
Polisi memborgol dokter Roy, Santoso mendekati kepala polisi yang berdiri dihadapan dokter Roy.
"walau pun perbuatannya tidak terampuni karena sudah melukai anak laki-laki ku satu-satunya dan menantu kesayanganku. Bagaimana pun dia adalah adik bagiku. Tolong perlakukan dia dengan baik." kata Santoso
Mata dokter Roy berkaca-kaca, ia memang selalu berdebat dengan Kevin tapi tidak pernah berani berdebat dengan Santoso. Apapun yang dikatakan saudara angkatnya adalah suatu hal yang baik dan ia sangat menghormatinya.
"kamu,,,, apakah belajar sesuatu dari semua ini..." tanya Santoso kepada dokter Roy
Roy menunduk sambil mengangguk
"bagi kedua orang tua ku, kau adalah anak yang sangat dibanggakan nya. Bagaimana kamu mempertanggung jawabkan semuanya kepada mereka yang sudah tenang diatas sana..."lanjut Santoso
"berbuat baiklah....karena bagaimana pun kamu adalah bagian dari keluarga yang selalu menanamkan hal baik. tidak peduli, siapa orang tua kandung kamu. Bagi kami, kamu tetaplah keluarga.."
Dokter Roy menghapus air mata di pipinya dengan tangan yang sudah terborgol. Kata-kata Santoso membuat dokter Roy terpukul. Bagaimana pun niat awal ia melakukan penelitian adalah untuk menolong banyak orang, waktu itu kedua orang tua angkatnya sangat senang dan bangga dengan keberhasilan Roy dalam menemukan obat penyakit kanker ovarium. Dokter Roy menerima nobel penghargaan sebagai dokter terbaik yang bisa menyembuhkan penyakit kanker.
Santoso juga sangat bangga dengan adik angkatnya, Dari kecil mereka bermain bersama, dihukum kedua orang tuanya ketika mereka nakal, saling melindungi ketika salah satu dari mereka ada membuat kesalahan. Masih melekat diingatan dokter Roy, ketika mereka menghabiskan liburan sekolah bersama kedua orang tuanya, Bahkan kedua orang tua kandungnya saja tidak memperlakukan dirinya dengan baik, orang tua angkatnya lebih menghargai dirinya dibandingkan kedua orang tuanya.
__ADS_1
Santoso menatapi punggung adik angkatnya yang dibawa keluar dari kamar hotel dengan tertunduk malu. Hati Santoso tidak kalah hancur, saudara kebanggaannya melakukan kejahatan yang tidak terampuni adalah aib bagi keluarga. Tidak mungkin bagi dirinya membuang badan begitu saja, Roy adalah seorang anak yang ditinggal di panti asuhan. Walau tidak jelas alasan kedua orang tuanya membiarkannya hidup ditempat itu. Terlihat jelas kalau ia adalah anak yang tidak diharapkan.
"aku akan menjenguk mu besok." kata Santoso dengan suara keras ketika dokter Roy sudah diambang pintu.
Samar-samar Roy tersenyum tipis, matanya berkaca-kaca dan langkahnya sempat terhenti. Walau sudah sejahat ini saudaranya masih membuka kedua tangannya untuk menerimanya. Kurang apa lagi dalam hidupnya. Tersesat seperti ini, ilmu yang harusnya berguna bagi banyak orang menjadi bumerang baginya melakukan kejahatan. 'mungkin didalam darahnya mengalir sifat jahat' batin dokter Roy mengingat ibu kandung dan saudara kembarnya sekarang berada didalam penjara.
Dokter Roy melanjutkan langkahnya dan hilang dari pandangan mereka semua. Lisa menatap Santoso dengan kagum. Jika memang benar dokter Roy adalah pamannya, maka ia masih kalah dibandingkan papa mertuanya yang memiliki hati seluas samudra. Walau wajahnya terlihat selalu serius dan tidak banyak bicara, tapi pelajaran yang diberikannya kepada Lisa hari ini benar-benar luar biasa.
Darah harusnya lebih kental dari pada air, Lisa dengan cepat menolak mengakuinya sebagai saudara. Tapi Santoso tidak malu mengatakan kalau bagaimana pun dia adalah tetap saudara dihati dan dikehidupa nya. Lisa sangat malu kepada dirinya sendiri. Ia menatap Leo. Ia bingung apa yang harus dilakukannya.
"dia adalah orang yang sangat baik...aku tidak tahu pengaruh apa yang dibawa kembarannya kepada dirinya. Pasti ada orang yang memaksanya melakukan hal itu. Dari dulu, dia adalah seorang anak yang tidak bisa dibawah ancaman orang lain. Itu lah sebabnya, aku selalu menjadi orang paling depan melindungi dirinya dari orang-orang yang berniat mengganggunya." kata Santoso dengan pandangan menerawang jauh
Lisa masih menatap Leo. Leo paham apa maksud tatapan Lisa "jika kamu mau melakukan tes DNA silahkan aku tidak keberatan. Tapi setelah kamu melakukan tes dan menerima hasilnya jangan merasa itu sebagai beban apabila memang dia terbukti sebagai saudara kita. Siapkan dulu hatimu menerima semua keadaan. Baru lakukan pemeriksaan" kata Leo dengan lugas
Lisa tidak berani berkata apapun dan tidak berani mengangguk untuk menyetujui perkataan Leo. Lisa menatap Kevin untuk mendapatkan jawaban. Kevin mengusap kepala Lisa sambil berkata "saat ini yang kamu kagumi adalah sikap papa kepada dokter Roy. Jauh dari dalam hati kamu, sebenarnya belum bisa menerima semuanya dengan lapang dada. Apalagi kematian mama berhubungan dengan dirinya. Tapi seperti yang dibilang paman kecil kita, persiapkan hatimu dulu."
Lisa bersikap seperti anak kecil, menatap Leo dan Kevin secara bergantian dengan wajah cemberutnya. Dia sendiri bingung dengan apa yang harus dilakukannya. Kedua pria ini mungkin benar, yang dikaguminya adalah sikap lapang dada papa mertuanya bukan keinginan dari dirinya untuk tidak meninggalkan Roy sendirian. Lisa merasa iba, karena jika dokter Roy memang adalah anak kandung kakek neneknya kenapa dia dibiarkan tinggal di panti asuhan? Bukankah kakek Lisa adalah seorang yang memiliki banyak uang dan baik hati? Tidak mungkin ia tega melakukan hal itu kepada anak kandungnya. Batin Lisa dipenuhi dengan perang argumen yang tidak berkesudahan.
__ADS_1
"kamu ini,,, sudah lah....Kita semalaman tidak tidur sama sekali, mata kamu sudah seperti mata panda." Kata Kevin sambil merangkul Lisa.
"mari kita kembali kekamar masing-masing untuk beristirahat."
Kepala polisi kembali kedalam kamar ketika mereka semua akan beranjak pergi.
"maaf, saya lupa menyampaikan. Mohon maaf, rencananya anda berapa lama akan ada di negara ini??" kata kepala polisi kepada Santoso.
"2 sampai 3 hari kedepan kami masih dinegara ini. Paling lama 1 minggu, kenapa?" tanya Santoso balik yang masih merangkul Caroline
"kami masih membutuhkan laporan anda sebagai saksi. Kami akan usahakan mengatur jadwal secepatnya untuk kalian memberi kesaksian"
"baik... terima kasih atas bantuannya." Santoso menganggukkan kepalanya.
Ketika kepala polisi itu sudah berbalik badan untuk meninggalkan ruangan, langkahnya terhenti sejenak dan kembali berbalik badan. Polisi itu berdiri dihadapan Lisa "nona....saya sangat menyukai cara anda melakukan interogasi. Apakah anda berniat untuk bergabung di kepolisian negara kami??" Kepala Polisi itu mengulurkan tangan kanannya kepada Lisa.
Kevin melihat tangan kepala polisi itu dengan tidak senang. Dengan cepat Kevin membalas jabatan tangan kepala polisi tersebut dan berkata "terima kasih atas tawaran anda. Sebagai suaminya, aku tidak bersedia dengan tawaran anda."
__ADS_1
Kepala polisi itu tersenyum kepada Kevin dan kemudian melihat kearah Lisa "ini adalah kartu namaku, silahkan hubungi kapanpun kamu mau untuk bergabung." kepala polisi itu menyerahkan kartu namanya kepada Lisa yang masih terdiam diposisinya. Ia tidak tersenyum sama sekali, hatinya bingung harus menjawab apa.
Kepala polisi itu undur diri dengan senyum senang diwajahnya.