
Tidak ada yang dibicarakan sama sekali selama perjalanan pulang ke apartemen. Kevin melihat kearah luar jendela. Lisa melihat kearah Kevin kemudian melihat kearah luar jendela. Hati Lisa sangat ingin berbicara kepadanya, tapi sepertinya Kevin sudah marah kepadanya.
Sampai di apartemen lisa langsung masuk kedalam kamar dilantai 1, mandi dan tidak keluar lagi. Kevin tadi terlihat naik ke lantai 2 dan tidak turun lagi. Lisa duduk di meja makan dan makan dengan cepat kemudian langsung masuk kedalam kamar dan mengunci pintu. Lisa langsung tidur dan tidak memperdulikan Kevin.
Kevin turun dan melihat piring Lisa sudah bersih, hanya tertinggal makanan untuk dirinya. Kevin melihat kearah pintu dan mengetuknya, tidak ada respon darinya. Kevin mengetuk lagi lebih keras Lisa tidak merespon, suara Kevin yang mengetuk pintu dengan kuat membuat Lisa terbangun. Dengan malas Lisa membuka kunci pintu sambil mengusap matanya dan berkata "ada apa..."
Kevin langsung memeluk Lisa '' jangan mengunci pintu jika aku belum masuk kedalam." kata Kevin
Lisa tidak membalas pelukan Kevin, satu tangannya menggaruk rambutnya yang tidak gatal "bukan kah kamu sedang marah padaku dan tidak ingin bicara dengan ku....." Kata Lisa sambil menatap sinis Kevin
"kapan aku seperti itu,,,"
"tadi..ketika di tanam setelah pulang dari taman. Kamu begitu dingin kepadaku." protes Lisa dengan wajah cemberut.
"aku tidak berpikir seperti itu. Aku tadi hanya berpikir akan lebih baik kita memiliki rumah yang memiliki taman, jadi anak-anak bisa bermain dengan tenang. Sama sekali tidak ada niat marah kepadamu." jelas Kevin.
"benarkah??" tanya Lisa lagi untuk meyakinkan.
__ADS_1
"tentu saja." jawab Kevin tanpa ragu.
"aku diatas tadi menghubungi pak Utomo, memintanya menyiapkan gambar desain untuk rumah kita. Aku sedang mencari lokasi yang strategis. Dekat dengan kantor, tapi sepertinya sangat sulit mencari tanah kosong ditengah perkotaan seperti ini. " Sambung Kevin
Lisa mengangguk senang, setiap perkataan Kevin seperti angin segar yang bertiup kearahnya. Menyejukkan hati dan pikirannya. Ia sangat berharap banyak dengan perkataan kevin kali ni. Semoga benar-benar menjadi kenyataan.
*****
Pagi hari Kevin pergi ke kantor lebih dahulu karena ada rapat yang harus dihadirinya dengan investor dari timur tengah yang harus dijumpainya. Lisa tidak bisa menghubungi Kevin sama sekali, ponselnya tidak aktif. Lisa sangat panik tidak bisa menghubungi Kevin. Ponsel Khay juga sama tidak aktif. Lisa menghubungi sekertaris Kevin dan mereka mengatakan kalau Kevin dan para tamu sedang sarapan pagi di hotel tempat Lisa biasa tinggal.
Bayi ini mengalami kelainan jantung bawaan sejak lahir, jadi memang ia selalu dirawat di rumah sakit. Fatina yang menjaga bayi tersebut. Hati Lisa sangat sedih karena baru tadi malam ia melakukan video call dengan bayi itu dan ia bisa merespon dengan sangat baik. Donor jantung yang diharapkan tidak berhasil ditemukan sampai saat bayi itu meninggal dunia.
Lisa sangat sedih, ia sangat menyukai bayi laki-laki itu, Lisa bahkan belum memberikan nama untuknya, karena bayi ini diletakkan begitu saja didepan area pembangunan panti asuhan beberapa hari yang lalu. Dengan perasaan sedih, Lisa berangkat dengan pengawal dan bibi Nita. Sepanjang perjalanan Lisa hanya terdiam, tidak ada kata-kata yang ingin diucapkannya. Hatinya hanya dipenuhi perkataan 'seandainya' tanpa menemukan solusi apapun.
2 jam perjalanan terasa begitu lama bagi Lisa, bayi tersebut akan dikuburkan disebelah makam papa Lisa. Lisa benci dengan perasaan seperti ini, ia merasa gagal melindungi bayi kecil yang tidak bersalah ini. Jika ia bisa menemukan donatur jantung lebih cepat pasti bayi ini akan selamat. Lisa duduk di rumput depan makam papanya. Ia melihat makam sudah selesai digali dan hanya tinggal menunggu datangnya jenazah bayi laki-laki itu datang.
Matahari bersinar dengan terik hari ini. Nita dengan setia memayungi Lisa yang sedang duduk dengan wajah bersedih. Lisa mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungI Kevin tapi masih juga tidak bisa terhubung. 10menit kemudian jenazah bayi itu datang. Lisa memang mengatakan kepada Fatina ia akan menunggu di kuburan karena takut tidak sempat melihat bayi itu untuk terakhir kalinya.
__ADS_1
Peti jenazah dibuka untuk terakhir kalinya. Wajah tampan tersenyum dengan bibir yang memutih. Lisa tidak bisa membendung kesedihannya. Nita berusaha menguatkan Lisa karena bagaimana pun kondisi Lisa sedang hamil besar, ia tidak boleh terlalu bersedih
"kenapa,, kamu pergi begitu cepat. Kita bahkan belum melakukan apapun" sesal Lisa sambil menangis melihat wajah bayi itu.
"nona, kamu sudah melakukan hal yang baik. Kita hanya manusia biasa yang hanya menjalankan semua sesuai dengan kehendak Tuhan." kata Nisa
Fatina mengangguk dan berkata "kita hanya manusia, bukan Tuhan. Kita tidak bisa mengatur semuanya sesuai dengan keinginan kita. Ia pasti punya alasan khusus kenapa hal ini terjadi pada hidup kita. Pasti ia ingin agar kedepannya kita lebih siap menghadapi semua hal tentang anak-anak."
"kenapa dia masih tersenyum, aku tahu pasti dia sangat kesakitan. Mama juga begitu dulu.. sepertinya mereka lebih senang pergi meninggalkan ku dari pada tetap bersamaku." kata Lisa sambil menyeka air mata di pipinya.
"bukan seperti itu, karena mereka sudah tidak merasakan rasa sakit lagi. Mereka sudah merasa tenang tanpa beban di hidup mereka. Kesenangan yang abadi menunggu mereka, tentu saja mereka akan tersenyum menyambut hidup yang lebih baik." Fatina berusaha menghibur Lisa
Lisa diam sambil menyeka air matanya lagi yang tidak berhenti menetes di pipinya.
'kesenangan yang abadi' kata itu masuk kedalam hati Lisa. Jika memang ada kehidupan setelah kematian yang sangat menyenangkan menyambut mereka Lisa pun akan sangat senang menerimanya. Ia pun berharap mereka tetap merasa senang di kehidupan abadi mereka. Atau jika pun memang ada yang namanya reinkarnasi. Ia ingin mereka kelak akan dipertemukan kembali menjadi satu keluarga dengan kehidupan yang jauh lebih baik dan jauh lebih bahagia dari sebelumnya.
Lisa berdiri dan merasa kepalanya pusing luar biasa, Lisa pingsan dan syukurnya pengawal berdiri dibelakangnya dengan sigap menahan tubuh Lisa sehingga ia tidak terjatuh. Lisa segera dibawa kerumah sakit tanpa melihat sang bayi laki-laki itu dimasukkan kedalam makam.
__ADS_1