
Tepuk tangan dan ucapan selamat para karyawan sedang berada diruangan rapat sangat ramai. Lisa merasa malu, seharusnya tidak ada yang mengetahui pernikahan mereka, setidaknya untuk teman kantor.
Tangan Kevin yang hangat mendarat sempurna di pundak Lisa, ya.... drama dimulai, setidaknya sesuai novel yang dibacanya Lisa harus menunjukkan kegembiraan nya.
Lisa mengangkat wajahnya dan tersenyum. Lisa berdiri sambil membungkukkan badannya.
"terima kasih atas doa dari semua nya." Kevin berbicara sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lisa.
"hari ini adalah hari terakhir istri saya bekerja di kantor ini. Terima kasih untuk semua orang yang sudah menjaganya selama ini. Baiklah, kita rapat kita akhiri sampai sini. Silahkan lanjut bekerja."
Kevin pergi meninggalkan ruangan rapat bersama para anggotanya. Diikuti dengan para divisi lain yang kembali keruangan mereka masing-masing. Sedangkan Lisa dan Leo masih duduk diruangan rapat
"kamu katakan suami kamu mafia." Leo berkata dengan polos.
"aku saja baru mengetahui pekerjaan nya hari ini."
"aku rasa kepalamu terbentur sesuatu. Bagaimana mungkin menikah dengan seorang yang tidak kamu ketahui latar belakang nya. "Leo memegang kepala Lis
"aku rasa memang seperti itu." Lisa menyingkirkan tangan Leo dari kepalanya
"kamu benar akan mengundurkan diri .."
Lisa mengangguk. "mama mau kedesa bunga."
"apa tidak salah... bukankah disana tempat tinggal kalian dulu. " Leo tidak percaya dengan keputusan yang dibuat Lisa.
"jadi kalian kesana...." Leo berusaha meyakinkan dengan apa yang didengarnya.
"ia bawel. Bising banget sih. Aku sudah besar, Pasti akan melindungi mama dengan baik "
Leo mengangguk. "hubungi aku kapanpun kamu perlu bantuan."
"oke bos." Lisa memberi hormat kepada Leo.
Sampai diruangan, teman kerja yang lain ikut mengelilingi Lisa mengucapkan selamat. Tidak lama berselang semua karyawan menerima email dari perusahaan bahwa semua karyawan mendapat jamuan makan siang dihotel tidak jauh dari kantor mereka. Semua bersuka cita dengan jamuan itu.
Frans mengetuk pintu ruangan kerja Lisa. Semua mata menuju kepadanya.
"Kakak ipar, maaf. Bu, ditunggu pak Kevin diruangan nya." Frans lupa, bagaimanapun ini dikantor, harus bisa membedakan sikap.
"sebentar lagi aku kesana, sekarang lagi serah terima pekerjaan dulu."
"baik, saya permisi" Frans berbicara penuh hormat dihadapan banyak orang, sangat berbeda ketika mereka bicara berdua.
Lisa berpamitan dengan teman satu teamnya. Hal terberat adalah berpisah dari sahabat yang paling bawel, Leo. Lisa berjabatan tangan dengan Leo. Mata Lisa berkaca-kaca.
__ADS_1
"terimakasih." ucap Lisa tulus.
"berbahagialah.."
"itu sudah pasti"
Lisa berjalan keluar dari ruangannya, ia berbalik arah melihat teman satu ruanganya melambaikan tangan kepadanya. Bagaimanapun mereka adalah orang yang mengajari Lisa banyak hal. Dan Lisa sangat berterima kasih akan hal itu.
Lisa menghubungi Kevin. Walau sudah bertahun-tahun bekerja di kantor ini, tapi Lisa sama sekali tidak pernah keruangan direktur. Dua kali nada tersambung, panggilan langsung diangkat.
"kamu kenapa belum kemari..."
"aku tidak tahu dimana ruangannya." bisik Lisa.
Lisa sangat malu kalau sampai orang tahu kalau dia tidak tahu dimana ruangan CEO.
"tunggu sebentar." Kevin menutup panggilan dari Lisa.
Lisa berdiri didepan pintu lift dibelakang nya masih setia menemani 2 pengawal.
Frans keluar dari dalam lift dan menyapa Lisa. "kakak ipar ... mari ikut dengan ku " Frans akhirnya kembali seperti dirinya yang biasa.
"kenapa tadi kamu formal sekali ..."
"bos besar akan menelan ku hidup-hidup kalau aku berani bersikap informal ditempat kerja."
Lisa berbisik kepada Frans. "aku bisa minta tolong...."
Frans mendekatkan telinganya kearah Lisa sambil mengangguk.
"tolong suruh mereka pergi, mereka selalu mengikuti kemana saja aku pergi. Benar-benar tidak nyaman." bisik Lisa
Suara Lisa yang berbisik masih bisa didengar oleh 2 orang dibelakangnya. Mereka saling bertukar pandangan dan tersenyum tipis.
"kalau masalah ini sangat sulit kakak ipar, aku tidak tidak bisa membantu kakak." bisiknya kepada Lisa.
Lisa lebih mendekatkan diri kepada Frans "tolonglah ....mereka benar-benar membuat orang takut kepada ku " pinta Lisa
"Kakak tahu bagaimana bos kita. Tolong kasihani kami, mereka juga kasihan kalau tidak menjalankan perintah bos." jelas Frans.
Pintu lift terbuka, bertepatan dengan Kevin sedang berdiri didepan pintu lift. Kevin melihat kearah lift, kemudian kembali berbincang pada tamunya, tapi matanya tidak bisa lepas dari pemandangan didepannya.
Emosinya keluar seketika, posisi wajah Frans dan Lisa terlalu dekat. Rasa cemburu mulai membakar hatinya.
Karena pandangan Kevin yg tertuju pada lift. Semua orang yang ada disekitarnya ikut melihat Lisa dan Frans sedang berjalan keluar dari pintu lift. Tanpa menyadari bahaya sedang mengintai.
__ADS_1
Lisa menyapa tamu Kevin. Tanpa rasa bersalah, ia berdiri disebelahnya. Kevin berusaha meredam rasa kesalnya pada Frans dan Lisa yang berani bermesraan didepannya.
Lisa fokus dengan menyapa para tamu Kevin yang merupakan para direktur yang lama. Tapi Frans yang sudah lama bekerja dengan Kevin paham betul kalau bosnya sedang marah. Frans yang berdiri dibelakang Lisa berbisik
"kakak ipar sebaiknya berhati-hati dengan bos."
Lisa menoleh kebelakang. sambil menaikkan alis nya. Ia tidak paham maksudnya.
Para tamu masuk kedalam lift dan pintu mulai tertutup. Hanya tersisa Frans, Kevin,Lisa, 2 orang sekertaris wanita dan 2 orang pengawal.
"sepertinya kamu benar-benar senggang belakangan ini. Serahkan laporan hasil meeting tadi 1 jam kedepan paling lama sudah dimeja." perintah Kevin
Lisa dan Frans saling memandang. Tidak ada yang merespon karena perintahnya ambigu. Tidak menyebutkan nama. Merasa tidak ada yang merespon Kevin semakin emosi
"Frans ... " cara memanggil namanya bagai sebuah perintah kalau tidak dilaksanakan harus bersiap dengan hal buruk.
"baik pak."ujar Frans sambil membungkuk. Lagi-lagi sial. Aku harus lembur lagi malam ini, batin Frans.
Kevin menarik tangan Lisa dan membawanya ke ruangannya.
"kamu apa tidak terlalu kejam kepadanya...." Lisa protes kepada Kevin
"itu hasil perbuatannya sendiri" jawab Kevin
"memang dia ada salah apa...." tanya Lisa
"kamu masih bertanya salah apa..." Emosi Kevin naik ke level tinggi.
"kamu terlalu dekat bicara dengan dia. Apa menurutmu itu bukan masalah...." jelas Kevin.
'apa berbisik saja juga salah. Kenapa semua hal tidak penting selalu salah Dimata pria ini.' batin Lisa.
"kalau kamu panggil aku hanya untuk berdebat, sebaiknya aku pergi saja." Lisa kesal dan menghempaskan tangan Kevin
.
"duduk dan makan dulu."
"tidak perlu. Liat kamu selalu memerintah dan marah-marah sudah membuat aku kenyang." Lisa melipat kedua tangannya dan masih berdiri diruangan kerja Kevin
Kenapa wanita ini susah sekali mengalah.. Keras kepala nya benar-benar diatas rata-rata.
"Lisa ...." lagi-lagi pria ini mengeluarkan jimat cara memanggil yang disukai Lisa.
Lisa memandang tajam kearah Kevin. Sambil memajukan bibirnya.
__ADS_1
'Baru kali ini ada orang yang berani melawannya, menatapnya dengan pandangan tajam. Kevin merasa gadis ini benar-benar lucu dan menarik. Terkadang menunjukkan sikap dewasa dan sosok wanita mandiri'
Tapi ketika berada pada posisi rapuhnya, ia terpuruk tidak berdaya, kemudian memeluknya dan menangis seperti anak kecil. Tapi masih bisa menantang siapapun yang mengganggunya.