
Kevin bangun lebih dahulu ketika jam menunjukkan pukul 11 siang, wajah Lisa tepat di dadanya. Kevin melihat wajah Lisa,Kevin memegang pipi Lisa. Kemudian menciumnya lagi, lagi dan lagi. Rasa rindu tidak bisa ditebus walau ribuan ciuman mendarat diwajah Lisa.
Kevin akan bangkit untuk menyiapkan makan siang, tapi Lisa memeluk Kevin lebih kuat. Ia tidak membiarkan Kevin menjauh darinya. Kevin tersenyum dan berbaring sebentar lagi menemani istrinya.Perlahan-lahan Kevin melepaskan pelukan Lisa dan berjalan ke dapur untuk memeriksa isi kulkas. Masakan apa yang akan dibuatnya siang ini. Di kulkas hanya tersisa spaghetti dan seafood, jadi Kevin memasak spaghetti seafood untuk Lisa.
Dari dalam kamar aroma makanan tercium dengan sangat jelas di hidung Lisa. Dengan malas Lisa duduk ditempat tidur, melamun sejenak menghadap luar jendela kamar sambil berpikir apakah tadi ia ada memasak makanan... Seingat Lisa sarapan pagi tadi sudah habis dimakan. Kenapa ada bau makanan diruangan nya membuat Lisa merinding. Lisa melihat kearah sekitar kamar, tidak ada yang mencurigakan. Sejak kapan ruangan hotel ini menjadi mengerikan seperti ini.
Jantung Lisa berdetak dengan cepat, darah Lisa berdesir hebat dengan cepat. Hanya dirinya diruangan ini, Lisa mencari ponselnya dan tidak ketemu. Ia baru ingat ketika sarapan tadi membawa ponsel sambil menghubungi Angel setelah itu membuka artikel berita kemudian meletakkan ponselnya dan kemudian tidur. Di meja makan, Lisa mengerutkan wajahnya, kenapa harus diletakkan disitu. Saat mengerikan seperti ini bagaimana mau menghubungi seseorang. Lisa menyesali kenapa dirinya tidak teliti seperti ini. Benar-benar menyebalkan. Batin Lisa memprotes dirinya sendiri.
Dengan sisa keberanian Lisa berusaha memberanikan diri, semua video horor yang ditontonnya berputar-putar dipikirannya. Bagaimana jika peralatan dapur berterbangan dan mengenai dirinya. Atau bagaimana jika ada hantu yang sedang memasak di dapur sekarang...Lisa menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Suara di dapur terdengar jelas, suara piring yang beradu terdengar sangat nyata untuk diabaikan. Air keran terdengar menyala kemudian mati. Lisa ingin menelan ludah tapi mendadak lupa bagaimana caranya.
Tidak ada pilihan baginya selain mencari tahu apa yang terjadi di dapur. Jika terjadi sesuatu padanya ia harus berteriak dengan kuat, jadi pengawalnya yang berdiri didepan pintu bisa mengetahui kalau dia dalam masalah. Lisa berjalan berjinjit dan ketika sampai di pintu kamar yang terbuka. Lisa bersandar di dinding kemudian mengintip perlahan. Lisa melihat Kevin berdiri di dapur sedang mencuci piring.
Lisa mengusap matanya, ini betulan atau hanya imajinasi pikirannya saja. "kevin..." bicara setengah tidak yakin dengan apa yang diucapkannya sambil berdiri didepan pintu kamar.
"duduklah, makanan sudah siap." kata Kevin sambil melepas celemek dan duduk di meja pantry dapur.
Lisa berjalan perlahan sambil terus memandangi Kevin. Seminggu tidak berjumpa kenapa pria ini tambah tampan. Rasanya Lisa ingin berlari kearah Kevin dan memeluknya. Tapi gengsi adalah diatas segalanya, Lisa menahan dirinya dan menatap Kevin dengan tidak percaya.
Lisa mulai makan dan matanya tidak berhenti melihat kearah Kevin.
'' apakah wajah suamimu sagat tampan??"
Lisa menarik otot bibirnya. Orang ini adalah Kevin yang asli, hanya dia yang memiliki sifat narsis yang tidak terkalahkan.
"kamu merindukanku??" tanya Kevin sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Lisa yang memakai bandana kelinci. Kevin mendekati dirinya tanpa aba-aba membuat jantungnya berdetak dengan cepat.
"tidak,,,:" jawab Lisa dengan gugup.
"benarkah??" Kevin bereaksi tidak percaya melihat Lisa.
__ADS_1
"aku terlalu sibuk untuk merindukanmu."
"ya.. mungkin hanya aku yang merindukan dirimu sampai mau gila.Tolong kedepannya jangan membuat aturan yang tidak masuk akal. Tidak menghubungi mu satu hari saja rasanya waktu berjalan sangat lambat bagiku." jelas Kevin
Lisa yang masih melihat Kevin kemudian secara tidak sadar mengangguk dan berkata perlahan 'sama. Suara Lisa tidak kuat tapi juga tidak pelan. Tapi sangat terdengar jelas ditelinga Kevin.
Kevin tersenyum menang, Lisa segera menyadari kesalahannya langsung mengalihkan pembicaraan "bagaimana dengan urusan pekerjaanmu??"
"baik. sangat baik." jawab Kevin santai
"apa yang terjadi semalam..." tanya Kevin lagi
"oh... perut ku tiba-tiba kram. Kata dokter mungkin terlalu lelah atau banyak pikiran. Sekarang sudah baikan."
"kapan kamu pulang...."
"satu jam setelah mendapat berita kamu sakit, aku langsung kembali. Untungnya ada tiket penerbangan 1 jam kemudian."
"tentu saja, kami istriku ketika ada sesuatu terjadi pada dirimu hati ku tidak tenang. Bahkan. aku kemari tidak membawa satu lembar baju. Tas masih di sana."
" aku sangat senang MR K... kamu sangat menyayangi istrimu ini."
"tentu saja.... sore ini kita kembali ke apartemen ya.. Aku kehabisan baju."
Lisa mengangguk dan melanjutkan makan. Masakan Kevin memang sangat enak. Lisa mengakui kalau masakan Kevin jauh lebih enak dibandingkan masakannya.
Selesai makan Kevin mencuci piring dan membereskan dapur dengan sangat baik. Pria ini memang tidak hanya terlihat rapi penampilan nya, tapi jika pekerjaan yang dilakukannya tanpa celah. Sangat rapih dan terlihat sempurna.
Lisa menyibukkan diri dengan tugas kampusnya. Ia membuka buku dan laptopnya dan mulai mengetik tugasnya. Kevin mengambil ponselnya dari jaket panjang nya kemudian mengisi daya ponsel nya. Lisa terlihat sangat fokus, sehingga Kevin yang awalnya ingin mengaktifkan ponsel mengurungkan niatnya agar tidak menganggu Lisa.
__ADS_1
"selesai...." Lisa bertepuk tangan dengan senang. akhirnya tugas kuliahnya selesai dikerjakan.
Kevin pindah duduk disebelah Lisa sambil mengusap rambut Lisa. "pintar." puji Kevin kemudian mengaktifkan ponselnya.
Bunyi dari ponsel Kevin tidak berhenti begitu diaktifkan. Kevin melihat puluhan panggilan dari Caroline, Leo, Santoso dan Frans.
Kevin mengerutkan keningnya dan kemudian menghubungi Caroline balik. Lisa mengambil tas laptop dari dalam kamar tidur sambil mengganti baju. Karena Kevin mengajak Lisa siang ini kembali ke apartemen.
Begitu panggilan Kevin terhubung Caroline langsung marah kepadanya.. "kemana saja kamu..."
"aku tadi perjalanan pulang, butuh hampir 20 jam penerbangan untuk kembali mi.... Ada apa ..."
'' kamu sudah baca pesan mami...."
"belum" jawab Kevin tanpa beban.
"kamu tidak senang...." tanya Caroline yang menyangka Lisa sudah memberikan informasi kalau dirinya sedang mengandung kepada Kevin.
"biasa saja... "
"kamu memang tidak berperasaan. Besok mami akan menjemput Lisa ke Paris. Lebih baik dia jauh dari gunung es seperti kamu."
Kevin makin tidak mengerti apa yang dibicarakan ibunya.
"kenapa mami mau membawa Lisa ke Paris..."
"supaya kamu bisa menjauh darinya. Mami bisa menjaga Lisa dengan baik."
"mami...aku juga bisa menjaga Lisa dengan baik."
__ADS_1
"ok... tapi kalau kali ini terjadi sesuatu dengan kandungan Lisa, mami tidak akan memaafkan kamu."
"Lisa hamil....." tanya Kevin balik