Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
hari yang menyenangkan


__ADS_3

Lisa baru mengetahui kalau ternyata dibelakang rumah ini ada kebun sayuran. Lisa tahu, mamanya sangat menyukai tanaman. Setelah memakaikan jeket dan kaos kaki tebal untuk Merry, Lisa mengajak Merry melihat pemandangan diluar rumah yang luar biasa. Tanaman kubis, selada, kacang-kacangan, seledri ada semua. Ditanam setiap barisnya berbeda jenis tanaman.


Merry sangat senang, dan meminta Lisa membatunya mendekat kearah ladang sayur tersebut.


"apa kita boleh memetik sayuran ini??" tanya Merry ragu


Lisa menggeleng, "aku telepon dulu pemilik rumah," Lisa tersenyum sambil memainkan alisnya dan menggoyang-goyangkan handphonenya.


Dua kali nada tersambung Kevin langsung mengangkat telepon dari Lisa


"halo,,, suami...."  suara Lisa sangat senang.


Merry melihat Lisa sambil tersenyum lemah


"ya..." jawab Kevin singkat.


"kau sedang dengan perempuan lain ya?? Kenapa cara menjawabnya kaku sekali?" Sindir Lisa


"sedang rapat" jawabnya singkat


"suami,,,,, kamu rindu aku??"


"ya..."


Apa yang iya??" Lisa  sengaja menggoda Kevin


Kevin hanya diam. Saat ini dia sedang menghentikan rapat sesaat, semua orang masih berada di posisi duduk masing-masing. Kevin ragu menjawab pertanyaan Lisa.


"sudah lah tidak seru bicara sama kamu. Aku matikan teleponnya. Sepertinya tidak berguna bicara pada orang yang tidak merindukanku"


"tunggu..."


Lisa menunjukkan senyum kemenangan kepada mamanya.


"kenapa?" tanya Lisa


"aku merindukanmu." suara Kevin begitu lembut masuk ketelinga Lisa. Lisa sedikit terbawa perasaan, tapi ia sadar mamanya sedang mengawasinya menelepon.


Sementara di ruangan rapat Kevin semua anggota rapat yang mendengar Kevin bicara membesarkan matanya kearah Kevin. Ternyata pria kutub ini bisa romantis juga. Selesai bicara Kevin mengalihkan pandangannya kearah orang yang melihatnya. Mereka secara refleks mengalihkan pandangannya kearah proyektor untuk menghindari masalah.


"aku juga merindukanmu" goda Lisa.


"ohya... mama mau memetik sayur dikebun rumah ini. Apakah boleh??"


"silahkan... semua tanah dan bangunan itu adalah punya kamu."


Mata Lisa membesar.  "Benarkah???"


Lisa melihat ada 4 rumah kaca berbaris tidak jauh dari tempat mereka berdiri.


"aku melihat ada 4 rumah kaca disana... apakah itu termasuk???

__ADS_1


"ya, kebun jeruk disebelahnya juga masih milikmu."


Lisa melihat kebun jeruk yang berwarna kuning cerah sangat menggoda untuk dipetik. Lisa menunjuk kebun jeruk itu kearah mamanya kemudian menunjuk ke dirinya. Memberi isyarat kepada mamanya bahwa kebun jeruk itu adalah miliknya.


"Sepertinya suami sayang loyal dengan istrinya."


Diujung telepon sebelah sana Kevin tersenyum simpul.


"bagaimana ini, kamu jangan terlalu baik, nanti aku bisa lebih cepat jatuh cinta sama kamu." goda Lisa.


"aku mencintaimu.." ujar Kevin.


Wajah Lisa memerah. "Kami sibuk dulu, nanti kita sambung lagi ya...." Lisa buru-buru mematikan sambungan teleponnya. Pria ini benar-benar berbahaya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat dari biasa. Seharusnya dia yang menggoda, kenapa malah Lisa yang tergoda.


Telepon Lisa kembali berdering, dan itu dari Kevin. Lisa ragu menjawabnya. Tapi Merry masih memperhatikan Lisa.


"ya....."


"hari ini akan ada orang-orang yang mengerjakan pagar tanah kamu. Jadi kamu bisa mengetahui luas tanah yang kamu miliki."


"oke..."


"apa tidak ada lagi yang ingin kamu katakan???" tanya Kevin.


Lisa melihat kearah kakinya yang menendang pelan tanah dikakinya. Sambil melihat mamanya yang sudah didorong kursi rodanya oleh salah seorang perawatnya kearah kebun.


"tidak ada..." ujar Lisa


"hmmm..." jawab Lisa sambil mengangguk.


Lisa memandang kearah mamanya yang sedang memetik sayuran.


"sudah,,, aku sibuk dulu. Kamu sibuk dulu sana,,," Lisa dengan sigap mematikan handphonenya.


Lisa tidak menyadari bahwa sekarang Kevin sedang diruangan meeting menjadi pusat perhatian. Seorang yang terkenal sebagai  pria serigala, bisa bersikap manis kepada istrinya, Benar-benar luar biasa. Menyadari dirinya sebagai objek perhatian Kevin kembali dengan sikap dinginnya.


"rapat kita mulai kembali." kata Kevin dan suasana ruangan kembali hening.


"mama tahu, kata Kevin semua kebun ini milik kita, hari ini kita bermain disini saja ya.... Besok kita ke rumah kaca, besoknya lagi kita ke kebun jeruk. Bagaimana???" Lisa sangat antusias menjelajah kebunnya.


Lisa mulai berpikir sepertinya akan sangat bagus dari pada dia menganggur, mejalankan usaha hidroponik atau pertanian sepertinya sangat bagus. Belakangan ini banyak orang yang memilih hidup sehat. Makanan organik menjadi pilihan banyak orang. Lisa mulai menceritakan kepada Merry tentang rencanya dan  Merry mengangguk.


"lakukan apapun yang kamu suka, selama itu jalan yang baik, mama akan selalu mendukung mu nak."


Lisa memeluk Merry dari belakang  "Lisa benar-benar beruntung bisa menjadi anak mama."


Merry tersenyum dan tangannya masih sibuk memetik kacang-kacangan.


Sinar matahari mulai meredup dan udara menjadi dingin. Lisa membawa masuk mamanya dan beristirahat dikamar.


"Ma.... boleh Lisa bertanya sesuatu???"

__ADS_1


"ya...."


"Kenapa harus Kevin yang mama pilih menjadi suami Lisa?"


"Karena mama sudah mengenalnya dari kecil."


"bukankah,, seseorang bisa berubah hanya dalam hitungan tahun. Kenapa mama tidak memikirkan hal itu?"


"Dia tidak berubah sedikitpun bahkan ketika pertama kali mama melihatnya."


"Benarkah???" Lisa meragu,


"Mami dan papanua dulu pernah mengalami kecelakaan mobil yang cukup parah. Mami Caroline koma selama bertahun-tahun, dokter sudah mengatakan kalau mamimu mengalami kelumpuhan otak. Kemungkinan untuk sembuh sangat kecil. Jadi, Kevin dibawa kerumah sama papamu. Kebetulan mama dan papa sudah lama menikah dan belum diberi kamu. Tapi sejak merawat Kevin, 3 bulan kemudian mama hamil dan usaha papamu maju dengan sangat pesat. Dia seperti sebuah keberuntungan untuk mama dan papa."


"Umur berapa dia saat itu??" tanya Lisa


"5 tahun. Dia benar-benar anak yang mandiri dan tidak banyak bicara. Bahkan waktu kamu kecil yang mengganti popok itu dia. Bahkan dia lebih pandai mengurus kami dibandingkan dengan papamu sendiri."


Lisa langsung menutupi tubuhnya dengan selimut, tubuhnya merinding.


"jadi dari kecil dia sering melihat ku tanpa....  baju,,,,"


"ya...." jawab Merry singkat


"iihh mama,, kan Lisa malu." Lisa menutupi wajahnya dengan selimut.


"apa yang salah??waktu itu kan kamu masih bayi, belum tahu apa-apa."


"Walaupun mama mengatakan begitu, tetap saja aku malu."


Merry tersenyum "kamu terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak."


"apa kamu menyukainya??" tanya Merry balik


Lisa terdiam sesaat. "terkadang dia lucu, menyenangkan tapi juga menyebalkan. Lisa tidak bisa menyimpulkan apakah Lisa menyukainya atau tidak. Tapi sejauh ini berada didekatnya benar-benar membuat Lisa merasa aman dan terlindungi. Seperti yang kita alami saat ini semua ini berkat bantuan dia. Kalau dia tidak ada, Lisa mungkin tidak tahu harus mengandalkan siapa." jelas Lisa


"mama harap kalian bisa selamanya bersama, melewati berbagai masalah bersama, tumbuh menjadi orang yang lebih baik bersama. Jadi kelak, mama  dan papa bisa melihat kalian dari atas sana dengan perasaan lega dan tenang.Karena anak mama dijaga oleh orang yang tepat"


"mama menyebalkan, mengapa bicara hal yang tidak-tidak??" Lisa tidak suka." Ujar Lisa murung


.


Merry tersenyum sambil memeluk Lisa.


Lisa melihat handphonenya, ia lupa kalau panggilan dengan Kevin masih terhubung. Lisa memukul kepalanya dengan telapak tangannya menyadari akan kebodohannya.


"kenapa???" tanya Merry


Lisa tidak menjawab hanya menunjukkan handphone nya yang sedang terhubung dengan Kevin.


Sementara pria yang ada diujung telepon tersenyum puas.

__ADS_1


__ADS_2