
Pagi hari Lisa bangun lebih dulu, dirinya menatap suaminya yang masih tertidur pulas sambil memeluk tangan dirinya, Lisa mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya, menatap wajahnya dengan seksama, tangan Lisa mengelus pipi lalu ke hidung. Lisa langsung tersenyum mendekatkan wajahnya ke telinga Ardi
" Selamat pagi suamiku."
Lalu Lisa langsung menjauhkan wajahnya. Ardi yang merasa di sentuh pipinya dirinya langsung bangun, tapi dirinya tetap pura-pura tidur, ingin tau apa yang akan di lakukan istrinya, apa akan mendorongnya, tapi ternyata tidak. Ardi mendengar ucapan selamat pagi dengan suara lembut, setelah hampir satu bulan menikah ini pertama kalinya istrinya mengucapkan selamat pagi
" Apa ini benar-benar nyata atau aku masih dalam alam mimpi." Batin Ardi
Lisa masih terus menatap wajah suaminya sambil tersenyum
" Andai saja, kau dulu tidak meninggalkanku, aku sangat bahagia bisa menikah bersama orang yang sangat aku cintai, tapi rasa cinta itu sekarang bercampur menjadi benci, dan takut, benci jika mengingat masalalu kita, aku takut setelah menerimamu lagi, kau akan mengulanginya lagi, kau adalah orang yang bisa membuatku melupakan masalalu aku, tapi kau juga orang yang hampir membuat aku gila, aku ingin sekali mencoba memberikan kesempatan kedua seperti permintaan kak Livino, tapi aku masih ragu, sulit untuk melupakan masalalu itu." Batin Lisa
Lisa langsung mengangkat tangan Ardi yang sedang memeluk tangan dirinya. Lisa mengangkat dengan pelan-pelan takut suaminya bangun. Ardi merasakan kelembutan di istrinya sekarang, dirinya sangat bahagia karena istrinya tidak menggunakan kekasaran pada dirinya. Lisa langsung berdiri setelah memindahkan tangan suaminya. Ardi menarik tangan istrinya hingga tubuh Lisa menindih badan dirinya. Ardi langsung melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Ardi dan Lisa saling menatap, detak jantung keduanya sangat kencang
" Kau mau kemana sayang, tiduran dulu sebentar, aku masih ingin bersamamu."
Lisa tidak menjawab perkataan suaminya, dirinya ingin melepaskan tangan suaminya yang melingkar di pinggangnya
" Biarkan seperti ini sebentar sayang."
Ardi menatap istrinya dengan tatapan tajam yang tidak bisa di artikan
" Apa yang akan bajingan ini lakukan padaku, kenapa Ardi bangun, bukankah tadi aku sudah sangat pelan-pelan mengangkat tangannya." Batin Lisa
Ardi mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Ardi langsung mencium bibir istrinya sekilas
" Morning kiss." Ucap Ardi sambil tersenyum manis di bibirnya
Lisa masih tidak menjawab perkataan suaminya, dirinya masih menatap suaminya dengan tatapan tajam yang tidak bisa di artikan. Ardi langsung menyandarkan kepala Lisa di dada bidang miliknya. Lisa hanya menurutinya tanpa penolakan atau pun suara. Ardi yang merasa istrinya sangat menurut, merasakan kebahagiaan
" Seandainya kau selalu seperti ini Lisa, tanpa penolakan, aku benar-benar sangat bahagia, hal seperti ini adalah hal yang paling aku inginkan dari masa kita pacaran dulu, sekarang aku merasakannya, meski kau menganggapku seperti orang asing." Batin Ardi
" Kak, aku sangat bahagia pagi ini, apa artinya aku sudah benar-benar bisa menerimamu lagi, rasanya sangat nyaman seperti ini kak." Batin Lisa
" Sayang, tolong beri aku kesempatan untuk menjadi suamimu yang baik, kau boleh melakukan apa pun sesuka hatimu, tapi tolong jangan pernah jauhi aku atau pun meminta bercerai dariku." Ucap Ardi dengan lirih
Lisa masih tidak menjawab perkataan suaminya, tetapi perkataan suaminya membuat dirinya sedikit sedih
__ADS_1
" Apa ucapanmu itu benar kak, kau menginginkan kita menjalin hubungan tanpa sedikit pun jarak, tapi tetap saja kau memiliki kesalahan di masalalu, aku bahkan sangat membencimu, kalau aku ingat kejadian itu." Batin Lisa
Ardi tau, istrinya mulai ada keraguan dalam hatinya karena istrinya tidak menjawab pertanyaan dari dirinya, lalu Ardi mencium pucuk kepala istrinya
" Aku tau, kau sangat sulit untuk menerimaku lagi, tapi dengan sikapmu yang lembut seperti sekarang, itu sudah cukup untukku Lisa, meski kau masih menganggap aku orang asing, tapi aku sangat bahagia, kau mau menerima pelukanku." Batin Ardi
" Kak, eh Ardi, aku akan mandi dulu."
Ardi tersenyum setelah mendengar kegugupan istrinya yang memanggilnya, dengan sebutan kak, dan Ardi
" Sebentar lagi sayang, aku masih ingin seperti ini."
" Tapi, sampai kapan, aku terus menyadarkan kepalaku di sini, dan menindihmu, pasti beratkan dari tadi."
Ardi setelah mendengar perkataan istrinya masih dengan suara lembut, membuat dirinya sangat bahagia tiada duanya. Ardi berharap ini adalah awal yang baik dari hubungan dirinya
" Tidak sayang, mana mungkin berat, berat badanmu saja hanya 45,7 Kg."
" Dari mana kau tau, bahkan tidak kurang sedikitpun atau lebih?"
Lisa tidak menjawab perkataan suaminya
" Kau mungkin tau tentangku, tapi kau tidak akan pernah tau siapa Livino, dan ada hubungan aku bersama Livino karena yang kau tau, aku hanyalah kekasihnya." Batin Lisa
" Tentu aku tau segalanya tentangmu Lisa, termasuk hubunganmu bersama Livino, aku sangat tau kau mencintainya, tapi aku tidak peduli itu, aku akan memperjuangkan lagi cintamu." Batin Ardi
Ardi masih melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Lisa masih menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya, dirinya masih merasakan kenyamanan, bahkan sangat nyaman
" Kenapa aku sangat nyaman sekalih, aku merasa seperti tidak punya masalah sedikitpun, di saat aku menyandarkan kepalaku di dada miliknya. " Batin Lisa
Ardi juga merasakan istrinya sangat nyaman di dada dirinya, dirinya hanya tersenyum. Mirna melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 08.40, tapi anak dan menantunya belum saja turun dari kamarnya
" Ayah, kenapa mereka belum turun, bukankah biasanya jam 08.00 sudah turun, apa mereka berangkar lagi yah?"
" Ayah juga tidak tau mah, mungkin saja sedang mesra-mesraan."
Walaupun sudah di jelaskan oleh suaminya, tapi Mirna tetap saja pikiran dirinya mulai kacau, dirinya tau sifat Lisa yang tidak pernah ada kata telat, kata telat Lisa masih bisa di hitung berapa kali dirinya telat bangun. Mirna langsung berdiri lalu melangkahkan kakinya menaiki tangga
__ADS_1
" Mah, kau mau kemana?"
" Aku kuatir dengan Lisa dan Ardi, ayah."
Ardian pun ikut berdiri lalu langsung mengikuti istrinya yang sudah menaiki tangga
" Baiklah, kita lihat saja di kamarnya."
" Iya Ayah."
Ardian dan Mirna menaiki tangga lalu sampai di depan pintu anaknya
Tok-tok. Tok-tok
" Ada orang yang mengetuk pintu lepaskan dulu, aku akan buka pintu dulu."
" Tidak, aku tidak akan melepaskanmu."
Ardi masih melingkarkan tangannya di pinggang istrinya. Karena tidak ada jawaban, Mirna mengetuk pintu lagi
Tok-tok. Tok-tok
" Ayah, kenapa mereka tidak menjawab ketukan pintu aku, apa mereka berangkat pagi-pagi?"
" Tidak tau mah, mungkin saja mereka sudah berangkat."
Mirna langsung membuka pintu lalu melihat rajang yang tidak ada orang. Mirna dan Ardian masuk ke dalam kamar lalu melihat Lisa yang sedang menindih suaminya. Lisa dan Ardi melihat kedua orang tuanya
" Mamah, Ayah." Panggil Ardi dan Lisa berbarengan. Lisa masih di atas tubuh suaminya
" Lanjutkan saja sayang."
Mirna dan Ardian buru-buru keluar kamar anaknya. Ardi hanya tersenyum. Lisa bingung
" Lanjutkan apa yang mamah maksud?"
" Tentu saja lanjutkan sesuatu sayang, masa tidak paham."
__ADS_1