
Sabrina dan Frans berdiri didepan Kevin dan Lisa. "kenapa kamu keluar lama sekali?" Sabrina protes kepada Kevin
Lisa melihat kearah Kevin berharap saat ini dia bisa membaca pikiran Lisa. Kevin berkata "aku antar istri ke mobil dulu, perutnya tiba-tiba sakit." Lisa benar-benar megagumi kemampuan Kevin walau ia tidak melihat Lisa, tapi paham isi pikirannya.
Lisa dengan cepat mengangguk menyetujui perkataan Kevin. Sambil memegang perutnya agar sandiwara bisa dipercayai penonton.
Sabrina tersenyum sambil mengangguk, "baiklah.. Semoga cepat sembuh ya nyonya Kevin."
"terima kasih."
"satu istri dijaga oleh 9 orang pengawal bukankah trelalu banyak?" kata Sabrina.
"hanya ingin memastikan istriku jauh dari gangguan serangga penganggu," Kevin bicara sambil melihat kearah anggotanya. Dan ketika menyebutkan kata 'serangga' ia sengaja melihat kearah Khay tanpa diketahui oleh Sabrina.
Sabrina tertawa, "benar-benar cinta istri, kamu sangat beruntung Lisa." puju Sabrina
Lisa tersenyum terpaksa, bagaimana seorang akan tahan diikuti orang sebanyak ini. Tidak akan ada seorang wanita pun yang mau diperlakukan seperti ini. Kevin memegang pingang Lisa. Mereka berjalan kearah basement. Setelah memastikan Lisa masuk kedalam mobil Kevin berjalan meninggalkan Lisa.
Lisa membuka kaca mobil dan berdiri sehingga separuh badannya keluar dari dalam mobil, "Kevin, tunggu."
Kevin berbalik arah melihat istrinya seperti itu membuatnya marah. Ia berjalan kembali kearah mobil dengan cepat. "apa yang kamu lakukan, itu sangat berbahaya. Masuk"
Lisa menarik sudut bibirnya kemudian melingkarkan tangannya dileher Kevin berharap pria ini akan mendengarkannya. "aku minta kamu jangan membicarakan hal tadi kepada Sabrina."
Kevin melepaskan tangan tangan Lisa. "melakukan hal ini hanya untuk mengatakan hal itu. Lebih baik mereka berpisah dari pada bersama."
Lisa tidak mau menyerah, ia kembali melingkarkan tangannya keleher Kevin dan kali ini Lisa mencium pipinya. "berbuat baiklah suami, aku mohon padamu." Lisa memajukan bibirnya. Wanita ini sangat pandai bermanja membuat Kevin tidak bisa menolak.
__ADS_1
Kevin menghela nafas. "baiklah istriku, aku tidak akan mengatakan apapun kepadanya. Kamu tenang saja." Kevin mencium kening Lisa memaksanya kembali masuk kedalam mobil.
Lisa tersenyum puas dan berkata "terima kasih", ketika akan menutup jendela mobil, lagi-lagi Lisa mengeluarkan kepalanya. "tolong bungkuskan makananku."
Kevin mengangguk perlahan. "baiklah. Perkataan anda adalah perintah bagi saya."
Lisa tertawa melihat Kevin yang berusaha menahan emosinya kepada Lisa. Wajahnya sangat lucu. Lisa melambaikan tangan dan menutup jendela mobil.
*****
Malam sudah larut tapi Kevin juga belum pulang, Lisa sangat berharap malam ini bisa makan bersama. Makanan yang dikirim Kevin kerumah tidak disentuh oleh Lisa, semuanya dimasukkan kedalam kulkas. Tidak ada Kevin selera makannya hilang.
Jam menunjukkan pukul 11 malam, tapi tidak ada tanda-tanda kepulangan Kevin. Lisa mengirimkan pesan kepadanya, tapi tidak dibalas. Lisa ingi menelepon Kevin tapi takut menganggu ia bekerja.
Lisa memasang hands free dan mulai memutar lagu Celin Dion. Mata Lisa menjelajahi setiap sudut rumah, rumah ini sangat besar tapi terasa kosong. Saat seperti ini ia merindukan Merry, biasanya saat malam tiba Merry selalu mendengarkan Lisa berbicara banyak hal tetang kantornya. Demikian juga dengan Merry, ia akan menceritakan tentang harga sayuran, dan apa saja yang dibicarakan dengan para tetangga.
Lisa mengambil jeket tebal dan berjalan keluar rumah, Lisa mengatakan kepada pengawal, dia akan ke lantai 8 untuk menemui Roy. Pengawal mengawal Lisa sampai ke lantai 8, setelah pura-pura masuk kerumah Roy, Lisa turun dari lift dan ia berhasil kabur.
Lisa berjalan keluar apartemen sendir, bulan purnama malam ini sangat indah, angin bertiup diselah rambut Lisa. Sangat dingin. Lisa mengancing seluruh jeketnya sampai keleher. Suasana sangat sunyi, disebelah apartemen Kevin ada sungai yang terbentang luas. Lisa berdiri melihat pemandangan diseberang sungai, bangunan tinggi dengan lampu warna-warni. Lisa berjalan perlahan menelusuri pinggiran sungai.
Lisa melihat kursi dipinggir sungai. Ia duduk sambil menikmati udara malam yang dingin dan lampu warna-warni dari seberang sungai. Pikirannya terbang kebeberapa peristiwa 2 minggu belakangan ini. Banyak hal yang terjadi dalam hidupnya memaksanya berubah menjadi orang yang lebih dewasa dalam waktu singkat.
Lisa menghadap kelangit malam yang gelap. Tidak banyak bintang malam itu. Pikirannya membayangkan kedua orang tuanya sebagai bintang yang bersinar dimalam hari. Lisa merasa saat ini memang ia sendiri, tapi diatas sana pasti mereka melihat Lisa.
"sejak kapan kalian ada berdiri dibelakang?" Lisa melihat bayangan A dan B disisi kanan dan kirinya.
"sejak... nyonya turun dari lift." jawab salah satu dari mereka.
__ADS_1
Lisa tertawa terbahak-bahak. "Luar biasa. Kalian memang luar biasa" Lisa mengacungkan ibu jarinya kepada para pengawalnya. Lisa bangkit dari kursi taman dan kemudian berkata : "aku traktir minum kopi,"
Kedua pengawal tadi saling bertukar pandangan, bingung dengan sikap Lisa. Mereka mengikutinya dari belakang, tanpa berkata apapun.
Lisa menghentikan langkahnya, sambil tersenyum menunjukkan gigi depannya kepada pengawal "dimana aku bisa membeli teh susu??"
Pengawalnya menahan tawa, wanita ini mengajak pengawalnya minum kopi, tapi tidak tahu dimana tempatnya. A menunjuk kearah depan. "disebelah sana ada cafe nyonya. Silahkan."
"ooh... terima kasih, ayo kita pergi." Sejak pindah keapartemen ini Lisa tidak pernah keluar rumah. Ia tidak tahu ada apa saja di kompleks apartemen ini. Kevin pernah mengatakan semua lengkap ada fasilitas olah raga, supermarket, cafe dan restoran semua ada.
Lisa memesan teh susu, kemudian bertanya kepada pengawalnya mau pesan apa?? Mereka hanya diam. "Jika kalian diam, aku akan memecat kalian sekarang." Lisa berbicara dengan tatapan mata tajam, ia belajar meniru gaya Kelvin bicara. Dengan terpaksa mereka menjawab "latte panas."
Lisa melingkarkan jari telunjuk dan ibu jarinya kepada mereka sambil berkata "oke". Ternyata gaya Kevin sangat berguna. Ketika akan membayar Lisa baru sadar kalau ia tidak membawa dompet.
Lisa menghadap kepengawalnya "pinjam uang.." dengan wajah bersalah. Berani sekali niat mentraktir tapi tidak membawa uang. Benar-benar memalukan. A mengeluarkan dompet dari saku celananya. Ketika akan mengeluarkan uang Lisa berkata "Tunggu."
Lisa berbalik arah kepada kasir dan menunjukkan aplikasi pembayaran digitalnya "apakah bisa membayar menggunakan ini? Aku lihat ada logo yang sama "
Kasir mengangguk dan tersenyum ramah sambil berkata "silahkan barcode kemesin pembayaran kita"
"Terima kasih." Setelah berbicara kepada kasir, Lisa berbalik melihat kearah 2 pengawalnya. "tidak perlu, ternyata saran Bos kalian benar-benar luar biasa. Dompet memang tidak perlu."
Lisa tersenyum senang dan keluar dari cafe dengan senangnya. Padahal hanya minum teh susu, tapi sikap Lisa seperti anak kecil yang diberi hadiah coklat satu keranjang.
Kevin berlari kearah Lisa dengan kesal berkata, " kemana saja kamu."
"bosan menunggu kamu, jadi aku keluar beli teh susu." Jawab Lisa acuh tak acuh sambil meminum teh susunya.
__ADS_1