Hey Kamu... Tuan Kevin

Hey Kamu... Tuan Kevin
dokter cantik


__ADS_3

Santoso datang menghampiri mereka yang masih berada di kebun jeruk. "bagaimana kalau hari ini kita lakukan BBQ di sini? ajak Santoso.


"de bagus, bagaimana nak...? " tanya Lisa


Lisa mengangguk senang.


Perlengkapan segera disiapkan, Lisa tampak senang berkumpul dengan orang tua barunya.


"apa yang ingin kamu lakukan kedepannya?" Tanya Santoso.


Lisa terdiam, Lisa belum ada rencana. Kemudian matanya kembali melihat kehampaan. Pikirannya melayang apa yang aku lakukan kedepannya? Seorang wanita yang memiliki banyak mimpi tiba-tiba kehilangan mimpinya. Bukankah itu hal buruk??


Caroline menyadari juga, kalau saat ini psikologi Lisa masih terguncang. Ia mencubit Santoso pelan. Sambil membesarkan matanya.


"Sayang... kamu mau ikut mama..." Ujar Caroline sambil mengelus rambut Lisa.


"kemana mi..."


"jalan-jalan. Mami selama ini kesepian belanja sendiri, mami ingin keliling ke tempat yang baru sambil mencoba makanan baru yang terkenal"


"Lisa ingin kembali bekerja." ujar Lisa.


"kamu lakukan apa saja yang kamu mau. Akan papa dukung. Kevin itu CEO Grop Sun. Kamu tinggal bilang mau kerja dimana Kevin pasti akan membantu...


"aku sebaiknya jalan-jalan bersama mami." Lisa memotong pembicaraan Santoso. Lisa tidak ingin mendengar nama Kevin saat ini.


"apa papa membuat kamu kesal nak?? maafkan papa." ujar Santoso.


Lisa menggeleng kan kepalanya kemudian bersandar di lengannya. "Lisa tahu papa perhatian dengan Lisa."


Caroline mengelus kepala Lisa dengan lembut "anak pintar."


Kevin duduk memperhatikan mereka bertiga, benar-benar sempurna sebagai keluarga.


"boleh izinkan aku pergi beberapa hari sendiri..."


Caroline menjatuhkan piring yang dipegangnya. Ia tidak percaya Lisa akan mengatakan hal itu. Pasti ada yang salah dengan perkataan mereka.


"apa kami ada berbuat atau mengatakan hal yang salah padamu nak..." tanya Caroline hati-hati.


"Tidak mi...aku hanya ingin menenangkan diri."


"apa berada didekat kami membuat mu tidak tenang?" ujar Kevin.


"Kevin.!" Santoso membentaknya.


"ikut dengan ku." ujar Kevin sambil membawa Lisa dipundaknya.


"Kevin jangan kasar dengan Lisa." Caroline iku marah kepada nya.


"kami pergi."


"turun kan aku" ujar Lisa menggoyangkan kakinya dan memukuli pundak Kevin.


Santoso menghadangnya. "papa tidak suka kamu seperti ini. Lisa saat ini sedang terpukul. Coba pahami".

__ADS_1


"Kevin tahu pa. Kami kembali ke apartemen. Dia harus menemui seseorang. Aku tidak bisa membiarkan semua berlarut-larut. Temui kami disana." Kevin berjalan memasukkan Lisa kedalam mobil dan memakaikan sabuk pengaman.


Lisa membuka sabuk pengaman nya. "lock the door" perintah Kevin kepada supir. Pintu terkunci.


Lisa memukul pintu itu.


"keluarkan aku." bentak Lisa.


Kevin diam dan tidak merespon. Lisa mengepalkan tangannya dan memukul Kevin. Kevin hanya diam tidak membalas.


"aku sudah mengirim tujuan kita." ujar Caroline kepada supir.


Santoso dan Caroline mengikuti mobil Kevin dari belakang.


Mereka tahu Kevin terbiasa membuat keputusan sendiri. Walau keputusan yang selalu dibuat nya berjalan baik, tapi itu berhubungan dengan bisnis bukan sebagai interaksi sosial. Mereka khawatir Kevin hanya akan membuat Lisa makin membencinya.


Santoso menghubungi Kevin.


"kamu jangan seperti ini.' ujar Santoso.


Caroline merebut handphone Santoso, sambil menangis mengatakan "kalau kamu sakiti Lisa, mami tidak pernah memaafkan kamu seumur hidup. Paham kamu" Caroline sangat kesal dengan anaknya.


"hmmmh." Jawab Kevin singkat sambil mematikan teleponnya.


Lisa mulai tenang,ia paham tidak ada gunanya melawan saat ini. Energi nya habis terkuras memukul Kevin. Lisa yang memang baru sembuh dari demam tinggi, mulai merasa nafasnya berat dan pandangan matanya kabur.


***


Sampai ditujuan, Kevin turun dan membuka pintu Lisa. Kevin menggendong Lisa masuk kesebuah kantor praktek dokter. Lisa tidak sempat membaca tempat praktek kerja dokter ini. Lisa mengambil kesimpulan itu karena melihat orang berpakaian seragam dokter.


Kevin menjumpai receptionis didepan pintu.


"aku sudah buat janji dengan dokter Cindy, hubungi ia sekarang."


Suster ini termasuk salah seorang yang tertarik dengan ketampanan Kevin. Ia terpanah sejenak dengan raut wajah memerah.


"tolong segera."


"baik pak.."Suster itu melihat menghubungi Cindy.


"silahkan pak. diruangan kedua." ujar Suster tadi menunjukkan arah ruangan prakteknya.


Santoso dan Caroline sampai ditujuan yang sama melihat tulisan praktek dokter psikologi mereka berdua tenang. Kevin terlihat menggendong Lisa yang sudah lebih tenang.


"syukurlah. Aku sudah berfikir yang tidak-tidak tadi" ujar Caroline.


"kita kembali ke apartemen Kevin saja." perintah Santoso kepada supir. Syukurlah pikirannya sama dengan yang dipikirkan Kevin. Mereka sudah mendidik Kevin dengan tepat.


Suster membantu membuka pintu ruangan. Kevin meletakkan Lisa di kursi pasien. "seorang dokter wanita cantik memutar kursinya kearah depan. Ternyata dokternya sangat cantik.


Rambutnya panjang terurai mengenakan Lipstik berwarna marun membuat wajahnya lebih putih.


"Halo Lisa...."sapa nya ramah.


Lisa hanya tersenyum terpaksa.

__ADS_1


"apa kamu baru menyiksa istrimu.." ujar Cindy yang tiba-tiba berubah melihat Kevin dengan kesal.


"aku keluar." ujar Kevin singkat sambil menutup pintu.


"bukan kah dia sangat menyebalkan??" tanya Cindy


Lisa mengangguk membenarkan pikiran Cindy.


"aku perkenalkan diriku. Namaku Cindy, aku tidak tahu apakah kenal dengan pria tadi anugerah atau musibah." ujar Cindy menunjuk kearah pintu.


"bisa kita berteman?" ujar Cindy sambil mengulurkan tangannya.


Lisa tersenyum lebih tulus kali ini. Cindy tersenyum puas.


Telepon Cindy berdering menunjukkan handphonenya kepada Lisa. Lisa mengangguk memberikan izin Cindy untuk mengangkat telepon. Cindy berbicara dan Lisa yang terbiasa menghafal nomor telepon daripada menyimpan menyadari nomor itu sangat familiar.


Cindy mematikan teleponnya. "dia sepertinya seorang playboy." ujar Cindy.


"boleh aku melihat nomor telepon yang tadi menghubungi mu??"tanya Lisa.


"tentu saja." Cindy memberikan handphone nya dan tidak salah lagi. Itu adalah nomor Leo.


"namanya Leo? "


Cindy mengerutkan keningnya "kamu kenal...."


"kebetulan kenal. "


"dunia benar-benar kecil." ujar Cindy.


"kamu tahu, aku baru menamparnya semalam. Ketika sedang kenalan dia menerima telepon kemudian pergi. Katanya mama pacarnya meninggal dunia." ujar Cindy kesal


"berani sekali dia mengatakan aku ini pacarnya. Selalu saja begini."


Cindy terdiam. "Jadi...."


"wanita yang ditemui nya semalam itu aku."


"benarkah.... Jadi mama kamu....."


Lisa mengangguk.


Semua hal menjadi garis lurus dipikiran Cindy. Ternyata sesuai dengan perkataan Kevin. Istrinya mengalami depresi pasca meninggal mamanya dan Leo pergi menemui wanita ini


Hanya saja untuk mempercepat proses pergi ia mengatakan kalau Lisa adalah pacarnya. Benar-benar kebetulan sekali. Sepertinya akan mudah berinteraksi dengan Lisa.


"kamu siapanya Leo...." tanya Cindy.


"kami... sahabat dan sudah seperti saudara. Dari kecil entah kebetulan atau karena takdir Tuhan kami selalu bersama."


"maksudnya??"


"dari kecil karena kebutuhan ekonomi, aku dan mamaku sering berpindah-pindah tempat tinggal. Dan entah kenapa selalu saja kota tempat kami pindah selalu sama. Bukan kah itu aneh??"


Cindy mengangguk paham

__ADS_1


__ADS_2