
Seminggu telah berlalu sejak Kevin sadar dari komanya. Satu hari setelah Kevin keluar dari rumah sakit kedua pasangan suami istri itu sudah mulai sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing. Kevin diruangan kerjanya dilantai 2, sedangkan Lisa berada dilantai 1 ditempat kamar tidur mamanya.
Caroline duduk disebelah Santoso yang sedang sibuk membaca koran. "suamiku, apakah kamu tidak merasa ada keanehan antara Kevin dan Lisa??"
Santoso memperbaiki kacamatanya sambil menjawab pertanyaan istrinya "keanehan seperti apa?" tanya Santoso yang masih sibuk membaca berita di koran.
"mereka terlalu sibuk dengan diri mereka masing-masing. Frans dengan Kevin sedangkan Lisa dengan Leo. Mereka tidak seperti suami istri pada umumnya, mami khawatir melihat mereka."
"tidak ada yang aneh dari hubungan mereka istriku sayang. Mereka sama-sama sedang belajar mengembangkan kemampuan mereka dalam berbisnis." Santoso membalik halaman koran dan tidak melihat wajah istrinya yang sudah kesal melihat reaksi acuh tak acuh dari suaminya
"kamu,... sama saja sama anak kamu." Caroline menarik koran dari tangan Santoso
Santoso terkejut dengan perbuatan istrinya, tapi ia tidak marah. "sayang.... kamu jangan terlalu banyak berpikir. Perawatan wajah kamu sangat mahal, papa takut kalau mami terlalu memikirkan masalah ini, anggaran papa untuk kecantikan mami bisa bertambah"
Caroline cemberut. "kamu ini, perhitungan sekali dengan istri sendiri. Mami akan minta Lisa yang membelikan perawatan kecantikan mami kalau papa begitu perhitungan."
Santoso tersenyum sambil merangkul istrinya "mana berani papa menyerahkan urusan kecil itu kepada anak perempuan kita. Mami adalah tanggung jawab papa sampai nanti papa meninggal dunia."
"kalau seperti itu papa segera bicara dengan Kevin, mami bicara dengan Lisa."
"apakah perlu?" tanya Santoso
"jelas perlu, papa lihat Lisa. Ditempat tidurnya banyak sekali ponsel, semua merek ponsel ada disitu. Seharian ia main dengan ponselnya sampai mau tidur juga begitu. Kevin bekerja sampai sore, selesai kerja ia memang menemani Lisa. Tapi mereka tidak ada bicara sama sekali. Ketika bicara yang dibahas masalah kantor. Inikan jelas ada masalah dalam hubungan mereka."
__ADS_1
Santoso masih merangkul istrinya, tangan yang satu menggenggam tangannya bibirnya tersenyum melihat istrinya. "kamu tahu sayang, Lisa itu bukan sedang main ponsel yang tidak berguna. Ia sedang turun tangan langsung dalam memastikan versi permainan yang akan diluncurkan apakah sesuai dan bisa digunakan dengan baik. Ia mirip sekali dengan Randy, lebih percaya dengan keakuratan data yang dikerjakan sendiri."
"tapi mereka...."
"percaya lah dengan mereka berdua. Mereka sekarang sedang membangun bisnis baru bersama.Mereka butuh proses, tapi tidak sepenuhnya mereka kehilangan sifat romantisnya. Mami lihat saja ketika Lisa sibuk dengan ponselnya, Kevin menyuapinya makanan. Ketika waktu minum obat Lisa akan naik keatas dan memberikan Kevin obat. Mereka saling mencintai dengan cara mereka masing-masing."
Caroline memijat keningnya. "jadi...menurut papa semua ini wajar?"
Santoso mengangguk "mereka bersama sejak kecil, kemudian secara tiba-tiba mereka terpisah dan Kevin berusaha keras menemukan Lisa kembali. Baginya Lisa bukan hanya cinta sejatinya, tapi juga bagian dari hidupnya. Ketika mereka bertemu kembali, Kevin yang sudah paham watak Lisa dengan cepat menyesuaikan diri. Lisa pun demikian, walau tidak begitu ingat dengan Kevin tapi nalurinya mengenali Kevin. Dan mereka pun saling melengkapi."
"Kevin sudah mulai sembuh, bagaimana jika kembali besok??" tanya Santoso
"mami senang disini, ada Lisa yang menemani mama belanja dan kami bisa mengobrol banyak hal."
"memang ia melihat kearah ponselnya, tapi ketika mami bicara ia bisa merespon semua perkataan mami."
Santoso tertawa "itulah hebatnya anak perempuan kita, dia rela naik bus umum, kereta api, jalan kaki dikampus-kampus dan sekolah hanya untuk sebuah survei yang bisa didapatkan apabila dia menyewa survei independent. Tapi dia melakukannya sendiri. Kemampuan otak kanan dan kirinya bisa bekerja bersamaan. Ketika sibuk bekerja ia juga bisa melakukan hal lain. Itulah alasan papa mendukungnya bekerja."
Mereka melihat Lisa berjalan sambil memainkan ponselnya kearah meja makan. Lisa menuangkan air dan mengambil obat dilemari. Santoso dan Caroline memperhatikan Lisa. Ia bisa mengingat semua posisi padahal ia sedang sibuk dengan ponselnya. Kemudian Lisa naik kelantai 2, langkahnya berhenti sebelum menaiki anak tangga "mami, papa Lisa keatas dulu ya...waktunya Kevin minum obat."
Santoso dan Caroline mengangguk sambil berkata bersamaan "ya..." '
Lisa tersenyum kearah mereka dan kemudian berjalan menaiki anak tangga dan membuka pintu kerja Kevin. Caroline dan Santoso masih memperhatikan Lisa dari sofa ruang tamu.
__ADS_1
"kamu paham sayang, ini yang tadi papa bilang, walau ia sangat sibuk dengan pekerjaannya. Mereka tidak melupakan satu sama lain. Lisa bisa melakukan semua pekerjaan secara bersamaan. Kamu tidak perlu khawatir,"
Caroline mengangguk. Ia paham sekarang. Kehidupan setiap orang memang berbeda. Mungkin bagi Caroline hubungan suami istri yang benar adalah menemaninya dan bicara tentang apa yang mereka alami satu harian tanpa melakukan kegiatan lain. Berbeda dengan Kevin dan Lisa, bagi mereka romantis tidak harus menemani nonton televisi dan berbicara banyak hal tentang keseharian mereka. Tapi bagi mereka romantis adalah menyempatkan untuk saling mengingatkan dan menemani walau tidak saling bicara. Terkesan aneh bagi Caroline tapi menurutnya itulah mereka.
Mereka melihat Lisa berjalan kembali keruangan tamu kemudian kembali menegur Caroline dan Santoso. Caroline dan Santoso kembali menonton televisi, selang 30 menit kemudian Kevin membuka pintu dan mengambil mengambil kotak kue dan menyerahkan satu bungkus kepada maminya "ini kue untuk mami..."
Caroline tersenyum senang sambil menjawab "terima kasih anak mami..."
Kevin mengangguk kemudian berjalan kearah dapur dan membuka pintu kulkas dan menuangkan segelas susu coklat kedalam gelas. Rita keluar dari dalam ruangan dan kemudian membantu Kevin membawa kue dan susu untuk Lisa.
Caroline dan Santoso memperhatikan putranya yang berubah menjadi seseorang yang perhatian. Tidak sibuk hanya dengan dirinya sendiri.
"mami tidak sangka Kevin bisa melakukan hal manis seperti ini." Caroline tersenyum bangga melihat Kevin
"sudah paham kan...biarkan mereka dengan dunia yang mereka bangun saat ini. tugas kita sebagai orang tua adalah mengawasi mereka, memastikan mereka hidup dengan baik."
Caroline mengangguk.
"ada hal yang perlu diambil hikmah dari semuanya. Lisa perlu menjadi hebat, tidak hanya karena masa lalunya, tapi juga karena kecelakaan Kevin beberapa waktu yang lalu. Bagaimana jika Kevin sadar lebih lama sedangkan Lisa sudah hamil. Pasti cerita akan berbeda kalau Lisa bukan seorang karir. Anak mereka akan mengalami hal yang sama seperti kehidupan Lisa dulu. Tapi jika melihat sekarang, papa yakin anak mereka akan hidup lebih baik dari Lisa yang dulu."
Caroline bersandar dipundak suaminya "bukankah harta kekayaan Lisa dan kita sangat banyak. Cucu kita akan hidup senang walau Lisa tidak bekerja."
"kita harus melatih Lisa menjadi lebih hebat dari sebelumnya. Karena uang bisa habis, bisnis bisa hancur, tapi kepintaran dan keahlian akan kekal selamanya dalam diri seseorang" Kata Santoso dengan optimis
__ADS_1