Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
menjalankan rencana


__ADS_3

Utomo, Rajak dan Fatina sudah menunggu Lisa di ruang tamu. Mereka terlibat pembicaraan yang serius sehingga tidak menyadari kehadiran Kevin dan Lisa. Lisa turun dan gendongan Kevin dan bergabung dengan pembicaraan mereka. Kevin sangat menyukai ide yang disampaikan Rajak mengenai keamanan pada lantai 2 dan 3. Ia menyarankan agar diberikan pagar agar ketika anak-anak bermain aman. Mencegah adanya anak yang terjatuh dari lantai atas.


Harus ada tempat evakuasi apabila terjadi kebakaran atau bencana alam. Semuanya harus dipikirkan dengan baik. Bangunan yang didirikan bukan hanya sebagai rumah huni untuk anak-anak yang terlantar. Tapi juga merupakan tempat yang hangat dan aman bagi siapapun yang tinggal didalamnya.


Rajak juga menyarankan menggunakan panel tenaga surya untuk listrik ditempat ini kelak. Selain lebih hemat biaya juga lebih ramah lingkungan. Lisa menatap kagum kepada Rajak. Sungguh sangat  disayangkan Sabrina dan keluarga membuat bisnis keluarga Rajak terhenti. Lisa yakin jika Rajak masih menjalankan usahanya, sudah pasti akan sangat maju. Lisa merasa panti asuhan ini akan aman memberikan tanggung jawab kepada Rajak. Kondisi Lisa tidak memungkinkan dirinya untuk bolak-balik ke desa bunga untuk melihat perkembangan pembangunan panti asuhan inj.


"Pak Utomo, kedepannya untuk masalah pembangunan saya akan memberikan wewenangnya kepada ayah saya. Mungkin saya akan kemari lagi, tapi mungkin tidak akan sering karena sekarang saya sedang hamil. Jika ada hal yang harus didiskusikan kita bisa melakukan rapat dengan video agar lebih mempermudah koordinasi diantara kita." kata Lisa


"aku minta untuk rumah ini ditutup dari akses ke tempat ini. Kalau bisa dibuat jalur khusus jika kami ingin kesana secara diam-diam untuk memastikan apakah anak-anak dijaga dengan baik dengan perawat anak. Saya ingin rumah ini seolah tidak ada kaitan dengan panti asuhan. " sambung Kevin


"bukankah mereka pasti tahu kalau ayah dan ibu tinggal disini"  kata Lisa


"pasti mereka akan mengetahuinya, maksudku adalah agar tidak ada kesenjangan terlalu besar antara mereka dengan kita." jelas Kevin


Lisa diam dan berusaha mencerna pemikiran Kevin, jujur ia tidak setuju dengan Kevin menutup akses dari rumah ke panti asuhan. Tapi sarannya untuk membuat jalan pribadi khusus untuk melakukan audit secara tiba-tiba Lisa sangat setuju dengan hal itu.


"masuk akal." kata Rajak


Lisa mengerutkan keningnya, kenapa ayah malah menyetujuinya, bukankan saran Kevin terkesan arogan?? Lisa tidak berbicara untuk semua penolakan dalam hatinya. Ia hanya melihat kearah Kevin dan Rajak secara bergantian. Berharap ada penjelasan yang masuk akal untuk semuanya.


"bukankah terlihat aneh??" kata Fatina mewakili pikiran Lisa

__ADS_1


"Tidak, bagaimana pun ini adalah rumah pribadi dan disana adalah tempat untuk anak-anak yang harus kita lindungi. Ini adalah rumah bagi kita dan disana adalah rumah bagi mereka. Kita ambil jalan tengah. Rumah ini terlihat megah memang, jika bisa mohon bantuan pak Utomo untuk merubah tampilan depan rumah terlihat sederhana. Kemudian tembok disamping dan belakang yang mengarah ke tanah panti asuhan dibuat lukisan minta yang menarik untuk anak-anak. Sehingga terlihat menyenangkan ketika dipandang mata orang yang melihatnya." jelas Rajak dengan panjang lebar.


Penjelasan Rajak lebih masuk akal bagi Lisa dibandingkan perkataan Kevin yang bisa membuat orang berpikiran buruk kepadanya. Lisa mengangguk setuju dengan ide yang diberikan Rajak.


"bagaimana dengan ide ayahku.... " tanya Lisa kepada Utomo


"kita bisa lakukan make over bagian depan rumah, karena tadi saya lihat dari depan bangunan ini terlihat memang sangat sederhana. Tidak ada yang mencolok dan sama sekali tidak terlihat mewah" kata Utomo dengan lugas


"benarkah??" Lisa tidak percaya karena ia tidak melihat dengan jelas bagian luar "aku keluar dahulu. Lisa bangkit dari tempat duduknya dan melihat dari luar. Memang benar, rumah ini terlihat bertingkat dua dan tidak terlihat besar. Tapi setelah masuk kenapa terlihat sangat besar dan mewah. Lisa mengingat bangunan luar sama dengan yang dahulu, tidak ada perubahan sama sekali.


Lisa melihat kearah Kevin "jelaskan.."


Lisa sangat suka dengan perkataan Kevin. Tapi ia memilih tidak mengungkapkannya hanya senyuman yang bisa diberikannya untuk menjawab semua kesenangan hatinya mendengarkan penjelasan Kevin


"berapa biaya kira-kira untuk membangun semuanya."


"rencana awal hanya ratusan juta, tapi karena ada permintaan tambahan paling banyak 1 miliyar akan menghabiskan biaya."


"waah...  suami...." Lisa melihat kearah Kevin dengan penuh harap.


"tagihkan semuanya kepadaku. Hari senin jumpai aku di kantor, asisten pribadiku akan mengatur semua pengeluarannya."

__ADS_1


"tidak,,,,tidak,,,," Lisa dengan cepat menolak.


"kita lakukan bertahap saja." jawab Rajak.


"bagaimana caranya??' tanya Lisa


"bukankah di tanah belakang ada ladang jeruk dan sayur.., Kita bisa menjual itu untuk biaya tambahan. Bukan kah Sun Group punya usaha mini market dan supermarket. Bisakah aku menggunakan akses itu nak??' tanya Rajak kepada Kevin


Lisa sangat kagum dengan keseriusan Rajak yang sudah memikirkan usaha  berjalan seperti ini. Lisa kemudian melihat kearah Kevin penuh harap lagi,,,, Kevin orang yang punya jaringan luas. Akan sangat mudah jika bisa bekerja sama dengannya


"bisa, aku akan menghubungi Frans, kita bisa bertemu lagi untuk membicarakan hal ini. Bagaimana jika hari Selasa kita bertemu di kantorku??" tanya Kevin kepada Rajak.


"baik lah nak, aku rasa itu ide yang sangat bagus. Senin pagi ayah akan berangkat ke kota A bersama ibu." jawab Rajak


"baiklah...begitu saja. Ayah dan ibu menginap saja dirumah kami. Nanti akan ada supir yang menjemput kalian disini." kata Lisa melihat kearah Rajak dan Fatina


"dan pak Utomo Selasa kita bertemu lagi di kantor, dengan final rancangan bangunan beserta dengan estimasi biaya. Perjanjian kontrak kerja akan langsung kami berikan begitu kami menerima rancangannya. Bagaimana??" tanya Lisa kepada Utomo.


"terima kasih semuanya. Minggu depan  kita banyak tugas yang harus dikerjakan.  jadi mohon untuk kerja samanya." Lisa membungkukkan tubuhnya dihadapan semua orang sebagai tanda penghormatan kepada semua orang yang akan terlibat dalam cita-cita Lisa.


Lisa menatap kearah rumah dan tanah kosong disamping rumahnya. Belum berdiri bangunan, tapi hati sudah sangat senang, jantungnya berdetak cepat dan darahnya berdesir senang. Di pelupuk mata Lisa sudah bisa membayangkan rumah untuk anak-anak kemudian kebun buah dan sayur, taman bermain untuk anak-anak. Lisa tidak sabar dengan semua ini. Semoga semua bisa berjalan dengan sesuai rencana. Batin Lisa penuh harap berdoa.

__ADS_1


__ADS_2