Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
biarkan saja...


__ADS_3

Lisa keluar dari kamarnya, karena sudah hampir 10 menit lebih Caroline tidak kembali keruangan nya. Dokter yang merawat Lisa mengatakan kalau Lisa sudah bisa pulang dan memintanya untuk istirahat total selama 1 minggu. Disudut lorong rumah sakit Santoso terlihat sedang bicara, tatapan mata marah diwajahnya baru kali ini dilihat Lisa. Caroline terlihat melipat kedua tangannya diperutnya. Sambil memandang tajam kearah Kevin.


Lisa didorong dengan kursi roda oleh pengawalnya, "katakan pada mami, kalau aku mau pergi sekarang."


"baik nona." A segera berlari kearah Caroline dan berbicara sambil berbisik. Caroline melihat Lisa langsung meninggalkan Kevin yang sedang dimarahi oleh Santoso.


"kamu mau pergi sekarang sayang??" tanya Caroline


Lisa mengangguk "Ayo kita pergi sekarang."


Caroline membawa Lisa ke salah satu hotel Sun Group. Lisa sudah pernah ketempat ini sebelumnya dengan Kevin.


"kamu tenang saja, kamu akan menginap ditempat mami dan papa. Keamanan disini sangat terjamin." Caroline memberikan kartu berwarna hitam kepada Lisa. Ini kunci untuk masuk kedalam Lift.


Lisa hanya diam saja sambil menerima kartu dari Caroline. Setelah melakukan registrasi sidik jari Lisa mereka masuk kedalam lift bersama Caroline dan kelima pengawalnya.  Mereka sampai dilantai 8. Lisa langsung masuk kedalam kamar tidur. Bentuk ruangannya sama dengan ruangan Kevin, jadi Lisa sudah familiar dengan tempatnya.


"kamu pernah kemari sebelumnya nak??" tanya Caroline yang penasaran dengan Lisa yang tahu posisi ruang tidur tanpa diberitahu sebelumnya oleh dirinya.


Lisa mengangguk. Caroline membatu Lisa berbaring, dan menyelimutinya. Caroline duduk didepannya kemudian memegang tangannya.


Lisa mulai menangis, Caroline memeluknya sambil menepuk dengan lembut punggung Lisa.


"Aku sangat kesal dia melakukan hal itu didepan banyak orang, tidak menolak degan tegas. Sepertinya dia menyukai wanita itu mi..."

__ADS_1


"tidak sayang, mami lihat dia ada dorong wanita itu. Kevin menyukai kamu dari kalian kecil sampai sekarang. Kamu jangan berpikiran yang tidak-tidak tadi dia benar-benar sedih melihat kamu pergi dengan mami," Caroline mengusap rambut Lisa.


"mami juga tidak suka dengan kelakuan wanita tadi, kamu jangan bersedih lagi. Nanti bayi kamu ikut sedih." bujuk Caroline.


"mami akan buatkan makanan untuk kamu ya..."


Lisa mengangguk dan Caroline keluar dari dalam kamar mempersiapkan makan siang untuk Lisa. Kevin menghubungi Lisa. Lisa melihat ponselnya dan langsung mematikannya. Sementara Kevin yang panggilannya ditolak merasa sangat sedih. Ia sangat ingin menemani Lisa saat ini, tapi pasti Lisa tidak akan mau menemuinya.


Lisa meletakkan ponselnya dimeja sebelah tempat tidur dan kemudian memejamkan matanya. Pikirannya masih membayangkan kejadian dikantor tadi. Hatinya saat ini dipenuhi amarah kepada Kevin. Lisa mengusap perutnya perlahan. Ia juga belum bisa merasakan kalau ada kehidupan lain yang hidup dalam tubuhnya. Benar-benar suatu keajaiban. Lisa tidak pernah berpikir kalau ia akan secepat ini hamil. Sepertinya ini jalan dari Tuhan kepada Lisa agar ia tidak sendiri lagi.


Lisa tertidur sangat pulas, Caroline tidak berani membangunkan Lisa untuk makan siang. Sore hari Lis terbangun karena lapar. Lisa keluar kamar dan mendapati Caroline sedang menonton drama kesukaannya.


"sudah bangun sayang??"


Caroline berdiri dan mengajak Lisa duduk dimeja makan. Kemudian ia mengeluarkan makan siang dari dalam microwave. Lisa makan dengan lahap seperti biasa. Caroline senang, selera makan Lisa tidak ada perubahan sama sekali.


Caroline dan Lisa sama-sama melihat kearah pintu ketika mendengar suara bel. Caroline membuka pintu dan melihat Kevin berdiri didepan pintu membawa buket bunga mawar putih dan kantungan makanan. Disebelahnya ada tas pakaian Lisa. Kevin dengan wajah penuh harapan agar diijinkan masuk. Caroline menjadi serba salah.


"Sayang, Kevin datang menjenguk. Bolehkan masuk??" Caroline berbicara dengan hati-hati, ia takut Lisa marah dan meminta Caroline pulang. Jika hal itu terjadi ia akan sangat khawatir membiarkan Lisa sendirian dihotel.


"sepertinya dia bawa makanan dan minuman kesukaan kamu sayang." pancing Caroline


Lisa berhenti sejenak mendengar kata makanan dan minuman kesukaannya "suruh masuk tinggalkan semuanya kemudian suruh pergi lagi ya mi." jawab Lisa

__ADS_1


Caroline mengedipkan sebelah matanya kepada Kevin. Kevin tersenyum senang, setidaknya Lisa membiarkannya masuk walau hanya meletakkan makanan dan pakaiannya dan langsung pergi.


Kevin masuk kedalam dan melihat Lisa sedang  makan diruang makan. Kevin mendatanginya sambil meletakkan teh susu dan kue tiramisu kesukaan Lisa di meja makan. "maafkan aku" kata Kevin dengan tulus sambil menyerahkan buket bunga mawar putih kepada Lisa.


Lisa menatap sinis kepada Kevin "kamu tahu aku sedang  hamil. Ada kehidupan dalam rahimku, kamu malah mengambil kehidupan makhluk yang lain. Apa tidak salah??"


Kevin merasa menyesal kenapa membeli bunga mawar "maaf aku salah..."


"tinggalkan semua itu kemudian pergi." Lisa mengalihkan pandangannya makannya.


"kamu sudah makan nak?? wajah kamu terlihat pucat."


Lisa mengehentikan memasukkan makanan kemulutnya, Lisa mencoba mengingat apakah memang wajah Kevin pucat. Tapi ketika bicara tadi ia benar-benar tidak fokus dengan wajahnya. Lisa tidak ingin melihat wajah Kevin, kemudian Lisa berkata "makan dulu, baru pulang."


Lisa menyelesaikan makannya dengan cepat kemudian membawa teh susu dan kue kedalam kamar meninggalkan Kevin yang masih makan diruang makan. Lisa masuk kedalam kamar mandi, dan ketika keluar ia melihat Kevin sedang menyusun pakaiannya didalam lemari.


"letakkan saja, biar aku yang selesaikan. Kamu keluar." Lisa bicara seperti orang asing. Raut wajah tidak bersahabat membuat hati Kevin sangat sedih diabaikan oleh istrinya.


Kevin terdiam sejenak mendengar perkataan Lisa, kemudian menyelesaikan menggantung semua baju Lisa. Memasukkan tas pakaian kedalam lemari kemudian berjalan kearah pintu.


"walau kamu tidak ingin melihatku sekarang, setidaknya ijinkan aku menghubungimu atau setidaknya balas pesanku." pinta Kevin.


Lisa tidak menjawab perkataan Kevin, pandangannya kearah luar jendela kaca. Tapi ia masih bisa melihat wajah sedih Kevin yang sedang memegang pintu kamar dari pantulan bayangan kaca. Dalam hati Lisa sebenarnya sudah tidak terlalu marah dengan Kevin, hanya saja ia ini membiarkan saja dahulu. Agar ia mendapatkan efek jera. Dan tahu bagaimana harus bersikap kepada wanita penggoda seperti Lucy. Harusnya ia bisa bersikap lebih tegas bukan sekedar menghindar dari Lucy. Itu yang Lisa inginkan dari Kevin. Dan itu juga alasan Lisa memberi hukuman konseling kepada seluruh karyawan yang tidak menggunakan id card termasuk Kevin. Tujuannya adalah agar hal yang sama tidak terulang. Bukan hanya untuk ketenangan dirinya tapi juga untuk ketenangan kondisi kantor. Lisa tidak habis pikir, mengingat para pria menatap Lucy seperti berlian yang berjalan. Mata mereka berkilau melihatnya tanpa henti. Membuat Lisa risih melihatnya.

__ADS_1


__ADS_2