
Fatina menatap Lisa tidak percaya, mereka sudah hidup susah seperti ini. Khay juga baru beberapa bulan bekerja bersama mereka. Hidup dengan mewah dirumah sebesar ini mereka tidak akan sanggup membayarnya.
Fatina terlihat murung menyesali nasibnya dan keluarga yang harus mengalami semua hal berat seperti ini.
Lisa tersenyum "apa yang ibu pikirkan??"
Lisa berdiri dan memeluk Fatina "pertama kali bertemu ibu sangat hangat menyambut ku seperti anak sendiri. Aku minta ibu membalas ku dengan menganggap aku seperti anak perempuanmu. Kedua orang tuaku sudah meninggal. Mertuaku sangat sayang padaku tapi ia tinggal diluar negeri, aku punya nenek tapi dia juga punya hobi traveling keluar negeri. Walau sering berkomunikasi melalui telepon tapi terkadang aku sangat merindukan sosok kedua orang tua ku, terutama mamaku." Lisa bicara dengan mata berkaca-kaca
Wajah Fatih berubah menjadi ceria "kamu akan mendapatkan kasih sayang dari ibu mulai sekarang. Anggaplah kami seperti orang tuamu. Kami pun akan menjaga dirimu sama seperti Khay dan Valen." Fatih mengusap pundak Lisa dan menepuknya perlahan-lahan.
"terima kasih, aku juga minta masakan seperti ini. Semuanya sangat enak." kata Lisa dengan mata berkaca-kaca.
"kapan pun kamu ingin masakan ibu, akan kami antar ke rumahmu."
Lisa tersenyum senang pikirannya sudah membayangkan kulkasnya penuh dengan masakan yang disukainya. Nancy sering mengirimkan makanan untuknya, sekarang ada orang tua angkat akan melakukan hal yang sama seperti Nancy merupakan suatu kesenangan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.
Lisa mengajak Nancy bergabung dengan Kevin dan Rajak yang sudah terlibat pembicaraan seru mengenai politik. Ini adalah topik pembicaraan yang paling tidak ingin didengar oleh Lisa. Lisa menatap Kevin dengan tatapan tidak senang.
Cara Lisa yang memandang Kevin terlalu mencolok membuat Kevin berhenti bicara.
"ada yang salah sayang??" tanya Kevin
"topik pembicaraannya, benar-benar tidak suka." protes Lisa
__ADS_1
"maaf.." kata Kevin. Rajak dan Kevin jadi terdiam dan tidak tahu harus berbicara mengenai topik apa. Lisa melihat kearah Kevin dan Rajak bergantian, ia jadi tidak enak mematikan pembicaraan yang seru diantara mereka.
"ayah..." kata Lisa memecah kekakuan suasana.
"ya..." jawab Rajak
Lisa bukan orang yang mudah akrab dengan orang lain, tapi dengan Rajak dan Fatina mereka adalah dua orang yang sangat hangat menurut Lisa. Kevin sedikit terkejut Lisa sudah dengan penuh percaya diri memanggil Rajak dengan panggilan 'ayah'.
"di tanah ini akan dibangun sebuah panti asuhan. Kedepannya aku ingin panti asuhan ini mandiri dari urusan finansial. Mereka akan disekolahkan sesuai dengan tingkat umur masing-masing dan harus dibekali dengan ilmu yang baik agar ketika mereka besar, mereka bisa menjadi seseorang yang mempunyai daya saing tinggi dengan yang lain walau mereka tidak mempunyai orang tua." jelas Lisa
Fatina melihat rumah megah ini, jika rumah ini di jadikan panti asuhan akan sangat sayang sekali. "rumah ini akan dihancurkan...dan.... akan dijadikan panti asuhan?" tanya Fatina mengeluarkan keraguan dalam hatinya
"rumah ini tidak mungkin aku hancurkan. Ini adalah rumah pemberian suamiku. Aku bisa rugi nanti." jawab Lisa sambil menahan senyum diwajahnya sambil melirik Kevin.
Rajak terdiam sesaat, ia pernah menjalankan usaha tapi semua jalannya dimatikan oleh Sabrina. Kalau dia menjalankan usaha Lisa pasti akan mengalami hal yang sama. Nasib anak-anak yang tidak memiliki orang tua ini akan sangat menyedihkan.
"paman.....ah...ayah.." Kevin mengkoreksi perkataannya
"Sun Group akan membatu semua usaha yang akan dijalan di panti asuhan ini. Jadi kedepannya, ayah akan menjadi bagian pemasaran perusahaan kami. Sabrina tidak akan bisa mengganggu usaha ayah kedepannya." Kata Kevin dengan penuh keyakinan.
"kamu benar Kevin Santoso pemilik Sun Group?" Rajak bertanya untuk meyakinkan. Nama Kevin dan Santoso sangat terkenal dalam bisnis tepatnya dalam semua bidang usaha. Bertemu langsung dengan orangnya merupakan suatu keberuntungan bagi dirinya.
Kevin mengangguk mengiyakan pertanyaan Rajak.
__ADS_1
"usaha apa yang dimaksud?" tanya Rajak kepada Lisa
"aku belum bisa pastikan. Yang pasti adalah perkebunan. Tanah disini sangat subur, membuatnya mejadi usaha perkebunan, atau wisata kebun aku rasa hal yang baik. Sisanya, apabila hasil buah/sayur yang tidak habis terjual kita bisa olah, misalnya menjadi selai atau manisan. Itu konsep dasar dipikiran ku. Selebihnya belum ada terpikir sama sekali."
Rajak menganggukkan kepala, secara garis besar ia sudah memiliki bisnis apa yang cocok untuk panti asuhan ini.
"Besok akan datang Pak Utomo, dia adalah arsitek yang akan merancang bangunan panti asuhan dan tempat usaha nantinya. Mohon bantuan ayah untuk mencocokkan lagi apakah konsep yang ada dipikiran ku dan ayah sesuai dengan bangunannya atau tidak." lanjut Lisa.
Rajak menggenggam tangannya sendiri dan membungkuk di kursinya "apa kamu yakin..Kita baru kali ini bertemu dan menitipkan sesuatu hal yang besar seperti ini bukankah terlalu beresiko?"
"memang sangat beresiko buatku, tapi aku percaya kepada ayah. Aku sudah mengenal Khay dari mulai kuliah, melihat kepribadian Khay aku bisa mengetahui kalau dia dibesarkan oleh orang hebat seperi anda berdua." puji Lisa
"apa kamu selalu seperti ini kepada semua orang??" tanya Rajak
"tidak, ayah yang pertama." jawab Lisa tanpa beban."
"anakku, diluar sana banyak orang yang bersikap baik, tetapi malah kedepannya dia menjadi orang yang menghancurkan mu, menjatuhkan mu di depan umum. Kamu bisa hancur berkeping-keping karenanya."
Rajak berkata seperti ini bukan tanpa alasan, Keluarga Sabrina juga pada awalnya menawarkan kerja sama yang sangat baik dan menguntungkan kedua belah pihak. Tapi secara tiba-tiba mereka menghancurkan kepercayaan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun. Hatinya pun ikut hancur, masa depan putranya menjadi bayang-bayang Sabrina. Ia merasakan menjadi orang tua yang gagal dalam melindungi putra kesayangannya. Melihatnya mengorbankan diri demi keluarga, walau tidak terlihat tapi hatinya sangat hancur. Ia bahkan sangat malu kepada putranya yang harus memikul semua tanggung jawab keluarga yang seharusnya ada ditangannya.
"saya pernah gagal begitu juga dengan anda. Tapi bukan berarti kegagalan itu membuat kita tidak bergerak sama sekali. Dunia berputar begitu juga dengan kehidupan kita. Sebagai seorang pebisnis pasti paham mengenai hal ini. Jatuh dan bangun pernah kita alami. Bukan untuk menjadikan kita takut, tapi untuk membuat kita menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Istriku langsung percaya kepada ayah ketika pertama kali bertemu pasti ada alasan khusus di dalamnya. Darah seorang pengusaha mengalir dalam dirinya. Aku yakin ketika istriku sudah membuat keputusan, itu pasti sudah tepat dan terbaik bagi dirinya dan usaha yang akan dijalankannya"
Kevin bicara panjang lebar sambil menggenggam tangan Lisa dan menatap Rajak penuh keyakinan.
__ADS_1