
Dokter keluar dari ruangan operasi, Lisa kenal pria ini. Dia adalah dokter Roy pria yang tinggal dilantai 8 dan juga dokter yang pernah merawat mamanya dari dirinya. Lisa langsung mengenalinya
"dokter bagaimana Kevin??"
"operasinya berhasil, tapi saat ini dia masih dalam kondisi koma. Kita masih pantau keadaanya. Kamu jangan khawatir, seperti yang aku katakan kalau ia adalah manusia serigala. Dia pasti bisa melewati masa krisis ini. Karena aku tidak pernah bertemu dengan orang yang sangat keras kepala seperti dirinya." Roy tersenyum sambil menepuk pundak Lisa dengan lembut.
"apa yang terjadi dengannya???"
"Ada serpihan pecahan pesawat yang mengenai kepalanya, Selain itu juga luka bakar pada lengan kanan sampai punggungnya cukup parah. Luka bakarnya 20% dari anggota tubuh. Tapi tidak perlu khawatir, penanganan masalah kulit masih bisa diatasi. Ilmu kedokteran sekarang sudah sangat berkembang dengan baik. Pasti akan bisa hilang tanpa meninggalkan bekas."
Lisa mengangguk lemah "terima kasih dokter Roy."
"sebentar lagi dia sudah bisa dipindahkan keruangan. Kamu harus semangat, karena ketika sakit walau sedang koma sekalipun ia tetap bisa mendengarkan orang yang menjaganya."
Lisa mengangguk dan tidak menjawab dokter Roy. Lisa duduk kembali dan tidak lama kemudian keluar Kevin yang berbaring ditempat tidur sambil didorong oleh beberapa perawat. Lisa mengikutinya sampai kedalam ruangan. Langkah kaki Lisa terhenti. Ruangan yang sama 1010. Ruangan tempat mamanya pernah dirawat, sekarang Kevin yang berbaring disini, Lisa merinding mengingat semuanya. Semoga tidak ada hal buruk yang terjadi batin Lisa. Kaki Lisa membeku didepan ruangan. Lisa tidak berani melangkahkan kakinya. Peristiwa beberapa bulan yang lalu melintas di kepalanya, seolah baru terjadi kemarin.
"nona, tidak masuk??? tanya Nita.
Lisa masih mematung, suara Nita tidak terdengar sama sekali ditelinga nya.
Rita memegang tangan Lisa "nona,,, anda tidak apa-apa."
Lisa terkejut dengan lengan Rita yang menggenggam lengannya dengan kuat. Lisa menoleh kearah Rita tapi tidak menjawab apa-apa. Hanya melihat dengan tatapan mata kosong.
__ADS_1
Lisa mengepalkan dengan kuat tangannya. Bagaimana pun ia harus memberanikan diri, ketika akan melangkah Lisa menggelengkan kepalanya, ia tidak sanggup melangkah keruangan ini. Keberaniannya hilang terbawa angin.
Leo berlari kearah Lisa yang sedang mematung didepan ruangan. Ia tidak paham kenapa sahabatnya seperti ini. Leo memukul pundak Lisa. "memangnya kamu bisa melihat Kevin dari sini. Ayo masuk." ajak Leo
Lisa tidak bergerak "gawat pengecut ada disini. Tidak baik...benar-benar tidak baik." ejek Leo
Lisa melihat sinis kearah Leo, kata-kata yang paling dibencinya diucapkan Leo. Pria ini memang mampu membuatnya Lisa melangkahkan kakinya masuk kedalam ruangan tanpa memperdulikan ketakutannya. Lisa masuk kedalam ruangan, ia menghela nafas. Perawat terlihat sedang memasang alat pemantau jantung dan mengatur infus ditangan Kevin. Air mata Lisa menetes tanpa disadarinya. Lengan Kevin dibalut kain kasa, begitu juga dahinya. Lisa mendekati Kevin, langkanya lebih perlahan dari pada biasanya.
Hatinya sakit, seandainya ia mengikuti permintaan Kevin untuk menyusulnya ke paris untuk berlibur selama 3 hari, hal ini tidak akan terjadi. Lisa sangat menyesali kenapa sangat sulit baginya untuk mendengarkannya. Lisa menggenggam tangan kiri Kevin.
"Dokter Roy berkata kamu akan baik-baik saja. Jadi cepatlah bangun, kalau masalah kulit tangan dan punggung kamu yang terbakar tidak masalah. Nanti kita akan operasi plastik di Korea. Katanya disana sangat bagus, sekalian aku juga ingin lihat artis korea yang sering aku tonton di drama." Lisa berbicara sambil menangis,
Leo menertawai Lisa, "cara kamu bicara bukan seperti mengharapkan dia segera bangun, tapi memintanya agar membawa kamu jalan-jalan keluar negeri. Kevin...kevin... kasihan sekali kamu punya istri seperti dia."
Lisa melihat bibir Kevin yang pucat, hati Lisa sakit melihatnya. Pria ini biasanya selalu terlihat sehat. Bagun lebih pagi untuk berolah raga, kemudian mandi dan kembali berbaring disebelah Lisa sampai ia terbangun. Lisa awalnya tidak mengetahui kebiasaan Kevin ini, hingga suatu hari Lisa merasa curiga Kevin selalu bangun 4.30 pagi kemudian berganti pakaian dan keluar rumah. Lisa mengikuti Kevin diam-diam. Lisa melihat Kevin lari pagi keliling kompleks apartemen ditemani beberapa orang pengawal. Sepertinya memang kegiatan rutin mereka seperti itu. Kemudian latihan bela diri. Lisa tidak habis melihat Kevin dan pengawalnya. Tidur hanya beberapa jam, kemudian olahraga selama 1 jam. Apa mereka tidak merasakan lelah. Lisa yang diajak Kevin lari keliling apartemen satu kali saja tidak mau lagi mengulangi hal yang sama lagi. Ia berkata 'daripada lari, lebih baik aku tidur lagi dipagi hari. jangan menyiksaku dengan penderitaan ini. Hidupku dulu cukup menderita. Sekarang aku mau menikmati hidupku yang menyenangkan.' Kata-kata itu masih dalam ingatan Lisa.
Lisa menyandarkan kepalanya ditempat tidur. Berkali-kali Leo mendengar Lisa menghela nafas panjang. Ia tahu sahabatnya sangat terpukul. "kamu berkali-kali menghela nafas, nanti kalau nafas kamu habis bagaimana???" Leo mengajak Lisa bicara untuk menghiburnya
"Untungnya paru-paru ciptaan Tuhan, kalau kamu yang menciptakan aku rasa paru-paruku sudah rusak." Lisa menjawab asal perkataan Leo. Kepalanya masih bertumpu ditempat tidur Kevin sambil memegang tangannya. Mata Lisa tertuju pada jari Kevin. Lisa baru menyadari suaminya memiliki telapak tangan yang halus.
"apa kamu merasa sakit??? " tanya Lisa kepada Kevin sambil mengelus telapak tangan Kevin
"aku sehat" jawab Leo
__ADS_1
"aku tidak tanya kamu." jawab Lisa kesal.
"aku dengar, diruangan kita hanya ada kita berempat. Kedua asisten kamu tidak menjawab, berarti kamu bertanya kepadaku." Leo bicara dengan santai.
"menyebalkan." jawab Lisa ketus
"ngangenin." balas Leo
Lisa mengangkat kepalanya dan melihat kearah Leo dengan tatapan sinis. Matanya yang bengkak dengan wajah cemberut membuat Leo tertawa terbahak-bahak "kamu sungguh lucu, mirip dengan ikan mas koki."
Lisa semakin cemberut. "biar saja, yang penting aku sudah menikah. Setidaknya kecantikanku diakui oleh dunia dan negara karena statusku. Berbeda dengan mu yang masih sendiri, Entah karena tidak ada yang mau atau karena tidak ada yang bisa dibanggakan dari kamu." sindir Lisa
"kamu..." Leo membesarkan matanya melihat Lisa
"apa...." tantang Lisa
"Kevin, sungguh kasihan nasib kamu menikah dengan wanita bermulut tajam seperti dia. Aku paham dengan penderitaan mu." Leo bicara sambil menatap Kevin
Lisa menjulurkan lidahnya dan mengejek Leo. "sebaiknya kamu kembali kekantor. Urus pekerjaan dengan One Future Ltd dengan baik. Kalau kamu disini, aku takut suami ku bisa bangkrut mempunyai karyawan seperti kamu."
"kamu lihat saja semua dokumen dan laptop sudah aku siapkan. Jadi santai saja disitu." jawab Leo santai.
"terserah, asal jangan menggangguku." jawab Lisa sambil merebahkan lagi kepalanya di tempat tidur Kevin sambil memandangi tangannya.
__ADS_1