dengan benar.
"apa kamu mau saya beri Surat Peringatan?" tanya Lisa ke manager HRD
"maaf bu, segera saya kerjakan." Manager HRD benar-benar dibuat kesulitan oleh kedua suami istri ini. Ia melihat kearah Frans yang sedang tersenyum melihatnya, manager HRD menatapnya dengan tatapan minta tolong. Frans mengangkat kedua bahunya kemudian berjalan meninggalkannya. Frans sudah sering mengalami masalah seperti ini. Tapi bagaimana pun juga ia tidak mau terlibat, sebisa mungkin menghindari dari masalah.
Manager HRD itu selesai menulis surat konseling dan sudah ditanda tangani oleh Kevin. Selesai menandatangi surat konseling, Kevin mendekati manajer HRD. "Besok siang datang kekantor" bisik Kevin sambil tersenyum paksa.
Frans melambaikan tangannya sambil berjalan dibelakang Kevin. Manajer HRD masih ketakutan dengan keadaannya saat ini. Lisa menghampirinya kemudian berkata "laporan semua konseling ini aku terima paling lama 2 jam kedepan."
"baik bu, " jawab manajer HRD.
__ADS_1
Lisa berjalan kembali keruangan nya. Kebetulan ia satu lift dengan Kevin. Suasana lift sangat kaku. Frans yang ada didalamnya jadi sulit bernafas. Lisa keluar terlebih dahulu dari dalam lift diikuti Kevin dibelakang. Ketika Lisa masuk keruangan kerjanya, Kevin ikut masuk kedalam kemudian bicara kepada Frans, jangan ada yang mengganggu. Frans tidak menjawab, hanya mengangguk paham dengan maksud Kevin. Sepertinya akan ada perang dunia kedua yang akan terjadi. Ia harus bersiap dengan sikap kedua bosnya yang tiba-tiba berubah nanti.
"ada apa?" tanya Lisa melihat Kevin dengan tidak senang karena masuk keruangan nya.
Kevin memeluk Lisa, Lisa mendorong tubuh Kevin. "menjauh dari ku."
"Tidak mau." jawab Kevin penuh keyakinan.
"aku tidak mau melihat mu saat ini sebaiknya keluar atau aku akan hubungi pengawal ku," perintah Lisa
"Tidak mau" jawab Kevin lagi sambil berjalan mendekati Lisa dan mengunci tubuhnya dengan kedua lengannya. Lisa kesal dan menginjak kaki Kevin dengan seluruh kekuatannya. Kevin meringis kesakitan Lisa menyingkir dari pelukan Kevin. Kevin menarik tangan Lisa, Lisa menghempaskan tangan Kevin. Sayangnya posisi tubuh Lisa tidak stabil. Lisa menabrak mejanya. Rasa sakit dari perutnya yang menabrak meja dengan cepat menyebar ke seluruh tubuh. Wajah Lisa menjadi pucat, Pandangannya mulai kabur.
"sayang...sayang..." hanya itu kata terakhir yang Lisa dengar dan ia jatuh tidak sadarkan diri.
Lisa terbangun dalam ruangan serba putih, Kevin memegang tangan Lisa dengan tatapan penuh kesedihan.
Lisa masih malas melihat wajah Kevin. Ia membuang pandangannya kearah lain. Caroline terlihat berlari kearah Lisa "anak ku, bagaimana keadaanmu??"
"tidak apa-apa mi, tadi hanya tiba-tiba kepala Lisa pusing."
"apa Kevin melakukan hal jahat kepadamu. Mami akan menghukum dia. Kamu jangan khawatir sayang."
"aku minta dia keluar dari ruangan ini sekarang, aku tidak mau melihatnya sekarang."
Caroline langsung melihat kearah Kevin dengan tatapan penuh kemarahan "keluar, kamu membuat anak perempuan mami tidak nyaman. Cepat keluar."
"sayang, maafkan aku. Aku tidak tahu kalau kamu sedang hamil, Maafkan aku.."
__ADS_1
"apa?" Lisa dan Caroline bicara bersamaan. Mereka tidak percaya kalau Lisa sedang hamil sekarang.
"kamu hamil nak??" tanya Caroline
Lisa menggelengkan kepalanya sambil mengangkat kedua bahunya. Ia benar-benar tidak tahu mengenai kehamilan.
Caroline melihat kearah Kevin "jelaskan apa yang terjadi?"
"Semua salah Kevin, perut Lisa terbentur meja kemudian Lisa tidak sadarkan diri. Ketika diperiksa kata dokter kalau Lisa sedang hamil. Untungnya tidak ada masalah dengan anak kami. Dokter sudah memberikan suntikan penguat janin." jelas Kevin
Lisa dan Caroline saling bertukar pandangan. Caroline mulai tersenyum senang, sedangkan Lisa masih tidak ada ekspresi. Ia tidak tahu apakah harus senang atau tidak menanggapi kehamilannya.
"akhirnya mami akan punya cucu. Kalau begitu bagaimana kalau mami tinggal dirumah saja. Tidak perlu kembali keparis lagi. Agar mama bisa menjaga Lisa dengan baik."
"mami, suruh dia keluar dahulu. Lisa tidak ingin melihat wajahnya sekarang." Lisa melihat Caroline dengan wajah memohon.
"kamu keluar sana." Caroline membesarkan tatapan matanya melihat Kevin
Kevin menunduk sedih, istrinya masih marah padanya. Melihatnya saja tidak mau, bagaimana cara membujuknya kali ini. Lisa sedang mengandung anaknya, ia membuat masalah denganya kali ini. Ini sama dengan tidak hanya mencari masalah pada 1 orang. Tapi dengan 4 orang sekaligus, kedua orang tuanya, Lisa dan calon bayinya.
Lisa duduk dan Caroline membantu memberikan bantal dipundak Lisa. "kamu tidak apa-apa nak???" tanya Caroline
"mi, malam ini aku mau menginap di hotel saja."
Caroline tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Wajah terlihat sangat kelelahan. "apa terjadi sesuatu? jangan-jangan berhubungan dengan wanita yang bernama Lucy. Apa yang dia lakukan padamu sayang. Mami tidak akan tinggal diam. Kamu jangan takut, papa akan buat perhitungan dengan mereka."
"Lisa terlalu lemah menceritakan semuanya, minta saja rekaman cctv dilobi kantor jam 8 pagi, disitu akan terlihat semuanya kemudian cctv ruangan Lisa jam 11.15 siang ini. Apa yang mereka lakukan. Lisa hanya takut salah menyampaikan semuanya." Lisa mengedipkan matanya perlahan. Rasa sakit ditubuhnya memang sudah tidak ada. Tapi tubuhnya terasa lelah.
__ADS_1
Caroline menghubungi Santoso meminta sesuai info dari Lisa. Dalam waktu kurang dari 10 menit rekaman sudah diterima di ponsel Caroline. Bukan hanya Caroline, Santoso juga marah kepada Kevin. Santoso datang langsung kerumah sakit setelah menerima video dari kantor Kevin hanya untuk memarahi putranya.