
Cara Lisa memandang menarik perhatian Kevin. Kevin melihat kearah pandangan Lisa. Kevin tidak suka dengan cara Lisa memandang pria itu. Kevin memutar tempat duduk Lisa kearah proyektor dan menatap pria itu dengan tajam. Kemudian mengalihkan pandangannya kearah proyektor lagi.
Lisa kembali fokus dengan materi yang diberikan masing-masing perusahaan. Lisa baru mengetahui ketika perusahaan ke 8 memberikan materinya Arkana menyampaikan materinya. Lisa memperhatikan Arkana ketika berbicara, Kevin merasa terganggu dengan pandangan Lisa kepada orang tersebut. Kevin mencolek Lisa, sambil menunjukkan dokumen yang disampaikan oleh Arkana atas nama Home Run Ltd.
Kevin tidak ingin meluluskan perusahaan ini karena pandangan mata Arkana terlihat berbeda kepada Lisa. Lisa dan Kevin tampak berdiskusi kecil. Tapi sebenarnya ini adalah cara agar Lisa tidak memperhatikan pria yang sedang memberikan persentase didepan sana.
Jam 4 sore semua peserta selesai memberikan semua materi. Lisa meregangkan tubuhnya, rasanya sangat melelahkan harus berkonsentrasi selama lebih dari 3 jam di ruangan rapat ini. Kevin tampak sedang berbicara dengan Frans mengenai beberapa berkas yang ada dihadapannya. Sementara peserta yang lain sudah meninggalkan ruangan. Arkana kembali kedalam ruangan rapat dan menyapa Lisa
"aku tidak tahu kalau kamu bekerja disini" kata Arkana.
"ooh... ia. Aku juga." kata Lisa bingung harus berbasa-basi seperti apa didepan teman sekampusnya.
Kevin menghentikan pembicaraannya dengan Frans dan segera berbalik arah melihat kearah Lisa yang sedang bicara dengan pria lain. Baru saja lepas dari pandangannya sebentar sudah ada lebah yang mendatangi bunga miliknya, benar-benar tidak bisa dibiarkan. Kevin memegang dagunya dengan tangan kanannya sambil menatap Arkana tidak senang.
Arkana melihat Kevin dibelakang Lisa dengan perasaan tidak enak, Lisa menoleh kebelakang melihat Kevin yang sedang memantau Arkana.
"perkenalkan, ini Kevin suami ku" kata Lisa sambil melihat Kevin kemudian melihat kearah Arkana.
"sayang, ini Arkana, teman kuliahku yang waktu itu kamu dengar suaranya." kata Lisa dengan jujur sambil melihat Kearah Kevin lagi.
Kevin hanya menaikkan alisnya, matanya yang tajam membuat suasana menjadi sangat tegang antara Lisa, Kevin dan Arkana. Lisa melirik kearah Arkana dan Kevin bergantian, sangat tidak menyenangkan berada pada suasana terjepit seperti ini.
Arkana menyodorkan tangannya untuk bersalaman. Kevin menatap Arkana tanpa ekspresi sama sekali. Ia menatap tangannya kemudian wajahnya secara bergantian.
__ADS_1
Lisa merasa tidak enak, teman kuliahnya diabaikan. Cara Kevin memandang Arkana dengan tidak bersahabat membuat Lisa merasa gerah karenanya. Tapi ia juga tidak bisa memaksa Kevin untuk bersikap lebih baik dengan teman kuliahnya karena bagaimana pun pria ini sangat pencemburu. Jangankan berharap berjabatan tangan, berbicara dengannya pun pasti tidak akan mau.
"aku masih ada kerjaan, sampai jumpa di kampus." kata Lisa dengan sopan kepada Arkana. Ia mengusir Arkana dengan cara yang halus agar dia tidak tersinggung.
"baiklah," kata Arkana sambil menarik kembali tangannya. Ia menjadi canggung karena niat baiknya ditolak mentah-mentah oleh Kevin. Arkana berjalan meninggalkan ruangan rapat. Kevin masih menatap tajam kearah punggung Arkana sampai pintu ruangan tertutup.
"kalian pergi dahulu." kata Kevin kepada Frans dan Angel. Dengan cepat tanpa berkata apa-apa, Frans memberikan kode mata kepada Angel agar cepat berjalan keluar ruangan. Lisa membuang nafasnya dengan panjang, akan ada sesuatu tidak menyenangkan sekarang.
Ketika Frans akan menutup pintu, Kevin berkata "pastikan tidak ada yang masuk kedalam ruangan sebelum aku keluar dari sini. PAHAM." penekanan kata Paham cukup dimengerti Frans kalau bosnya sedang terbakar api cemburu. Frans mengangguk sambil melihat Kevin. Ia berdiri diluar pintu sambil menempelkan kupingnya di pintu. Dan memberi kode jari telunjuk dibibirnya agar Angel tidak bersuara. Angel menelan ludah, ia belum terbiasa dengan Kevin yang memiliki emosi meluap-luap. Sudah beberapa kali ia dimarahi oleh Kevin karena menganggap tidak cukup baik dalam bekerja.
Lisa berusaha bersikap tenang sambil menyusun berkas yang berserakan di mejanya. Kevin menatap Lisa dan menumpukan kepalanya pada kepalan tangan kanannya. Lisa pura-pura tidak melihat Kevin yang sedang memperhatikannya.
Lisa mengulum bibirnya sambil membereskan berkas. Setelah beres, Lisa berdiri hendak meninggalkan ruangan rapat. Kevin memegang tangan Lisa "mau kemana??" tanya Kevin
Kevin mengerutkan alisnya "kamu mau nonton dengan siapa??" tanya Kevin
"HEI,,,,, Mr K. dengan siapa lagi, tentu saja dengan kamu. Kamu kira aku berdandan seperti ini untuk apa??"
Senyum Kevin mengembang diwajahnya yang tadi terlihat kesal. Dalam hati Lisa merasa lega, bicara sembarang ternyata berdampak sangat baik bagi emosi Kevin.
"aku belum sempat untuk memesan tiket, baju ini tadi dipilih mami untuk ku. Katanya kamu pasti akan menyukainya." jelas Lisa
Senyum Kevin semakin lebar diwajahnya yang memang sudah sangat tampan. "kenapa kamu tidak beri tahu aku??"
__ADS_1
"heiii Mr K, untuk apa aku menceritakan padamu. Tadi pagi mami menghubungi aku, dan dia menyarankan aku ke Salon langganan mami, aku sudah menghabiskan uang darimu sangat banyak. Bagaimana ini.." Wajah Lisa menjadi sedih. Ia masih tidak rela menghabiskan uang begitu besar hari ini.
Kevin tersenyum, "tidak masalah. Kamu tidak pernah pakai, uang didalamnya masih sangat banyak." Kevin bicara sambil menunjukkan sisi egois dalam dirinya.
"masalahnya, aku lupa memesan tiket nonton karena ternyata ke salon menghabiskan waktu yang cukup lama. Aku buru-buru kembali kekantor, jadi lupa memesannya." Aku akan minta Angel memesan tiket dulu. Kata Lisa sambil berdiri lagi. Ia sangat ingin menghindari pria ini dulu. Pria ini ketika sedang cemburu akan menjadi manusia serigala. Diam dan mengintai musuhnya. Menunggu waktu yang tepat untuk menangkap dan membunuhnya hidup-hidup.
Kevin menahan Lisa lagi, Lisa memalingkan wajahnya sambil menutup erat matanya sesaat. Saat ini ia sedang melakukan white lie. Jika ketahuan oleh Kevin, hidupnya bisa terancam. Mendengarkan ia marah berjam-jam akan membuat kupingnya menjadi panas dan otaknya mendidih.
"biar aku saja." kata Kevin. Kevin berdiri sambil menggandeng tangan Lisa keluar ruangan rapat. Frans yang masih menguping tidak bisa mendengarkan apapun dari luar sana. Karena mereka berdua tidak bertengkar. Frans terkejut ketika Kevin mendorong pintu ruangan rapat keluar dengan Lisa sambil bergandengan tangan.
"pesankan tiket nonton untuk kami," kata Kevin kepada Frans
"tidak perlu, kita pesan melalui aplikasi saja. Aku pastikan dulu jadwal film yang tayang hari ini." kata Lisa.
Frans semakin mengidolakan Lisa, kakak iparnya memang sangat baik dalam menolongnya dari Kevin. Frans tidak pernah tahu Kevin suka menonton apa, jika salah pesan bisa-bisa pria itu akan memarahinya seharian.
"aku kekamar mandi dahulu." kata Lisa. Kemudian berbalik lagi "tasku ketinggalan diruangan rapat"
"biar aku saja." Kevin kembali masuk kedalam ruangan rapat mengambil tas dan ponsel Lisa yang masih terletak dimeja. Kebetulan ponsel Lisa bergetar panggilan masuk dari Caroline.
"halo sayang...." sapa Caroline dengan ramah.
"mami....." jawab Kevin ketika sudah keluar dari ruangan rapat.
__ADS_1
Darah Lisa berdesir kencang ketika Kevin terlihat menjawab panggilan dari ponselnya dan menyebut kata 'mami..'