Istriku Mantanku

Istriku Mantanku
BAB 105. Buka amplop


__ADS_3

Mirna sangat sedih mendengar ucapan anaknya yang memohon, tapi ia hanya bisa diam, ia tidak ingin memperkeruh suasana. Ardian langsung mengepalkan tangannya, ia mencoba menahan emosinya, ini adalah pertama kalinya ia emosi, karena melihat anaknya yang memohon pada seorang wanita, bahkan itu belum pernah terjadi dalam kehidupan Ardian saat ia masih muda, dan ia juga ingin sekali marah pada Ardi karena memohon seperti sudah tidak memiliki harga diri, hanya demi seorang wanita. Intan ingin sekali menangis, saat melihat dan mendengar ucapan Kaka sepupunya, ia sangat sedih, bahkan kalau benar yang isi dalam amplop itu adalah permohonan minta cerai, ia akan menyalakan diri sendiri, karena Yoga mengambil cuti dengan waktu yang lama, membuat Kaka sepupunya selalu sibuk, hingga menyebabkan Lisa dekat dengan pria lain. Rangga dan Mey juga sangat sedih melihat adegan itu, apa lagi Mey, ia langsung meneteskan air mata, ia benar-benar sangat sedih, karena mengingat keponakannya saat di Inggris dulu, ia selalu menceritakan sosok seorang Lisa, bahkan hampir setiap hari, keponakannya itu selalu curhat tentang Lisa, tapi sekarang rumah tangganya sedang di ambang kehancuran


" Ardi, kau sangat malang, kenapa menjadi seperti ini." batin Mey


Lisa yang mendengar ucapan suaminya, ia hanya mengerutkan keningnya, tanpa menjawab ucapan suaminya, ia tidak pernah berpikir, kalau suaminya itu akan memohon padanya, ia pikir suaminya langsung membuka amplop yang ia berikan, tapi ternyata ia salah, ia harus melihat adegan yang tidak pernah terpikirkan di pikirannya, apa lagi melihat suaminya yang gemetar, membuat dadanya sangat sesak, ia ingin sekali membangun suaminya, tapi ia memutuskan untuk diam


" Kenapa Kaka menjadi pria lemah, apa itu bawaan dari janin yang ada di dalam kandunganku, aku tidak pernah melihat Kaka menjadi pria lemah, bahkan saat salah paham dengan kak Livino, dia langsung menghindariku, tanpa bertanya dulu padaku, tapi kenapa sekarang menjadi seperti ini, dan kenapa aku juga hamil sangat aneh, kenapa aroma tubuh suamiku bikin mual." batin Lisa


Ardi semakin sedih saat ucapanya tidak di jawab oleh istrinya, air mata yang ia tahan saat berpelukan dengan ibunya, sekarang sudah tidak bisa menahannya lagi, air mata itu langsung mengalir deras di pipinya, entah apa kesalahannya ia juga tidak tau, ia sudah berusaha menjadi suami yang baik, bahkan 2 bulan yang lalu ia belajar memasak, agar ia bisa memasak, jika istrinya hamil, lalu nyidam meminta yang aneh-aneh, tapi ternyata itu hanya sebuah angan-angan saja, ia sudah mencoba melakukan yang terbaik untuk istrinya, tapi semua itu sirna begitu saja. Setelah terus saja berpikir, Ardi langsung berbicara lagi pada istrinya


" Sayang, aku mohon tolong jangan tinggalkan aku, aku akan belajar menjadi suamimu yang baik."


Lisa yang mendengar ucapan suaminya, ia ingin sekali tertawa, entah apa yang ada di dalam pikiran suaminya, bahkan suaminya itu belum membuka isi amplop itu, tapi ia sudah memohon lebih dulu, membuat Lisa menjadi sedih dan bahagia. Sedih karena ia melihat suaminya, memohon dengan suara lirih, sedangkan bahagia, ia seolah-olah seperti sedang menjahili suaminya, sebenarnya ia tidak memiliki niat untuk menjahili suaminya, untuk itu ia langsung menyerahkan amplop itu, agar suaminya tidak salah paham, tapi ternyata suaminya masih saja salah paham. Mirna yang melihat anaknya memohon, dan menantunya hanya diam, ia langsung meneteskan air mata, andaikan saja ia tidak menyayangi Lisa, mungkin ia sudah mencaci maki menantunya itu. Lisa yang melihat suaminya menangis ia juga tidak tega pada suaminya, lalu ia langsung berjongkok di depan suaminya, setelah itu langsung menghapus air mata suaminya dengan lembut sambil tersenyum


" Jangan menangis, kau adalah kepala keluarga."

__ADS_1


" Sayang, aku memang kepala keluarga, tapi aku tidak ingin lagi kehilanganmu."


Setelah mendengar jawaban suaminya, Lisa hanya menghela nafas berat, entah sejak kapan suaminya itu menjadi penakut, bahkan ia tidak berani membuka amplop itu, melainkan suaminya hanya menangis seperti anak kecil, lalu Lisa langsung menyuruh suaminya untuk membuka amplop itu


" Bukalah amplop itu, itu adalah kado yang terindah yang pernah aku berikan padamu, jika terus saja menangis dan tidak membuka amplop itu, mungkin kau akan menyesalinya."


" Tidak, aku tidak mau membuka amplop ini, aku yakin kau meminta cerai padaku, aku tidak akan pernah menandatanganinya, dari dulu mau pun sekarang, kau hanya milikku."


Setelah mendengar jawaban suaminya, Lisa hanya menghela nafas berat, apa lagi sekarang ada kedua mertuanya, ada Tante dan om, dari suaminya, membuat ia juga sangat malu, tapi ia beruntung karena semuanya hanya melihat adegan itu, seperti sedang menonton sinetron, lalu Lisa langsung menyuruh suaminya membuka amplop itu lagi


Setelah mendengar ucapan istrinya, ia pun memutuskan untuk membuka amplop itu, walaupun ia masih sangat ragu-ragu, karena istrinya masih saja berbicara dengan suara dingin. Ardi langsung membuka amplop itu, setelah itu langsung membuka lipatan surat itu, ia langsung membaca isi di setiap kata, ternyata surat itu, adalah surat keterangan kehamilan istrinya, yang baru saja hamil dengan usia 2 minggu. Setelah selesai membaca, ia tidak bisa berkata-kata, lalu langsung meletakkan surat itu di lantai, setelah itu langsung memeluk istrinya dengan erat sambil berkata


" Terimakasih sayang, kau sudah memberi aku kado terindah dalam hidupku, aku benar-benar tidak menyangka, aku tadi hanya takut karena aku melihatmu dengan Arga, dan bahkan aku sudah mencari tau tentang Arga, bahwa Arga dulu pernah mengutarakan perasaannya padamu, membuat aku benar-benar takut."


" Sama-sama kak, aku dan Arga tidak lebih hanya sekedar teman, saat itu Arga mengajakku untuk makan siang, tidak mungkin aku tolak karena kita sudah lama tidak bertemu, aku juga minta maaf, telah membuatmu cemburu."

__ADS_1


" Tidak apa-apa sayang."


Mirna penasaran dengan isi di surat itu, lalu ia langsung mengambilnya di lantai, setelah itu ia langsung membacanya, setelah membacanya, ia sama seperti anaknya, ia tidak bisa berkata-kata, lalu langsung memberi surat keterangan itu pada suaminya. Ardian langsung mengambil surat keterangan itu, lalu ia langsung membacanya, setelah di baca ia sangat bahagia, yang dari tadi ia mencoba menahan amarahnya, tapi langsung hilang seketika, setelah mengetahui menantunya hamil


" Mah, kita bakal punya cucu."


" Iya ayah."


Ardian langsung meneteskan air mata, ia sangat senang, bahkan perasaan itu, seperti saat istrinya hamil. Mirna yang melihat suaminya meneteskan air mata, lalu ia langsung berbicara


" Ayah cengeng, bukan'kah sekarang akan menjadi kakek, kenapa masih seperti saat aku hamil, masih saja menangis."


" Wajarlah, ayah benar-benar sangat bahagia, karena sebentar lagi akan menjadi kakek, ini adalah keinginan ayah dari mereka baru saja menikah, dan sekarang keinginan itu akhirnya terkabul, membuat ayah menjadi cengeng."


Rangga, Mey, dan Intan juga bahagia, ia tidak menyangka bahwa isi amplop itu adalah surat keterangan kehamilan

__ADS_1


__ADS_2