
Angin bertiup sangat tenang, setenang hati Lisa saat ini. Nita melihat Kevin berdiri dibelakang mereka dan dengan inisiatifnya Nita berdiri dan undur diri dari sebelah Lisa
Lisa masih menutup matanya, rasa kantuk menguasai pikiran dan tubuhnya.
"bi,, tolong nanti perhatian kan infus ku, jika mau habis segera panggil perawat untuk mencabutnya"
Nita suah tidak ada disebelah Lisa, tidak ada jawaban dari permintaan Lisa. Lisa merasa suasana menjadi sangat hening. Perlahan ia membuka matanya dan melihat kesamping. Kevin melihat kearahnya dengan satu tangan menopang kepala dengan tumpuan sandaran kursi taman.
"bibi sudah kembali lebih dahulu kerumah kita. Kenapa kamu disini??"
Lisa langsung mengalihkan pandangannya dari Kevin dan kembali memejamkan matanya.
"kamu masih marah sayang....."
"tidak perlu menanyakan pertanyaan yang kamu sudah tahu jawaban Mr K."
Setiap Lisa menyabut Mr K itu berarti ia sedang marah. Kevin hafal betul dengan sikap Lisa yang seperti ini.
"aku sudah membeli buah yang kamu inginkan, apa kamu ingin makan sekarang sayang....." bujuk Kevin
"sudah sana pergi rapat. Tidak perlu kamu peduli kan aku."
"bagaimana mungkin aku tidak pedulikan istri kesayangan ku ..." Kevin berusaha membela diri
"hari ini buktinya." jawab Lisa sambil bangkit dari kursi taman.
"kamu sama seperti waktu itu. Waktu awal kehamilan kamu juga begitu. Sibuk...selalu sibuk. Nomor telepon tidak bisa dihubungi. Sekarang kamu bilang kamu tidak mungkin tidak memperdulikan aku. Coba kamu pikir lagi ..." Lisa menunjuk-nunjuk kepalanya sambil menatap kesal Kevin.
__ADS_1
Dalam waktu singkat Kevin dan Lisa menjadi tontonan para pasien dan pengunjung rumah sakit yang ada di taman. Kevin dan Lisa mungkin tidak memperdulikan kondisi sekitar, tapi pengawal mereka peduli dengan hal itu.
"sayang.... kendalikan emosi mu. Aku khawatir dengan kesehatan kamu dan anak kita. " Kevin berdiri ingin memegang Lisa. Dengan cepat Lisa menghempaskan tangan Kevin.
"tinggalkan saja aku sendiri." kata Lisa kesal.
Lisa tiba-tiba membungkuk "aaaah..." rasa sakit menyerang perutnya. Lisa memegang sandaran kursi. Rasa sakit itu hilang, kemudian muncul lagi.
Kevin menggendong Lisa dan mendudukkan tubuhnya di kursi roda. "Kita periksa sekarang." Kevin dengan gerak cepat membawa Lisa ke ruangan IGD untuk memeriksakan kondisi Lisa.
Lisa sudah tidak mengeluhkan sakit di mulutnya. Tapi Kevin tahu, wanitanya sedang merasa sakit. Tangan Kevin digenggam kuat oleh Lisa. Keringatnya mengalir di kening Lisa. Bibir Lisa menjadi pucat.
Kevin marah karena dokter yang diharap untuk memeriksa Lisa terlambat datang. Karena kesal Kevin menghubungi direktur rumah sakit untuk cepat memeriksa Lisa. Kurang dari 5 menit direktur rumah sakit datang bersama dengan dokter spesialis kandungan.
"apa aku harus hubungi kalian baru istriku bisa mendapat pertolongan...." kata Kevin dengan marah.
Kevin meninggalkan direktur rumah sakit didepan ruang pemeriksaan.
"jika terjadi sesuatu dengan istri dan anakku, aku tidak akan tinggal diam. " Ancam Kevin sebelum masuk kedalam ruangan pemeriksaan .
Direktur rumah sakit menyeka keringat di dahinya. Kenapa hal seperti ini bisa terjadi kepada orang nomor satu dirumah sakit ini. Dengan cepat ia mengeluarkan ponsel dan mengirimkan pesan kepada seluruh dokter kepala agar kedepannya bisa bersikap cepat dan tanggap terhadap semua pasien. Karena bisa saja pasien tersebut adalah istri atau keluarga dari pemilik rumah sakit . Ia juga mengirimkan pesan kepada dokter kandungan agar memperhatikan pasien atas nama Lisa.
"bagaimana...." tanya Kevin
"tidak masalah pak, ibu Lisa mengalami konstipasi. Ini disebabkan perubahan hormon dan rasa gelisah berlebihan yang dialami Bu Lisa. Kondisi kedua bayi sehat dan Bu Lisa juga dalam keadaan baik. Mungkin hanya terlalu banyak pikiran " jelas dokter sambil menunjuk kan layar monitor USG.
"kamu baik-baik saja sayang...." Kevin merasa tidak yakin Lisa baik-baik saja karena wajahnya masih terlihat pucat dan lemas.
__ADS_1
Lisa mengangguk pelan, ketika emosi nya normal tidak ada rasa sakit diperutnya.
"infus Bu Lisa akan saya minta di cabut ke perawat. Seperti nya ibu ini tidak nyaman berada dirumah sakit. Segera setelah infus dilepas ibu Lisa sudah bisa kembali kerumah." kata dokter.
"anda yakin ...." Kevin memastikannya lagi.
"tentu saja saya yakin pak Kevin." dokter tersebut tersenyum melihat Kevin. Ia bisa menebak ini adalah kehamilan pertama istrinya. Rasa gugup berlebihan akan dialami setiap orang tua baru.
"besok kami akan melakukan perjalanan kembali ke kota C. Apakah tidak masalah bagi istriku...."
"pastikan tempat duduk yang nyaman sehingga apabila Bu Lisa ingin berbaring ketika sedang lelah bisa dilakukan. Hindari guncang keras ketika berkendara."
"baik terimakasih dokter. " kata Kevin sambil menyalami dokter tersebut.
Kevin mengeluarkan ponselnya dan langsung menghubungi Frans. "segera beli mobil MPV Premium tebaik sekarang. Aku dirumah sakit desa bunga."
Kevin segera menutup panggilannya dan kemudian menerima hasil cetak foto USG.
"bisa aku mendapatkan foto dari sisi yang lain..." kata Kevin sambil melihat foto 4 dimensi USG Lisa.
"sayang...kamu Lihat... satu mirip kamu, yang satu ini seperti aku." kata Kevin sambil tersenyum senang.
Lisa melihat foto bayi dalam perutnya ikut tersenyum senang. Air mata bahagia mengalir diujung mata Lisa.
"kelak jika terjadi sesuatu ketika aku melahirkan, jagalah mereka dengan baik. Jika kamu berniat menikah lagi, aku rasa itu hal baik. Tapi kamu yang terlalu sibuk harus tetap memperhatikan anak kita. Jika mereka mengeluh sesuatu dengan ibu tiri mereka, kamu harus mendengarkan mereka. Jangan menyangkal dan jangan berpihak kemana pun. Periksa kamera pengawas dirumah, apakah benar mereka mendapatkan perlakuan tidak baik dari ibu tirinya atau hanya sekedar mencari perhatian mu saja." Lisa bicara seolah-olah ini adalah pesan terakhir dari nya.
Ruangan pemeriksaan menjadi sangat hening. Bahkan dokter yang sedang mengatur posisi cetak hasil USG pun terdiam dan menghentikan kegiatannya sesaat. Tidak jauh berbeda dengan perawat yang sedang mencabut infus ditangan Lisa juga ikut berhenti mendengar pesan Lisa Seolah besok ia tidak kembali lagi ke dunia ini setelah ia melahirkan.
__ADS_1
"sa..." Kevin menarik nafas panjang. Lidah Kevin menjadi kaku untuk bicara. Perasaannya tidak enak setelah mendengar perkataan Lisa. Peristiwa ketika Lisa keguguran muncul di kepalanya. Ia tidak mau kehilangan Lisa. Tidak mau....Dan tidak akan pernah mau. Cara apapun harus dilakukannya agar Lisa dan bayi mereka dilahirkan dalam keadaan sehat. Ia hanya berniat bersama Lisa sampai tua nanti. Melihat anak-anak mereka tumbuh, sekolah, kuliah, bekerja dan menikah suatu hari nanti.