Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
bukan orang asing


__ADS_3

"sudah selesai... apakah kalian tidak ingin mengatakan kata-kata perpisahan??" kata Pria itu.


Langit semakin gelap, kilat dilangit mulai memberikan cahaya menakutkan di hutan pada saat itu. "aku sudah tidak punya waktu menemani kalian bermain."  Pria itu mengelilingi Patrick, Kevin dan juga wanita itu.


"aku sudah mendengar kata-kata perpisahan dari kamu." Pria itu terlihat memegang pipi wanita itu dengan paksa. Ia meronta menggelengkan kepalanya, sementara Kevin bersusah payah untuk mempertahankan keseimbangan tubuhnya yang sudah sangat kelelahan.


"kalian tidak penasaran dengan wajahku??" tanya pria itu.


"Aku akan memberikan kehormatan kepada kamu, anak kecil yang pura-pura terbaring kehilangan kesadaran." Ia mendekati Patrick dan menghunuskan pedangnya kearahnya. Patrick sangat ketakutan pada saat itu. Kevin berlari kearah Patrick dan menghalangi pria itu menghunuskan pedang dengan tubuhnya.


Rasa hangat mengalir ditubuh Patrick. Suara leher tercekik dari wanita itu menggema dihutan. Cerita hantu yang didengar Patrick tentang Anne Boleyn sekarang tidak terlalu seram dibandingkan dengan teriakan ketika wanita itu menemui ajalnya dan sepupunya yang mati-matian melindunginya. Kedua orang yang tidak bersalah harus berkorban hanya demi seorang penakut seperti dirinya, benar-benar sangat melalukan untuk diperjuangkan. Batin Patrick menangis, kesedihannya memuncak. Patrick mengerahkan sisa kekuatannya untuk berteriak "TIDAAAK......"


Pria itu mengambil batu dan meletakkannya ditangan Kevin. "Sekarang ingat ini.... akulah orangnya...." Pria itu membuka penutup wajahnya.... "kamu....." kata Patrick terakhir yang diingat Patrick sebelum ia kehilangan kesadaran.


****


Semua diruangan itu terdiam mendengar cerita Patrick, benar-benar terhanyut dengan perasaan sedih untuk bertahan hidup. Patrick terdiam, kemudian berdiri dan mundur kebelakang sambil melihat kearah Roy.....


"kamu......kamu...." Patrick menjadi histeris ketakutan. Ia berlari kebelakang Kevin.


"dia....dia...." Patrick terbata-bata sambil menunjuk kearah Roy. Kevin tidak mengerti maksud Patrick. Kevin dari tadi terlihat mengedip-ngedipkan matanya sambil menggelengkan kepala berusaha agar tetap tersadar dan menghilangkan rasa sakit yang mulai menyerang kepalanya.

__ADS_1


Kepala Kevin pusing tidak tertahankan, ia berusaha menahan sakit kepalanya sejak Patrick mulai bercerita tentang masa lalu mereka. Sebagian bayang-bayang berlari ditengah malam dengan perasaan ketakutan mendengar seseorang mengejar dengan pedang panjang yang diseret kan ke tanah. Suasana takut ketika kematian akan menyambut mereka dengan suka cita.


Pada saat itu Kevin bukannya tidak takut sama sekali, ia tahu kalau sepupunya seorang yang penakut tapi selalu menunjukkan sikap seolah ia adalah seorang pemberani. Tidak ada cara lain baginya selain berusaha menutupi rasa takutnya agar mereka berdua bisa bertahan melewati semua ini. Tubuh Kevin pun sebenarnya bergetar hebat menghadapi ketakutan seperti ini. Bagaimana pun mereka adalah anak - anak yang masih berumur 15 tahun. Bertahan dengan keadaan yang mengerikan seperti itu sangat luar biasa.


Kevin mendadak hilang kesadaran, pengawalnya segera membawa  Kevin beristirahat dikamar nya. Lisa menemani Kevin dengan perasaan sedih bercampur dengan khawatir, keringat Kevin membasahi keningnya, rambutnya seketika seperi orang yang baru selesai keramas. Sepertinya Kevin mengalami mimpi buruk.


Lisa duduk ditepi tempat tidur sambil mengelap keringat yang membasahi wajah Kevin. Kevin sepertinya semakin dalam masuk kedalam alam bawah sadarnya, Lisa sangat takut dengan Kevin yang seperti ini, wajahnya menjadi pucat pasih. Seorang yang terkenal dingin dan pemberani tidak mungkin dalam waktu singkat menjadi seorang yang penakut.


Lisa berbaring disebelah Kevin, sambil berbisik... "aku disini, kamu tidak perlu takut.  Aku ada disini menemanimu."  Lisa menyandarkan kepalanya di dada Kevin dan menepuk dadanya dengan lembut.


"kamu adalah seorang pemberani, apapun yang terjadi waktu dulu bukan salah kamu. Wanita itu pasti punya alasan kenapa berkata seperti itu. Bukan salah kamu dia meninggal dunia, bukan salah kamu sayang..." Air mata Lisa menetes di sudut matanya. Walau Lisa masih sangat penasaran dengan akhir cerita masa lalu Kevin dan Patrick. Kevin adalah yang terpenting sekarang.  Santoso dan pihak kepolisian pasti akan membereskan sisanya.


Baju Kevin mulai basah, Lisa baru selesai mengganti baju Kevin ketika Caroline datang melihat keadaan Kevin.


"dia masih tidur, tadi Cindy sudah memeriksanya. Kata Cindy kemungkinan besar alam bawah sadarnya sedang kembali ke 20 tahun yang lalu."


Caroline mencium kening Kevin "maafkan mami sayang, seandainya mami tetap bersikeras tidak memberikan ijin untuk kamu. Pasti semua hal ini tidak akan terjadi."


Lisa mengusap lengan Caroline "semua hal yang terjadi pasti mempunyai arti tertentu dalam hidup kita, seperti yang pernah mami katakan kepadaku. Pasti membuat kita lebih kuat dan lebih baik menjalani hidup. Mami lihat Kevin adalah orang yang kuat, dia pasti bisa melewati semuanya."


Caroline menatap Lisa dan memeluknya "terima kasih nak.... tolong jaga Kevin. Mami dan papa pergi dahulu, ada urusan yang harus kita selesaikan di kantor polisi."

__ADS_1


Lisa mengangguk dan tidak menanyakan apa yang terjadi, walau hatinya sangat penasaran dengan apa yang terjadi didalam sana setelah ia meninggalkan ruangan itu.


Lisa menghubungi Frans, memintanya membatalkan jadwal rapat dirinya dan Kevin. Baru tenang sebentar, Kevin kembali seperti orang yang cemas berlebihan. Lisa memeluknya lagi dan menenangkannya. Kevin kembali tertidur dan peristiwa itu terjadi berulang-ulang. Lisa menjadi sangat mengantuk karena semalaman harus terjaga dengan semua permasalahan ini. Benar-benar malam yang sangat panjang.


Kevin tiba-tiba berteriak dan terbangun dari tidurnya. Lisa yang masih terlelap dalam tidur langsung terbangun mendengar suara Kevin.


Nafas Kevin memburu. Keringat bercucuran dan bajunya sudah basah kembali. Lisa memeluk Kevin "tenanglah sayang...tidak apa-apa...ada aku disini." Lisa menepuk perlahan pundak Kevin.


Lisa masih merasa nafas Kevin naik turun, Kevin memeluknya dengan sangat erat.  "aku adalah seorang pembunuh.. bagaimana ini..."


perkataan Kevin membuat jantung Lisa berdetak dengan cepat. Ia memang mendengar Patrick bercerita Kevin melindunginya kemudian terdengar suara seseorang tercekik setelah itu cerita terhenti. Apa yang terjadi dengan wanita itu dan siapa orang yang membunuhnya masih merupakan tanda tanya besar.


Lisa merasakan ada tetesan air hangat menembus kulit pundaknya. "bukan salah kamu...itu adalah salah pria itu. Bukan salah kamu sayang...berhentilah menyakiti dirimu sendiri."


"aku mendengarkan suara kematiannya, aku mendengarkannya...."


"tenanglah, tidak apa-apa. Semua sudah terjadi, kamu sudah menjadi pahlawan bagi Patrick, jadi jangan menyakiti dirimu seperti ini."


Kevin tidak berkata apapun, tapi Lisa merasakan detak jantung Kevin yang berdetak dengan sangat cepat.


Lisa melepaskan pelukannya dan menempelkan keningnya di kening Kevin. "kamu bukan Tuhan yang bisa menentukan jalan hidupnya sesuai dengan yang kamu inginkan. Kamu hanya seorang Kevin Santoso. Seorang suami, anak dan bos yang keras kepala tapi baik hati. Karena kita adalah manusia, maka kita hanya bisa menjalankan kehidupan kita sebaik yang kita bisa. Hidup kita pasti diberikan pilihan oleh Tuhan, dan aku yakin kamu sudah menentukan pilihan terbaik pada saat itu. Begitu juga wanita itu, dia juga sudah mengatakan kepadamu jika terjadi sesuatu kepadanya...maka ia tidak akan menyalahkan dirimu. Ia juga beranggapan itu adalah jalan terbaik yang Tuhan berikan kepada dirinya."

__ADS_1


Lisa menjelaskan panjang lebar kepada Kevin. Pandangan Kevin tertuju kepada bibir istrinya yang bisa dengan ajaib mengeluarkan kata-kata terbaik untuk menghibur dirinya.


__ADS_2