
Jika Kevin bernafas tidak teratur karena masih tidak terima dengan kondisi 20 tahun yang lalu, berbeda dengan Lisa yang mengalami hal yang sama karena tidak terima suaminya dikatakan seorang pembunuh.
Tangan Lisa masih mengepal karena memukul daun pintu dengan sangat kuat. Leo yang ada didepannya juga tidak kalah terkejut dengan hal itu. Semua mata tertuju kepada Lisa yang terlihat sangat marah.
"minggir..." kata Lisa kepada Leo dengan tatapan dingin.
Leo yang sudah bertahun-tahun bersama Lisa baru kali melihatnya marah seperti itu. Lisa biasanya menyimpan semua emosinya dalam hati. Ia bukan termasuk orang yang bisa marah kepada orang yang memarahinya. Dalam waktu singkat sahabat dan juga keponakannya bisa berubah seperti ini Leo juga tidak bisa memastikan apakan ini anugerah atau musibah.
Lisa menatap Leo yang melamun dihadapannya. Kepalanya bergerak kearah kiri memberikan kode kepada Leo agar bergeser dari posisinya sekarang. Leo menelan ludah bergeser dari hadapan Lisa.
Lisa berjalan Roy.. "kamu siapa?? berani mengatakan hal yang tidak-tidak kepada suamiku...."
"dia memang seorang pembunuh, kamu harus terima. Kamu mendengar sendiri pembicaraan Patrick. Untuk apa menutupinya." bantah Roy
Tangan Lisa mengepal kuat. Satu hentakan dimeja membuat semua orang kembali terkejut 'BRAK'. Entah mendapat kekuatan dari mana meja itu langsung berlubang sesuai dengan kepalan tangan Lisa.
"tarik ucapan mu atau kepalamu aku buat berlubang seperti ini."
Roy menelan ludahnya, ia tidak menyangka Lisa seorang yang terlihat seperti wanita lemah memiliki sifat asli seperti ini. Roy masih menatap Lisa dengan perasaan takut, tapi ia berusaha tetap melihatnya dan mengendalikan rasa takutnya.
"1" Lisa mulai menggerak-gerakkan jari kedua tangannya.
Roy tersenyum menyindir Lisa
"2" Lisa membunyikan jari-jari tangannya bersiap-siap melakukan suatu tindakan besar. Kepalanya dimiringkan ke kiri dan kanan suara 'kletak..kletak dari sendi tulang Lisa membuat suasana semakin tegang.
"sayang,,,, jangan kotori tanganmu untuk hal seperti ini..." kata Kevin berusaha menenangkan Lisa
"tenang saja sayang.... pria ini butuh lubang agar ia ingat siapa pelaku yang sudah menyakiti suamiku 20 tahun yang lalu. "kata Lisa santai sambil tersenyum kepada Kevin
__ADS_1
"sayang.....'' kata Lisa
''ya....'' rasa takut Kevin terhadap kasus pembunuhan berganti menjadi rasa takut kepada istri yang ada dihadapannya sekarang.
"sepertinya aku akan merusak meja hotel ini, bantu aku untuk ganti rugi ya...." kata Lisa sambil mengedipkan mata kanannya.
"ya..." jawab kevin singkat Kevin menjawab dengan gugup pertanyaan Lisa.
Lisa mengangkat tangannya dan menghantamkan tangan kanannya kemeja itu. Dalam waktu singkat meja itu terbelah menjadi dua. Semua orang tercengang melihat perbuatan Lisa. Wanita ini benar-benar kuat, pengawal yang menjaga Lisa sebenarnya tidaklah perlu. Lisa bisa bela diri, bukan hal yang sulit baginya menghancurkan meja seperti ini. Atau memecahkan bata yang tersusun 10 secara horizontal. Lisa pernah belajar bela diri dengan Leo waktu mereka sekolah dulu. Setiap hari Leo selalu memaksanya berlatih bela diri, walau ia kelelahan tidak ada pilihan untuk menolak karena itu demi kebaikannya.
Lisa tersenyum kali ini senyumannya terlihat menyeramkan seperti boneka annabelle. Ia kemudian mengerakkan kedua tangannya mirip seperti sedang mengasah pisau sambil tersenyum melihat Roy.
"ti,,,,,"
"baiklah-baiklah, suamimu bukan pembunuh." Roy bicara dengan cepat untuk menghindari lubang di kepalanya yang berharga.
"mami,,,,, " kata Lisa
Caroline yang masih membeku melihat kelakuan Lisa terkejut ketika Lisa memanggil namanya .. "ya.....sa...ya....ng" jawab Caroline terbata-bata.
Lisa tersenyum manis kearah Caroline sambil berkata "mami, aku tidak perlu sapu.. aku rasa batang ini cukup untuk memukul kepalanya seperti yang aku katakan tadi.."
Caroline sangat takut melihat Lisa yang seperti itu, selama ini Lisa adalah seoang putri penurut dan sangat feminim. Caroline tidak menyangka kalau Lisa mempunyai kepribadian yang menyeramkan seperti ini.
"baaaik." Caroline mengangguk dengan cepat untuk menghindari masalah.
"siapa pembunuh 20 tahun yang lalu??" tanya Lisa kepada Roy
"bukankah suamimu.." jawabnya santai tapi masih dengan wajah ketakutan.
__ADS_1
"1"
"2"
"ti..." ketika hitungan ketiga Lisa mulai mengangkat kayu ditangannya tinggi-tinggi, mengambil kuda-kuda untuk memberikan pria ini pelajaran.
"aku...." teriak Roy sambil menutupi kepalanya.
Lisa memang luar biasa bisa melakukan intimidasi seperti ini. Membuat Roy mengaku hanya dengan hitungan detik.
"kenapa..." tanya Lisa menarik kursi dengan kaki kirinya dan duduk dihadapan Roy. Kaki meja dihentakkan nya ke lantai dengan kuat 'BRAAAK'' membuat suasana menjadi gaduh. Roy membuka lebar kedua kakinya diapit oleh kaki Lisa, ditengahnya kaki Roy ada kaki meja yang dipegang kuat Lisa.
"wanita itu adalah kelinci percobaan ku. Obat yang aku buat berhasil membuatnya dengan cepat terkena kanker ovarium tahap 4 tanpa terdeteksi. Dia adalah pasien pertamaku. Sedangkan ibumu adalah pasien terakhir." kata Roy tanpa beban.
Tapi Lisa yang mendengarnya serasa tersambar kilat disiang hari dengan matahari yang sangat terik. "KRETAAK" kaki meja yang dipegang Lisa pecah di bagian yang dipegangnya. Semua orang menelan ludah secara bersama-sama tanpa aba-aba sebelumnya.
"Roy yang memintanya,,,, bukan aku..." jelasnya terbata-bata.
"jangan-jangan kau adalah orang yang dikatakan Roy yang ada dipenjara sana, ada orang yang bisa membunuh dengan obat tanpa terdeteksi kalau itu adalah racun. Itu kau???" tanya Lisa.
Lisa mengingat semua perkataan Roy ketika mengunjunginya dipenjara, bagaimana ia menawarkan agar ia menggunakan cara licik membunuh Kevin dan keluarganya demi mendapatkan harta. Ternyata orang ini yang dimaksudnya kalau dia memiliki rekan diluar penjara yang bisa diandalkan nya untuk melakukan hal jahat. Apakah dia juga orangnya??' batin Lisa berkecamuk. Ia berusaha keras meredam emosinya.
"ia,,,," Lisa mematahkan kaki meja dengan satu gerakan singkat. Jantung Roy berdetak tidak karuan darahnya berdesir berada didekat wanita ini. Wanita ini benar-benar berhasil mengintimidasi dirinya dengan satu gerakan mudah dan cepat.
Bukan hanya Roy yang ketakutan, Kevin melihat istrinya seberani ini benar-benar tidak habis pikir. Wanitanya benar-benar wanita perkasa.
"kapan...." tanya Lisa dengan tenang kepada Roy.
"waktu itu kebetulan ibumu berobat di rumah sakit tempat aku bekerja. Aku memang tidak mengenal dirinya, tapi saat itu kembaran ku Roy mengikutinya dan kami bertemu. Dia meminta bantuan ku untuk melakukan sesuatu kepada mamamu..." jelas Roy kepada Lisa
__ADS_1