Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
lepaskan dia


__ADS_3

Pintu lift terbuka dilantai tempat kamar Lisa dan Kevin, Kevin masih berdiri membatu didepan lift sementara Frans menahan tombol agar pintu tetap terbuka.


"kita tidak keluar??" tanya Lisa bingung melihat Kevin


"kita keruangan Frans dulu. Minta beberapa pengawal berjaga disana sekarang."


"baik pak,,," Frans dan A menjawab  bersamaan, mereka tidak tahu perintah ini ditujukan untuk siapa.


"baiklah, kalau kalian masih ada urusan kami keluar dahulu. Kata Leo sambil berjalan melewati Lisa dan Kevin keluar dari dalam lift. Jangan lupa hubungi aku kalau ada masalah." kata Leo sambil melambaikan tangan ketika pintu lift mulai tertutup.


Darah Lisa berderis tidak karuan, apakah ada sesuatu yang akan terjadi lagi,,, semalam sudah sangat melelahkan. Semoga hari ini bisa bersantai sedikit Pikir Lisa sambil melihat Kevin dari pantulan pintu lift. Sabrina pasti bukan orang yang mudah untuk dihadapi, walau untuk kelas dengan Kevin sangat mudah baginya menghadapi seorang Sabrina, tapi bagi orang seperti dirinya dan Khay pasti akan sangat kesulitan dibuatnya.


Lisa mejadi sangat takut, bagaimana jika karena melindungi Khay bisnis Kevin akan berpengaruh. Lisa menggenggam tangan Kevin lebih erat.


Kevin melihat tangannya dan Lisa masih bertautan, ia memasukkan tangan Lisa kedalam saku jaket karena tangan Lisa menjadi sangat dingin.


Sampai diruangan Frans, terlihat ada seorang gadis yang duduk sambil menghadap jendela. Ruangan kamarnya tidak terlalu besar seperti ruangan Lisa dan Kevin.  Tapi kelasnya masih diatas kelas biasa.


Gadis itu menyapa dengan sangat ramah..... "kamu kakak ipar? benar-benar cantik bahkan lebih cantik daripada di foto kakak Frans."


Kevin melihat tajam kearah Frans "jelaskan...." kata Kevin dengan suara dingin


"bos,,,aku tidak ada menyimpan foto kakak ipar. Aku menyimpan foto pernikahan kalian berdua. Sungguh...." Kata Frans sambil menyerahkan ponselnya kepada Kevin.


"hapus,,,," Kevin merangkul Lisa dan duduk  di kursi tamu didepan tempat tidur.

__ADS_1


Frans melihat gadis itu sambil berkata "gara-gara kamu.."suaranya pelan tapi terdengar cukup jelas ditelinga orang yang ada didalam ruangan.


"silahkan letakkan tas anda didalam lemari sini." kata Frans kepada Khay sambil menghapus foto Lisa yang ada diponselnya.


"kamu siapa??" tanya Lisa kepada gadis itu


"nama ku Valen...adik dari orang itu." Jawab Valen sambil menunjuk Frans dengan bibirnya.  Valen menatap Khay dengan kagum, ia tidak bisa menyingkirkan pandangan matanya dari pria itu, Lisa langsung bisa menebak kalau Valen menyukainya.


"kamu masih kuliah??"


"ya... sebentar lagi aku akan tamat kuliah S2, apa ada lowongan pekerjaan untuk ku..." kata Valen sambil tersenyum menunjukkan barisan giginya yang rapi dan putih


"untuk apa kuliah dengan sampai S2 kalau masih minta tolong carikan pekerjaan, sebaiknya kamu abaikan saja kakak ipar." kata Frans sambil menggelengkan kepalanya tanda  tidak setuju.


"sepertinya kalian sangat akrab." kata Lisa sambil tersenyum senang melihat kedua abang beradik ini. Rasanya apabila ia memiliki saudara kandung seperti mereka pasti akan seru.


"Kalau begitu,sekarang saja..."bisik Kevin dengan senang kepada Lisa.


Kevin yang tiba-tiba berdiri dari kursinya membuat suasana gaduh tiba-tiba hening. Valen dan Frans saling memandang takut, bisa gawat kalau sampai Kevin marah karena mereka terlalu bising. Kevin melihat kearah semua orang yang melihat kearahnya dengan aneh "kenapa?" tanya Kevin


"maaf kakak, aku tidak akan ribut lagi." kata Valen sambil menunduk takut.


Lisa menarik tangan Kevin untuk duduk kembali, orang ini memang tidak ada pengertiannya. Pikir Lisa


Kevin melihat kearah pintu memberi kode kepada Lisa untuk keluar dari kamar dan mewujudkan keinginan istrinya memiliki banyak anak.  Semua orang melihat kearah Kevin.

__ADS_1


Lisa menggeleng "duduklah....bukankah kamu bilang ada urusan penting" Lisa bicara semua mata beralih kearahnya.


Kevin melihat semua orang seperti menanti jawaban darinya. Lisa memanfaatkan memberikan isyarat mata kepada Kevin untuk duduk kembali dan jangan buat masalah didalam ruangan. Kevin menarik kedua otot ujung bibirnya. "maaf,,,aku ...hanya berpikir .....bagaimana ....jika ....kita memesan makanan ringan." kata Kevin dengan terbata-bata.


Valen bertepuk tangan  dengan keras "ayo,,,,, pesan langsung. Tapi,,,,, kakak yang bayar kan??" Kata Valen yang tadi semangat tiba-tiba merubah raut wajah nya menjadi segan melihat kearah Kevin


"ya...." jawab Kevin singkat tapi menebarkan kesenangan dalam ruangan itu.


Tidak perlu waktu lama, bagi Valen dan Lisa memilih menu makanan yang dinginkan mereka, setelah menunggu beberapa saat, makanan yang dipesan akhirnya datang. Dengan wajah senang, Valen berjalan membuka pintu kamar dan ternyata ada seorang wanita didepannya dan disebelahnya ada pelayan yang terlihat baru datang mengantar makanan.


Valen tidak mengenal wanita itu, tapi dari cara pakaiannya sangat elegan sepertinya ia bukan dari kalangan biasa seperti dirinya pikir Valen. "maaf, nona cari siapa??"


"Khay keluar kamu..." kata Sabrina dengan suara lantang


"maaf nona, anda berada diruangan orang lain. Tolong lebih sopan" kata Valen  sambil melipat kedua tangannya ke perutnya


"kamu minggir," Sabrina menolak Valen dan ia hampir terjatuh. Khay dibelakangnya menahan Valen dengan sempurna.


"oowh.... ternyata habis putus denganku kamu dengan wanita lain.... benar-benar luar biasa." Sabrina bertepuk tangan sambil tersenyum mengejek melihat Khay yang masih memegang Valen.


"sudahlah, berhenti menggangguku." kata Khay dengan marah. Dari tadi dia menahan semua amarahnya kepada wanita ini. Bagaimana pun ia juga manusia biasa yang mempunyai batas lelah terhadapmu." Khay bicara sambil menggeser tubuh Valen kearah samping.


"berani sekali kamu... Tidak ada seorang wanita yang mau dengan orang seperti kamu. " Sabrina mengambil teko air yang berisi coklat hangat yang dipesan Valen dan Lisa menyiramkan kearah Khay. Entah keberanian apa yang membuat Valen mendorong tubuh Khay menggantinya terkena siraman coklat panas di punggungnya.


"Aku orangnya. Aku yang akan bersama dengan dia sekarang dan menjadi pasangannya. Paham." Valen menahan rasa panas dipundaknya,  Sambil menatap kearah Sabrina tanpa gentar.

__ADS_1


Khay membawa Valen ke kamar mandi untuk mendapatkan pertolongan pertama


"sudah cukup Sabrina" suara dari ponsel Kevin terdengar jelas. Ternyata Kevin melakukan panggilan video dengan orang tua Sabrina. Ia tidak mungkin melakukan sesuatu pembalasan dengan seorang wanita. Bagaimana pun hubungan mereka adalah kerabat dan rekan bisnis. Mungkin bisa sangat mudah bagi Kevin menjatuhkan bisnis keluarga Sabrina. Tapi dalam berbisnis ada etika tidak tertulis yang harus dijalankan setiap pengusaha.


__ADS_2