
Lisa masuk kedalam rumah dengan perasaan lega, melihat pria dengan jas hitam selalu membuatnya tidak tenang.
Suasana apartemen Kevin luar biasa bersih dan tertata rapi.
Lisa memandang Kevin kemudian keseluruh ruangan, terlihat tidak ada pelayanan dirumahnya. Sangat hening.
"Bukan aku, ada bibi yang membersihkan rumah, jam kerjanya dari jam 8 pagi sampai jam 1 siang."
Lisa tercengang. "bagaimana kamu tahu isi pikiran ku??" "benar-benar luar biasa...." puji Lisa
Lisa masih tidak beranjak dari posisinya.
"kamar mama ada di disitu,"ujar Kevin sambil menunjuk sebuah ruangan dengan pintu berwarna putih.
"kamar kita diatas." Kevin menunjuk pintu warna hitam.
Suasana rumah Kevin berwarna hitam dan putih.
"oke,,," jawab Lisa santai.
Kevin berjalan kearah anak tangga.
"Tunggu...." Kevin secara otomatis menghentikan langkah kakinya,
"kamu tidak salah???" Ujar Lisa berusaha meyakinkan sambil menyibakkan poni di dahinya.
Lisa menunjuk Kevin dan dirinya bergantian.
"apa ada yang salah??" tanya Kevin
'Jelas merupakan kesalahan kenapa dia bertanya lagi? Mana mungkin aku satu ruangan dengan dia? Walau status pernikahan sudah jelas, bagaimana pun dimana dia lahir, tanggal kelahiran, sekolah, hobi, makanan kesukaan semua tidak ada yang diketahui Lisa, Bagaimana mungkin dia bisa mengatakan dengan santai seperti itu.' batin Lisa
Kevin berbalik dan memegang tangan Lisa sambil berbisik. "jangan berbicara dengan suara kuat, nanti mama bisa mendengarnya."
Lisa menelan ludahnya dengan susah payah sambil mengangguk pelan. Tidak ada pilihan baginya saat ini selain mengikuti perkataan Kevin. Kevin mengandeng tangan Lisa menaiki tangga dan masuk kekamar mereka.
Gorden jendelan panjang menutupi kaca jendela. Lisa membuka gorden tersebut dan pemandangan luar biasa terbentang lebar, cahaya lampu malam dikota ini benar-benar luar biasa cantik.
"waah... benar-benar luar biasa."
"aku mandi dahulu. Kalau mau berkeliling rumah silahkan kamu lakukan." Lisa tidak memperdulikan perkataan Kevin, ia masih tergila-gila dengan keindahan malam ini. Kevin selesai mandi dan Lisa masih berdiri dibalkon kamarnya. Dinding pembatas balkon ini cukup tinggi seukuran dada orang biasa. Sehingga cukup aman untuknya berdiri disini.
Kevin menekan sebuah tombol dan kemudia dari atas turun teralis menutupi balkon itu. "kamu bisa menggunakan tombol ini sebagai keamanan apabila ingin berada diluar." Jelas Kevin
Lisa terkejut dengan suara Kevin yang tiba-tiba dari arah belakang. Rambutnya masih belum kering, tetesan air itu terlihat berbeda dimata Lisa. 'Pria ini kenapa selalu tampan disegala keadaan ya?' pikir Lisa.
"cepat mandi sana,makan malam sudah siap."
Lisa terdiam, pria ini terlihat begitu sexy dengan jubah mandi yang diikat tidak sempurna. Dadanya terlihat begitu kokoh. Dari dalam hati Lisa sangat mengagumi fisik pria ini.
__ADS_1
Kevin melambaikan tangan kearah Lisa, Lisa tersadar dan berkata singkat "ya,,,," Lisa buru-buru masuk kedalam. Ia baru sadar, dimana kamar mandi saja dia tidak tahu, Lisa menghentikan langkahnya.
"kamar mandi......."tanya Lisa.
Kevin menunjuk kearah pintu tepat Lurus didepan Kevin.
Lisa mengangguk dan segera masuk kemar mandi.
Lisa membuka kamar mandinya, besar sekali. Lebih besar ukuran kamar mandi dari pada kamarnya. Handuk, perlatan mandi semua tersusun rapi. Dengan rumah sebesar ini, dia sudah bisa menampung 10 keluarga seperti aku, pikir Lisa.
Keluar dari kamar mandi, Lisa masih menggunakan jubah mandi. Ia baru ingat tidak ada membawa baju ganti. Lisa masih berdiri didepan pintu kamar mandi dengan perasaan ragu dan sedetik kemudian Kevin berkata
"Disebelah kanan kamu ada pintu, itu ruangan ganti."
"wah,,, kamu ini Xavier ya...." Lisa benar-benar kagum dengan Kevin ketika ia menebak isi pikirannya.
"kamu terlalu banyak membaca komik dan novel"
"aku rasa kamu adalah jelmaan dari Xavier."
"aku manusia biasa, dan tidak ada niat menciptakan manusia mutan seperti x-man" Kevin bicara sambil menutup buku yang dibacanya.
Lisa buru-buru masuk kedalam ruangan ganti. Caranya menutup buku membuat Lisa merinding. Pria ini suka sekali mengeluarkan aura dingin yang tiba-tiba. Jadi lebih baik menghindar dari pada terkena radiasi auranya.
Lisa membuka lemari, deretan baju tersusun rapi sesuai dengan warnanya. 'Ini ruangan ganti atau toko baju?? Luar biasa banyak sekali' Lisa membuka lemari yang pintunya berwarna putih dan akhirnya menemukan lemari bajunya.
Lisa bingung dengan baju yang ada dilemari ini, yang mana baju harian seperti kaos dan celan pendek?
Lisa menarik laci didepannya, pakaian dalam yang lengkap dengan merek terkenal. waahh...hebat sekali. Tapi bagaimana pria ini mengetahui ukuran tubuhnya??'
Lisa mengeluarkan kepalanya dari pintu ruang ganti.
"Kevin,,,, aku tidak menemukan baju sehari-hari. Apakah tidak ada baju tidur?"
Kevin diam sejenak berusaha mengingat perkataan maminya.
"baju tidur kamu ada disudut sebelah kanan."
"oohh,,, baik terima kasih."
Lisa segera membuka lemari tersebut dan langsung membeku,
"ini bukan baju tidur.... ini namanya sama saja dengan tidak pakai baju. Semua sama lingerie seperti ini tidak bisa dipakainya.
Lisa ingat tadi ada membuka baju kaos, sepertinya ia bisa menggunakan itu.
Lisa memakainya dan kaos tersebut. Ketika Lisa memakainya, sangat panjang sampai kelutut. Syukurlah, ada pakaian yang bisa digunakannya.
Lisa keluar dari ruangan ganti, kaos putih yang dikenakannya menutupi hot pants yang dipakainya. Orang yang melihat pertama kali akan merasa kalau wanita ini tidak menggunakan celana.
__ADS_1
Kevin melihat Lisa tanpa berkedip. Ia tahu kalau baju yang digunakan wanita ini adalah baju miliknya.
Lisa merasa tidak nyaman dengan tatapan mata Kevin. Sadar, Kevin membuat Lisa canggung, ia langsung berdiri dan meletakkan buku yang dibacanya dimeja kemudian berjalan mendekati Lisa
" aku ingatkan... jangan pernah memakai pakaian seperti ini didepan pria manapun. Paham?"
Lisa mengangguk dengan cepat. Kilatana mata Kevin terlalu bahaya bagi detak jantungnya sekarang.
"siapa yang menyiapkan semua baju itu??" selidik Lisa
"mami"
"syukurlah"
"kenapa???" tanya Kevin
"aku kira itu kamu pria mesum, karena bajunya terlalu banyak yang terbuka untuk baju tidur. Tidak bisa aku gunakan."
'Pria Mesum' kata-kata itu terlalu menusuk kedalam hati Kevin
"Lisa....." Cara Kevin memanggilnya begitu sopan masuk ketelinga Lisa seperti ada hipnotis yang membuatnya ingin mengikuti semua perkataannya.
"ia, maafkan aku suami,,,," bujuk Lisa sambil memegang tangan Kevin
Wanita ini, benar-benar tahu cara membuat suasana hati Kevin berubah 180 derajat.
****
Dimeja makan makan malam sudah terhidang dengan lengkap, Lisa mulai makan sambil melihat kearah kiri dan kanan. Siapa yang menyiapkan makan malamnya? Bukankah tidak ada orang dirumah ini? Pikir Lisa
"Dilantai ini juga, para bibi pembantu kita tinggal. Hanya ruangan terpisah. Mereka tinggal disebelah. masuk dari pintu sebelah belakang sana." Kevin berbicara sambil menunjuk sudut pojok rumah.
"kalau ada yang mau kamu makan, tinggal bilang saja. Tulis notes tempel dikulkas."
"bagaimana kalau aku mau masak??" tanya Lisa
"kamu tidak usah........" Kevin mengentikan perkataannya.
"tulis saja bahan makanan apa yang kamu beli, nanti akan dibantu bibi untuk belanja." Kevin sadar kalau melarang wanita ini masak, dia akan marah lagi.
"apa aku tidak boleh pergi belanja?" tanya Lisa
"bisa, nanti akan aku temani berbelanja." ujar Kevin santai
Lisa hampir tersedak dengan makannya. Dia terbiasa hidup berdua bersama mamanya, belanja dan berjalan-jalan selalu berdua. Tiba-tiba ada sesorang yang menggantikan posisi mamanya sungguh tidak bisa diterima Lisa.
"Kenapa terkejut?? apakah sebegitu senangnya kamu belanja aku temani??" Kevin sambil tersenyum senang.
Lisa malas membahas lebih lanjut dengan pria ini. Dia lebih memilih diam dan melanjutkan makannya.
__ADS_1