Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
Berdebat


__ADS_3

Sebelum Lisa masuk kedalam mobil, Frans menelan ludah seolah memberi kode kepada Lisa agar berhati-hati.


Tapi Lisa tidak paham maksud bahasa tubuh Frans. Dan ketika Lisa masuk kedalam mobil, belum melihat Kevin aura dingin sudah menyebar didalam mobil.


Frans masuk dan duduk di kursi pengemudi.


"Frans, tolong kecilkan AC mobilnya. Sepertinya terlalu dingin",


Frans melihat Lisa dari kaca spion sambil melirik kearah Kevin yang sibuk melihat tab nya


Lisa mengikuti arah pandangan Frans dan benar saja, ada yang salah dimobil ini. Bukan AC yang terlalu dingin, tapi emosi seseorang membuat suasana menjadi sangat dingin.


"ada yang tertinggal, sepertinya aku..turun dulu. kalian duluan saja pulang. Aku akan menyusul " Lisa berbicara  sambil akan membuka pintu mobil.


"kunci pintunya Frans." Perintah Kevin


Dari kaca spion mobil Frans berkata 'maaf' tanpa suara. Frans menekan tombol lock di mobil dan sudah terlambat bagi Lisa untuk kabur saat ini.


Lisa menggigit bibirnya sambil menutup matanya mencoba mengatur nafas dengan teratur.


'keluar dari mulut harimau, malah masuk ke mulut buaya.' sial sekali aku batin Lisa


Frans menjalankan mobilnya, sementara Leo diluar memperhatikan mobil yang dinaiki Lisa. Ia tahu mobil yang digunakan adalah seri limited edition dengan harga yang fantastis. Tapi sepertinya sahabatnya tidak mengetahui hal ini. Lisa tidak terlalu peduli dengan barang-barang bermerek.


Kevin sibuk dengan tab nya.  Sedangkan Lisa melihat kearah luar jendela.


Kevin merasa sudah tidak bisa menahan semuanya didalam hatinya dan langsung berkata "siapa pria tadi?"


"Leo" jawab Lisa singkat dan masih melihat kearah luar jendela


"Kenapa dekat sekali dengannya.?"


"dia sahabat tentu saja akrab."


"kamu tahu tidak ada namanya persahabatan antara laki-laki dan perempuan?" Kevin berbicara sambil membuka kacamatanya.


"jangan terlalu banyak pikiran Mr. K" Lisa  mulai kesal ketika ada orang yang meragukan hubungan persahabatan antara Leo dan dia. Lisa merubah pandangannya kearah Kevin


"kamu sudah menikah." tegas Kevin.


"aku tahu." bantah Lisa


Frans melihat kearah spion. Lisa adalah satu-satunya orang yang berani menjawab semua pertanyaan Kevin dengan intonasi suara tegas dan tidak terlihat takut sama sekali. Frans menelan ludah, suasana mobil yang tadi dingin berubah menjadi panas.


"kamu berpelukan dengan dia. Masih bisa mengelak?" Kevin mulai tidak bisa mengedalikan emosinya.


Lisa mulai terpancing emosi.


"ada yang salah dengan mata  kamu Mr. K"

__ADS_1


"Semua orang melihat."


Lisa bergeser kearah Kevin. "Jika aku tidak salah ingat aku tidak merangkulnya. Tapi dia yang merangkulku".


Lisa mencontohkan dengan merangkul Kevin. "seperti ini."


"bukan seperti ini." Lisa bicara sambil memeluk Kevin.


"tolong kamu bedakan Mr K"


Lisa melakukannya tanpa perhitungan yang matang, jarak yang terlalu dekat bahkan Lisa bisa merasakan nafas Kevin berhembus dilehernya. Lisa menyadari kesalahannya, dia segera mundur dengan cepat kembali ke posisi awal nya.


Lisa menyadari kesalahanya dan berkata : "maaf" sambil memperbaiki poni di dahinya.


Kevin pun gugup dengan tindakan tiba-tiba Lisa, tapi ia berusaha menutupinya dengan memasang kembali kacamata nya.  "hmmh" jawaban yang sangat singkat.


"Aku sudah berteman 10 tahun lebih dengannya. Ketika ada orang-orang yang mencoba menggangguku dia adalah orang yang membelaku. Dia akan selalu berusaha membantuku dengan caranya tapi tidak pernah menjatuhkan harga diri ku."


"keluarga nya juga sangat baik kepada kami. Mereka tidak pernah menganggap kamu miskin seperti yang lainnya." lanjut Lisa


Kevin menunduk sambil melihat kearah Lisa "tapi apapun alasannya, aku tidak bisa menerima sikapnya."


"aku tidak minta kau untuk menerima nya. Aku hanya minta kau pahami hubungan kami." jawab Lisa


Kevin menghela nafasnya. Hal ini benar-benar tidak bisa diterima, istrinya dirangkul oleh pria lain. Kontak fisik tidak pantas dimaafkan dan diterima.


"aku minta kau jauhi dia." pinta Kevin


Lisa kesal, dia tidak melakukan perbuatan yang tidak pantas. Hanya berhubungan sebagai sahabat pun salah?


"jadi kamu mau apa?Jujur Aku tidak bisa menerima semuanya."


"aku tahu batasan, aku tahu apa yang baik dan buruk dalam hidupku. Jika memang kamu suami yang baik, pahami istrimu." pinta Lisa.


"kamu belum mengenal dia, setidaknya kenali dia dahulu baru kemudian buatlah keputusan yang bijak."


Frans kembali melihat kearah spion melihat Lisa dan Kevin bergantian.   Kata 'bijak' yang diucapkan Lisa membuat wajah Kevin memerah.


Status meningkat ke siaga dari ancaman. Frans sangat berharap tidak melihat perdebatan suami istri ini sekarang.


"kamu kira aku tidak bisa mengambil keputusan yang bijak?? Kamu ini..... "


Belum siap Kevin bicara suara lambung Lisa bersuara. Kevin terdiam, Frans pun melihat Lisa dari spion.


"maaf... Aku belum makan siang, Leo si playboy itu menyiksa ku dengan setumpuk laporan belum lagi persentase untuk hari Senin semua harus dikerjakan sebelum jam 5 sore." keluh Lisa sambil memajukan bibirnya dengan manja.


"berhenti rumah makan terdekat."


"tidak. Aku mau cepat. Mama membutuhkan ku." Lisa menggelengkan kepala dengan cepat.

__ADS_1


"Berhenti di mini market depan" peritah Kevin


"baik pak..." kata  Frans.


Kevin turun dari dalam mobil dan masuk kedalam mini market.


"kakak ipar, kamu luar biasa." puji Frans.


"kenapa..." tanya Lisa bingung


"dari pagi pak bos benar-benar mengerikan sekali. Semua yang ada didekatnya selalu salah. Laporan yang begitu sempurna juga memiliki celah dimatanya"


"memang ada kejadian apa hari ini dengan bos kalian? Tanya Lisa.


"Semua karena kejadian tadi pagi wajah bos merah padam melihat kakak ipar di rangkul pria lain. Tadi bos mau turun menghampiri kakak ipar, tapi ada telepon dari rumah sakit. Jadi kami buru-buru kembali ke rumah sakit." jelas Frans


Lisa langsung menegakkan posisi duduknya. Karena sibuknya Lisa lupa menghubungi mamanya dan menanyakan keadaan mamanya.  "kenapa dengan mama?" Lisa penasaran


Lisa dengan cepat mengeluarkan handphone nya dan segera menghubungi mamanya.


Tiga kali nada panggilan langsung terhubung.


"mama tidak apa-apa??"tanya Lisa


"mama baru siap makan dan minum obat."


"benarkah.... Mama tidak ada menyembunyikan apapun dari Lisa??"


"tidak. Memang apa yang harus mama sembunyikan?"


"mama sakit saja, Lisa tidak tahu. Apa namanya tidak menyembunyikan sesuatu??"


"mama minta maaf. Sebenarnya mama berfikir tidak mau melanjutkan berobat secara medis."


"kalau tidak berobat bagaimana mama bisa sembuh..."mata Lisa mulai berkaca-kaca.


"bagaimana kalau kita coba berobat alternatif... mama ingin menjalani pengobatan herbal."


"mamaa.... Lisa benar benar keberatan dengan ide mamanya.


"kemoterapi dan operasi sudah tidak mungkin mama jalani sayang."


"kita belum coba cari informasi pengobatan diluar negeri ma..." Lisa mencoba bernegosiasi dengan mamanya.


"di sisa usia mama ini, mama sudah sangat puas dengan kehidupan kita. Kamu sudah menikah dengan pria yang baik dan berada di keluarga yang baik. Almarhum papa kamu juga meninggalkan banyak uang untuk kita. Setidaknya mama tidak khawatir dengan hidup mu dimasa depan."


"Lisa tidak perduli dengan uang dari papa. Lebih baik hidup seperti sekarang tapi tetap bersama mama." Lisa sudah tidak bisa membendung rasa sedihnya suara Lisa bergetar.


"Lisa mau sama mama sampai Lisa tua dan punya anak nanti. Lisa.. Lisa..." Lisa sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Lidahnya kaku.

__ADS_1


Merry diujung telepon sana juga tidak bisa membendung rasa sedihnya. Ia pun menutup telepon dari Lisa.


__ADS_2