
Lisa melirik kearah Kevin demikian juga sebaliknya. Kevin bukan termasuk orang yang suka membujuk orang lain. Ia hanya bisa membujuk 2 orang wanita dalam hidupnya yaitu Caroline dan Lisa. Kevin menggerakkan matanya kearah Sabrina, ia ingin Lisa membujuk Sabrina sekarang. Lisa menaikkan pundaknya, ia tidak tahu bagaimana cara membujuk orang yang patah hati.
Walau ia pernah patah hati karena Khay, ia tidak menangis hanya menyesali kenapa tidak dari awal menjawab pernyataan cintanya. Kevin menaikkan alisnya melihat Lisa dan melirik kearah Sabrina. Lisa cemberut, kenapa harus dia yang membujuk Sabrina...benar-benar aneh. Lebih baik tinggalkan saja sendiri. batin Lisa dalam hati sambil melihat Kevin.
Lisa membesarkan matanya satu detik sambil melihat Kevin dan memajukan bibirnya. Dengan sedikit keberanian ia berdiri dan berjalan di sebelah Sabrina. Lisa menggeser bangku kosong disebelahnya kearah luar dan duduk menghadap ke Sabrina. Lisa sedikit ragu apa yang harus dilakukannya, ia melirik kearah Kevin sambil menaikkan alisnya. Kevin memiringkan kepalanya ke kiri sambil menaikkan bahunya
'dasar tidak bertanggung jawab, minta menghibur orang tapi dia tidak tahu cara menghibur orang. Benar-benar sial aku hari ini dibuat Mr K ' batin Lisa protes
Lisa menarik nafas panjang perlahan agar suaranya tidak terdengar Sabrina. Lisa memegang pundak Sabrina dan mengusapnya perlahan "aku tidak tahu bagaimana cara menghiburmu....tapi aku harap kamu bisa bersabar. Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf." kata Lisa perlahan
Sabrina menyeka air matanya dan berkata "menurut kami ini salahku??" dengan nada tidak senang.
Lisa mengangkat bahunya "yang menjalani hubungan adalah kalian berdua, bagaimana cara kalian berinteraksi selama bersama aku sendiri juga tidak tahu. Harusnya kamu yang lebih paham."
Sabrina masih memainkan tisu yang ada dihadapannya. "aku sudah sangat baik kepadanya..kenapa dia berselingkuh di belakangku dengan mu.."
Lisa mengerutkan keningnya "aku tidak berselingkuh dengan dia. hubungan kami sebatas teman kerja dan kakak senior dengan juniornya. Tolong kamu jaga ucapan kamu aku benar-benar tidak suka."
"kenapa harus kamu...." tanya Sabrina
Lisa memutar bola matanya dan melirik Kevin dengan tajam. "kalau itu pertanyaan kamu, hanya kakak senior yang bisa menjawabnya. Kakak senior sangat populer ketika kuliah. Banyak wanita yang menyukainya. Dia jago basket dan sepak bola, wajahnya juga tampan karena dia seorang model. Setiap hari di lapangan basket ketika ia bermain..sekumpulan mahasiswi akan berbaris menunggunya bermain. Berteriak memberikannya semangat. "
"termasuk kamu??" kata Sabrina memotong pembicaraan Lisa
"aku terlalu sibuk untuk melakukan hal itu. Waktu bagiku adalah uang. Pagi sampai siang aku kuliah, sore selesai mandi aku langsung pergi ke minimarket tempatku bekerja. Pagi aku kembali bekerja setelah selesai mandi di minimarket tempatku bekerja. Tidak ada waktu bagiku melakukan hal senggang." jelas Lisa
__ADS_1
"tapi kalian bisa berkenalan, bukan kah itu tandanya kau sangat senggang??" sindir Sabrina.
"kami berkenalan saat itu, kakak senior pulang malam dan kebetulan dia singgah membeli minuman ditempat ku bekerja. Hubungan kami mulai dekat setelah itu."
"kau menyukainya.."
"ya....tapi tidak pernah berani menjawab perasaannya."
"kenapa??"
"karena kakak senior sangat bersinar dimata semua orang, sedangkan aku hanya seseorang yang berdiri dalam kegelapan. Benar-benar tidak pantas untuknya. Aku rasa kamu sangat beruntung, diantara semua wanita yang mengelilinginya dia akhirnya memilihmu, terlepas apapun alasannya."
"hanya karena hutang budi atau karena hartaku.." Sabrina berbicara sambil tersenyum menyindir.
Lisa berdiri sambil memberi kode kepada Kevin keluar dari ruangan. Lisa jalan lebih dulu dan Kevin mengikutinya dari belakang. Begitu Lisa membuka pintu, ia melihat Khay berdiri didepan pintu. Sepertinya pria ini mendengarkan pembicaraan mereka. Tatapan mata Khay tidak seperti biasa, Lisa sulit menjelaskan bagaimana perasaan Khay saat ini. Lisa hanya berlalu sambil menepuk pundak Khay. Khay melihat tangan Lisa dipundaknya dan tidak berkata apapun.
Kevin menggenggam tangan Lisa sambil menuju ke dalam lift untuk kembali kekamar hotel. Sampai didalam kamar, Lisa menghempaskan tubuhnya di sofa dengan malas. Sangat tidak enak terjebak dalam hubungan percintaan seseorang. Kevin duduk di sofa terpisah sambil melihat wajah Lisa yang kelelahan.
"ada hal yang ingin aku sampaikan kepadamu."
"hmm" jawab Lisa malas.
"kenapa tadi beberapa kali kamu menjawab pertanyaan Sabrina dengan jawaban menggantung??"
Lisa langsung duduk sambil memeluk bantal sofa diperutnya "maksudnya???"
__ADS_1
"ketika Sabrina berkata apa kamu tidak tahu malu mengganggu tunangan dia? kamu dengan santai menjawab 'tidak' bukan kan orang yang mendengarkan jawabanmu akan langsung beranggapan kamu memang memiliki hubungan dengan Khay??"
Lisa tersenyum menyindir "jadi aku jawab apa..... 'tentu saja aku malu'.. "
"kemudian ketika dia menanyakan apa kamu menyukai pria itu? dengan santai pula kamu jawab 'ya...'"
"Mr K.. kamu sangat aneh. Jika aku tidak menyukainya, ketika menjumpainya pasti ketika kami bertemu tidak akan ada tegur sapa. Suka itu relatif, sama seperti aku suka kucing. Tapi apa aku mau memelihara kucing?? Tentu tidak."
"kedepannya aku tidak mau kamu menjawab dengan ambigu. Orang bisa salah paham padamu. Aku juga bisa salah pengertian dengan jawaban yang kau berikan."
"baiklah...." Lisa merebahkan lagi tubuhnya di sofa... "apakah mereka akan baik-baik saja ..."
" urusan mereka. yang penting kita sudah berusaha menjelaskan bahwa kamu dan Khay tidak ada hubungan apapun."
"sebenarnya melihat kakak senior yang sekarang sangat berbeda dengan dirinya yang dulu. Dulu dia selalu ceria dan bersemangat dalam melakukan sesuatu. Tapi setelah bertemu kembali, ia menjadi seseorang yang sangat berhati-hati. Wajahnya juga penuh tekanan. Aku sedih melihatnya."
Kevin menatap Lisa, 'apa wanita ini tidak memiliki beban bercerita sedalam itu tentang orang yang pernah disukainya. Kenapa ia bisa begitu dalam memikirkan seseorang padahal ia sedang bicara dengan suaminya.' pikir Kevin.
"oh..." hanya itu jawaban Kevin
Lisa melemparkan bantal yang dipeluknya kepada Kevin dengan kesal... "aku sudah bicara begitu panjang dan kamu hanya membalas dengan oh. Benar-benar keterlaluan."
"kamu ingin aku bicara apa ...." tanya Kevin.
"sudah la..." Lisa memejamkan matanya. Saat ini ia begitu malas berdebat dengan Kevin.
__ADS_1