
Lisa turun dari dalam mobil ketika ia melihat peti mati keluar dari pintu rumah sakit dan akan dimasukkan ke mobil jenazah.
"aku akan ikut dengan mama." Ujar Lisa sambil mengangkat roknya naik kedalam ambulans.
Kevin mengangguk dan ikut naik kedalam. Lisa menatap Kevin heran.
"aku akan menemanimu." Kata-kata itu seperti sebuah penghibur bagi Lisa, air matanya metes lagi dipipinya.
Kevin merangkul Lisa. Ketika mobil jenazah akan berangkat tiba-tiba berhenti. Caroline dan Santoso baru sampai dan mereka ikut naik ke dalam mobil jenazah
Caroline tidak berhenti menangis ketika ia mengetahui kalau Merry diculik oleh orang tidak dikenal. Mencari penerbangan paling cepat agar bisa segera sampai ketujuan. Mata sembab karena terlalu banyak menangis.
Tidak ada yang mereka ucapkan pada saat bertemu, Lisa sudah terlalu lelah dengan semuanya. Perjalanan dari rumah sakit kerumah persemayaman sangat hening. Tidak ada yang bisa diucapkan saat ini. Hanya air mata yang mengalir dipipi yang bisa mewakili semua kesedihan yang dirasakan.
Sampai dirumah duka sudah banyak orang yang datang, Lisa memandangi mereka semua. Tidak ada wajah yang dikenalinya. Dari gaya pakaian sangat terlihat kalau mereka berasal dari kalangan menengah keatas. Kevin memegang tangan Lisa berjalan sampai diruangan duka. Susunan bunga mawar putih mengelilingi foto Merry.
Lisa duduk bersimpuh, hatinya benar-benar hancur. Santoso dan Caroline memeluknya.
"sabar ya nak,,,, kami akan selalu ada disampingmu." ujar Santoso.
Lisa tidak berkata apapun. Lisa duduk bersandar di dinding, kepalanya direbahkan ke pundak Santoso dan tangannya memegang tangan Caroline. Lisa tidak membiarkan mereka berdua jauh darinya.
Semua tamu yang datang disambut oleh Kevin sebagai wakil keluarga yang berduka. Sementara Lisa sudah tidak mempunyai energi sama sekali untuk berdiri. Seharian dia tidak makan dan minum bahkan saat ini sudah jam 1 dini hari Lisa pun kehilangan rasa kantuknya.
"mau makan sesuatu nak??"tanya Santoso.
Lisa hanya menggeleng lemah.
"baiklah...." Santoso mengelus lembut kepala Lisa.
"tidurlah jika kamu lelah... mami akan suruh Kevin mengantar kamu." ujar Caroline
Lisa menggelengkan kepalanya lagi.
Leo datang berjalan dengan cepat masuk kerumah duka. Kevin menyapa Leo didepan ruangan, kemudian masuk kedalam dan langsung duduk didepan Lisa, Caroline dan Santoso. Caroline dan Santoso melihat kearah Leo, kemudian melihat kearah Lisa secara bersamaan. Isi pikiran mereka sama 'siapa pria ini?'
Lisa menaikkan alisnya, dan kepalanya masih bersandar dipundak Santoso.
"aku pergi kemari dengan kekuatan super agar bisa menemuimu."
__ADS_1
Lisa hanya diam dan mengedipkan matannya.
Leo mengeluarkan dua permen coklat dari sakunya.
"aku tahu kamu belum makan apapun. Ini aku berikan untukmu." Leo menyodorkan coklat berbentuk bulat kepada Lisa.
Lisa hanya bergeleng.
Leo membuka bungkus permennya kemudian memasukkan kemulut Lisa dengan paksa. Lisa membuka mulutnya dengan terpaksa sambil menutup mulutnya.
Santoso membesarkan matanya, 'berani sekali pria ini memaksa Lisa memakan pemberiannya.'
"kamu ini, preman. Benar-benar tidak cocok dengan gelarnya."
Lisa tersenyum tipis. Caroline yang tadi mau marah dengan Leo mengurungkan niatnya. Tampaknya mereka sangat akrab. "Kamu siapa??" tanya Caroline.
"aku dan Lisa bersahabat sudah bertahun-tahun dari mulai ia tinggal di desa bunga ini, kemudian sepertinya takdir selalu membawa kami ketempat yang sama. Setiap papaku pindah dinas kekota lain, kami pasti satu sekolah. Bahkan tempat kerjapun kami sama. Sepertinya dia suka sekali denganku." jelas Leo
Lisa menegerutkan keningnya. Kemudian memandang kearah Caroline sambil menggelengkan kepalanya.
"apa om dan tante tau??? dia sangat mencintai aku." Suara Leo terdengar sampai ke telinga Kevin. Emosinya meningkat. Rasanya ia ingin memberi pelajaran kepada Leo.
"apa benar nak?" tanya Caroline yang mulai termakan perkataan Leo.
Lisa menggelengkan kepalanya pelan.
"benar tante, mana mungkin pria setampan aku dia tidak suka."
"benar juga sih." Ujar Caroline yang memandang wajah Leo.Wajah orientalnya sebagai seorang wanita memang menarik hati. Santoso melihat kearah istrinya yang sedang mengagumi ketampanan pria lain.
Sepertinya kali ini Kevin tidak sendiri, ada papanya yang juga tidak menyukai pria didepannya.
Lisa masih mengunyah permen coklat yang diberikan Leo. "Buka lagi mulutmu." perintah Leo.
Lisa membuka mulutnya, karena percuma saja menolak pria ini. Dia pasti akan memaksa Lisa membuka mulut.
"sepertinya kamu sudah kembali sadar dengan pesona gantengku."
Lisa memutar bola matanya.
__ADS_1
"kamu jangan ganggu aku. Ada mami dan papa yang menjagaku sekarang. Kamu tidak takut lihat otot papaku yang besar ini?" ujar Lisa sambil menggandeng Caroline dan Santoso.
Caroline dan Santoso saling bertukar pandangan, ternyata pria ini bisa membuat semangat Lisa kembali.
"kamu lihat pipi aku, gara-gara mau lihat kamu aku ditampar sama Desi." Ujar Leo sambil menunjukkan pipinya yang kemerahan.
Lisa memajukan bibirnya sambil menaikkan alisnya
"aku kemari hanya untuk minta pertanggung jawaban kamu karena aku sudah kembali jomblo." ujar Leo meyakinkan
Lisa tersenyum tipis.
"gila..." kata Lisa santai.
Kevin memandang lurus kearah Lisa, walau saat ini dia emosi karena tidak menyukai akan keberadaan Leo tapi setidaknya ia bisa membuat Lisa tersenyum.
Leo berdiri disebelah peti mati Merry sambil berkata...
"tante... cowok ganteng datang menyapa. Mohon bantu aku bujuk Tuhan agar memberikan ku wanita terbaik dalam hidupku dan aku tetap hidup kaya raya. Aku tahu tante orang sangat baik. Orang baik akan ada disurga bersama Tuhan dan Tuhan pasti akan mendengarkan. Mohon bantuannya ya tante." Ujar Leo sambil membungkukkan badannya.
"sini..." ujar Lisa seperti akan membisikkan sesuatu.
Leo membungkukkan tubuhnya kearah Lisa. Lisa menyentil kepala Leo "bicara dengan mamaku yang sopan. Dasar anak durhaka." Orang yang melihat Lisa dan Leo tersenyum simpul.
"aduh sakit. Berani sekali kamu menyakiti pria tampan." Ujar Leo dengan ekspresi kesal.
Leo berdiri.... awas kamu ya,,, aku akan adukan kamu sama tante. Leo berdiri lagi kemudian kesamping peti mati Merry. "lihat la tante, Leo bilang juga apa. Dia itu preman. "
"berani sekali kamu berkata seperti itu kepada mamaku. Kamu bosan hidup."
"pa,,, tolong beri dia pelajaran." Ujar Lisa kepada Santoso.
"tante lihat, dia sudah tenang sekarang ada papa barunya yang punya badan lebih besar dari ku yang akan menjaganya, disebelahnya ada perempuan cantik yang katanya maminya. Beruntung sekali tante tidak memikirkan biaya perobatan untuk orang yang disiksa dia."
Lisa tersenyum lebar dan matanya berkaca-kaca, "dasar kamu ya.... selalu mejelek-jelekkan ku didepan mamaku."
Ya....sekarang Lisa tidak perlu khawatir ada Santoso yang akan menjaganya, ada Merry yang akan menyayanginya seperti anaknya sendiri, ada Kevin tempatnya bersandar dan ada Leo yang akan selalu berbicara hal konyol dan tidak berguna. Mereka semua ada untuk ku. Bergantian menjagaku. Tenanglah ma....seperti senyuman terakhir yang mama berikan. Aku akan kuat mejalani semua ini bersama mereka semua. Cukup perhatikan saja aku dari atas sana. Batin Lisa.
__ADS_1