
Kevin berada diatas Lisa, kedua tangannya mengunci tubuh Lisa dibawah tubuhnya. "Sayang kesabaran ku sudah habis. Sekarang kamu mau menjawab semua pertanyaan ku atau kita saling merasakan perasaan rindu kita??" Kevin mencium leher Lisa.
Lisa menutup matanya, air matanya mulai menetes dari ujung matanya. Ia sangat takut saat ini. Kevin diam sejenak melihat Lisa, ia tidak tega membuat istrinya ketakutan, tapi ia juga tidak bisa membiarkan hubungan suami istri ini hancur begitu saja.
"sayang..." kata itu sangat lembut masuk ke telinga Lisa tapi tetap ia tidak mau membuka matanya. Lisa membuang wajahnya kearah kanan.
"buka matamu..."sambung Kevin
Lisa menggelengkan kepalanya sambil menangis.
"tidak ada yang akan terjadi...." Kevin berusaha meyakinkan Lisa. Lisa masih tidak mau bergerak
"percayalah padaku"
"bagaimana.....bagaimana....bagaimana jika melakukan hubungan itu kemudian aku hamil dan harus kehilangan anak kita lagi." Lisa berbicara sambil menangis. Walau kehamilan anak pertama tidak diprediksi olehnya sebelumnya, sebagai seorang wanita yang akan menjadi seorang ibu pasti ingin anaknya lahir dalam keadaan baik dan sehat. Menjaga kandungan selama beberapa bulan dan sudah menjalin emosional dengan bayi yang tumbuh dalam rahimnya bukan hal mudah dialami bagi seorang wanita.
Kevin memeluk Lisa "bukan salahmu hal ini terjadi.....jadi jangan terlalu jauh berpikir sayang.."
Lisa memberanikan diri membuka matanya dan melihat Kevin tepat diatasnya. "bagaimana bukan salahku, Anak itu ada dalam kandunganku. Hanya melindungi satu nyawa kecil aku pun tidak bisa." Air mata Lisa terus mengalir dan matanya melihat kearah Kevin dengan tatapan kesal.
"aku yang harusnya melindungi kalian berdua, jadi jangan salahkan dirimu." mata Kevin mulai berkaca-kaca.
"dia anak kita, buah cinta kita. Yang merasa kehilangan bukan kamu saja. Apa kamu tahu bagaimana aku seperti orang gila, setelah mengetahui bayi kita tidak bisa diselamatkan. Melihat darah yang begitu banyak keluar dari tubuhmu dan itu melekat di baju ku . Belum lagi ketika aku mengetahui dokter sempat kehilangan detak jantung mu, aku melihat mereka menggunakan alat pemicu jantung untuk menyadarkan mu. Apa kamu tahu seperti apa sakitnya??" jelas Kevin
Lisa membuang wajahnya kesamping dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Menangis mengeluarkan semua kekesalan dan kesedihan yang selama 6 bulan ini terpendam dalam hatinya. Selama ini Lisa selalu merasa kalau ia adalah orang yang paling terluka dengan peristiwa ini. Ia hampir lupa, ini adalah kehidupan rumah tangga yang dibangun oleh dirinya dan Kevin. Walau Lisa masih pada tahap belajar mencintai Kevin pada saat itu. Tapi Kevin bagaimana pun sudah membangun kerajaan cintanya untuk Lisa jauh berpuluh-puluh tahun yang lalu.
"hatiku juga sakit sayang.... belum hilang rasa kehilanganku terhadap anak kita. Aku harus menghadapi istriku yang menjauhiku bahkan menyuruhku melakukan hal yang tidak pernah terlintas dalam pikiranku. Tahukan ketika kamu kehilangan detak jantungmu, jika kamu tidak bisa diselamatkan aku pastikan dihari yang sama aku tidak akan mau melanjutkan hidup. Aku tidak mau lagi melihat matahari terbit tanpa kamu menemaniku. 10 tahun lebih kau tidak pernah tergantikan dari kita kecil sampai sekarang. Mana mungkin aku bisa melanjutkan semuanya, 10 tahun sudah sangat sulit bagiku." Air mata Kevin menetes ditangan Lisa.
__ADS_1
Hati Lisa melunak, Ia membuka telapak tangan yang menutup wajahnya. Kemudian melingkarkan tangannya dileher Kevin dan memeluknya
"maafkan aku...." ucap Lisa lirih
"aku yang harusnya minta maaf karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik. maafkan aiku sayang.
Suami istri itu larut dalam kesedihan, selama 6 bulan ini sama-sama memendam rasa sedih, kecewa, marah dan penyesalan dalam hati. Tidak mengatakan secara langsung, membuat hati mereka sama-sama terluka.
Lisa mencium bibir Kevin sebentar dan mengatakan "aku mencintaimu sangat mencintaimu...kedepannya jika aku mengatakan hal sembarangan lagi tolong tetaplah seperti ini. Jangan lepaskan aku dalam hidupmu."
Kevin menghapus air mata Lisa "tidak akan....aku tidak akan melepaskan mu sampai kapan pun. Walau kau mengacuhkan ku. Aku akan tetap bertahan demi cinta kita." kata Kevin penuh keyakinan.
Kevin kembali berbaring disebelah Lisa. Meletakkan tangannya dibawah leher Lisa "akhirnya aku bisa memelukmu lagi." Kevin tersenyum melihat kearah Lisa.
Lisa memejamkan matanya. "aku lelah....biarkan aku tidur..."
Lisa mencubit dada Kevin "Mr. K kamu mesum sekali, istri sedang sakit kamu masih saja jahat."
Kevin tertawa senang kemudian mencium dengan lembut bibir Lisa "aku mencintaimu sayang..."
Lisa membalas ciuman Kevin dan membalas "aku juga sangat mencintaimu...."
Akhirnya penantian Kevin tidak sia-sia. Wanita yang disukainya dari ia kecil sampai dewasa sudah membalas perasaan cintanya. Hati Kevin berbunga-bunga, ia memeluk Lisa dan mengusap punggung Lisa yang lembut.
Lisa tidur dengan lelap, tapi tidak dengan Kevin. Ponselnya berdering berkali-kali, pintu kamarnya diketuk dengan kasar dari luar. Kevin pelan-pelan melepaskan pelukannya ari tubuh Lisa.
Kevin melihat ponselnya 50kali panggilan tak terjawab dari Caroline. kemudian Kevin keluar dari kamar dan melihat dari celah pintu ada Caroline menunggu didepan pintu dengan tidak sabar.
__ADS_1
Kevin segera membuka pintu, dan Caroline menerobos masuk kedalam kamar Lisa dan Kevin dengan semangat untuk melihat keadaan Lisa. Lisa tertidur dengan sangat pulas, pundaknya polos tanpa satu helai benangpun. Kemudian ia melihat kearah Kevin yang mengenakan celana pendek dan tidak mengenakan baju.
Caroline masih berdiri didepan pintu kamar, kemudian menunjuk kearah Lisa dan Kevin secara bergantian. Mulut Caroline membentuk huruf O kemudian satu tangannya menutupi mulutnya. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia tahu benar, selama 6 bulan ini hubungan Kevin dan Lisa sangat tidak baik. Caroline sampai khawatir mereka akan berpisah. Tidak bertegur sapa, tidak tidur satu kamar, bahkan mereka terlihat seperti orang asing.
Caroline menutup pintu kamar perlahan. "putra ku...jelas kan apa yang terjadi??" ucapnya perlahan.
"ya seperti yang mami lihat..." jawab Kevin
"mami tidak mau melihat saja, jelaskan dengan kata-kata."
"kami sudah baikan lagi."
Caroline menunggu kata-kata apa lagi yang keluar dari mulut putranya. Ternyata hanya berhenti disitu membuatnya merasa kecewa. "terus bagaimana??" kata Caroline kesal
"ya....kami masih belajar memahami satu sama lain. Itu saja ,,,,"
"apa sebentar lagi mami akan memiliki seorang cucu??" tanya Caroline penuh harap.
"mami, Kevin justru sangat khawatir kalau mami terus disini sepertinya harapan untuk memiliki cucu akan sangat kecil." Kevin bicara sambil mengangguk pelan.
Caroline mendekati Kevin dan memukul lengannya "kenapa kamu membuat mami seperti seseorang penganggu ya..."
"memangnya bukan???" tanya Kevin balik sambil mengerutkan keningnya
"kamu... ya..." Caroline bicara sambil didorong Kevin perlahan keluar dari kamar hotelnya
"mami istirahat, Kevin dan Lisa mau berbulan madu." Kevin melambaikan tangannya kepada Caroline sambil menutup pintu
__ADS_1