
Lisa berjalan kebelakang Kevin dan mengalungkan tangannya di leherer Kevin dari belakang, Lisa melompat secara tiba-tiba. Naluri Kevin menangkap kaki Lisa dan melingkarkan di pinggangnya. Lisa tersenyum puas
"aku lelah, gendong aku sampai kamar." Lisa bicara sambil meletakkan kepalanya dipundak dan bibirnya menempel dileher Kevin.
"aku juga lelah..." kata Cindy sambil melompat di pundak Leo mengikuti cara Lisa.
Caroline menatap Santoso, Santoso pun membungkuk dan Caroline naik di pundak suaminya
"mami juga sangat lelah."
Lisa menaikkan kepalanya melihat kesamping kanan dan kirinya, Caroline dan Cindy menirukan gaya Lisa bermanja-manja dengan sempurna. Mereka saling bertukar pandangan dan saling tersenyum puas.
"kenapa belum jalan???" protes Lisa, Cindy dan Caroline secara bersamaan.
"baik istriku,,,," Kata Kevin
"perintah istri adalah perintah langit' kata Santoso sambil mulai berjalan.
Leo tertawa mendengar perkataan Santoso.
"kenapa kamu tertawa? bukan kah itu ungkapan yang bagus??" kata Cindy kesal.
"tidak sayang... aku hanya kagum, ternyata pak Santoso bisa mengatakan hal yang sangat luar biasa," Leo tersenyum terpaksa sambil mulai berjalan.
"sayang apa kamu makan sesuatu tadi??" tanya Santoso
"'iya,,, tadi kami bertiga makan kue kemudian minum teh susu dan coklat hangat dikamar Lisa." jawab Caroline jujur.
"pantas saja...." jawaban serempak dari para suami tanpa rencana sebelumnya membuat para istri menegakkan kepalanya dan menatap tajam suaminya dari sisi samping.
"apa maksudnya itu??" tanya Lisa sambil mencubit pipi kiri Kevin.
"tidak ada maksud apa-apa sayang... Maksudnya adalah pantas saja emosi kamu sangat stabil Biasanya ketika kamu kesal hanya tiramisu dan teh susu yang bisa merubah emosimu menjadi lebih baik" jelas Kevin membela diri.
Giliran Cindy menanyai Leo, "kamu apa maksudnya..."
__ADS_1
"ampun sayang...tidak ada maksud apa-apa... hanya... hanya..." Otak Leo berpikir keras mencari alasan yang tidak menyinggung istrinya
"hanya apa...." Cindy tidak sabar menunggu jawaban Leo
Leo mendapatkan ide sambil tersenyum puas dengan jawaban yang terlintas di otaknya "aku hanya bingung, kamu tidak ada meminta sarapan pagi.."
Cindy mengangguk pelan...memang selama berbulan madu hal yang paling sering dikatakan Cindy adalah mari kita sarapan dibandingkan mari kita makan siang. Jawabannya masih bisa diterima dengan baik. pikir Cindy
"kalau kamu,,,," tanya Caroline kepada Santoso. Sesekali ia juga ingin seperti menantunya yang berjiwa muda suka mengintimidasi.
"kita sudah lama bersama istriku, tidak perlu ada rahasia diantara kita. Aku hanya khawatir ada lemak di pinggang mu."
Dari ketiga pria yang sedang berjalan di lorong hotel ini hanya suaminya yang terlalu jujur. Dan kejujuran suaminya menyakiti hatinya didepan para generasi muda ini. "kamu ingin menjatuhkan harga diriku didepan mereka??" kata Caroline memprotes jawaban Santoso yang tidak sesuai keinginannya.
"sayang, bentuk tubuhmu seperti gitar spanyol. Aku paling suka dengan bentuk tubuhmu. Aku paling tidak suka melihatmu berolah raga dengan keras setelah makan makanan berlemak. Ketika kamu kelelahan, hatiku akan sangat sedih, karena kamu adalah cintaku." rayu Santoso.
Caroline yang tadi terlihat kesal dengan mengerutkan keningnya langsung tersenyum puas dengan jawaban Santoso. Caroline memberikan ciuman di pipi suaminya.
Patrick yang ikut berjalan dibelakang mereka bertanya "apakah bagi pria sesulit itu menikah dan menyenangkan istri??"
"kenapa tidak ada yang menjawab pertanyaan Patrick??" tanya Lisa penasaran. "Suami, jawab dulu..." tanya Lisa sambil menatap Kevin.
"hmm.mmh. Sulit menjelaskan kepada Patrick yang masih kecil." jawab Kevin berusaha menghindar dari jawaban yang salah dan tidak memuaskan istrinya.
"seorang suami pasti ingin membahagiakan istrinya. Mungkin terkesan membual, tapi kami senang melakukannya." jawab Santoso.
Caroline mencium pipi Santoso lagi dan memeluknya dengan erat. "aku sangat mencintaimu" puji Caroline
Kevin dan Leo melirik kearah Santoso dengan tajam, pria tua ini benar-benar sudah terlatih bagaimana cari mencari muka didepan istri. Para generasi muda dibuat terlihat bodoh dihadapannya.
Lisa dan Cindy cemberut melihat keharmonisan dan suasana romantis yang ditebarkan pasangan
"apakah kamu iri kepada mereka??" tanya Lisa kepada Cindy
Cindy mengangguk lemas "sangat iri." jawab nya singkat.
__ADS_1
"sepertinya aku akan memikirkan 100 kali jika ingin menikah" kata Patrick sambil mengerakkan kepalanya kearah kiri.
"memang kami terlihat seperti orang yang sedang tertekan sewaktu-waktu karena desakan dari istri. Tapi percayalah menikah tidak seburuk yang kau bayangkan." kata Leo.
Leo berhenti sejenak, ia lupa istrinya adalah seorang psikolog ternama. Membuat istrinya marah, maka ia akan menerima petuah selama 1 jam lamanya. Memang mulutnya terkadang susah sekali dikontrol harus bicara apa. Menyesal tiada guna,,, batin Leo
"kamu sudah tahu..." kata Cindy mengepalkan tangannya didepan Leo.
"maaf sayang...aku tidak bermaksud berkata seperti itu." jelas Leo
"sudah la,,,, aku sangat lelah hari ini, jadi kamu aku maafkan. Jika kamu mengulangi hal yang sama aku tidak bisa menjamin keselamatanmu." ancam Cindy
"baik istriku,,, terima kasih atas kebaikannya." Leo akhirnya bisa bernafas dengan lega.
Kevin yang melihat Leo, merasa lucu dan menahan senyumnya. "kamu jangan terlalu senang, kamu juga belum tentu lepas dari ku." kata Lisa yang sudah memejamkan matanya.
Mereka berpisah dilantai 10 dan masuk kedalam kamar masing-masing. sampai didalam kamar Lisa turun dari pundak Kevin dan langsung masuk kedalam kamar mandi. Lisa mandi dengan cepat hanya 5 menit ia langsung keluar dan rambutnya masih basah tergulung handuk.
Selesai Lisa keluar, Kevin langsung bergantian masuk kedalam kamar mandi. Sementara Lisa mengeringkan rambut dengan hair dryer, pikirannya melayang ke peristiwa tadi yang dialami Lisa. Dalam satu malam, begitu banyak hal yang terjadi dan banyak hal yang diketahuinya dalam waktu kurang dari 24 jam saja.
Lisa berjalan kearah jendela kamar dan melihat salju turun dengan lebat sepertinya tadi malam, ketika Lisa dan Kevin berjalan pulang dari sungai Thames salju mulai turun, dalam waktu singkat jalanan sudah putih tertutup salju. Sangat cantik, ini pertama kalinya Lisa melihat pemandangan yang menarik seperti ini.
Kepala Lisa pusing karena tidak tidur semalaman, ia berbaring ditempat tidur dan menyelimuti seluruh tubuhnya. Tidak lama setelahnya Kevin terdengar mengeringkan rambut dan berbaring disebelah Lisa.
"sayang...kamu sudah tidur??"
"hmm" jawab Lisa dengan malas
"apa kita tidak sebaiknya melakukan hal itu dulu...." tanya Kevin dengan ragu
"tidak. kamu bilang lingkar mataku sudah seperti panda. Membiarkanku tetap terjaga sama dengan membuat mataku seperti mata hiu yang hitam semua hanya sedikit tersisa putihnya." protes Lisa dengan mata yang terpejam.
"kamu pasti sudah sangat mengantuk. Bukan mata hiu, tapi mata ikan paus sayang." jelas Kevin
"hmm..sama saja. sama-sama ikan. Berhentilah bicara," kata Lisa kesal
__ADS_1