
Mata Lisa berkata-kaca mendengar perkataan Khay, Pria ini sudah bekerja keras untuk keluarganya. Meninggalkan semua yang dimilikinya saat itu demi ambisi seorang wanita yang ingin memilikinya. Lisa menggenggam eat-erat tangan Kevin. Selama ini ia merasa kehidupannya sangat berat, tapi ada yang lebih berat cobaan hidupnya. Lisa merasa sangat bersyukur saat ini berada di keluarga dan pasangan hidup yang tepat.
"apa kakak sudah bicara dengan Sabrina??"
"sudah..... dia tetap sama menganggap aku berselingkuh padamu. Sudah aku jelaskan aku dan kamu hanya cinta sepihak saja. Tidak ada kaitannya dengan mu dan sama sekali kamu tidak pernah membalas perasaanku setelah kita bertemu kembali. Tetap saja dia tidak percaya.
"kakak sudah bicara dengan orang tua kakak dan orang tua Sabrina??"
"orang tuaku sudah mengetahuinya, mereka tidak terkejut sama sekali dan sudah bersiap dengan semua hal yang akan terjadi dalam kehidupan mereka. Kalau orang tua Sabrina....aku sudah menghubungi mereka dan mereka mengatakan terserah dengan keputusan kami berdua. Jika memang masih bisa dipertahankan mereka berharap kami jangan sampai putus." Khay kembali melamun.
Kevin masih melihat tangan Lisa yang memegang tangannya. Kevin paham, Lisa pasti merasa dirinya sama dengan Khay. Kevin memindahkan tangan Lisa dipangkuan nya. Istri tersayangnya sangat sedih sekarang, bagaimanapun ia harus menghibur dan membantu orang yang membuatnya sedih seperti ini.
"untuk sementara kalian boleh tinggal di rumah kami didesa bunga, aku akan memberikan alamatnya kepadamu. Silahkan menginap disana untuk beberapa hari. Ingat ya beberapa hari." Kevin menekankan kata beberapa hari agar pria didepannya sadar kalau saat ini ia hanya memberikan tumpangan, bukan memberikan rumah itu kepada mereka.
Lisa memeluk lengan Kevin dan menyandarkan kepalanya dipundak suaminya itu "terima kasih sayang.."
Wajah tegas yang ditujukan kepada Khay mendadak menjadi tersenyum sangat manis ketika melihat Lisa. "apapun asal kamu senang, akan aku lakukan."
"terima kasih atas bantuan anda pak Kevin." Khay tersenyum lega.
"tidak masalah. Segera lah pulang kembali, aku akan meminta asisten pribadiku memesankan tiket pesawat untukmu. Sementara, sampai keadaan tenang kalian tinggallah disana." kata Kevin
Wajah Khay yang tadi tersenyum mendadak tanpa ekspresi apapun. Matanya melihat kearah belakang Kevin dan Lisa dengan serius.
"aku tahu kamu pasti menemui mereka untuk meminta bantuan dari selingkuhan mu..."kata Sabrina
"aku minta kamu jaga ucapan mu...Sudah 3 kali ini kamu membuatku kesal. Jangan sampai kita saling menggunakan kekuatan masing-masing untuk saling menjatuhkan. Jika hal itu terjadi, pasti kamu tahu dimana akhirnya nasib bisnis keluarga kalian." ancam Kevin
"kenapa kamu lebih membela orang yang jelas-jelas mencintai istrimu."
__ADS_1
"aku tidak membelanya, aku hanya menggunakan akal sehat ku untuk menilai mana yang benar dan yang salah." bela Kevin
"aku rasa masalah ini adalah urusan kamu dan aku, tidak ada hubungannya dengan mereka." Khay angkat bicara
"KAMU DIAM" bentak Sabrina
Suara Sabrina yang sangat kuat membuat orang sekitar memperhatikan mereka, termasuk Leo dan Cindy yang baru masuk ke hotel setelah selesai berjalan-jalan ke London Eye. Leo yang melihat ada Lisa ditengah-tengah pertengkaran pasangan kekasih itu menjadi tidak tenang. Ia segera mendatangi Lisa dan Kevin.
"tidak bisakah kalian bicara dengan baik-baik....suara kalian memenuhi seluruh hotel ini. Benar-benar memalukan, Lisa, ayo kembali keruangan." Leo menarik tangan Lisa yang masih menggenggam tangan Kevin.
"kamu jangan ikut campur" kata Sabrina
"aku adalah pamannya, kamu berteriak didepan keponakanku itu sudah salah. Dan aku tidak menerimanya." jawab Leo dengan lugas.
"kenapa kalian semua membelanya... apa hebatnya dia..."
"kamu sudah salah menilai orang, Lisa itu adalah istriku, keponakan Leo dan juga teman kuliah mantan tunangan mu. Kami bukan membelanya tanpa alasan. Kamu yang berbicara tanpa bukti dan hanya mengikuti emosi mu saja. Aku tidak akan membawa masalah ini dalam hubungan kerja sama perusahaan kita. Aku harap kamu bisa pahami semuanya." Kata Kevin sambil berjalan meninggalkan Sabrina yang masih berdiri mengepalkan tangan
Kevin, Leo, Lisa dan Cindy berdiri menunggu pintu lift terbuka. Leo melihat kearah restoran pria tadi masih menunduk melihat arah bawah meja. Sabrina terdengar masih memarahinya habis-habisan.
"bukankah dia senior kita ketika kuliah??" tanya Leo
"ya..."
"kenapa wanita itu seperti itu dan kenapa pria itu tidak pergi saja meninggalkannya??"
"rekeningnya dibekukan oleh wanita itu. Ia tadi meminta bantuan kami untuk......"Lisa belum siap bicara, Leo berjalan kembali kearah restoran.
"kamu ikut aku.." kata Leo dengan nada perintah.
__ADS_1
"kamu,,,," Sabrina tidak percaya dengan apa yang terjadi dihadapannya. Seseorang dengan berani membawa orangnya pergi begitu saja dihadapannya.
Leo tidak bicara lagi dan berjalan kearah lift diikuti oleh Khay. Frans terlihat didalam lift ketika meraka akan naik keatas.
"mau kemana??" tanya Kevin
"mau menyampaikan informasi, tiket untuk pak Khay tersedia pak, hanya tinggal memastikan pak Khay mau pilih jam penerbangan yang mana.." jawab Frans.
"bantu pak Khay untuk hari ini di kamarmu ya.. tolong layani dia dengan baik." kata Kevin
Leo melihat Kevin dari pantulan pintu lift, ia kira pria ini tidak peduli dengan Khay. Ternyata pemikirannya salah.
"aku kira kamu tidak memperdulikan orang yang memerlukan bantuan" kata Leo
"Paman kecil...bagaimana pun hidup harus saling membantu. Agar hidup bisa lebih tenang." jawab Kevin
"baguslah jika begitu. Tapi kenapa kamu tidak memesankan kamar sendiri untuk pak Khay ..."
"Sabrina ini berbeda. Kalau bersama dengan Frans ia akan aman...'' Kevin menjawab dengan penuh percaya diri.
"kakak senior jangan khawatir, kami semua pasti akan membantu kakak. Yang penting kakak harus semangat.'
"terima kasih untuk kalian semua. Aku benar-benar berhutang Budi dengan kalian."
"saya baru dapat kabar, keluarga pak Khay sudah dirumah anda didesa bunga."
"benarkah...." wajah Khay yang dari tadi sedih mendadak menjadi senang.
"terimakasih terima kasih semuanya ....." Khay tidak bisa menutupi rasa senangnya. Dimarahi berkali-kali oleh Sabrina tidak masalah bagi nya. Mendengarkan orang tuanya diusir dari rumahnya jelas membuat hati tidak tenang. Ini adalah kesalahannya, rumah itu sebenarnya dibangun dari gaji selama ia bekerja di perusahaan Sabrina. Kesalahannya adalah membuat akta rumah dan tanah atas nama Sabrina.
__ADS_1
Saat itu ia ingin membuat atas nama orang tuanya, tapi Sabrina mengatakan ia ingin Khay membuktikan rasa cinta kepadanya. Karena tidak ingin Sabrina berpikiran yang tidak-tidak, dan ia pun tidak memiliki pemikiran yang buruk dengan hubungan pertunangan mereka. Khay menyetujui semuanya... dan akhir dari semuanya adalah seperti ini... benar-benar sangat mengecewakan.