
Ardi setelah mandi dirinya langsung duduk di atas ranjang sambil bola matanya terus saja melihat sekeliling kamar dirinya, rasanya sekarang sudah benar-benar kecewa karena ulah sepupunya yang harusnya pulang dari luar kota itu di sambut dengan sambutan hangat, tapi sekarang di sambut dengan air mata istrinya, apa lagi setelah tau istrinya mengundurkan diri hanya untuk dirinya membuat semakin bersalah pada istrinya
" Lisa, aku hanya berharap kau di rumah mamah tidak menangis lagi, harusnya kau percaya saat kita berpelukan, aku tidak menyentuh Intan sama sekali, tapi kau tidak percaya dan sekarang aku benar-benar tidak mengenal sosok Lisa yang sangat tidak peduli, kenapa kau dengan mudah mempercayai wanita gila itu." batin Ardi
Ardi langsung berdiri lalu dirinya langsung melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu dengan wajah yang masih sangat kecewa, seharusnya sehabis mandi itu berasa segar, tapi sekarang sama sekali tidak merasakan segar siraman air, bahkan berasa benar-benar panas. Setelah di ruang tamu Ardi melihat ibunya yang sedang melamun membuat pikiran Ardi semakin kacau. Ardi tau ibunya itu sedang memikirkan istrinya karena istrinya adalah satu-satunya wanita yang membuat ibunya itu murung
" Mamah."
Mirna yang di panggil oleh anaknya dirinya tidak menjawab panggilan anaknya, tapi dirinya langsung memandangi wajah anaknya dengan tatapan sangat sedih. Ardi langsung berjongkok di depan ibunya, dirinya memegang kedua tangan ibunya
" Mamah, tolong jangan seperti ini, jangan terus memikirkan Lisa."
" Nak, kenapa rumah tanggamu itu seperti air laut yang pasang surut, ada masalah apa dengan kalian berdua? bukan'kah Lisa sudah mencoba belajar jadi istri yang baik untukmu, kenapa Lisa pulang mendadak dan habis dari mana Lisa tadi siang pulang sambil menangis? Nak, mamah tau tidak berhak ikut campur di masalah kalian, tapi hati mamah sangat sakit saat melihat Lisa menangis."
Ardi menatap wajah ibunya yang sangat sedih, harus'kah dirinya ceritakan permasalahan dirinya bersama istrinya atau dirinya hanya diam. Mirna sangat kecewa melihat anaknya hanya menatap wajah dirinya tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut anaknya itu. Mirna juga sadar seharusnya dirinya tidak perlu ikut campur dengan rumah tangga anaknya, tapi perasaan sayang dirinya terhadap menantunya membuat dirinya ingin tau apa penyebab permasalahan anak dan menantunya, dirinya pun akhirnya memutuskan untuk bertanya lagi karena belum mendapatkan jawaban dari anaknya
" Sayang, tolong jangan diam. Mamah tau tidak berhak untuk ikut campur, tapi kalau kau cerita pada mamah apa permasalahan kalian. Mamah akan mencoba memikirkan solusi untukmu dan istrimu agar hubungan kalian membaik."
Ardi masih tetap menatap wajah ibunya, tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya, dirinya masih belum ingin mengeluarkan suara karena menurut dirinya ibunya itu belum tentu bisa, apa lagi bukti satu-satunya ada di tangan Yoga, itu pun kalau Yoga belum menghapus rekeman video itu. Mirna pun melepaskan pegangan tangan anaknya lalu dirinya membelai rambut anaknya
" Katakan, apa permasalahan kau dengan istriumu?"
Ardi pun hanya menjawab dengan anggukan kepala, lalu dirinya langsung menundukkan kepala, tapi dirinya masih tidak ingin menceritakan masalah penyebab pertengkaran dirinya dan istrinya, tapi dirinya melainkan mencoba membujuk ibunya agar boleh pindah rumah
" Mama, Ardi hanya ingin pindah rumah, hanya itu yang Ardi inginkan."
__ADS_1
" Nak, apa ini keinginan Lisa? apa Lisa tidak betah di rumah ini?"
" Mamah, Lisa bukan tidak betah di rumah ini, tapi Ardi yang ingin bersama Lisa tanpa ada orang lain."
Mirna saat mendengar perkataan anaknya mengatakan orang lain itu berarti Intan, tapi dirinya masih bingung permasalahan apa yang menantunya miliki bersama Intan, lalu dirinya pun memutuskan untuk bertanya
" Apa karena Intan?"
" Iya mah, Lisa tidak suka orang asing, jadi tolong mamah memperbolehkan aku pindah rumah."
" Sayang, mamah tau Lisa tidak suka orang asing, tapi Intan itu bukan orang asing dia adik sepupumu, kenapa Lisa harus tidak suka?"
" Mah, ceritanya panjang, dan Ardi harus pergi sekarang, mamah lebih baik istrihat dan jangan memikirkan tentang rumah tanggaku lagi. Ardi pasti bisa menyelesaikan masalah Ardi sendiri."
" Baiklah nak."
" Ardi pamit dulu mah."
" Iya nak hati-hati, kalau tidak kau lebih baik naik taksi saja, kau juga capek baru pulang."
" Tidak perlu mah."
Ardi langsung berdiri lalu dirinya langsung melangkahkan kakinya keluar rumah setelah di luar dirinya langsung masuk ke dalam mobil, setelah di mobil Ardi menyadarkan kepalanya di setir mobil sambil memikirkan istrinya yang kira-kira sekarang masih menangis atau tidak membuat dirinya sangat prustasi, setelah lelah memikirkan itu dirinya langsung menyalakan mobil lalu langsung melajukukan mobil itu pergi ke rumah Yoga. Setelah sekitar 10 menit Ardi pergi Ardian pun sampai di rumah dirinya melihat istrinya yang sedang melamun lalu langsung mendekati istrinya hingga dirinya sampai di depan istrinya
" Sore mah."
__ADS_1
Istrinya tidak menjawab sapaan dari Ardian lalu Ardian langsung duduk di samping istrinya sambil memandangi wajah istrinya yang masih melamun
" Mamah."
Mirna pun sadar dari lamunannya lalu langsung melihat ke arah suara tersebut ternyata suaminya sudah duduk di samping dirinya
" Ayah sudah pulang, tumben tidak menyapa dulu langsung duduk saja?"
" Siapa yang tidak menyapa mamah? Ayah pikir mamah pergi karena mobil mamah tidak ada mobil Ardi juga tidak ada?"
" Oh, di pake untuk mengantar Lisa pulang yah, kalau Ardi mungkin juga akan ke rumah mertuanya."
" Lalu mamah kenapa masih melamun? bukan'kah Ardi sudah pulang itu artinya Lisa tidak memikirkan Ardi lagi."
" Ayah, Ardi ingin pindah rumah, bukan'kah di sini juga sangat nyaman, kenapa Lisa tidak suka di sini?"
" Mah, kalau mereka ingin pindah rumah kenapa tidak suruh membeli rumah, lagian hubungan Ardi dan Lisa sudah membaik untuk itu biarkan Ardi mandiri dan m belajar menjadi kepala rumah tangga yang baik."
Mirna langsung kecewa setelah mendengar jawaban dari suaminya itu, dirinya berharap agar anak dan menantunya masih tetap tinggal di sini, tapi sekarang suaminya bahkan membela anaknya yang akan pindah rumah, lalu dirinya menjadi berpikir apakah dirinya egois karena melarang anaknya untuk pindah rumah, tapi dirinya berpikir lagi itu tidak egois, tapi karena rasa sayang dirinya terhadap menantunya. Ardian menatap mata istrinya yang seperti sedang memikirkan sesuatu. Ardian tau kalau istrinya itu sayang pada menantunya, tapi bagaimana pun juga Ardi sudah dewasa bukan anak-anak lagi dirinya ingin anaknya bisa tanggung jawab menjadi kepala keluarga
" Mah, Ardi itu sudah menikah dan Lisa juga butuh waktu untuk mereka berdua, mamah jangan pernah egois karena sekarang Lisa sudah menerima Ardi dan mencintai Ardi."
" Aku mengerti Ayah, tapi aku tidak ingin jauh dari mereka, pasti rumah ini nanti sangat sepi."
" Iya, tapi biarkan mereka belajar untuk mandiri."
__ADS_1
" Tidak ayah! Kenapa Ayah bela Ardi?"