Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
bermuka dua


__ADS_3

Pengacara Santoso membacakan surat wasiat dari Randy. Isinya sama dengan yang dijelaskan Santoso, bahwa apabila Roy menjaga anak dan istrinya dengan baik maka saham 10% Growth Ltd akan menjadi milik Roy namun apabila Roy melakukan tindakan yang merugikan anak dan istrinya maka kepemilikan tersebut akan batal.


Mereka semua mendengarkan pengacara Santoso membacakan surat wasiat sampai selesai. Setelah itu, Roy minta bicara dengan Lisa empat mata. Lisa mengangguk memberi ijin, Kevin dan Santoso dengan berat hati menyetujui permintaan Lisa.


Lisa dan Roy hanya berdua sekarang. Roy yang tadi menunduk sedih, tiba-tiba mengangkat kepalanya dan tertawa bagai orang gila. Lisa merinding melihat kelakuan Roy. Tapi Lisa tahu, dia tidak boleh takut kepada orang ini.


"apa mau kamu???" tanya Lisa.


"mereka sepertinya sangat melindungi kamu ya... Sayang sekali, kalau saja waktu itu kamu tidak bersama pengawal sialan kamu itu. Mungkin kamu juga sudah berakhir seperti mamamu." sambir tertawa.


"Jaga mulut kamu!" bentak Lisa. Mata Lisa berkaca-kaca mengatasi emosinya yang campur aduk saat ini,


"Mama kamu sangat cantik,  dia  sangat bodoh tidak mau bersamaku, Bagaimana jika kita bekerja sama??" Roy mengajukan tawaran kepada Lisa.


Lisa mengerutkan alisnya, rasanya ia ingin memberikan pria ini pelajaran. Bahkan mati berkali -kali juga tidak cukup membuatnya cukup menebus semua kesalahannya.


"kamu sebaiknya pintar, suami  dan keluarganya sangat kaya. Tidak bersediakah kamu membaginya dengan pamanmu ini? Bagaimana pun darah lebih kental dari pada air"


"kamu terlalu banyak rencana kotor." Umpat Lisa.


"Kamu tahu, orang kaya itu mempunyai banyak wanita simpanan. Kamu ini baru berapa hari bertemu dia sudah menikahinya. Siapa yang bisa jamin dia tidak ada wanita selingkuhan diluar sana."


"itu tidak mungkin" bantah Lisa


Roy tersenyum menertawakan kepolosan Lisa. "kamu hidup baru berapa tahun saja, aku sudah hidup bertahun-tahun tentu saja aku tahu. Kevin itu ada wanita lain. Coba saja kamu browsing tentang dia sekarang." tantang Roy


Lisa terdiam, kemudian mengeluarkan handphonenya. "Jika aku tidak menemukan sesuatu tentangnya, kau akan menerima ganjarannya." ancam Lisa


"mana berani aku membohongi kemanakan ku sendiri, walau aku sangat jahat kepada kalian bagaimana pun masa depan kamu adalah terpenting." Roy  berusaha meyakinkan Lisa.


Lisa melihat handphonenya dan menemukan gambar Kevin sedang bersama dengan seorang wanita yang cantik,. dengan gaun panjang berwarna merah. Pada bagian belakang gaunnya terbuka lebar, menunjukkan bentuk tubuh yang sempurna.  Mereka saling menatap, Kevin terlihat memegang pinggang wanita itu. Wanita itu terlihat tersenyum sambil memegang pundak Kevin.  Lisa menarik nafas panjang. PIkirannya kacau saat ini. Lisa langsung mematikan handphonenya.


"aku tahu aku salah atas perbuatanku kepada mamamu. Aku hanya berusaha menebusnya. Aku sangat menyesal telah menyakiti kamu dan mamamu." Roy berbicara dengan mata berkaca-kaca.


Lisa memperhatikan Roy dan tidak berkata apapun, pria ini benar-benar pandai bersandiwara. Sebentar sedih, sebenar tertawa, sebentar tersenyum licik. Membuat Lisa takut berada didekatnya,

__ADS_1


"sangat menyakitkan melihat orang yang kita cintai membodohi kita dari belakang. Aku tidak mau hal yang sama terjadi padamu. Sangat sakit mencintai orang yang tidak mencintaimu. Pikirkan lah.." lanjut Roy


Lisa masih diam, tatapan matanya kosong.


"kalau kamu mau, aku bisa meminta bantuan teman ku diluar sana untuk memberikanya pelajaran.  Bagaimana??"


Lisa masih diam, dia tidak tahu apa yang benar dan salah. Siapa yang harus dipercaya dan tidak. Tapi yang pasti, hatinya sangat sakit saat ini.


Mata Lisa mulai berkaca-kaca, dia merasa dikhianati orang yang baru dipercayanya dan orang yang dipercayai oleh mamanya.


Sementara Kevin yang melihat dari kaca tembus pandang, merasa emosi dengan semua perkataan Roy. Ia berkali-kali memaksa ingin masuk kedalam, tapi Santoso dan polisi yang melakukan penyelidikan melarangnya masuk.


Lisa menatap lurus kearah Roy "Apa yang harus aku lakukan?" Lisa berbicara sambil mendekat kearah Roy sambil menghapus air matanya


"mudah saja, kalau memang perlu bantuanku..diluar banyak teman ku yang akan membantumu."


"benarkah?? Tahukah kamu suami ku itu punya banyak pengawal yang menjagaku."


"aku tahu, maka dari itu kita perlu bekerja sama." jelas Roy sambil tersenyum dan menaikkan alisnya.


Lisa tersenyum licik..."kamu saja masuk penjara sekarang, jangan-jangan kamu berusaha mencari teman untuk menemanimu membusuk disini???"


"Aku tidak yakin.." Lisa menggelengkan kepalanya.


"bayangkan harta yang dimiliki suami kamu...sangat banyak. seumur hidup kamu tidak akan hidup susah. Walau kamu tidak bekerja tidak masalah." bujuk Roy


"kamu hubungi temanku, nanti ia akan memberikan obat kepadamu. Kamu campurkan saja pada makannya. Lama kelamaan ia akan sakit, kamu tidak dicurigai. Aku jamin itu."


"obat apa itu??" tanya Lisa


"obat ini sangat hebat. Sekali saja kamu makan, maka ada ada efek sampingnya. Tanpa bisa diketahui orang lain"


"apa efek sampingnya??"


"seperti yang terjadi pada mamamu." bisik Roy.

__ADS_1


"jadi....kamu...pernah memberikan obat itu kepada mamaku??"


"ya...." Roy mengangguk pelan penuh keyakinan.


"kalau memang kamu pernah memberikan kemamaku, kenapa tidak kamu berikan ke aku??" tanya Lisa


"karena kamu sangat berharga kemanakanku. Karena aku yakin kita bisa bekerja sama dengan baik. Beda dengan mamamu."


Nafas Lisa memburu, rasa kesalnya memuncak.


"dasar pembunuh.!!" Lisa mengangkat kursinya dan berniat melemparkan kepada pria yang mengaku meracuni mamanya. Tapi dia urung melakukannya. Lisa membuang kursi itu kesebelah Roy yang sudah menutupi kepalanya dengan kedua tanganya yang terborgol.


Kevin, Santoso dan 2 orang polisi masuk kedalam ruangan tersebut dan sudah menemukan kursi kayu berantakan disebelah Roy.


"tangan kamu memang kotor. Tapi aku di didik oleh orang yang bertangan bersih dan berhati mulia. Walaupun kata mereka kita sedarah. Tapi aku berasal dari darah papaku yang bersih tidak sepertimu. Aku tidak tahu apakah kamu memang adik ayahku, atau jangan-jangan kamu manusia jelmaan iblis?" Lisa menggeretakkan giginya. Rasa marahnya sudah menguasai kepalanya,


"kamu benar-benar kelewatan!  aku pastikan kamu akan terima hukuman seberat-beratnya." Santoso kesal dengan Roy.


Kemudian polisi yang melakukan investigasi membawa Roy ke sel khusus untuk diperiksa lebih lanjut karena pernyataannya.


Tidak habis pikir dengan orang satu ini, berani-beraninya dia merencanakan pembunuhan Merry dan merusak pikiran Lisaagar mau bekerja sama dengannya. Benar-benar kehilangan hati nurani bantin Santoso sambil menggelengkan kepalanya melihat Roy dibawa keluar dari ruangan.


Kevin berjalan mendekati Lisa dan menggengam tangannya. Lisa melihat tangannya digenggam Kevin. Ingatanya masih berbekas dengan foto yang dilihatnya diinternet tadi. Lisa menggigit bibirnya kemudian menghempaskan tangannya. "biarkan aku sendiri."


Lisa permisi kepada Santoso. Ia perlu udara yang cukup. Saat ini dadanya terasa sesak. Dengan semua yang terjadi hari ini. Santoso memberikannya ijin untuk pergi dan melarang Kevin yang ingin mengikutinya.


"biarkan Lisa sendiri dulu, bagaimana pun hal ini cukup membuatnya terkejut. Sebaiknya kamu siap-siap memberikan penjelasan terhadap wanita ini." Santoso menunjukkan layar handphone nya kepada Kevin.


Kevin melampiaskan kekesalannya


'plak' Kevin memukul dinding dengan sangat keras.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2