
Kevin bertanya kepada Lisa "jika aku terkena tuntutan hukum dari membunuh bagaimana...."
"tentu saja kita akan keluarkan kuasa hukum terbaik dari Sun Group" Jawab Lisa dengan penuh percaya diri.
Kevin melepaskan keningnya dari kening Lisa "jika kita kalah bagaimana??"
"Setahu aku ada batas waktu pengaduan suatu kasus. Tidak tahu bagaimana kalau hukum di Inggris karena wilayah hukum terjadi di negara ini. Aku rasa hukum Uni Eropa lebih mengutamakan analisis logika. Seorang yang membunuh karena melindungi dirinya sendiri atau orang lain bisa bebas dari hukuman apabila memang terbukti tujuannya adalah kebaikan. Berbeda dengan hukum di negara kita." jelas Lisa
"jadi...." Kevin merasa jawaban Lisa belum sesuai dengan keinginan hatinya.
"jadi...kalau memang harus menerima hukuman sepertinya tidak mungkin. Kalaupun harus menerima hukuman, ya mau bagaimana lagi harus dijalani." jawab Lisa lugas
"apa kau tidak akan melirik pria lain??"
Mata Lisa berputar memikirkan jawaban dari pertanyaan Kevin... Satu tangan Lisa memegang ujung dagunya. Kemudian memandang Kevin dan kembali memutar matanya.
"jawaban jujur??" tanya Lisa lagi
"tentu saja.." jawab Kevin penasaran
Lisa mengangguk sambil berkata "maaf... tapi sulit bagiku jika kita terpisah tidak mungkin aku tidak melirik pria lain" jawab Lisa jujur,
Kevin menyipitkan matanya "berani sekali kamu melakukan hal itu??" jawaban Lisa tidak memuaskan Kevin.
Lisa mencubit pipi Kevin "aku adalah wakil direktur Growth Ltd. Aku mengurus internal perusahaan, dan kamu tahu sendiri di kantor ada banyak karyawan pria. Belum lagi rekan bisnis. Bagaimana cara aku berkomunikasi dengan mereka jika tidak melirik atau melihat mereka."
Kevin melepaskan tangan Lisa dari pipinya dan bertanya lagi "jika hukuman sangat lama...apa kau akan menungguku??"
__ADS_1
"hei Mr K.... seberapa pantas kamu harus aku tunggu.''
Kevin mengerutkan keningnya "aku suamimu, tentu saja kamu harus menungguku. Apa kamu akan mencari pria lain?"
"Sudah pasti,kalau ada masalah karyawan aku akan menghubungi manager HRD yang seorang pria, jika ada urusan dengan keamanan tentu saja aku akan menghubungi manager Keamanan yang juga seorang pria." Lisa menjawab dengan diplomatis.
''maksudnya apakah kamu akan selingkuh??"
Kali ini Lisa yang mengerutkan keningnya "kenapa kamu bertanya seperti itu??"
"jangan bertanya balik,jawab saja pertanyaan aku " protes Kevin.
"Hai Mr K,,, kamu kira aku wanita seperti apa??" Lisa mulai kesal dengan pertanyaan berandai-andai dari Kevin.
"maafkan pertanyaan ku, aku hanya ingin memastikan semuanya."
Jawaban Lisa kali ini benar-benar memuaskan Kevin. Kevin menghadiahi Lisa ciuman di kening. Lisa dan Kevin tersenyum bersama. Kemudian Lisa berkata "sungguh aku tidak pernah ada niat untuk selingkuh, apa kamu tahu kenapa?"
"kenapa?? tanya Kevin balik sambil tersenyum,
"karena kamu lebih kaya dari pria mana pun yang aku kenal saat ini. Maka dari itu aku bilang, sungguh sangat bodoh jika aku selingkuh dari kamu. Bisa-bisa aku kehilangan aset yang sudah diubah atas namaku." Lisa menjawab dengan penuh percaya diri.
Kevin memijat keningnya, jawaban istrinya memang pintar dan memang terlihat seperti Lisa yang sebenarnya.
Lisa tertawa terbahak-bahak melihat Kevin yang terlihat sangat kecewa dengan jawaban Lisa. "kamu sangat lucu.. sudah lah. berhenti bertanya yang tidak-tidak."
"Lisa aku adalah seorang pembunuh, apakah kamu tidak takut hidup bersama denganku??"
__ADS_1
Lisa tersenyum tipis sambil mengalungkan tangannya dileher Kevin dan berkata "Suamiku, aku juga seorang pembunuh. Aku gagal melindungi anak kita dan dia meninggal dalam kandunganku."
"Lisa...itu kasus yang berbeda..."
"apa bedanya dengan dirimu, kamu tidak sengaja melakukan perbuatan itu aku juga. Jika kamu menganggap kamu membunuh wanita itu, maka pasti juga aku adalah tersangka pembunuh anak kita karena gagal melindunginya."
Lisa memegang dada Kevin "didalam sini ada peristiwa pahit yang pernah kamu alami." Lisa kemudian menunjuk dadanya dengan telapak tangannya "didalam sini aku juga menyimpan banyak peristiwa pahit dalam hidupku. Karena kita sama-sama pernah terluka, marilah kita bersama-sama menyimpannya didalam hati kita. Tidak apa-apa jika tidak bisa terobati, setidaknya kita tidak berusaha untuk melupakannya. Mari kita sama-sama berusaha menerimanya dan memperbaiki diri kita kedepannya. Apakah kamu bersedia melewati semua masa lalu daan menjalani masa depan bersama denganku??" tanya Lisa
"apa kamu mau melamar ku untuk kedua kalinya??" tanya Kevin dengan serius kepada Lisa
"haahh..sudahlah... kamu merusak nuansa romantis yang sedang aku ciptakan" Lisa cemberut.
"maafkan aku..." kata Kevin tulus dan mencium pipi Lisa.
"hari ini kamu luar biasa, banyak kata-kata yang keluar dari mulut kecil ini dan membuat hatiku tenang karenanya."
lanjut Kevin.
Mata Lisa berkilat-kilat mendengar perkataan Kevin "apakah aku sudah cocok menjadi seorang dosen??"
Kevin tersenyum "cocok sekali"
Lisa memeluk Kevin, perasaan hatinya sudah membaik, tadi jujur ketika melihat Kevin berbicara dengan dokter Roy mengenai tersangka yang melakukan teror Lisa sangat takut melihat Kevin dengan senyuman jahatnya. Ia seolah melihat Kevin adalah sosok diluar nalarnya, Lisa merasa tidak begitu mengenal Kevin.
Kevin dan Lisa saling menatap, Lisa memperbaiki rambut Kevin. "kamu pasti sudah melewati masa yang sulit."
Kevin mengangguk "aku ingat semuanya sekarang... malam itu 19 mei, Patrick memaksaku ikut ke dalam hutan. Itulah awal mimpi buruk. Aku dan Patrick berlari tanpa arah karena malam hari dan hanya cahaya bulan purnama yang menyinari langkah kami. Ketika itu kami bersembunyi dibalik batu besar yang ditumbuhi semak-semak. Aku hanya berpikir untuk menyelamatkan Patrick dulu, karena kami memang tidak tahu lokasi yang kami datangi. Aku menyelinap perlahan-lahan karena aku sudah tahu kalau pria pembunuh itu sudah mengetahui posisi kami. Aku hanya mencoba mengelabui dia agar tidak menganggu Patrick. Aku berlari seperti orang gila, aku sangat takut waktu itu." jelas Kevin
__ADS_1
Lisa menarik kepala Kevin dan bersandar di bahunya sambil mengelus lembut rambutnya. Kevin melanjutkan ceritanya. "ketika itu, aku tidak jauh berbeda dengan Patrick yang tidak mendengarkan saran ku untuk mencari pertolongan dengan menelusuri sungai yang tidak jauh dari posisinya saat itu. Aku juga mengabaikan petunjuk dari seorang wanita yang tiba-tiba berlari di sebelahku. Dia memintaku untuk berlari ke sebelah kiri, tapi aku memilih kearah sebelah kanan. Saat itu aku tidak merasa takut sama sekali, aku hanya merasa heran kenapa bisa ada seorang wanita ditengah hutan sepeti ini. Dan ketika kami berpisah matanya terlihat sangat sedih. Tidak lama setelahnya aku tertangkap oleh penjahat itu.''