
Kevin dan Lisa bersama-sama membuka pintu kamar inap Patrick. Didalam sudah ada Santoso dan Caroline beserta 3 orang tua dan sepasang suami istri yang sepertinya adalah orang tua Patrick. Tangan Kevin menjadi berkeringat, Lisa melihat tangan Kevin masih menggenggam tangan Lisa dengan erat.
Lisa menggosokkan tanggannya ke lengan Kevin,agar ia tidak terlalu gugup. Kevin menoleh kearah Lisa, keringat mulai keluar dari kening Kevin. Lisa tersenyum sambil mengusap keringat didahinya. Suhu yang begitu dingin, bagi Kevin menjadi sangat panas. Lisa menatap Kevin dengan penuh cinta "ada aku disini,,,, "
Kevin tersenyum tipis melihat Lisa dan berjalan mendekati tempat tidur Patrick. Patrick sudah terbaring selama hampir 20 tahun. Lisa melihat wajah Patrick yang seperti orang tidur, wajah khas eropa tercermin diwajahnya.
Keringat Kevin semakin mengalir, pandangannya mulai kabur. Bibir Kevin semakin pucat.
Kevin duduk disebelah tempat tidur Patrick, kepalanya semakin terasa. Lisa memeluk Kevin dari belakang "tenanglah" kata Lisa meletakkan tangganya dipundak Kevin.
Kevin memejamkan matanya, berusaha menenangkan perasaannya.
"bergerak...." teriak Lisa sambil menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Suara Lisa memecah kesunyian ruangan inap. Semua orang melihat tangan Patrick yang bergerak ketika dipegang Kevin. Perlahan-lahan Patrick membuka matanya, orang tua Patrick memanggil dokter untuk memastikan kondisinya.
Sebenarnya ini bukan pertama kali Kevin mengunjungi Patrick. Ketika ingatan Kevin kembali ia pasti akan mengunjungi Patrick. Tapi setiap kali sudah datang dan Patrick menunjukkan gerakan sadar, Kevin jatuh pingsan dan melupakan semua kejadian itu lagi. Selalu berulang, Cindy sebagai psikolog pendamping Kevin sudah berkali-kali menemaninya melewati semua ini, tapi selalu berakhir dengan hal yang sama. Ketika bersama Lisa, keberaniannya muncul, walau masih menunjukkan rasa takut setidaknya Kevin masih bisa mengatasinya.
Dokter datang melakukan pemeriksaan, Patrick sudah membuka matanya dan melihat keseliling. Semua memperhatikannya dengan tatapan khawatir. Setelah dilakukan pemeriksaan secara menyeluruh, diketahui kalau Patrick sudah sadar total dan tidak ada gangguan dengan kesehatannya. Dokter keluar dari kamar inap Patrick, semua mata tertuju kepada Patrick.
Patrick masih memegang tangan Kevin, matanya berkaca-kaca. "maafkan aku..." katanya terbata-bata.
Kevin menggelengkan kepalanya "aku masih tidak tahu apa yang terjadi pada saat itu, mimpi yang aku ingat adalah kita berdua berlari ditengah gelap malam. Sepertinya kita ada dihutan." kata Kevin
Patrick mengahapus air matanya "seandainya saat itu aku tidak memaksamu untuk mengikutiku. Hal itu tidak akan terjadi." Patrick terlihat sangat terpukul dan depresi.
Cindy mendekati Patrick dan menenangkannya dengan memegang pundaknya "sudah....kita lanjut nanti saja ceritanya, kami semua sudah berkumpul disini untuk menemani kalian berdua. Kita akan membahasnya setelah kondisi kesehatan kamu pulih. Bagaimana???"
__ADS_1
Patrick tersenyum melihat Cindy. "kamu..... si kelinci?" tanya Patrick
"hei.... kamu baru sadar sudah mau buat kerusuhan??" jawan Cindy sambil tertawa
Suasana diruangan kembali tenang dan kehangan terlihat bertebaran diudara. Saudara yang tadi berdebat dengan Kevin sudah berada didalam ruangan. Dalam waktu singat rasa dendam yang tersimpan dalam hati segera mencair dengan sadarnya Patrick. Semua bersuka cita, saling berpelukan dan mengangis haru.
Patrick kehilangan 20 tahun cerita dalam hidupnya, satu persatu mereka menceritakan apa yang terjadi dalam hidup mereka. Patrick tertawa senang mendengar cerita berbeda dari masing-masing anggota keluarga besarnya. Lisa yang dari tadi berdiri dibelakang Kevin sudah duduk dipangkuan Kevin sambil melingkarkan satu tangannya dileher Kevin, pipinya pegal karena terlalu banyak tertawa hari itu. Kevin perlahan-lahal menjadi sangat tenang, tubuhnya yang tadi penuh dengan keringat kali ini sudah tenang dan terlihat menikmati suasana kekeluargaan disekitarnya.
Ditengah-tengah pembicaraan mereka datang dokter Roy. Lisa mengerutkan keningnya melihat dokter Roy yang muncul ditengah-tengah mereka. Lisa melihat Kevin meminta penjelasan.
"Pria tua ini masih ada hubungan saudara dengan papa. Aku lupa menjelaskannya, pak tua ini adalah anak angkat kakek dan nenekku. Jadi kalau dia bersikap seenaknya kepadaku karena dia memang memang pria tua."
Dokter Roy menatap tajam Kevin "berhenti bicara yang tidak penting manusia serigala.".
"Kevin, bersikap baiklah dengan papa Roy." kata Santoso.
"mana mungkin Roy menindasmu kalau kau tidak lebih dahulu menindasnya." jelas Santoso
Roy tertawa menyambut kemenangan dan dukungan dari Santoso. Seluruh anggota tertawa melihat Roy dan Kevin yang selalu berdebat tentang hal yang tidak penting.
"aku kemari untuk memberikan info kalau Patrick harus melakukan fisiotrapi. Ia harus belajar berjalan kembali dan kita harus memantau perkembangan safar motoriknya." kata Roy.
"Apakah dia sudah bisa pulang??" tanya orang tua Patrick.
"hari ini sudah bisa pulang. Tapi lebih baik besok saja. Hari ini kita pantau dulu kondisinya, karena bagaimana pun ia sudah tertidur selama 20 tahun." jelas Roy
__ADS_1
Patrick memandang Lisa yang dari tadi duduk dipangkuan Kevin.
"dia istriku, namanya Lisa."
Patrick nampak terkejut mendengar nama Lisa, "apakah dia orang yang selalu kamu ceritakan itu??" tanya Patrick
"ya...." jawab Kevin dengan bangga.
"aku turut senang, akhirnya kamu menemukan cinta sejatimu." kata Patrick dengan senyum
Lisa tidak paham yang mereka bicarakan, karena mereka berbicara dengan 2 bahasa berbeda. Bahasa Prancis dan Belanda. Tapi Lisa paham kalau mereka sedang membicarakan dirinya. Lisa memandang Kevin berharap bisa mendapatkan apa yang sedang dibicarakan mereka.
Kevin paham dengan arti tatapan mata Lisa "dia mengatakan aku sangat beruntung bisa menemukan kamu cinta sejatiku."
Lisa tersenyum bahagia dan menyandarkan kepalanya didada Kevin.
Lisa memandang mereka satu persatu, sangat menyenangkan memiliki keluarga seperti ini. Bisa merasakan berkumpul bersama, saling berbagi cerita satu sama lain. Tertawa bersama, menangis bersama. Walau ada perselisihan tapi mereka tidak memutuskan tali persaudaraan mereka. Kesalah pahaman yang selama ini terjadi, tidak membuat satu sama lain menjauh. Para orang tua selalu bersikap bijak dalam menenangkan emosi masing-masing orang. Saling menghormati para orang tua, dan mendengarkan nasihat yang diberikan.
Lisa melihat Leo, setidaknya ada keluarga yang dimilikinya sekarang. Lisa merasa sangat beruntung karena ada Leo yang akan menjadi orang tua baginya. Bagaimana pun ikatan darah lebih kental dari pada air. Ia pun ingin kelak hubungan keturunannya memiliki hubungan yang baik seperti keluarga Kevin.
Setahun sekali berjumpa dinegara yang berbeda, selama seminggu bertemu dan berlibur bersama. Berbagi kisah satu sama lain selama satu tahun. Berbagi perasaan senang, sedih dan susah bersama. Benar-benar seperti keluarga.
Leo merasa Lisa memandanginya kemudian mendekatinya dan berdiri disamping Lisa sambil bertanya "kenapa??"
"aku ingin kelak kita seperti ini, berkumpul setahun sekali. Saling bertukar cerita dan berlibur bersama. Apakah keluarga kita bisa melakukannya??" tanya Lisa penuh harap.
__ADS_1
Leo mengusap kepala Lisa dengan gemas "apapun yang diinginkan keponakanku adalah hukum bagi keluarga kita."
Lisa tersenyum senang sambil menggengam tangan Leo dan menggoyang-goyangkannya dengan senang...